KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 64 - Ingin Kembali


__ADS_3

"Yola... Aku mau bicara sama kamu!" Ucap Adam setelah meletakkan Mario yang sudah tertidur pulas di tempat tidur.


"Apa sih, Mas? aku mau tidur." Ucap Yola yang baru keluar dari kamar mandi. Acara telah berakhir dan tubuhnya terasa sangat letih.


"Mas!!! Besok saja nggak bisa apa?" Yola kesal, Adam memaksa menariknya keluar dari kamar mereka.


Adam membawa Yola ke ruang tamu. Jika di dalam kamar takutnya akan menganggu sang putra yang baru juga terlelap.


"Apa maksud sikap kamu tadi pada keluargaku, Yol?" Tanya Adam dengan nada tinggi. Ia merasa malu dan tidak enak hati dengan keluarganya.


"Sikap aku memangnya kenapa?" Tanya Yola kembali seolah tak merasa bersalah.


"Yola!!! Jangan buat aku semakin muak denganmu!!!" Bentak Adam yang benar-benar kesal dengan istrinya itu.


"Sikap apa yang harus aku lakukan pada keluargamu, Mas? menyambut mereka dengan karpet merah begitu? dan iring-iringan musik-"


"Yola!!!" Bentak Adam dengan suara keras. Wanita itu memancing emosinya.


"Mas, kenapa kamu membentakku? Apa salahku pada keluargamu?" Balas Yola membentak Adam penuh emosi. Ia tidak terima Adam membentaknya seperti itu.


"Astaga!!! Apa aku juga harus mengajarimu sopan santun?" Adam membalas bentakan Yola, lalu memijat dahinya. Yola memang tak tahu sopan santun dan suka seenaknya sendiri.


"Kenapa kamu tidak bisa sedikit bersikap seperti Nara?! Nara itu sangat sopan dan kamu?" Adam menggeleng, tak mengerti lagi mau mendeskripsikan Yola seperti apa.


"Stop, Mas! Jangan bawa-bawa wanita itu lagi!!!" Potong Yola cepat, tak mau mendengar nama itu.


"Seharusnya kamu juga berpikir, Mas. Tadi, teman-temanku juga datang. Aku harus menjamu mereka dong." Sambung Yola kembali dengan wajah makin kesal. Adam tak mengerti posisinya.


"Selama acara, kamu hanya bersama teman-temanmu itu. Bahkan kamu sedikitpun tidak peduli dengan Mario."


"Sudahlah, Mas. Jangan cari ribut terus. Ini sudah malam. Selalu saja aku salah di matamu."


Adam menghembuskan nafas berat sambil mengusap wajahnya kesal. "Tolong buatkan aku teh." Pintanya kemudian.


"Buat saja sendirilah, Mas. Aku sangat capek!" Yola meninggalkan Adam, ia kembali ke kamar.


'Kenapa aku bisa menikah denganmu? Jika saja Nara normal, aku juga tak akan memilihmu!'


Adam sangat kesal dengan Yola. Wanita itu tidak pernah patuh padanya. Setiap diajak bicara, pasti berakhir perdebatan.


\=\=\=\=\=\=


'Mereka bertengkar?' Batin Arka berdiri di balik tembok.


Arka datang sendirian ke rumah Adam. Ia sudah membawa kado untuk anak Adam, Mario. Tapi saat di dekat pintu masuk, ia malah mendengar perdebatan pasangan suami istri itu.


Setelah menguping cukup lama, Arka berniat pergi saja. Besok sajalah, ia akan memberikan kado itu pada Adam. Ini juga sudah malam, ia juga segan bertamu.

__ADS_1


Saat Arka berbalik arah dan akan berjalan menuju mobilnya.


"Arka!"


Seseorang memanggilnya. Adam akan menutup pintu dan melihat Arka.


Arka meruntuki dirinya yang malah menguping dan bukannya langsung pergi saja. Ia pun membalikkan badan.


"Maaf, Dam. Aku datang terlambat. Apa acaranya sudah berakhir?!" Basa basi Arka merasa canggung.


"Ayo... masuk, Ka." Adam mempersilahkan. Arka untuk masuk ke rumahnya.


"Aku hanya sebentar saja. Mau memberikan kado ini untuk Mario." Arka memberikan kado yang dibawanya pada Adam.


"Kenapa repot-repot!" Adam menerima kado tersebut. "Ayo keluar sebentar!" Ajak Adam.


Tak lama mereka berdua berada di sebuah kafe.


Arka menatap bingung Adam yang merokok. Seingatnya saat kuliah pria itu tidak pernah memegang rokok. Alasannya, dari pada beli rokok mending buat makan besok.


"Sejak kapan kau merokok?" Tanya Arka penasaran.


"Sekali-kali. Kalau lagi suntuk saja, Ka." Jawab Adam sambil menghembuskan asap rokoknya pelan.


"Kau ke mana tadi, Ka? Bukannya kau ajak gebetanmu itu."


"Oh iya... Jadi sudah sampai mana hubungan kalian?" Tanya Adam kembali.


"Aku sudah melamarnya. Dan dalam waktu dekat kami akan segera menikah." Ucap Arka serius.


Adam menepuk pundak Arka pelan. "Selamat ya. Wanita itu pasti beruntung mendapatkanmu-""


"Aku yang beruntung mendapatkannya." Sela Arka cepat dengan wajah makin serius.


Adam merasa aneh, Arka berbicara terlalu serius. Seolah menegaskan ia sangat yakin dengan wanitanya.


"Pasti kau sangat mencintai wanita itu." Adam menganggukkan kepala yakin.


"Iya, aku sangat mencintainya." Ucap Arka tegas dan penuh keyakinan.


"Kau kenapa, Dam? Sepertinya sedang banyak masalah?" Arka balik bertanya pada Adam. Wajah Adam tampak suntuk.


"Entahlah, aku pusing dengan istriku sekarang." Adam memijat pelipisnya pelan. Tingkah Yola semakin membuatnya muak.


"Apa kau mau nambah istri lagi?" Ledek Arka.


"Si-alan kau. Aku ingin kembali ke mantan istriku lagi." Ucap Adam sambil tersenyum tipis.

__ADS_1


Deg


Arka diam mendengar penuturan Adam.


"Kenapa? apa kau menyesal?" Arka menatap serius.


"Sepertinya begitu. Saat bersamanya, aku merasa menjadi pria yang paling istimewa." Adam teringat bagaimana sikap dan perhatian Nara, ketika mereka masih bersama. Jika diberitahu, Nara akan mengangguk dan mengerti. Tidak seperti Yola, makin diberitahu makin panjang mereka berdebat. Dan Yola itu tahunya menjawab saja.


"Aku sudah 2 kali mengiriminya pesan. Tidak pernah dibalas, hanya dibaca saja, Ka." Adam memberitahu.


"Berarti kau diacuhkannya." Tawa Arka meledek. Ia sedikit lega, ternyata Nara tak merespon Adam.


"Kenapa dia mengacuhkanku? Apa dia sudah punya pria lain?" Adam memikirkan kemungkinan yang terjadi.


"Pastilah, Dam. Kalian juga sudah lama bercerai. Untuk apa dia tetap mengingatmu. Wajahmu biasa-biasa saja." Ledek Arka kembali.


Adam malah tertawa. "Kau saja Ka yang tidak tahu. Dia selalu bilang kalau aku pria paling tampan dan paling dicintainya." Adam tersenyum mengingat Nara kembali.


Ada rasa kesal Arka mendengar perkataan Adam. Sepertinya Adam serius ingin kembali pada mantan istrinya lagi.


"Untuk apa kau memikirkan wanita lain? Istrimu itu mau di kemanai?" Arka mengingatkan Adam, tentang istri barunya itu.


"Aku muak setiap hari berdebat terus dengannya. Dia tak pernah menghargai aku sebagai suaminya. Aku berniat akan berpisah saja darinya." Adam sudah jenuh dengan Yola.


"Bagaimana anak kalian?"


"Anak akan tetap bersamaku. Aku yang akan merawatnya." Adam sudah merencanakan akan berpisah saja dari Yola. Ia tidak menyukai sifat dan sikap Yola yang tak pernah menghargainya.


"Aku akan mendekati mantan istriku lagi."


"Tidak bisa!!!" Sanggah Arka segera. Ia tidak setuju dengan rencana Adam.


"Ke-kenapa, Ka?" Tanya Adam dengan wajah bingung.


"Sebaiknya jangan kau ganggu lagi mantan istrimu."


"Dia belum menikah lagi, Ka. Dia pasti masih mencintaiku. Aku akan merebut hatinya kembali." Adam sudah bertekad.


"Mantan istrimu pasti sedang dekat dengan pria lain." Arka menyadarkan Adam.


"Selagi janur kuning belum melengkung. Aku masih berhak memilikinya."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2