KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 47 - Siapa Dia?


__ADS_3

Nara keluar dari lift sambil mengulum senyum. Masih terbayang wajah sedih Arka, saat mengatakan jika belum menerima pria itu.


'Pak Arka pak Arka!!!' Batin Nara sambil menggelengkan kepala.


"Siang... Nara." Sapa Sam yang sudah menunggu Nara di depan meja kerjanya.


"Si-siang, Pak." Jawab Nara gugup.


"Kamu makan siang di mana tadi? Saya nggak lihat ada kamu di kantin?" Tanya Sam menelisik. Baik Arka atau Nara keduanya menghilang bersamaan saat jam istirahat.


"Itu..." Nara bingung mau menjawab. Mau bilang makan di mana. Ia saja tidak tahu nama tempat makan di sekitar kantornya.


"Sam... Sudah kamu kerjakan proyek itu?" Arka berjalan menghampiri. Ia tadi sempat mendengar asisten keponya itu menanyai Nara.


"Su-sudah, Pak." Jawab Sam yang kaget, Arka sudah datang.


Sam melirik sejenak. Sepertinya keduanya sengaja mengatur waktu. Agar tidak datang bersama. Padahal mereka sedang bersama.


"Nara... Tolong buatkan saya kopi." Pinta Arka.


"Baik, Pak. Pak Sam mau kopi juga?" Nara mengangguk lalu bertanya pada Sam.


"Tidak. Saya tadi sudah minum." Tolak Sam segera.


Tak lama, Nara mengetuk pintu ruangan Arka. Ia sudah membawakan kopi pesanannya.


"Masuk."


Nara menghela nafas sejenak, setelah mendengar suara dari dalam.


"Pak... Ini kopi-" Nara kebingungan. Saat ia masuk tak melihat Arka duduk di kursi kebesarannya.


"Kamu cari saya?"


Nara menoleh ke belakang. Ternyata Arka berdiri di samping pintu.


"Ini kopinya, Pak."


"Terima kasih." Arka meraih gelas yang dibawa Nara. Ia pun meminumnya.


"Nara... Kenapa ini tidak manis?" Tanya Arka.


"Saya buat seperti biasa, Pak." Sanggah Nara. Ia membuat seperti biasanya, mengikuti keinginan pria itu.


"Coba kamu rasa kalau tidak percaya." Arka menyodorkan gelas kopi tersebut.


Nara meraihnya. "Manis, Pak." Ucap Nara setelah meminumnya sedikit.


"Oh ya?!" Arka meraih gelas itu dan segera meminumnya. "Benar, kamu manis!" Arka kembali melebarkan senyuman.


"Saya permisi, Pak." Nara buru-buru keluar dari ruangan Arka. Pria itu telah mengerjainya.


"Nara... Nara... Kamu memang manis!!!" Arka tersenyum puas seraya menghabiskan kopinya.


\=\=\=\=\=\=


"Kamu jangan lari-lari seperti itu Kalau jatuh gimana?!" Arka menyeka keringat di kening wanita itu.


Nara selalu berlari setiap masuk dan keluar dari mobilnya. Wanita itu selalu ketakutan ketahuan orang lain setiap bersamanya.


"Tadi... Ada pak Sam." Ucap Nara menetralkan nafas yang mulai ngosh-ngoshan.

__ADS_1


"Minum ini." Arka memberikan botol minum pada Nara.


Dengan cepat Nara menenggaknya dan menghabiskan tanpa sisa. Arka tercengang melihat itu. Nara begitu sangat kehausan.


"Ayo, Pak!"


Arka memajukan tubuhnya.


"Pak, apa yang anda lakukan?" Nara menahan dada Arka yang akan mendekatinya.


"Apa lagi?! Membantumu memasang sabuk pengaman."


"Oh." Nara akan meraih sabuk pengaman, tapi kalah cepat. Pria itu sudah meraih dan memasangkannya.


Nara menahan nafas, Arka terlalu dekat dengannya.


"Ok. Kita mau kemana?" Tanya Arka setelah memasang sabuk pengaman Nara. Arka pun segera memasang sabuk pengamannya sendiri.


"Pu-pulang, Pak." Jawab Nara menghela nafasnya panjang.


Arka menghidupkan mesin mobilnya. Perlahan ia melajukan mobil keluar dari kawasan kantor.


Selama perjalanan, Arka melirik Nara yang terus menerus menghembuskan nafas. Wajahnya juga sudah memerah.


"Apa kamu kepanasan?" Tanya Arka menaikkan volume AC mobilnya.


"Ti-tidak, Pak." Nara menggelengkan kepala.


Tak lama, mobil berhenti di tepi jalan. Nara tak mau Arka mengantar sampai depan rumahnya.


"Besok saya jemput ya." Tawar Arka.


"Saya bisa mengatakan, bahwa saya menjemput kamu, karena akan menghadiri rapat yang berada di luar kantor. Jadi akan-"


"Pak, bohong itu dosa!" Sanggah Nara mengingatkan Arka. Pria itu selalu saja punya alasan.


"Iya, iya... Maaf. Nanti malam saya telepon, kamu angkat ya."


Nara mengangguk. "Saya permisi, Pak. Hati-hati di jalan."


Nara keluar dari mobil. Ia lalu berdiri melihat mobil Arka yang sudah bergerak menjauh.


\=\=\=\=\=\=


Nara berbaring di tempat tidur sambil melirik ponselnya. Hari sudah malam, Arka mengatakan akan meneleponnya.


Nara sudah mandi kini wajahnya sudah segar. Jika Arka meneleponnya, lalu akan beralih ke video call. Ia sudah pede menunjukkan wajahnya.


"Mana sih? Katanya mau menelepon?!"


Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Tak ada pesan atau telepon dari Arka yang masuk.


Nara mendudukkan diri di tempat tidur. Apa ia saja yang mengirim pesan terlebih dahulu.


Tapi, Nara mulai berpikir. Dia tidak boleh mengirim pesan duluan, tunggu Arka yang mulai saja.


Sambil menunggu tah kapan Arka akan meneleponnya. Nara membuka sosial medianya. Ia mengetik kata Arka, di kolom pencarian.


'Astaga, yang mana?'


Banyak nama Arka yang muncul di sana. Mana mungkin ia membuka satu persatu.

__ADS_1


Mencoba mengetik kembali. Arka Erlangga, dan...


Sama saja, banyak nama yang seperti itu.


'Sepertinya aku nggak ada bakat jadi stalker.'


Nara memilih membuka akunnya saja. Ia terdiam melihat foto profilnya. Foto pernikahan dengan mantan suaminya.


"Ganti!" Nara tak mau bersedih lagi. Ia pun mengganti dengan foto selfi dirinya.


Nara menghapus foto pernikahan itu. Untuk apa juga disimpan. Mereka sudah bercerai. Semua telah berakhir diantara mereka.


Nara mengambil ikat rambut di laci nakasnya. Lalu mengambil beberapa foto ikat rambut itu.


Nara menyimpannya kembali, karena benda kecil itu harganya sangat mahal. Setelah menyimpannya, Nara mengedit foto tersebut.


"Ok, begini bagus. Aku posting." Nara menambahkan foto ikat rambut di aplikasi sosial medianya.


"Terima kasih." Nara mengetikkan kata itu pada keterangan foto.


Tak lama....


"Pak Arka pembohong!!!" Nara melemparkan ponsel ke samping tempat tidurnya. Ia lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Lebih baik tidur, dari pada menunggu pria itu.


Sudah pukul 11 malam dan pria itu membohonginya.


\=\=\=\=\=\=


Di tempat lain, seorang pria sedang melihat-lihat ponselnya. Ia tersenyum bahagia pada foto-foto pertumbuhan sang putra yang di posting di sosial media.


Ia melihat foto-foto putranya, sambil tangannya mengelus-elus kepala sang anak yang tidur di sampingnya.


Saat sedang menikmati foto nostalgia pertumbuhan sang putra. Ada notifikasi postingan terbaru.


'Nara.' Adam kaget melihat mantan istrinya memposting sesuatu. Ia ingat Nara tidak pernah mau mengupload apapun di sana. Hanya sekedar punya aplikasi itu saja.


Merasa penasaran, ia pun melihat apa yang diposting mantan istrinya itu.


"Terima kasih." Gumam Adam membaca keterangan postingan foto ikat rambut tersebut.


Adam mulai berpikir. Ikat rambut dan kata terima kasih. Apa ikat rambut itu pemberian seseorang dan Nara mengucapkan terima kasih?


Adam beralih melihat foto profil Nara. Bukan foto pernikahan mereka lagi. Nara sudah mengganti dengan foto selfinya.


Hati Adam berdesir. Nara sangat cantik dan tersenyum bahagia dalam foto selfi tersebut. Dengan senyuman manis yang pernah mendebarkan hatinya.


Melihat foto itu, Adam jadi berasumsi sendiri. Bahwa, Nara ternyata hidup bahagia selama ini. Nara juga sudah memotong rambut panjangnya. Penampilan mantan istrinya itu banyak perubahan.


Hati Adam terasa memanas. Tah kenapa ia tidak suka melihat ini.


Adam mulai melihat orang yang mengikuti atau diikutinya. Tak ada yang mencurigakan. Ia mengenal mereka.


Hanya ada dirinya, adik Nara dan adik-adiknya saja. Yang saling mengikuti dan diikuti Nara.


'Siapa dia?'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2