
Arka menghembuskan nafasnya berkali-kali. Ia mencekam setir mobilnya, berusaha menenangkan perasaannya yang masih sangat kesal.
Bagaimana tidak kesal, Nara menolak niat baiknya. Wanita itu menolak tawarannya untuk mengantar pulang. Nara menolaknya mentah-mentah.
Pria itu baru selangkah memulai pdkt, sudah ditolak saat pendaftaran.
"Maaf, Pak. Saya pulang naik ojek."
Jawaban simpel dari Nara, tapi begitu menyakiti perasaannya.
'Mungkin... Dia sedang jual mahal. Iya, benar!'
Arka kembali lagi dengan pikiran positifnya.
Sifat asli wanitakan seperti itu. Ingin dikejar dan diperjuangkan. Mungkin Nara tipe seperti itu. Yang harus melihat ketulusan seorang pria.
Pria itu meraih ponselnya dan mengakses data karyawan. Lalu tak lama pria itu tersenyum senang.
Sementara Nara sampai ke rumah. Ia segera ke kamar dan membersihkan diri.
Sekitat 30 menit, wanita itu sudah selesai mandi. Ia pun membaringkan tubuh di tempat tidur empuknya.
Perlahan mata Nara mulai terpejam. Wanita itu sudah terbang ke alam mimpi.
"Kak Nara!!!" Ucap Gio tiba-tiba masuk ke kamarnya.
"Astaga!!!" Baru mulai terlelap, suara Gio membangunkannya.
Nara memegangi dadanya yang berdebar tak menentu. Bangun tiba-tiba seperti itu sangat tidak bagus. Detakan jantungnya seperti orang sedang sport.
"Apa sih Gio? Ganggu tidur saja!" Nara sangat kesal. Gio sudah mengganggu tidurnya.
"Kak Nara..." Gio membawa buket bunga.
Nara melihat buket bunga itu. "Bagus kok! Kamu mau memberikan pada siapa?"
Gio membangunkannya, hanya untuk bertanya tentang bunga tersebut.
"Ini dari siapa?" Gio malah bertanya pada Nara.
Nara melihat Gio dengan ekspresi aneh bercampur bingung.
"Di pesannya tertulis.. Untuk Nara, dari saya. Maksudnya apa kak?" Gio menunjukkan pesan dalam bunga tersebut.
Mata Nara terbelalak membaca pesan tersebut. Artinya ini bunga dikirim untuknya.
"Bukan punya kamu?" Tanya Nara yang makin bingung.
"Bukan, tadi diantar kurir untuk kakak." Jelas Gio.
"Nggak kamu tanya dari siapa?" Nara melihat Gio serius.
"Tanya... Malah kurir itu jawab dari saya." Tunjuk Gio pada pesan tersebut. "Kak... Ini pasti dari gebetan kakak. Pemilik mobil mewah itu?" Tuduh Gio sangat yakin.
'Pak Arka?!'
Nara bingung sendiri, kenapa Arka mengirimkan bunga?
Nara ingin bertanya langsung. Tapi jika bukan dari pria itu, malu dong!
"Nih pegang bunganya. Minggu depan kakak bawa ke rumah. Jangan backstreet-backstreetan. Kami mendukung jika kak Nara mau menikah lagi. Yang penting dia pria baik dan bertanggung jawab pada perkataannya." Jelas Gio panjang lebar.
__ADS_1
Nara tak bisa menjawab. Ia masih dengan kebingungannya.
\=\=\=\=\=\=
Sementara malam itu di sebuah kamar. Arka bersandar di tempat tidur sambil melipat tangan. Matanya fokus pada layar ponsel.
Arka sedang menunggu pesan atau telepon dari Nara. Wanita itu pasti senang dengan bunga pemberiannya.
Arka memberikan sebuket bunga mawar yang cukup besar. Bunganya juga sangat wangi.
Bayangan Arka saat ini, Nara tersenyum bahagia dan terharu dengan pemberiannya itu.
Tapi... kata pihak toko bunga. Kirimannya telah dikirim dan diterima 4 jam yang lalu. Terus... Kenapa tak ada tanggapan dari wanita itu?
Apa Nara belum menerimanya?
Atau mungkin Nara tidak suka bunga.
'Apa aku telepon saja?'
Arka bangkit dari tempat tidur. Ia mondar-mandir mengelilingi kamarnya, sambil memegang ponsel.
Jujur saat ini Arka bingung. Kalau menelepon Nara, apa yang mau dikatakannya?
"Apa kamu sudah menerima bunga dari saya?"
"Apa kamu menyukai bunganya?"
"Bagaimana bunga..."
Pria itu kembali membaringkan dirinya di tempat tidur. Menatap langit-langit kamar.
'Kenapa begitu sulit untuk berbasa-basi?!!'
\=\=\=\=\=\=
Nara telah sampai di kantor. Ia melirik ruangan Arka. Ternyata pria itu belum sampai.
Suara langkah kaki, membuat Nara mengalihkan pandangannya ke layar komputer.
Itu pasti suara langkah kaki atasannya. Nara merasa canggung bertemu dengan pria itu.
Dekat... dekat dan semakin dekat. Suara langkah kaki jelas terdengar.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Nara dengan sopan. Sapaan seperti sehari-hari. Ia harus tetap menyapa atasannya itu.
"Pagi." Jawab Arka yang menghentikan langkah dan menatap wajah Nara.
Arka ingin sekali bertanya apa kirimannya sampai? Apa Nara menyukai bunga itu?
"Nara... Kamu-"
Terdengar suara langkah kaki lain membuat Arka tak melanjutkan ucapannya.
"Ma-maaf Pak Arka. Saya terlambat." Ucap Sam sambil ngosh-ngoshan.
Sam berlari-lari pantas suara langkah kakinya tergesa-gesa.
"Tidak. Saya juga baru tiba." Arka tak mempermasalahkannya. Sam hanya terlambat 5 menit.
Arka melangkah pergi menuju ruangannya. Tak jadi dia bertanya perihal bunga.
__ADS_1
"Nara, lihat. Dasi pemberian kamu sangat cocok." Ucap Sam menunjukkan dasi yang terpasang.
"Baguslah, kalau pak Sam menyukainya." Nara senang, pemberiannya dipakai Sam.
Mendengar pembicaraan mereka, Arka yang akan masuk ruang langsung berputar haluan. Sam memakai dasi pemberian Nara. Sedang dirinya?
Selama di ruang rapat, Arka duduk sambil melipat tangan. Ia fokus mendengar presentase karyawan. Tapi... pandangannya beralih ke arah Sam.
'Nggak cocok. Norak!' Cibir Arka dalam hati. Menurut Arka dasi itu tak cocok dipakai Sam.
Arka makin kesal melihat Sam yang membenarkan dasi sambil senyum-senyum.
Sepertinya pria itu sangat senang menerima pemberian Nara.
'Cemburu iya?' Sam bersorak dalam hati.
Dari tadi Sam menyadari pandangan Arka yang tak suka pada dasi yang dipakainya. Pasti pria itu cemburu karena mantan kekasihnya memberikan dasi kepada pria lain.
Setelah rapat berakhir, Arka segera keluar dari ruangan itu. Ia pun berjalan menuju lift, meninggalkan Sam yang masih membereskan dokumen.
'Dia tidak memberikanku hadiah gaji pertamanya? Dia menolak aku antar pulang? Dia bersikap seolah tak menerima bunga kirimanku? Apa maksud Nara sekarang?'
Arka harus memperjelas semuanya. Ia harus bertanya kenapa dan mengapa pada sekretarisnya itu.
Menurut Arka, Nara itu sedang bermain tarik ulur dengannya.
Pria itu keluar lift setelah sampai di lantainya. Ia menghela nafas sejenak dan berjalan dengan gagah menuju meja Nara.
Arka melangkah lebar. Ia melihat wanita itu di meja kerjanya.
"Nara!" Panggil Arka di depan meja Nara.
"Ya-ya, Pak." Jawab Nara gugup. Pria ini memang hantu. Tiba-tiba sudah didekatnya saja.
Deg
Arka terpaku sejenak melihat sekretarisnya itu. Nara sangat cantik. Wanita itu menggerai rambutnya.
Tiba-tiba hal yang mau diperjelasnya, menguap sudah. Arka mendadak lupa.
"Kamu... Kamu..." Arka tak bisa mengingat kembali apa yang tadi mau ditanyanya.
Pesona wanita ini, sungguh meresahkan.
"Ke-kenapa kamu tidak mengikat rambutmu?" Arka merutuki pertanyaannya. Kenapa malah membahas rambut?
Mau diikat, digerai, atau rambut bop... tak ada masalah.
"Ma-maaf, Pak. Ikat rambut saya putus." Nara menunjukkan ikat rambutnya yang putus.
"Oh. Ya, sudah... lanjutkan pekerjaan kamu." Arka memilih pergi. Ia tak jadi bertanya.
Arka mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Ia pun meraih ponselnya.
'Dia sukanya ikat rambut seperti apa ya?'
.
.
.
__ADS_1