KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 30 - Kukis


__ADS_3

"Ma, semalam aku lihat kak Nara." Ucap Rindu memberi tahu Mamanya.


"Nara?!" Tanya Mama memastikan kembali. Sudah lama ia tak mendengar kabar tentang Nara lagi.


Setelah perceraian putranya dengan Nara. Mama mulai menjauh dari keluarga Nara.


Mama tak mau setiap Nara melihat mereka. Yang Nara rasakan hanya sedih dan sakit hati. Saat melihat keluarga mereka, pasti akan mengingat perbuatan Adam.


"Di mana kamu ketemu Nara?" Tanya Mama penasaran. Ia sangat merindukan menantunya tersebut.


"Aku lihat di pinggir jalan. Kak Nara sekarang sudah potong rambut. Tambah cantik, Ma. Terus... aku lihat dia bersama seorang pria." Bisik Rindu pelan.


"Apa Nara sudah menikah?" Mama sangat berharap seperti itu. Nara itu wanita yang sangat baik. Pasti akan ada pria baik juga, yang bisa menerima Nara. Tidak seperti putranya itu.


"Nggak tahu, Ma." Jawab Rindu yang hanya melihat dari jauh. Ia tak berani menghampiri Nara. Takut jika Nara membenci dirinya.


"Kak Nara, sekarang sudah bekerja di kantor pusat, Ma" Sambung Bily yang tiba-tiba muncul.


"Dari mana Bang Bily tahu?" Tanya Rindu juga penasaran.


"Kak Nara sekarang jadi sekretarisnya Bang Arka." Timpal Bily kembali.


"Arka?" Tanya Mama.


"Bang Arka. Teman kuliahnya bang Adam dulu, Ma. Yang dulu sering main ke rumah kita." Jelas Bily mengingatkan kembali. Teman kuliah Adam saat itu.


"Bang Arka, yang tampan itu kan?" Rindu memastikan. Saat itu ia masih SD. Teman abangnya itu sangat tampan dan baik. Dulu sering mengajari Rindu saat mengerjakan pr.


"Oh Arka. Teman kuliah Adam yang baik dan anak orang kaya itu." Mama pun mulai ingat. Dulu Adam sering bercerita tentang Arka. Temannya yang sangat baik dan sering mentraktirnya makan di kantin.


"Keren kak Nara bisa jadi sekretarisnya." Rindu senang mendengarnya.


"Kenali aku sama Bang Arka dong!" Pinta Rindu dengan mengkedip-kedipkan matanya pada Bily.


"Jangan genit ya Dek." Bily menyetil kening adiknya. "Dia itu sudah duda..."


\=\=\=\=\=\=


Mata Gio menatap fokus pada kakaknya. Mereka sedang berkumpul menonton tv, sementara Nara senyum-senyum pada ponselnya.


'Pasti lagi chat sama gebetannya!'


Gio yakin Nara sedang dekat dengan seorang pria. Dan pria itu pasti yang semalam mengantar kakaknya pulang. Pria pemilik mobil mewah.

__ADS_1


Sementara Nara senyum-senyum melihat ponselnya, karena melihat isi saldo atm di internet banking.


Uang yang di transfer Arka cukup banyak. Jika nanti ditambah gajinya di awal bulan. Uangnya makin bertambah banyak.


Nara sudah berencana akan membelikan banyak barang untuk Ayah, Bunda dan Gio.


Tiba-tiba pikiran Nara teringat ibunya Arka.


'Apa aku belikan ibunya pak Arka juga? Kotak makannya aku isi apa ya? Masa dikembalikan kosong sih?!'


Nara memikirkan apa yang harus dia isi ke kotak makan itu. Ia bangkit dan menuju dapurnya.


Melihat itu Gio mengikuti kakaknya. Pria itu memperhatikan Nara yang mengeluarkan bahan-bahan makanan.


"Kak Nara ngapain?" Tanya Gio sambil membuka lemari pendingin.


"Ini... Ini kakak mau buat kukis." Ucap Nara sambil berpikir.


"Kukis? Untuk siapa? Untuk pria itu, kan?" Tebak Gio cepat.


Nara malah tertawa. "Untuk kita makanlah. Kakak sudah lama nggak pernah buat kukis lagi. Kita lihat gimana masaknya." Nara meraih ponsel untuk melihat tutorial membuat kukis. Agar mengingat kembali mana bahan yang harus dimasukkan terlebih dahulu.


Gio masih menatap Nara tak percaya. Ia sangat yakin kakaknya itu membuatkan kukis untuk pria bermobil mewah.


"Kak... Pria seperti apa dia?" Tanya Gio menatap Nara dengan wajah serius.


"Pria apa sih dek? Kakak nggak sedang dekat dengan pria manapun." Sanggah Nara menggelengkan kepala.


"Nanti kalau dia datang lagi, aku akan mengintrogasinya."


"Gio, Gio... Sudah jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kakak tidak akan menikah lagi." Nara meyakinkan adiknya.


"Kalau kakak mau menikah lagi tidak apa-apa. Tapi aku harus pastikan pria yang akan menjadi suami kak Nara nanti, memang benar-benar pria yang terbaik dan akan membahagiakan kakak selamanya." Sebagai adik, Gio hanya menginginkan yang terbaik untuk sang kakak. Apalagi karena sang kakak pernah gagal, Gio jadi merasa harus selektif pada pria-pria yang akan menikah dengan kakaknya nanti.


Nara tersenyum mendengar ucapan Gio yang terlalu mengkhawatirkannya. Ia wajar, Gio hanya ingin melindunginya.


\=\=\=\=\=\=


Nara menguap menunggu kukis dalam oven yang sedang dimasak.


Wanita itu sudah menguap beberapa kali. Hari juga sudah menunjukkan pukul 12 malam.


Ayah, Bunda dan Gio sudah tidur. Dan Nara masih di dapur menunggu kukis matang.

__ADS_1


Ting


Wajah Nara yang mengantuk mendadak senang mendengar itu. Petanda kukisnya sudah matang.


Tanpa menunggu lama, Nara mengeluarkan loyang dan meletakkan kukisnya di kotak makan milik Arka. Lalu yang lain di dalam toples.


Nara melihat sekitar. Sunyi dan sepi. Ia pun berlari ke kamarnya membawa kotak makan itu. Dan meletakkan di nakas. Lalu kembali lagi ke dapur untuk membersihkan dapur terlebih dahulu sebelum ia tidur.


Nara besok akan memasukkan kotak makan itu ke dalam tasnya. Jadi nanti saat pergi kerja, Gio tak bertanya-tanya padanya.


Adiknya itu mencurigai jika ia sedang dekat dengan seorang pria. Padahal kenyataannya, Nara tidak dekat atau menjalin hubungan dengan siapapun.


Setelah selesai membereskan dapur, Nara masuk kamar mandi untuk mencuci muka.


Lalu sebelum tidur, ia membaluri wajahnya dengan ritual perawatan wajah. Agar saat bangun tidur, wajahnya sehat dan glowing.


Esok harinya, Nara sudah berada di kantor.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Nara saat melihat Arka berjalan diiringi Sam di belakangnya.


"Pagi." Jawab Arka sekenanya. Pria itu masuk ke ruangannya.


"Pagi Nara... Kamu sudah sarapan?" Tanya Sam melirik Arka yang sudah masuk ke ruangannya.


"Su-sudah, Pak." Jawab Nara gugup.


"Ya sudah, kamu kerja yang semangat ya. Pasti semangat kan?!" Sam meledek Nara.


Nara tersenyum paksa, ia tak mengerti apa maksud ucapan Sam itu. Pria itu tersenyum lebar memasuki ruangan Arka.


'Kapan aku berikan ini ya?' Nara bingung kapan waktu yang tepat memberikan pada Arka.


Saat berniat akan memberikan pada Arka di ruangan pria itu, Sam tiba-tiba muncul. Hingga Nara kembali memasukkan ke dalam tasnya.


Pada saat jam makan siang, Arka tidak berada di kantor. Atasannya itu ada meting di luar.


'Aku harus segera memberikannya!' Nara membatin. Ia sudah membuatkannya masa nggak jadi diberikan.


Nara melihat Arka berjalan menuju ruangannya. Ini kesempatannya memberikan kotak makanan itu. Tapi... sayang sekali, di belakang pria itu ada Sam lagi.


Wajar Sam ada di mana pun Arka berada. Sam kan asistennya Arka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2