
'Sudah sampai mana sih dia?!'
Arka mondar-mandir di depan mobilnya. Ia berhenti di pinggir jalan, menunggu wanita itu. Wanita yang sudah diancamnya, jika tidak mau menuruti keinginannya.
Arka sudah menelepon Nara agar menjemput di rumah saja, tapi Nara menolak mentah-mentah. Alasannya ia tak mau orang tuanya bertanya banyak hal.
"Halo... Di mana kamu?!" Tanya Arka pada ponselnya.
"Ini di jalan, Pak." Jawab Nara.
"Jalan mana? Dari tadi saya tanya kamu masih di jalan masih di jalan saja. Jalan keluar rumah?"
"Sudah sampai kok, Pak."
"Sampai mana?" Tanya Arka kembali melihat sekitarnya. "Masih sampai depan rumah?"
Dengan ponsel masih menempel di telinganya, Arka melihat ojek berhenti tak jauh darinya.
Seorang wanita turun dari sepeda motor dan membayar ongkos.
"Saya sudah sampai, Pak." Ucap Nara melihat pria yang berdiri di depan mobil.
Deg
Arka terpaku sejenak saat melihat Nara setengah berlari ke arahnya.
"... Kalau lagi bergerak rambutnya goyang-goyang gitu. Dia itu sungguh janda imut dan menggemaskan."
Perkataan Sam tiba-tiba tergiang begitu saja.
Arka segera menghalau ucapan Sam yang tak berfaedah. "Kenapa lama sekali? Saya sudah menunggu satu jam di sini!!!"
Arka kesal. Janjinya jam berapa, Nara malah sampai jam berapa.
"Maaf, Pak. Tadi saya ketiduran." Ucap Nara ngosh-ngoshan.
"Ayo cepat masuk!" Arka meminta Nara untuk segera masuk ke mobilnya. Mommynya dari tadi terus meneleponinya. Bertanya kapan kekasihnya itu akan datang.
"Tapi, Pak..." Ucap Nara takut-takut.
"Apa lagi?" Tanya Arka menaikkan satu oktaf suaranya.
"Saya haus, Pak." Jujur Nara apa adanya. Ia terburu-buru pergi dari rumah, takut adiknya tadi mengikutinya.
"Ya sudah, tunggu sebentar di sini." Pinta Arka. "Jangan kemana-kemana. Tunggu di sini!"
Nara mengangguk cepat.
Tak lama Arka kembali dan tak melihat Nara. Memang wanita itu mengangguknya saja yang cepat.
'Kemana dia?' Arka melihat sekeliling sambil menghubungi Nara. Ia sudah kembali membelikan minuman.
Mata Arka melihat ke seberang jalan. Ia melihat Nara akan menyebrang. Tapi wanita itu ragu-ragu, hingga Nara hanya maju mundur saja.
"Kamu ngapain? Saya sudah katakan jangan kemana-kemana!!!" Arka sangat kesal setelah menghampiri Nara.
"Saya beli gorengan. Lapar, Pak." Menunjukkan bungkusan berisi gorengan.
__ADS_1
"Ayo cepat!!! ibu saya sudah lama menunggu." Pria itu meraih pergelangan tangan Nara dan menuntun wanita itu menyeberang jalan.
"Saya seperti menuntun orang tua menyeberang jalan." Arka mendumel sambil melirik Nara.
"Apa? Pak Arka sudah tua?!" Nara yang tak mendengar jelas apa yang barusan dikatakan Arka.
Arka menggeleng sambil mempercepat langkah kakinya.
Sementara dari jauh, seorang remaja wanita melihat mereka.
"Itukan kak Nara. Sama siapa dia? Apa itu pacar baru kak Nara!!!"
\=\=\=\=\=\=
"Jadi nanti kalau Mommy saya tanya bagaimana kita berkenalan, kamu katakan kita ketemu di sebuah kafe. Dan baru menjalin hubungan sekitar seminggu, kamu juga..." Arka memberitahu, kemungkinan apa yang akan ditanya Mommynya.
"Astaga! benar-benar nih perempuan!" Arka mendumel pelan, ia berbicara panjang lebar. Ternyata wanita itu sama sekali tidak mendengarkannya.
Nara malah tertidur pulas, setelah memakan gorengan dan minuman dingin.
'Apa dia kira aku supir?!' Arka jadi kesal sendiri.
Arka berusaha tenang, ia pun melajukan mobilnya cukup kencang.
Segera kenalkan Nara pada Mommynya. Setelah itu ia bisa bebas, tanpa perjodohan lagi.
Tak lama mobil Arka berhenti di depan sebuah rumah tingkat. Ia melepas sabuk pengamannya lalu menggeleng melihat Nara.
Sepanjang perjalanan, wanita itu tidur terus. Bahkan mobil sudah berhenti, tak bangun juga.
"Hei, Nara. Bangun... Kita sudah sampai!" Ucap Arka.
"Hei, bangun. Kita sudah sampai." Arka terpaksa mentoel pipi Nara dengan telunjuknya. Ia tak mungkin membangunkan dengan menggoyang tubuh wanita itu, bisa saja Nara bangun dan berteriak histeris.
Arka masih mentoel-toel pipi wanita itu. Dan Nara belum bangun juga.
Tanpa sadar Arka jadi mencubit pipi Nara.
"Pak Arka?" Nara bangun dan terkejut melihat tangan Arka yang mencubit pipinya.
Arka repleks segera melepas. Ia tadi hanya mentoel-toel, kenapa malah jadi mencubit pipinya.
"Kenapa Bapak cubit pipi saya?" Tanya Nara dengan wajah takut. Kemungkinan selama tidur, Arka melakukan tindakan asusila padanya.
"Saya dari tadi banguni kamu. Kamunya saja yang tidur kayak mayat. Ayo...cepat turun!" Arka bergegas turun duluan dari mobil.
Ia berjalan ke arah pintu Nara. Menunggu wanita itu belum juga turun.
'Ngapain sih dia? Apa tidur lagi!!!' Arka mengetok-ngetok kaca mobil.
Kaca mobil terbuka. "Sebentar, Pak. Saya benerin make up dulu."
Mana mungkin Nara bertemu orang dengan wajah baru bangun tidur.
"Cepat!!! Kamu-"
Belum selesai Arka berbicara, Nara sudah menaikkan kembali kaca mobilnya.
__ADS_1
Tak lama, Nara keluar dari mobil. "Ayo, Pak."
Arka mengangguk lemah, ia pun meraih tangan wanita itu dan menggenggamnya.
"Ke-kenapa pegang tangan saya, Pak?" Nara menarik tangannya. Ia kaget Arka melakukan itu.
"Bukankah biasa, kalau orang pacaran berpegangan tangan?!" Arka menatap Nara.
"Ta-tapi, Pak."
"Kita harus meyakinkan!" Arka kembali menggenggam tangan itu.
"Pak, nanti kalau ibu anda bertanya awal mulanya kita bertemu, apa yang harus saya katakan?" Tanya Nara kemudian.
"Makanya kamu tidur saja. Kamu kira mobil saya itu tempat tidur."
"Namanya saya mengantuk, Pak."
"Sudah kamu diam saja. Dan mengangguk pada apa yang saya katakan."
Nara mengangguk lemah, ia mengikuti Arka yang menggandengnya memasuki rumah.
Mereka berjalan ke dapur menemui sang Mommy.
"Mom, aku bawa kekasihku." Ucap Arka pada mommynya yang sedang di dapur.
"Mana-" Ucapan Mommy terhenti saat melihat seorang wanita di samping putranya.
"Mom, Ini Nara. Kekasihku." Arka memperkenalkan.
"Selamat siang Tante. Saya Nara." Ucap Nara sopan, ia pun menghampiri paruh baya itu dan menyalaminya.
Mommy mengulum senyum, melihat wanita yang dikenalkan Arka.
'Sudah cantik, sopan lagi!' Mommy memuji dalam hati.
"Ayo, kita ngobrol di ruang tamu saja." Mommy menyuruh Arka membawa Nara ke ruang tamu. Lalu ia juga meminta pekerja rumah membuatkan minum untuk mereka.
'Pantes Arka menolak. Seleranya wanita yang cantik dan imut-imut seperti ini.'
Mommy selama ini mengenalkan Arka pada wanita cantik, tinggi dan juga seksi. Yang bukan tipe Arka.
"Kalian kenal di mana?" Tanya Mommy setelah mereka berkumpul di ruang tamu.
"Kami kenal-" Arka akan menjawab.
"Nggak perlu kenal di mana, yang penting sudah kenal dan saling dekat. Kamu kerja di mana?" Mommy menjawab sendiri, lalu kembali bertanya.
"Saya-" Giliran Nara yang akan menjawab.
"Tak penting itu. Kalau kamu menikah dengan Arka, kamu tidak perlu bekerja. Habis-habiskan saja uangnya dari pada mubajir." Ucap Mommy sambil tertawa.
Nara jadi ikut tertawa walau dengan terpaksa. Sementara Arka terpaksa tersenyum tipis.
"Jadi... Kapan kalian akan menikah?"
.
__ADS_1
.
.