KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 110 - Papa Siaga


__ADS_3

"Sayang, jangan nangis dong. Cup cup cup."


Di tengah malam, Arka menggendong putrinya yang terus menangis.


"Ciluk... ba!!!" Arka berusaha menenangkan bayi mungil tersebut. Bukannya diam, sang putri malah makin menangis.


"Lala sayang. Sudah jangan menangis lagi. Kamu mau apa nanti biar Papa berikan?! Kamu mau boneka, sepeda, atau kamu mau shoping?" Arka membujuk putrinya yang masih menangis. Ia melirik Nara, rasanya tak tega membangunkan istrinya yang terlelap. Nara tampak begitu kelelahan.


"Mas Arka!" Nara tersentak bangun, karena mendengar suara tangisan sang anak.


"Mas, sini..." Nara mendudukkan diri di tempat tidur. Meminta Arka membawa bayi dalam gendongan kepadanya.


"Sudah sayang... Kamu tidur saja. Biar Lala aku yang urus." Tolak Arka. Ia akan menidurkan putrinya kembali.


"Mas Arka... Lala haus itu."


"Oh... Iyanya?!" Arka pun memberikan sang putri pada Nara.


Tak lama suara tangisan bayi itu hening. Sudah tidak terdengar lagi.


"Lala haus loh Papa." Ucap Nara menirukan suara bayi.


"Maafkan Papamu yang tidak peka ini ya, nak." Arka mengelus kepala Lala yang sedang disusui Nara. Bayi mungil itu sudah anteng.


"Sudah lama Lala bangun, Mas?" Tanya Nara.


"Ba-baru kok."


"Kok nggak bangunin aku?"


"Kamu sangat kelelahan. Aku jadi tidak tega."


"Kalau aku lagi tidur dan anak-anak kita terbangun. Bangunin saja aku, Mas." Ucap Nara sendu. Arka akan berusaha menenangkan anak mereka sendirian.


"Tapi-"


"Kasihan loh Mas kalau mereka menangis terus. Aku nggak apa kok, Mas. Aku wanita kuat!" Jelas Nara kembali. Memang semenjak melahirkan waktu Nara tidak teratur. Baru terlelap, tangisan bayinya terdengar. Setelah tenang, bayi satu lagi yang menangis. Tapi walaupun begitu, Nara menikmati prosesnya dengan bahagia.


"Baiklah kalau begitu." Ucap Arka menurut. Anaknya pun bukannya diam, malah makin menangis dalam gendongnya. Padahal ia sudah membujuk dengan banyak penawaran yang menggiurkan.


Arka lalu naik ke tempat tidur, ia duduk di samping Nara. Menyandarkan punggung Nara di tubuhnya.


"Lebih empuk kan, sayang?!" Ucap Arka. Punggung Nara akan sakit menyandar di sandaraan tempat tidur. Mending bersandar padanya saja.


"Terima kasih, Mas." Nara tersenyum bahagia. Suaminya begitu perhatian untuk hal kecil seperti itu.


"Mas Arka, tidur lagi sana!"


Arka malah menggeleng. "Nanti saja. Tunggu Lala tidur." Pria itu tidak mau Nara sendirian menidurkan anak mereka.


"Mas... besokkan mau masuk kantor. Nanti kelelahan gimana??"


Arka sudah libur beberapa hari setelah ia lahiran.


"Aku akan mengambil cuti panjang." Ucap Arka sambil mengelus kepala Nara dengan sayang.

__ADS_1


"Mas, mau libur lagi?" Tanya Nara menoleh ke arah wajah suaminya.


"Iya. Aku mau ambil cuti selama beberapa bulan. Cuti melahirkan."


Nara terkekeh mendengar itu. "Memang Mas Arka melahirkan?" Ledek Nara.


"Istriku yang melahirkan. Jadi aku ambil cuti melahirkan." Jelas Arka dengan santai.


Nara jadi menggeleng. "Cuti melahirkan itu untuk karyawan wanita, Mas. Sedangkan jika karyawan laki-laki, yang istrinya melahirkan akan mendapat beberapa hari libur saja. Bukan libur sampai berbulan-bulan loh, Mas." Cibir Nara sambil menggelengkan kepala. Suaminya ada-ada saja.


"Tapi aku bukan karyawan, sayang. Apa kamu lupa siapa suamimu ini?!" Tanya Arka dengan wajah bangga, mengingatkan Nara.


Nara mengangguk paham. Aturan itu berlaku bagi karyawan. Sedang Arka... suaminya itu berbeda.


"Mas, Lala sudah tidur." Nara perlahan bangkit dan berjalan ke box bayi yang berada di kamar mereka juga.


Perlahan Nara meletakkan bayi mungilnya. Ia juga menyelimuti bayinya biar tidak kedinginan.


"Sayang, terima kasih." Arka memeluk sang istri dari belakang. Mereka memandangi Miko dan Lala yang terlelap. Wajah polos bayi kembar mereka sangat menggemaskan.


Tes...


Arka melihat tangannya yang tiba-tiba menetes air. Ia pun membalikkan tubuh Nara dan terlihatlah Nara yang sudah berlinang air mata.


"Sayang, kenapa menangis?" Tanya Arka bingung. Ia mengusap air mata Nara.


"Aku tidak menangis. Aku terharu, Mas. Aku memilikimu dan memiliki mereka. Aku seperti sedang bermim-"


Ucapan Nara terhenti saat Arka langsung memeluknya. Ia pun memeluk tubuh kekar itu.


Nara mengangguk saat pelukan mereka terlepas. Ia tersenyum bahagia melihat Arka.


Arka mulai mengikis jarak di antara mereka. Perlahan mulai mendekatkan wajahnya pada Nara. Dekat... dekat dan semakin dekat. Hembusan nafas keduanya saling menyapu wajah mereka. Hingga akhirnya...


Oek... oek... oek...


"Mas, Miko menangis."


\=\=\=\=\=\=


"Mas... aku bisa urus anak kita." Nara memijat dahinya.


Arka benar-benar mengambil cuti panjang. Suaminya sengaja melakukan itu agar menjadi Papa siaga. Ia tidak mau Nara sendirian mengurus kedua buah hati mereka. Karena Nara menolak diberi baby sister.


"Kita rawat sama-sama, sayang." Arka menciumi wajah Miko. Anak pertamanya yang begitu mirip dengannya.


Arka yang sedang menggendong putranya, memperhatikan Nara yang sedang memandikan putri mereka. Istrinya melakukan dengan hati-hati.


Setelah memandikan. Nara juga mengoleskan minyak angin di perut putrinya agar tidak masuk angin. Lalu ia membedongnya.


Arka kagum, Nara begitu telaten melakukannya. "Sayang, kamu belajar di mana mengurus bayi?"


"Mommy dan Bunda. Mereka mengajariku." Jawab Nara segera.


Arka pun mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Lala sudah ngantuk, Mas." Nara memindahkan ke box bayi.


"Mas, sekarang Miko yang mandi." Nara akan mengambil putranya dari gendongan Arka.


"Sayang, aku saja."


Nara menautkan alisnya.


"Aku saja yang memandikan."


"Tapi, Mas..."


"Aku mau jadi Papa siaga. Sudah kamu pantau aku saja."


Nara khawatir, ia tidak percaya pada suaminya. Tapi, ekspresi Arka begitu meyakinkan.


"Mas, pelan-pelan. Sudah biar aku saja."


"Sayang... tenang ya. Percaya sama suamimu yang tampan ini!" Arka mengkedipkan matanya.


Dengan perlahan Arka memandikan Miko. Mengikuti step by step seperti yang dilakukan Nara pada Lala.


"Ok. Sayang lihat. Aku hebatkan!" Arka bangga, menunjukkan putra mereka yang telah dibedong. "Aku ini Papa Siaga."


"Iya, Mas Arkaku sangat hebat."


"Jelas dong! Apa yang tidak bisa kulakukan?!" Arka mulai dengan mode sombongnya. Lalu tak lama ia tertawa, karena Nara menunjukkan ekspresi jijik.


Nara lalu meletakkan Miko di box baby. Putranya sudah anteng terlelap.


"Sayang, anak-anak kita sudah mandi. Sekarang giliran kita yang mandi."


"Ya, sudah sana Mas mandi duluan." Ucap Nara.


"Sayang, kamu mandikan aku. Setelah itu gantian aku yang mandikan kamu." Arka tersenyum lebar mengatakannya.


"Mandi sendiri sana, Mas." Nara mendorong suaminya menuju kamar mandi.


"Kita mandi bersama saja. Jadi ngirit waktu." Arka malah menarik Nara masuk ke kamar mandi.


"Mas Arka!!!" Pekik Nara kesal.


"Sayang, jangan berisik. Lala dan Miko baru bobok."


"Aku nggak mau mandi bersama!"


"Aku mau sayang."


"Mas Arka... Ihh!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2