KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 32 - Terpesona


__ADS_3

"Mom, ini."


Sampai rumah, Arka memberikan titipan Nara pada mommynya yang berada di ruang tamu.


"Apa ini?" Tanya Mommy bingung menerima kotak makan itu. Ini kotak makan yang semalam diberikan pada Nara.


"Itu dari Nara." Ucap Arka memberitahu.


Wajah Mommy jadi bahagia. "Dari calon menantu Mommy?!"


Arka mengangguk seraya memberikan senyum terpaksa. Terserahlah, kan masih calon. Semua wanita... kan juga calon istrinya.


"Nara!" Mommy tersenyum bahagia melihat isi dalam kotak makanan tersebut. Isinya kukis.


"Kata Nara... dia segan mengembalikan kotak makan tanpa mengisinya, Mom." Arka harus menyampaikan pesan Nara tadi.


"Enak lho ini, Ka. Pasti dia buat sendiri khusus untuk calon mertuanya." Mommy jadi terharu memakan kukis buatan Nara itu.


Mommy juga menyodorkan kukis itu pada Arka.


Arka mengambil satu kukis. Dan menatapnya sejenak. Lalu menggigitnya.


'Enak!' Arka pun menghabiskannya dan akan mengambil kukis kembali.


"Tidak boleh. Ini Nara buat khusus untuk Mommy." Wanita paruh baya itu menepuk tangan Arka. Ia tak mau berbagi dengan Arka.


"Minta satu saja Mom. Jangan pelit gitu sama anak sendiri." Arka kesal, Mommynya mau memakan kukis itu sendirian.


Walaupun Nara memberikan untuk Mommynya, dia juga ingin memakannya.


"Kamu minta saja Nara membuatkan untukmu. Dia kan kekasihmu. Sudah ah... Mommy mau makan kukis ini sambil minum teh." Mommy membawa kukis itu pergi.


"Mommy pelit." Ucap Arka kesal mengiringi kepergian mommynya, yang tak peduli sedikitpun.


\=\=\=\=\=\=


Arka mengguyur tubuhnya dibawah aliran shower. Sambil beberapa kali menghembuskan nafas.


Wajah Nara tiba-tiba saja memenuhi pikirannya. Ekspresi wajah Nara yang begitu menggemaskan.


'Dia memang cantik. Terus kenapa?' Batin Arka kesal pada dirinya sendiri, yang malah memikirkan sekretarisnya itu.


Arka menggeleng-gelengkan kepala, menghalau wajah Nara yang terus bermunculan dalam pikirannya.


"... Janda menggemaskan."


"... Janda menggemaskan."


"... Janda menggemaskan."


Ucapan Sam yang menyebalkan itu, juga ikut mengiringi pikirannya.


Tak berapa lama, Arka keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggan.


Ia tersenyum menatap dirinya dalam pantulan kaca. Memang ia pria tampan dari lahir.


"Arka!!!" Pekik Mommy. menggedor-gedor pintu kamar Arka.


Arka yang melamun, kaget mendengar suara cempreng sang Mommy.

__ADS_1


"Sebentar Mom. Aku belum berpakaian!" Jawab Arka sambil membuka lemari.


"Cepat buka pintu!!!" Wanita paruh baya itu tetap mengedor pintu kamar Arka.


"Ada apa, Mom?" Tanya Arka kesal setelah membuka pintu.


"Kamu nggak menelepon Nara?" Tanya Mommy menatap serius.


Arka menggeleng." Aku capek, Mom. Mau istirahat."


"Telepon Nara. Mommy mau mengobrol dengannya." Pintanya dengan wajah memelas.


"Dia sudah tidur." Alasan Arka. Ia tidak mau menelepon Nara.


"Masih pukul 8! Ayo, cepat dihubungi dia. Arka..." Bujuk Mommy manja. "Mommy cuma mau berterima kasih karena Nara telah membuatkan kukis untuk Mommy."


"Besok, akan aku sampaikan padanya." Arka tetap menolak.


Mommy menggeleng. "Mommy mau berterima kasih langsung pada Nara."


"Mom..."Arka menggeleng.


"Arka..." Mommy mengangguk.


Sementara di tempat lain. Nara telah selesai mandi dan mensisir rambutnya.


Deringan ponsel, membuat Nara bangkit dan meraih tas yang tergantung di balik pintu.


"Pak-pak Ar-Arka? Ngapain dia meneleponku?!" Nara bingung jadinya, Arka tiba-tiba meneleponnya.


Nara pun segera mengunci pintu. Takut jika nanti ada yang masuk.


"Nara!!!" Sela Arka cepat. Sebelum Nara memanggilnya Pak. Arka saat ini menspeaker suara ponselnya.


"Kamu sudah makan, sayang?" Tanya Arka seolah perhatian, sambil tersenyum dengan terpaksa pada mommy.


Mommy senyum melihat putranya yang perhatian pada sang kekasih. Arka begitu sangat mencintai Nara.


"Mak-" Nara akan berucap.


"Kamu jangan telat makan. Aku nggak mau kamu sakit, sayang." Sela Arka kembali.


Nara terbengong mendengar ucapan Arka. Apa yang dibicarakan pria ini sebenarnya?


"Sayang, Mommy mau bicara sama kamu. Boleh?" Tanya Arka melirik sang mommy.


Nara pun jadi mengerti. "Boleh, Mas." Jawab Nara. Walau bingung, Arka bilang ia sudah tak perlu berpura-pura lagi. Tapi kenapa ibunya Arka ingin bicara dengannya.


"Nara, apa kabarnya calon menantu mommy? Kamu sudah makan? Lagi apa ini?" Tanya Mommy bertubi-tubi.


"Mom, satu-satu tanyanya!" Arka mengingatkan.


"Baik Tante. Tante apa kabar?" Jawab Nara kembali.


Mata Nara terbelalak saat ponsel itu meminta untuk beralih ke video call. Ia menghela nafas sebelum menekan layar.


"Mommy baik sayang. Terima kasih sudah memberikan kukis. Itu kamu yang buat?" Mommy tersenyum melihat wajah Nara di layar ponsel tersebut.


Nara sangat cantik, pantas Arka jatuh cinta padanya. Selain itu menurut mommy, Nara baik dan juga sopan. Bisa masak lagi. Benar-benar tipe wanita idaman pria.

__ADS_1


"Iya, Tan. Bagaimana rasa kukisnya?" Tanya Nara kembali. Wanita itu terpaksa tersenyum lebar. Ia juga melihat bos besarnya itu menganggukkan kepala di belakang mommynya.


Arka membiarkan mommynya mengobrol dengan Nara. Mungkin besok saat di kantor, ia akan menjelaskan semua pada wanita itu.


Arka memilih menonton tv yang berada di kamarnya. Ia kembali menggelengkan kepala melihat Mommynya berhaha hihi. Sepertinya obrolan mereka sangat menyenangkan.


Arka perlahan tersenyum melihat wajah mommy begitu sangat bahagia.


'Apa aku nikahi Nara saja?!' Batin Arka yang ingin membahagiakan mommynya.


'Astaga!!! Apa yang kupikirkan?!!!' Arka menghempas pikiran yang tidak masuk akal itu.


Ia berniat akan menduda selamanya. Jadi untuk apa memikirkan wanita.


"Nara... Kamu ngobrol sama Arka ya." Setelah puas mengobrol dengan Nara, Mommy memberikan ponselnya pada Arka.


"Nara... mommy tidur dulu ya. Kamu sama Arka jangan ngobrol sampai tengah malam." Mommy mengingatkan. Ia pun melambaikan tangan pada Nara.


Sesaat setelah mommy keluar kamar. Seketika hening.


Nara dan Arka sama-sama bingung sekarang.


Nara ingin mengalihkan ke panggilan suara saja, karena terasa canggung melihat wajah Arka di layar ponselnya. Tapi... Lidahnya tak bisa berucap.


Sedangkan Arka, pria itu juga bingung. Wajah cantik wanita itu memenuhi layar ponselnya.


"I-itu..." Arka mendadak gugup melihat wajah Nara yang mendadak serius menunggunya berucap.


"Sa-saya minta maaf. Saya jadi merepotkan kamu. Ibu saya tadi ingin berbicara sama kamu. Sa-saya minta maaf, telah menganggu waktu istirahatmu."


"Nggak kok." Nara melambaikan tangan, mengisyaratkan ia tidak masalah.


"Ibu saya sangat menyukaimu." Ucap Arka melihat wajah Nara yang mengangguk pelan.


"Tapi... Saya akan segera-" Arka melirik ke arah pintu. Ia pun menghembuskan nafas.


"Nara... Maafkan mas Arka yang kaku ini!!!" Teriak mommy yang dari tadi menguping pembicaraan anaknya.


"Mom!" Arka tak habis pikir. Mommy itu menguping, padahal ia tadi sudah mengira ibunya itu telah pergi ke kamar.


Nara yang mendengar ucapan ibunya Arka, menutup mulutnya. Berusaha menahan tawa. Ia membenarkan jika Arka sangat kaku.


"Haha... Maaf, Pak." Nara jadi tertawa sejenak.


Deg


Deg


Deg


"Cantik." Gumam Arka yang terpesona sesaat.


"Hah? Apa pak?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2