KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 68 - Bermain Api


__ADS_3

Nara berjalan menuju rumahnya. Membawa bungkusan belanjaan dari mini market.


Nara berjalan dengan langkah kaki yang tidak terlalu cepat. Ia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Dan Nara masih berusaha tenang dan tak mau melihat ke belakang.


Bisa saja, itu Adam yang mengikutinya. Ia tidak mau terlibat pembicaraaan lagi dengan pria itu.


Nara sampai rumah dan segera masuk, juga menutup pintu dengan cepat. Pelan-pelan dari balik gorden, mengintip siapa yang mengikutinya.


Ternyata benar. Nara melihat sosok Adam yang berdiri di depan rumahnya. Tah apa yang dilakukannya di depan rumah orang.


'Dia mau apa sih? Aku juga sudah melupakan dan mengikhlaskannya!' Nara membatin. Tah mimpi apa dia semalam, hingga tiba-tiba bertemu dengan mantan suaminya, yang memintanya kembali bersama.


Adam itu egois. Begitu mudah pria itu mengatakan ingin kembali. Apa Adam tidak memikirkan bagaimana perasaannya?


Sementara Adam masih berdiri menatap rumah Nara. Kenangan ketika ia mengantar Nara saat zaman pacaran dulu, tiba-tiba memenuhi pikirannya.


"Mas, ayo masuk dulu." Ucap Nara sambil melepas helmnya. Adam mengantar sampai teras rumahnya.


"Aku langsung pulang saja, sudah basah juga. Titip salam sama Ayah dan Bunda."


Nara mengangguk mengerti. Hujan turun dengan lebatnya. Meski mereka pakai mantel tetap basah juga.


Nara mengelap wajah Adam yang basah kena air hujan dengan sapu tangannya.


"Hati-hati ya, Mas. Sampai rumah nanti mandi air hangat sama minum yang hangat-hangat." Pesan Nara, tangannya juga menyalami Adam.


"Baik, sayang. Aku pulang dulu." Adam tersenyum senang.


"Hati-hati di jalan, Mas. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya." Nara tetap mengingatkan. Hujan begini, jalanan cukup licin. Ia tidak mau Adam kenapa-kenapa di jalan.


Adam tersenyum samar mengingat kenangan itu. Ia pun berjalan kembali menuju mini market. Ia tadi mengikuti Nara dengan berjalan kaki dan memarkirkan mobilnya di depan mini market.


Adam telah sampai di rumah. Ia melihat pekerja rumah yang masih berada di rumahnya.


"Ibu, belum pulang?" Tanya Adam.


"Saya nunggu Bu Yola." Jawab ibu itu.


"Kenapa?" Tanya Adam kembali. Biasanya pekerja rumah akan pergi setelah pekerjaannya selesai. Apa Yola belum membayar gaji ibu ini?


"Saya disuruh jaga Mario selama Bu Yola pergi. Ini kok tumben sudah malam belum pulang." Ucap Ibu itu. Biasanya ia hanya menjaga Mario sampai pukul 4 sore saja.


"Maksudnya ibu?" Adam ingin tahu.


"Jadi Yola selalu keluar rumah setelah saya pergi dan menitipkan Mario dengan ibu?" Tanya Adam memastikan kembali. Ibu itu mengatakan setelah ia pergi, Yola juga keluar dari rumah. Dan Yola akan pulang sebelum dirinya pulang dari kantor.


Adam bingung. Kenapa Yola tak memberitahunya? Selama ini, yang dia tahu Yola hanya di rumah bersama Mario. Tapi ternyata, sudah sebulan ibu pekerja rumah menjaga Mario, saat Yola pergi.


Apa yang dilakukan wanita itu di luar?


Apa Yola bekerja?

__ADS_1


"Ya sudah, ibu pulang saja. Mario biar sama saya." Adam meminta ibu itu untuk pulang. Ini juga sudah malam.


"Tapi, Pak. Bu Yola..."


"Sudah nggak apa. Ibu pulang saja. Sebentar saya pesankan taksi." Adam meraih ponselnya.


"Tidak usah, Pak. Anak saya sudah di jalan akan menjemput."


Adam kembali menyimpan ponselnya. Ia tak jadi mengorder taksi.


"Mario sudah makan, Bu?" Tanya Adam kembali.


"Sudah, Pak."


\=\=\=\=\=\=


"Berhenti di sini saja." Ucap Yola meminta menepi tak jauh dari rumahnya.


"Sampai besok lagi." Ucap pria yang menyetir.


"Hati-hati di jalan. Aku masuk dulu." Pamit Yola sambil mengkecup pipi pria itu.


Yola berjalan menuju rumahnya. Ia melihat mobil Adam sudah terparkir di teras.


'Buat alasan apa ya?' Yola memikirkan alasan yang masuk akal.


Saat masuk rumah, Yola tak melihat ada orang di ruang tamu. Pasti Adam sudah berada di kamar.


Yola pun berlalu ke kamar mandi, untuk membersihkan diri. Setelah seharian berada di luar rumah.


Saat terdengar suara pintu kamar mandi. Adam membuka matanya. Ia belum tidur.


Ting


Pandangan Adam ke arah suara ponsel. Adam meraih tas Yola dan mengambil ponsel.


Adam menahan gemuruh di hatinya, saat melihat isi pesan dari notifikasi.


Nomorku: Terima kasih untuk hari ini 😘


Pria itu mencerna keadaan. Maksud nomorku itu nomor pemilik ponsel, kan. Kenapa Yola mengirimi pesan seperti itu kepada diri sendiri?


Adam pun ingin tahu dan membuka ponsel. Tapi, ponsel wanita itu penuh keamanan.


'Apa dia sedang bermain api?'


Yola keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. Tapi, ia terkejut saat melihat Adam duduk di pinggiran tempat tidur.


"Mas Adam sudah bangun?" Tanya Yola berusaha bersikap santai.


"Dari mana kamu?" Tanya Adam dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Aku keluar sebentar sama teman." Alasan Yola memberitahu.


"Setiap hari?" Adam makin menajamkan pandangannya. Wanita ini berani berbohong padanya.


"Apa maksudmu, Mas?" Wajah Yola sedikit pucat. Apa Adam tahu jika dia keluar setiap hari?


"Kemana kamu pergi setelah aku berangkat ke kantor? Kamu juga titipkan Mario dan bukan menjaganya di rumah. Ke mana kamu pergi?" Adam berucap sedikit keras.


'Dasar mulut ember. Pasti orang tua itu yang memberitahu!' Yola mendumel dalam hati tentang pekerja rumahnya.


"A-aku bosan di rumah. Setiap hari aku hanya di rumah mengurus anak. Aku bosan, Mas. Aku juga butuh refreshing sekali-kali." Yola menjawab dengan tegas.


"Apa kamu refreshing setiap hari? Katakan Yola kamu pergi ke mana?" Bentak Adam yang makin kesal. Yola beranggapan apa yang dilakukannya benar.


"Kenapa kamu selalu membentakku, Mas." Yola membentak balik.


"Kamu pergi ke mana?" Adam menurunkan nada bicaranya. Ia akan bersikap lunak.


"Aku cuma kumpul dengan teman-temanku."


"Buka ponselmu!" Pinta Adam menyodorkan ponsel Yola. Ia ingin tahu apa yang Yola sembunyikan darinya. Siapa pemilik kontak nomorku tersebut.


"Apa sih, Mas? Ini sudah malam aku mau ti-"


"Aku bilang buka Yola. Kenapa kamu sulit sekali menurutiku?" Adam kembali membentak Yola yang makin memancing emosinya.


'Mampus!!!' Yola berwajah panik. Ia belum menghapus pesan di ponsel tersebut. Jika Adam membacanya, akan ada perang dunia yang terjadi.


"Apa yang mau kamu lihat di ponselku, Mas?"


"Semua!" Tegas Adam dengan tatapan tajam.


"Sudahlah, Mas. Tidak ada apapun di sini." Yola membujuk pria itu. "Mau aku buatkan teh?"


Adam tersenyum sinis. Yola tak pernah mau membuatkannya teh dan sekarang tiba-tiba Yola berinisiatif. Pria itu makin yakin ada yang di sembunyikan Yola darinya.


"Buka ponselmu." Pinta Adam.


"Mas ini sudah malam. Ayo, kita tidur-"


Ting


Adam meraih ponsel Yola kembali dan Yola berusaha merebutnya. Tapi, Adam lebih cepat mengambilnya.


Nomorku: Aku merindukanmu


"Apa ini, Yola? Apa kamu berselingkuh???"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2