KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 19 - Hari Pertama


__ADS_3

"Sudah?" Tanya Sam.


Nara mengangguk, ia tadi meminta izin menghubungi Bundanya. Memberi tahu bahwa ia akan langsung bekerja.


Nara mengikuti Sam dari belakang. Mereka masuk ke lift dan menuju ke lantai 10.


"Ini tempat kerja kamu." Sam membawa Nara ke meja kerjanya.


"Terima kasih, Pak." Nara menganggukkan kepala.


'Kok aneh dipanggil Pak sama cewek cantik?'


"Mari ikut saya. Kita temui atasan di sini, Pak Arka."


Nara mengikuti langkah Sam yang masuk ke ruangan yang berada di dekatnya.


Sam mengetuk pintu. Dari dalam suara bariton menyuruh masuk.


"Selamat pagi, Pak. Ini saya bawa sekretaris baru." Sam memberitahu.


"Kamu perkenalkan diri." Pinta Sam pada Nara.


Nara pun memperkenalkan dirinya.


Pria yang duduk di kursi kebesarannya, melihat Nara.


'Di mana pernah lihat ini cewek?' Batin Arka mengingat-ingat wajah yang tak asing.


"Kamu!!!" Arka menunjuk Nara ketika sudah mengingatnya. Wanita yang membuat jorok mobilnya.


"Sa-saya, Pak." Nara menjawab dengan gugup, sangking kagetnya tiba-tiba ditunjuk seperti itu oleh Arka.


"Kamu nggak ingat saya?" Tanya Arka kemudian.


Sam melihat atasannya bingung. Apa Arka mengenal janda cantik itu? Dimana? Dan bagaimana?


Nara mulai mencoba mengingat. Siapa pria itu? Apa dia pernah mengenalnya?


Beberapa bulan mengurung diri di rumah, membuat Nara sulit mengingat orang.


"Maaf, Pak. Saya nggak ingat. Anda siapa ya?" Nara tak pernah merasa bertemu dengan Arka sebelumnya.


Sam terbatuk mendengar jawaban Nara yang polos. Ia menahan diri untuk tidak tertawa. Sebab mata Arka sudah menatapnya tajam.


"Sepertinya saya salah orang." Arka akan melupakan insiden tersebut. Asisten menyebalkan itu pasti akan menertawakannya, jika ia ributkan hal sepele.


"Kamu tanya Sam apa saja yang harus kamu kerjakan. Dan kamu Sam... beritahu apa saja yang harus dia kerja-" Arka belum menyelesaikan ucapannya.


"Siap Pak. Laksanakan." Dan Sam menjawab dengan semangat. "Mari ikut saya."


Sam dan Nara pun segera keluar dari ruangan itu.


'Kenapa si Sam begitu bersemangat?! Apa dia naksir wanita itu?'


\=\=\=\=\=\=


Nara mendengarkan dengan serius semua yang disampaikan Sam, perihal apa saja yang harus ia kerjakan. Mencatatnya juga agar tidak ada yang lupa atau salah nantinya.


Sam senang menjelaskan pada Nara. Wanita itu selalu menganggukkan kepala, membuat rambut ekor kudanya bergoyang-goyang. Nara jadi terlihat sangat lucu.


"Ini kamu kerjakan, pindahkan ke sini. Nanti kalau sudah selesai, segera berikan pada pak Arka." Pinta Sam memberikan Nara tugas.


"Baik, Pak." Jawab Nara semangat.


"Saya tinggal ya. Kamu yang semangat."

__ADS_1


Nara menganggukkan kepala. Lalu ia mulai mengerjakan apa yang ditugaskan Sam.


Tak Lama, Nara selesai juga dengan tugasnya.


'Ok selesai. Mari kita antar.'


Nara membawa berkas itu dan langsung masuk ke ruangan atasannya.


"Pak Arka..." Ucap Nara dengan semangat.


Arka yang sedang fokus dengan dengan pekerjaannya, kaget karena tiba-tiba ada yang masuk tanpa mengetuk pintu.


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu?" Tanya Arka dengan menahan kesal. Jantungnya hampir saja copot.


"Maaf, Pak. Akan saya ulang dengan benar." Nara pun keluar ruangan.


"Itu.." Arka tak sempat berkata, wanita itu sudah keluar saja.


Arka terbengong sesaat, mendengar suara ketukan pintu. Bisa-bisanya sekretaris baru itu melakukan adegan ulang.


"Masuk." Jawab Arka. Terserah wanita itu sajalah.


"Pak, ini berkasnya." Nara meletakkan di meja.


Arka melihatnya sejenak. Lalu tak lama ia melihat Nara.


'Lumayan rapi juga kerjanya.'


"Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Nara sebelum ia beranjak keluar ruangan.


"Tolong buatkan saya kopi." Ucap Arkan. Ia sudah mulai mengantuk.


"Baik, Pak." Nara pun segera keluar dari ruangan itu.


Beberapa menit kemudian...


"Masuk." Ucap Arka. Ia melihat sekretarisnya yang datang.


Ternyata sekretaris barunya sudah mengerti mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangannya.


"Pak, ini kopinya." Nara meletakkan secangkir kopi di meja.


"Apa ini?" Tanya Arka melihat cangkir di mejanya.


"Kopi, Pak." Jawab Nara. Ia merasa Arka itu aneh. Sudah tadi dibilang kopi, tapi pria itu masih nanya juga.


Arka melihat kopi hitam itu, lagi-lagi pasti Sam tak memberitahu wanita ini. Jika seharusnya membuatkan kopi susu.


"Tolong buatkan kopi susu. Saya tidak minum ini." Tolak Arka.


"Ayah saya setiap pulang kerja selalu minum kopi hitam dan makan gorengan." Ucap Nara mengingat kebiasaan Ayahnya.


Arka menatap Nara tak senang. Membuat wanita itu segera mengambil cangkir itu.


"Akan saya buatkan kopi susunya." Nara pun bergegas keluar ruangan.


'Minum kopi hitam, makan gorengan. Apa dia kira ini kedai kopi?'


Tak beberapa lama kemudian...


'Astaga!!!' Arka menepuk jidatnya. Wanita itu memancing kesal Arka saja.


"Kenapa kamu tambahkan es?"


Nara kini membawakannya kopi susu dingin.

__ADS_1


"Saya biasanya minum kopi susu dingin, Pak. Kalau yang panas kurang komplit tanpa gorengan." Jelas Nara memberitahu kebiasaannya.


"Nara..." Panggil Arka menahan kekesalannya. Arka berusaha sabar, ini masih hari pertamanya. Harus dimaklumi.


"Baik, Pak. Akan saya buatkan kopi susu panas." Nara mengambil gelas di meja Arka.


Saat Nara akan keluar, Sam akan masuk. Ia melihat Nara membawa gelas.


"Pak Arka maunya kopi susu panas." Sam lupa memberitahu Nara.


"Iya, Pak Mau saya ganti ini."


"Itu gelasnya mau dibawa ke mana?" Sam menunjuk gelas yang dipegang Nara.


"Pak Sam mau kopi ini? Belum diminum."


Sam mengangguk. Ia pun menerimanya.


"Terima kasih." Ucap Sam.


Mereka berdua tidak menyadari, ada mata tajam yang sedang memperhatikan.


"Sudah ngobrolnya?"


Nara dan Sam melihat ke arah suara. Keduanya pun segera bubar.


"Bagaimana?" Tanya Arka kemudian.


"Perusahaan Harapan Jaya menunda kesepakatan." Sam memberitahu.


"Kenapa? Bukankah kesepakatan kerja sama harus ditanda tangani hari ini?" Tanya Arka dengan wajah serius.


"Seharusnya seperti itu, Pak. Tapi ada sedikit kendala."


"Kendala apa?"


"Anda."


"Saya? Maksud kamu?" Arka menunjuk dirinya bingung.


"Anda sudah menolak perjodohan." Sam mengatakan dengan suara sedikit pelan.


"Apa?" Arka malah menaikkan suaranya yang kaget mendengar alasan itu.


Arka baru ingat saat ia kabur meninggalkan sang Mommy, yang mau menjodohkan dirinya dengan anak teman arisannya.


Ternyata Mommynya akan dijodohkan dengan anak pemilik perusahaan itu.


Padahal rencana kerjasama itu telah direncanakan dari 3 bulan yang lalu.


"Batalkan saja." Arka menolak menjadikan dirinya tumbal. Walau itu perusahaan warisan mendiang Daddynya.


Arka akan mengembangkan perusahaan itu, tanpa diembel-embeli perjodohan.


"Sudah waktunya pulang." Arka melihat jam tangan. Sudah pukul 4 sore.


Arka berjalan keluar ruangan. Ia melihat sekretaris barunya membawakan secangkir kopi pesanannya.


Sudah jam pulang kantor dan Nara baru membuatkannya kopi yang sesuai maunya. Padahal ia memintanya sejak siang tadi.


"Pak, Ini kopinya." Nara memberikan kopi itu.


"Kamu minum saja sendiri." Arka pun melangkah pergi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2