
Arka memasuki rumah dengan wajah ditekuk. Bagaimana tidak? Nara menolak dirinya mentah-mentah. Tanpa basa basi, bahkan tanpa pemanasan terlebih dahulu.
"Ini... Bagi-bagi sama yang lain." Arka memberikan bungkusan berisi steik pada pekerja.
Ia tak mungkin membuang, itu makanan akan sangat mubajir. Mau diantar ke rumah Nara langsung, wanita itu pasti akan makin membencinya.
"Nak, kamu sudah makan malam?" Tanya Mommy yang melihat putranya lemas tak bertenaga.
"Aku sudah makan, Mom." Jawabnya dengan lemah. Ia berjalan menuju kamarnya.
Arka benar-benar tak habis pikir pada Nara. Wanita itu bahkan tak memberi kesempatan sedikit pun padanya. Apa kurangnya dia?
Apa dia kurang tampan?
Atau kurang baik?
Pria itu mendengus kesal. Seorang wanita menolak dirinya.
Padahal menurut pengalaman ke playboy-an Arka dahulu. Hanya mengedipkan sebelah matanya saja, wanita-wanitanya saat itu akan mendatanginya.
Lah, ini...
Jika ia mengedipkan mata, mungkin ekspresi Nara akan horor melihatnya.
'Seperti apa sih mantan suaminya?!'
\=\=\=\=\=\=
Nara meletakkan ikat rambut mahal di atas meja dengan hati-hati. Ia baru sadar. Tadi Arka menyuruhnya ikat rambut dengan barang itu.
'Apa aku kelewatan?'
Nara mengingat bagaimana tadi ia menolak atasannya itu mentah-mentah. Bahkan bayangan wajah pria itu yang berubah sedih, ikut memenuhi pikirannya.
'Besok aku harus bagaimana?!'
Nara bingung sendiri. Sikapnya pada pria itu pasti akan berdampak pada pekerjaan. Bisa saja besok pria itu memecatnya.
Atau membuatnya tidak betah dan mengundurkan diri atas kemauan sendiri.
'Astaga, Nara... Kenapa begini?!!!'
Nara ingin hidup bebas tanpa ada embel-embel menjalin hubungan.
Banyak yang jadi pertimbangan Nara saat ini. Menjalin hubungan, otomatis akan ke jenjang pernikahan. Kemudian apa? pasti tahap selanjutnya memiliki momongan.
Nara menghapus air matanya yang tiba-tiba berjatuhan. Tahap itu yang Nara tidak mampu. Hingga perselingkuhan dan perceraian itu terjadi padanya.
Wanita itu menggeleng. Ia tak mau jatuh di lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Menurut Nara, semua pria sama saja. Menginginkan ada penerusnya kelak. Dia yang tak mampu... hanya minder dan duduk dipojokkan.
Pagi itu, Nara sudah berada di meja kerjanya. Ia menghembuskan nafas berkali-kali.
Kini ia merasa canggung bertemu atasannya, perihal perkataannya semalam. Perkataan yang sudah menyakiti hati.
Yang Nara makin takutkan, bagaimana ekspresi pria itu saat melihat dirinya? Pasti wajah atasannya itu sangat tidak senang?
'Tenanglah, Nara. Masih banyak kerjaan lain di luar saja, jika dipecat dari sini!' Nara sudah pasrah, jika Arka akan memecatnya.
Tak
__ADS_1
Tak
Tak
Jantung Nara berdetak tidak seirama, mendengar langkah kaki itu. Langkah kaki yang makin lama makin terdengar jelas.
'Sapa nggak sapa nggak?!' Nara bingung sendiri harus bersikap seperti apa.
'Pura-pura sibuk saja!'
Nara fokus menatap layar komputernya. Ia akan bersikap seolah tidak tahu atasannya itu melewatinya.
"Selamat pagi, Nara." Sapa Arka dengan senyum lebar.
Lho, Nara bingung dengan ekspresi Arka pagi itu. Berbeda dari apa yang dipikirkannya.
"Pa-pa-pagi, Pak." Jawab Nara gugup sambil bangkit dari duduknya.
"Kelihatannya kamu sangat sibuk. Kamu begitu sangat rajin, saya akan menaikkan gaji kamu bulan depan." Arka menganggukkan kepala.
Nara terpelongo. Ia tak menjawab iya ataupun tidak.
"Selamat bekerja." Arka menyemangati wanita itu. Lalu kembali melangkahkan kaki.
'Kenapa dia? Apa dia kesambet? Menaikkan gaji bulan depan? Maksudnya aku dipecat atau apa sih?'
Perkataan yang Arka ucapan, terasa ambigu bagi Nara. Apa bulan depan ia akan mendapat gaji banyak, karena sekalian keluar pesangon?
\=\=\=\=\=\=
Nara meletakkan berkas yang diminta di meja Arka.
Nara masih berdiri di depan meja Arka. Ia akan mengembalikan ikat rambut mahal itu.
"Ada apa, Nara?" Tanya Arka yang melihat sekretarisnya itu belum keluar dari ruangannya.
"Sa-saya mau mengembalikan ini, Pak." Nara menunjukkan ikat rambut.
"Itu untuk kamu. Saya beli itu agar kamu tidak terus menerus membenarkan rambut."
"Tapi, Pak..." Nara tidak bisa menerimanya.
"Sudah kamu pakai saja. Nggak mungkin saya pakai ikat rambut itu. Apa yang mau saya ikat?" Tanya Arka menunjukkan rambutnya.
Nara benar-benar tidak enak hati.
"Oh iya, nanti malam kamu jadikan mentraktir saya?" Tanya Arka menagih janji.
Nara melihati Arka dengan ekspresi datar. Pria itu masih saja berusaha mendekatinya.
"Saya sudah bilang-"
"Saya mengerti. Tapi kamu semalam sudah berjanji. Saya hanya ingin mencicipi bakso yang kata kamu, enak dan besar-besar itu." Arka kembali beralasan. Ia akan mendekati Nara pelan-pelan dan bertahap saja.
"Kamu bisa anggap saya seperti teman kamu. Saya tidak masalah." Jelas Arka lagi. Ekspresi wanita itu selalu saja menolak.
"Baik, Pak." Nara sudah terlanjur berjanji. "Kalau begitu saya permisi."
"Hati-hati di jalan ya."
Karena hari sabtu, jam kerja hanya setengah hari saja.
__ADS_1
Arka masih melihati sekretarisnya itu yang keluar dari ruangannya.
Setelah Nara keluar, Arka tersenyum mengambang.
'Awalnya teman... lama kelamaan jadi teman hidup!'
\=\=\=\=\=\=
"Kamu di mana?" Tanya Arka yang sudah berada di dalam mobil. Ia sudah berada di lokasi tempat ketemuan dengan Nara.
"Sebentar, Pak. Saya masih di jalan." Jawab Nara.
"Kamu naik apa?" Tanya Arka khawatir.
"Ojek, Pak. Sebentar lagi saya sampai pak."
Arka melihat ponselnya. Nara sudah mengakhiri panggilan mereka. Pria itu melihat jalanan. Malam ini hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
"Itu dia?" Tebak Arka melihat sepeda motor menepi di dekatnya. Tampak seseorang melepas mantel hujan.
'Nara!'
Arka melihat Nara yang berlari kecil dalam derasnya hujan.
Arka pun segera turun dari mobilnya.
"Kenapa naik ojek?" Tanya Arka sambil menutupi kepala wanita itu dengan jaket.
Nara terpaku sejenak dengan perlakuan Arka.
"Seharusnya tadi kamu naik taksi saja." Ucap Arka setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Tadi di rumah nggak hujan, Pak. Sudah mau sampai sini baru turun hujan." Jelas Nara kemudian.
Arka mengambil tisu dan mengelap wajah Nara. Pria itu dengan sigap mengelap air hujan yang membasahi wajah Nara.
Tiba-tiba... tangan Arka terhenti. Ia segera mengalihkan pandangannya.
"Kita ke toko baju." Arka pun menghidupkan mesin mobilnya.
Nara bingung dan melihat dirinya. Ia segera menutupi tubuhnya dengan tangan. Pakaiannya basah kuyup, hingga kaca mata dalam itu tembus pandang.
"Jangan tutup pakai itu. Itu basah, lho." Ucap Arka yang melihat Nara malah menutupi diri dengan jaket yang sudah basah itu.
"Nggak apa kok, Pak." Nara masih menutup tubuhnya.
"Sa-saya nggak lihat kalau kamu pakai warna pink."
"Pak Arka!!!" Pekik Nara kesal. Katanya nggak lihat, tapi malah tahu warnanya.
"Ma-maaf maaf. Saya lihat se-"
Arka menjeda dan melihat Nara yang sudah memasang wajah kesal.
"Hanya sedikit!"
.
.
.
__ADS_1