
Adam: Apa kabar?
Nara terdiam saat membaca pesan di sosial medianya. Satu pesan masuk tadi malam dari sang mantan suami.
Perasaan Nara jadi bertanya-tanya. Waktu sudah terlalu lama berlalu. Untuk apa Adam mengiriminya pesan? Apa yang mau Adam tahu tentang kabarnya?
Apa Adam ingin tahu apa dia bahagia atau tidak setelah perceraian mereka?
Nara menyimpan kembali ponsel dalam tasnya. Ia tak mau bernostalgia dengan masa lalunya. Ia sekarang sedang menjalin hubungan dengan pria lain. Yang harus dipikirkannya bagaimana hubungannya dengan Arka ke depannya.
Nara pun melirik ruangan Arka yang masih tertutup. Sudah waktunya pulang, tapi kenapa pria itu belum keluar dari ruangannya?
Biasanya Arka sudah keluar dari ruangannya sebelum jam kantor berakhir. Tapi, ini...
Nara mendekati pintu ruangan Arka. Ia akan mengetuk tapi ditahannya. Nara memilih membuka pintu pelan dan menyelonongkan kepala.
"Kamu ngapain, sayang?" Tanya Arka yang tersenyum berdiri di samping pintu.
"Pak Pak Pak Arka!" Nara yang kaget membenarkan posisinya menjadi berdiri tegak.
"Sa-sa-saya..." Nara mulai kebingungan menjawab. Rencananya dia hanya ingin mengintip, malah ketahuan.
"Nara..." Arka membawa tubuh Nara ke tembok. Menghimpit tubuh mungil itu.
"Pak... apa yang anda lakukan?" Nara berusaha mendorong tubuh Arka darinya.
"Sayang, tenanglah sebentar." Arka tetap menahan Nara.
"Kapan kita publikasian hubungan kita, sayang?" Tanya Arka dengan wajah serius. Menepikan rambut Nara yang menutupi wajah wanitanya.
"Nan-nanti, Pak." Jawab Nara gugup.
"Nantinya kapan?" Arka ingin tahu.
"Nanti... Ada waktunya!"
"Kapan sayang? Kamu harus jelas memberi waktunya. Apa sehari lagi, atau 10 jam lagi, 5 jam atau 5 menit lagi." Arka memberikan contoh.
Nara mendengus sebal, pria itu seperti menghitung mundur.
"Begini saja. Kalau kamu belum mau karyawan kantor tahu tentang hubungan kita, tak apa. Itu bukan masalah. Tapi, dengan orang tua kamu. Biarkan mereka tahu tentang hubungan kita." Arka menganggukkan kepala meyakinkan Nara.
"Itu-itu nanti saja, Pak." Tolak Nara, karena merasa belum waktunya memperkenalkan pria itu pada orang tuanya.
"Kenapa? Apa kamu malu?" Wajah Arka tampak sedikit sendu.
"Atau kamu belum yakin kepadaku?" Tanya Arka kembali.
Nara diam. Ia juga bingung dengan perasaannya sendiri. Hatinya selalu berdebar dengan pria ini, tapi rasa takut juga menghampirinya.
"Sayang, dengarkan aku. Aku akan menerima apa adanya dirimu. Baik itu kelebihan atau kekuranganmu." Jelas Arka meyakinkan. Nara masih ragu dengan kondisi dirinya. Padahal Arka tak mempermasalahkannya.
"Ki-kita masih butuh banyak waktu, Pak." Ucap Nara sambil menundukkan kepala.
Arka mengangguk lemah. Terkadang ia berpikir apa ia yang terlalu memaksa atau Naranya saja yang belum yakin dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1
Pria itu tiba-tiba terpaku saat tangan Nara melingkar di tubuhnya.
"Maaf, Pak. Apa anda masih mau menungguku?"
"Baiklah, aku akan menunggumu. Tapi, jangan kecewakan aku dalam penantianku."
Nara mengangguk pelan. Arka perlahan memeluk erat, mengeratkan pelukannya.
Lagi dan lagi Nara terdiam. Merasakan debaran hati pria itu kembali.
'Apa pak Arka benar-benar menyukaiku? Apa dia benar-benar bisa menerima kekuranganku?' Batin Nara.
Arka melonggarkan pelukannya, menatap wajah Nara yang menatapnya sendu. Ia meraih tangan Nara dan menciumnya. Menyalurkan perasaan tulusnya.
Arka juga menatap lembut wajah Nara. Tatapan pria itu membuat hatinya seakan meleleh.
Nara kembali terpaku dengan pesona pria itu. Dan...
Kruk
Arka mengalihkan wajahnya. Di saat seperti ini, bisa-bisanya perutnya bernyanyi sumbang.
"Ayo, kita makan pak." Ajak Nara sambil tersenyum. Atasannya ternyata lapar.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Arka menutupi rasa malunya. Mereka pun berjalan beriringan keluar dari ruangan itu.
"Saya tunggu di parkiran. Kamu jangan lama ya." Ucap Arka mengelus kepala Nara sambil tersenyum. Mengingatkan Nara agar jangan terlalu lama berdandan.
Arka sudah berada di dalam mobilnya. Ia menunggu Nara datang. Pria itu menggeleng pelan, sepertinya Nara berdandan lagi.
Nara pasti tetap ingin tampil cantik saat bersamanya. Padahal wanita itu dari dasarnya memang sudah cantik. Ditambah berdandan, malah Arka yang tak rela Nara jadi perhatian pria lain.
Arka tersadar dari lamunannya. Saat terdengar suara pintu.
"Ma-maaf, Pak. Kalau saya lama." Nara menunjukkan wajah bersalah yang begitu menggemaskan.
"Mau selama apa juga, akan aku tunggu." Ucap Arka sambil tersenyum.
"Pasang sabuknya. Kita akan meluncur." Pinta Arka lalu memasang sabuk pengamannya sendiri.
Mobil pun perlahan berjalan keluar dari kawasan kantor dan melintasi jalan raya.
Arka membawa Nara ke Mall. Dan mereka menuju kafe yang berada di sana.
"Setelah selesai makan, kita nonton ya." Ajak Arka di sela makannya.
"Nonton?" Tanya Nara memastikan.
"Iya. Kamu mau nonton apa? Sepertinya ada film horor yang bagus."
Mendengar kata horor, pikiran Nara mulai memikirkan hal horor juga.
"Nggak mau, Pak." Tolak Nara.
"Kenapa? Kamu takut?" Arka memicingkan matanya.
__ADS_1
Nara mengangguk. "Iya, Pak." Jujur Nara.
"Nggak perlu takut. Ada abang Arka di samping adek." Goda Arka.
Nara menunjukkan wajah aneh mendengar ucapan pria itu.
"Kamu nggak usah takut, sayang." Bujuk Arka agar Nara mau menonton film horor bersamanya. Nara yang takut pasti akan terus memeluknya dari awal film sampai akhir. Itulah yang sudah terbayang di benaknya.
"Kalau anda mau menonton horor, silahkan. Saya akan menonton yang lain saja."
"Tapi..."
Itu bukan menonton bersama namanya. Dia menonton di mana, Nara tah di mana.
"Ya, sudah terserah kamu saja. Kamu mau menonton apa, aku akan ikut." Arka pun mengalah.
"Nanti anda tidak suka, Pak." Film yang ingin Nara tonton, bergenre romantis.
"Aku akan menyukai apapun yang kamu suka."
Nara mengalihkan pandangannya. Tatapan pria itu sungguh meresahkan.
"Pak, sa-saya mau ke toilet dulu." Nara bangkit dan berjalan menuju toilet.
Arka mengangguk sambil melihat Nara yang sudah berlalu pergi.
'Dia nggak bawa ponselnya?!' Arka melihat ponsel Nara di atas meja.
Arka tiba-tiba penasaran dengan ponsel wanitanya itu. Ia pun meraihnya sambil melihat sekitar.
'Nggak pakai password?!'
Ponsel Nara tak ada pakai keamanan. Arka tersenyum melihat wallpaper layar depan, foto Nara dengan rambut tergerai.
'Seharusnya ada fotoku sedikit di sini.' Arka ingin ada foto mereka bersama.
Arka membuka pesan, ia penasaran dengan namanya di kontak Nara.
'Pak Bos!'
Arka menggeleng. Ia ingin mengganti, tapi tak jadi. Nara bisa marah jika ia ketahuan membuka ponsel tanpa izin.
'Dia ada aplikasi ini?' Arka menekan sosial media Nara.
Senyum Arka merekah melihat ikat rambut pemberiannya di posting Nara.
'Seharusnya dia berterima kasih secara langsung. Untuk apa posting di sini. Aku kan jadi tidak tahu.'
Arka melihat kotak pesan di aplikasi itu. Tiba-tiba ia penasaran dengan siapa saja Nara berchating ria. Mungkin Nara punya teman pria lain.
Arka pun membuka pesannya. Dan...
'Adam?'
.
__ADS_1
.
.