KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 103 - Kelakukan Arka


__ADS_3

"Tampannya anak Mama ini." Yola menciumi pipi putranya yang sudah berpakaian rapi.


"Sayang, doai ya. Mama lolos interview. Jadi kita bisa pindah dari tempat ini." Yola memandangi ruangan kecil itu.


Setelah kabur dari Adam, Yola tinggal di kost-an satu kamar. Ia tidak mau menyewa tempat yang besar. Ia harus hemat, uang yang ia bawa hanya dapat mencukupi kebutuhan hidup beberapa bulan ke depan. Ia belum dapat pekerjaan.


Yola keluar dari kost-an tersebut sambil menggendong Mario. Ia berjalan ke simpang jalan untuk menunggu angkot yang lewat.


Kehidupan Yola sangat berbeda sekarang. Dulu, walaupun menurut Yola, Adam itu pelit. Untuk makan dan kebutuhan lainnya masih tercukupi.


Lalu bersama selingkuhannya. Hidupnya begitu mewah. Dicurahi semua yang dibutuhkannya. Bahkan selingkuhannya sanggup memberikan barang branded yang tidak bisa dilakukan Adam. Tapi, ia harus tutup mata, telinga bahkan hati melihat selingkuhannya membawa pulang wanita yang berbeda-beda.


'Nak, Mama akan berubah. Mama akan menjadi ibu yang membanggakan untukmu dan adikmu ini.'


Yola turun dari angkot dan membayar ongkos. Ia pun berjalan menuju kafe tempat janjiannya tersebut.


Wanita itu sempat memposting bahwa ia sedang butuh pekerjaan di media sosial. Banyak yang membalas dan menawarkan beberapa pekerjaan.


Dari banyaknya tawaran, ada satu tawaran yang menurutnya sangat baik. Menjadi pengasuh di penitipan anak. Dengan begitu ia pasti diperbolehkan membawa Mario selama bekerja.


Yola menghembuskan nafasnya panjang. Ia akan memulai dari awal lagi.


Yola mengetik pesan.


"Kamu sudah sampai?"


Deg


Yola menoleh ke arah suara. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat Adam.


"Aku datang kemari untukmenjemput anakku." Adam mengambil paksa Mario dari Yola.


"Dia anakku bukan anakmu." Yola menahan Mario. Ia tidak menyangka, Adam begitu mudah menemukan lokasinya sekarang.


Adam tetap merebut anak tersebut dari tangan Yola. Meski wanita itu menahannya.


"Tes DNA sudah mengatakan hasilnya. Sudah... berikan Mario padaku. Atau aku bisa melaporkanmu. Kau bisa terbenam di penjara selamanya!!!" Ucap Adam santai.


Genggaman Yola yang erat pada Mario mendadak lemah, mendengar kata penjara.

__ADS_1


Kini Mario sudah berada dalam gendongan Adam.


"Yola, sekali lagi kuperingatkan padamu. Jangan lakukan hal seperti ini lagi. Atau... penjara lebih membuatmu mengerti." Adam memperingatkan Yola.


Wanita itu sampai tak bisa berucap. Ia tidak bisa jika di penjara. Bagaimana nanti dengan Mario atau anak dalam kandungannya? Ia tidak dapat merawat mereka.


Yola meremas tangannya, jujur ia bingung harus bertindak.


"Mario sayang. Kamu pulang sama Papa ya." Adam bernafas lega melihat putranya, yang selama ini selalu dirindukannya.


"Pa-pa. Papa." Ucap bocah kecil tersebut.


Adam terharu. Mario masih mengingat dirinya. Bahkan sudah lama tidak bertemu, kini putranya bisa manggilnya dengan lancar.


"Ma-ma." Sambung Mario kembali menunjuk Yola.


Adam dan Yola saling menatap dengan tatapan yang sulit diartikan.


\=\=\=\=\=\=


Nara menatap suaminya yang sedang berkaca. Sikap Arka setelah ia melabrak Adam masih tetap biasa saja. Seperti tidak terjadi apapun.


"Mas Arka..." Panggil Nara dengan nada manja.


"Iya, sayang." Jawab Arka masih sibuk menyisir rambutnya. Ia bingung mau menyisir model apa.


"Mas, apa aku cerewet ya?"


Mendengar itu Arka mengalihkan pandangan pada istrinya itu. Lalu ia mengangguk.


"Aku cerewet?!" Nara memastikan kembali.


"Iya. Kamu itu cerewet." Ledek Arka melihat wajah Nara yang sudah kesal. "Tapi, wajar saja. Semua wanita memang cerewet."


"Aku kan hanya meluapkan kekesalanku, Mas. Adam menjelekkanku di depanmu. Pasti sudah sering ia melakukan itu." Nara tak habis pikir dengan sang mantan.


Arka diam. Benar yang Nara katakan. Tah sudah berapa kali Adam menjelekkan Nara. Ada saja yang terlintas di pikiran Adam untuk membuatnya meragukan Nara.


"Sayang, sudahlah. Aku wajar kamu begitu. Tapi, lain kali jangan seperti itu lagi. Ingat bayi dalam kandunganmu." Arka tak ingin Nara memperdulikan Adam lagi.

__ADS_1


"Tidak bisa, Mas. Aku marah dan harus melampiaskan semuanya. Ini juga pengaruh kehamilan. Bayi-bayiku juga ingin memarahi Adam. Mereka marah, Mas!!!" Ujar Nara beralasan.


Arka mengelus kepala Nara. Ada saja alasan wanita itu.


"Sayang, tolong sisir rambutku." Arka mensejajarkan dirinya agar istrinya yang sedang duduk, dapat menyisirnya.


Nara menyisir rambut suaminya. Rasanya kini Arka makin bertambah manja saja.


Selama Nara menyisir rambutnya, Arka menikmati wajah sang istri. Nara itu wanita yang sangat cantik. Walaupun tubuh istrinya mulai melebar, Nara tambah mempesona di mata Arka.


"Itu ngapain, bibirnya maju-maju? Mau disisir juga?" Ledek Nara.


"Cium." Bibir Arka makin maju.


"Nggak mau." Tolak Nara.


Arka pun mendekatkan kepalanya di perut Nara.


"Anak-anak Papa... Mama nggak mau cium Papa lagi." Adu Arka pada bayi-bayi dalam kandungan.


Nara jadi terbengong, Arka ada-ada saja.


"Kalian ingin Mama mencium Papa, kan? berapa? 10 kali?" Arka melirik Nara seolah apa yang dikatakannya permintaan anaknya.


"Sayang, anak-anak kita ingin Mamanya mencium Papanya 10 kali." Arka memberitahu.


"Aku tidak mau." Nara membuang muka. Suaminya pandai mengarang cerita.


"Sayang, ini permintaan anak-anak kita." Arka kembali meyakinkan. "Kamu cium aku sekarang."


Nara masih menggeleng.


Arka kembali mendekatkan kepalanya ke perut Nara. "Apa Nak? Yang hot. Sayang, ciumannya harus yang hot."


Nara menepuk jidatnya. "Hot hot hot... Cium tuh kompor sana!!!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2