KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 28 - Kecurigaan Gio


__ADS_3

"Gio!!!" Nara kaget tiba-tiba saja adiknya sudah ada di belakangnya. Ia memegangi dada, menetralkan detakan jantungnya yang hampir copot.


"Kak Nara diantar siapa?" Tanya Gio menunjukkan wajah curiga.


Glek


Nara berusaha tenang dengan tatapan adiknya.


"Si abang." Jawab Nara.


"Abang siapa?" Gio penasaran.


"Abang ojol, lho." Ucap Nara sambil tersenyum.


Gio berpikir sejenak. "Kakak bohong!"


"Bohong apa? kamu dari mana?" Tanya Nara mengalihkan topik pembicaraan, sambil berjalan menuju rumah.


"Ini beli nasi goreng, kak." Gio menunjukkan bungkusan.


Nara mengangguk melihat bungkusan adiknya.


"Kakak pasti diantar sama pria kan? Itu tadi pacar kak Nara?" Terka Gio yakin.


Nara menggeleng. Ternyata Gio melihatnya turun dari mobil Arka.


"Kamu ngomong apa sih?!" Nara berusaha bersikap biasa saja.


"Aku lihat kakak diantar naik mobil." Ucap Gio. Ia tadi melihat Nara turun dari mobil mewah.


"Iyalah, kan ini sudah malam. Jadi kakak naik kenderaan online." Nara memberikan alasan yang masuk akal.


"Aku nggak percaya. Mobilnya mewah. Masa jadi kenderaan online?!" Gio tak percaya.


"Terus kenapa? mungkin dia lagi butuh uang." Ucap Nara tetap tenang.


"Sudah pulang?" Tanya Bunda saat melihat Nara dan Gio.


"Maaf, Bun. Nara pulang telat. Tadi sedikit macet." Alasan Nara.


Bunda mengangguk tak masalah. Berbeda dengan Gio yang melihat Nara serius. Adiknya ini masih mencurigai Nara.


"Kak... ayo makan!" Ajak Gio kemudian.


"Kamu makan saja, kakak tadi sudah makan." Tolak Nara yang masih kenyang. "Bun, Nara ke kamar."


Bunda mengangguk pelan.


"Bun, ada yang mau aku bilang." Ucap Gio membawa Bundanya ke dapur.


"Apa sih, Yo?"


"Itu... Kak Nara, tadi diantar sama pria!" Gio berucap pelan memberitahukan Bundanya.

__ADS_1


"Kakakmu kan memang dijemput dan diantar pria." Ucap Bunda. Selama ini Nara pergi ke kantor dengan naik ojek. Wajarlah jika pengemudinya seorang pria.


"Diantar naik mobil, Bun. Terus turunnya agak jauh dari rumah kita." Gio menerangkan.


"Ini sudah malam. Wajar kakakmu naik kenderaan online-"


"Ini mobil mewah, Bun. Aku yakin kakak lagi dekat sama pria di dalam mobil itu-"


"Kalau pria, kalau di dalam mobil itu wanita gimana?" Bunda menggeleng.


"Bun, aku yakin ada pria yang lagi dekat dengan kakak. Dia-"


"Gio, sudahlah. Jika Nara sedang dekat dengan seorang pria, biarkan saja. Nanti dia pasti akan mengenalkan pada kita."


"Tapi, Bun... Aku nggak mau nanti kak Nara bertemu dengan pria yang sifatnya sama seperti Adam." Gio masih kesal dengan abang iparnya itu. Ia tak rela Nara disakiti lagi.


"Makanya kita doakan yang terbaik untuk kakakmu. Sudah... Ayo kita makan. Nasi gorengnya sudah dingin."


\=\=\=\=\=\=


"Pagi Mom." Sapa Arka saat berada di meja makan.


"Pagi juga anak tampan Mommy." Balas Mommy. Lalu fokus lagi sambil senyum-senyum pada ponselnya.


"Lihat apa sih Mom sampai senyum-senyum sendiri gitu?" Tanya Arka seraya melahap sarapannya.


"Mommy sudah memberitahu pada grup keluarga besar kita, bahwa kamu sebentar lagi akan menikah." Jelas wanita paruh baya itu dengan senyum mengambang.


Arka tersedak mendengar ucapan itu.


"Mom, kami belum sejauh itu. Kenapa Mommy sudah mengatakan pada yang lain?" Arka tak habis pikir. Rencananya berantakan. Padahal niatnya dua minggu lagi, ia akan mengatakan pada Mommy bahwa mereka sudah putus.


"Kan nggak apa! Niat baik itu harus segera diberitahu. Lihat nih, banyak komentar yang mendoakan kamu. Ini kata tantemu... Selamat ya Arka, semoga lancar sampai akad. Terus ini lagi..." Mommy membacakan komentar-komentar keluarga besarnya.


"Stop, Mom." Sanggah Arka cepat.


"Kamu ini kenapa sih?" Mommy merasa Arka aneh.


"Mom!"


"Kamu cepat melamar Nara. Apa mau mommy bantu melamarnya?" Wanita paruh baya itu sangat bersemangat sekali.


"Mom, aku ingin memberikan kejutan saat melamarnya. Kalau Mommy bilang sekarang, kejutanku akan terasa hambar."


Arka ingat apa yang tadi malam ia bisikan pada Mommynya. Ternyata ucapan itu membuat salah paham sang ibu kandung.


Dan ucapan itu juga yang membuat Mommynya jadi yakin, jika ia sangat serius pada Nara. Hingga begitu cepat mengabarkan pada sanak keluarga mereka.


'Berbohong itu dosa. Apalagi membohongi ibu kandungmu sendiri.' Arka membatin dalam hati.


"Kamu mau melamar Nara dengan versi apa? Atau gini saja." Mommy akan memberi saran.


"Nanti kamu boking privat room di sebuah restauran mewah. Lalu didesign bernuansa romantis. Terus kalian makan malam dan kamu melamar dia. Terus kalau diterima, akan ada kembang api bertaburan di langit. Romantis, kan Arka...?!" Mommy sudah membayangkan lamaran romantis, yang akan membuat setiap wanita terharu karena bahagia.

__ADS_1


Arka melihat Mommynya yang begitu sangat bersemangat. Ada rasa bersalah dalam hatinya. Telah berbohong.


"Mom, ada waktunya kita bicarakan hal itu. Aku mau berangkat ke kantor." Arka akan mengakhiri percakapan ini.


"Tunggu sebentar." Mommy bangkit dan menuju ke dapur.


"Ini kamu berikan pada Nara. Bilang pada calon menantu Mommy, kalau ini Mommy sendiri yang buat khusus untuknya." Mommy memberikan tempat makan pada Arka.


"Tapi, Mom... Aku-" Lagi-lagi Arka tak habis pikir.


"Kamu antar dulu ini ke rumahnya setelah itu kamu baru ke kantor."


"Tapi, Mom. Arka akan telat. Hari ini akan ada rapat." Arka menolak cepat.


"Undur sebentar. Mommy nggak mau tahu kamu antar ini ke Nara. Atau berikan nomor ponsel Nara, biar Mommy antar sendiri." Paksa Mommy cepat.


"Baiklah. Akan kuberikan padanya." Arka mengangguk lemah. Dari pada mommy menelepon Nara, akan ribet jadinya.


Tak berapa lama, Arka sampai di parkiran kantor. Ia melihat kotak makanan itu dengan pikiran yang bingung.


Memberikan pada Nara atau tidak?


Arka memasukkan kotak makanan itu ke dalam jasnya. Lalu ia bergegas keluar mobil.


Pria itu berjalan, sambil menutupi kotak makan itu. Jangan sampai ada karyawan yang tahu, jika ia membawa bekal.


Arka menghela nafas lega, akhirnya ia sudah sampai di lantai 10. Ia melihat Nara ada di meja kerjanya.


Arka melangkah lebar menghampiri.


"Nara..." Panggil Arka sambil melihat sekelilingnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Nara.


"Ini... Untuk kamu." Arka mengeluarkan kotak makanan dan menyuruh Nara menyimpannya segera.


"Itu dari ibu saya." Ucap Arka pelan memberitahu.


"Ta-tapi, Pak. Bukannya sudah selesai pura-puranya?" Nara mengingatkan.


"Saya belum mengatakan jika hubungan kita sudah berakhir. Tapi saya pastikan tidak akan melibatkan kamu lagi." Jelas Arka meyakinkan.


"Kamu terima ya. Ibu saya membuatkan untuk kamu."


Nara jadi bingung. Ia jadi merasa tidak enak hati dengan wanita paruh baya itu. Telah mengikuti kebohongan Arka.


"Saya mau ke ruangan saya." Arka pun melangkah masuk ke ruangannya.


'Ada apa pak Arka dengan janda menggemaskan ini?'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2