KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 11 - Pulang Ke Rumah


__ADS_3

"Bun, kok Ayah jadi kepikiran Nara ya." Ucap seorang pria paruh baya yang sedang menonton tv.


"Kepikiran apa, Yah?" Tanya Bunda yang masih fokus ke layar kaca.


"Nggak tahu. Nggak enak saja perasaan Ayah. Semoga Nara baik-baik saja."


"Bilang saja, Ayah kangen sama kak Nara." Ledek Gio, adiknya Nara yang berumur 25 tahun.


"Iya, minggu lalu. Nara juga baru kemari. Nara sudah menikah Yah. Dan Ayah jangan terlalu dekat juga sama Nara. Nggak enak sama Adam." Timpal Bunda kemudian.


"Kenapa nggak enak sama Adam? Nara, putri Ayah selamanya. Walaupun dia sudah menikah, Nara tetaplah putri Ayah. Dan Adam harus maklum dengan itu." Tegas Ayah.


"Ayah akan telepon Nara." Pria paruh baya itu akan meraih ponsel. Tapi langsung ditahan Bunda.


"Jangan telepon Nara. Ini sudah malam, Yah. Nara pasti sudah tidur." Bunda melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Ayah mengangguk membenarkan ucapan Bunda. Ini juga sudah pukul 10 malam. Putrinya pasti sudah tidur.


"Besok saja, sebelum berangkat kerja Ayah telepon Nara." Saran Bunda melihat wajah suaminya yang jadi murung. Walau Nara sudah menikah, Ayah masih sering merindukan putrinya. Seperti belum ikhlas merelakan putrinya hidup dengan suaminya.


Tok


Tok


Tok


"Siapa itu yang datang malam-malam?" Tanya Bunda mendengar ketukan pintu.


"Bentar Bun, Gio buka pintu." Pria itu pun berjalan menuju pintu.


Gio membuka pintu dan terkejut melihat orang yang telah mengetuk pintu.


"Kak Nara." Ucap Gio kaget. Kakaknya datang dengan wajah yang sembab.


"Na-Nara..." Mendengar nama Nara. Ayah segera bangkit dan menuju pintu depan.


"Ayah..." Nara berlari memeluk sang Ayah. Ia pun menangis dalam dekapan sang Ayah.


"Nara, kamu kenapa?" Tanya Ayah mengelus-elus pundak sang putri. Matanya mencari-cari di mana Adam. Tapi tak ada pria itu di sana.


Apa Nara bertengkar dengan Adam?


Pantas saja hatinya dari tadi tidak enak memikirkan putri kecilnya.


"Beraninya dia menyakiti putriku!" Ayah sangat marah mendengar semua cerita Nara. Tentang Adam yang begitu tega menyakiti putri kesayangannya.


Bahkan berniat berpoligami.

__ADS_1


"Sabar ya, Nak." Bunda menenangkan Nara yang sudah terisak-isak.


"Akan kuhabisi dia!!!" Gio bangkit dari duduknya, ia tidak terima sang kakak disakiti.


"Sudah kamu tenang-" Bunda menahan Gio dan Ayah, yang sama-sama sudah emosi.


"Tapi Bun..."


"Besok saja kita bahas lagi. Biarkan Nara istirahat."


Nara masih shock dengan kejadian ini.


"Kamu tidur di kamar Bunda." Pinta Ayah membantu Nara berdiri. Putrinya itu begitu sangat lemah.


Nara berbaring bersama Bunda. Ia memeluk erat tubuh wanita paruh baya tersebut.


"Bun, kenapa Adam tega sama Nara ya? Dia pernah bilang akan selalu mencintai dan setia, apapun yang terjadi nantinya, ia menerima segala kelebihan dan kekurangan Nara. Kenapa Adam berbohong Bunda..." Nara bicara sambil terisak-isak.


"Hanya karena Nara belum mengandung anaknya. Dia menduakan Nara dan menikahi si pirang itu diam-diam." Sambung Nara kemudian.


"Sudah, kamu yang sabar sayang." Bunda menepuk-nepuk pelan punggung Nara.


"Jadi kamu mau bagaimana dengan Adam?" Tanya Bunda kemudian.


"Cerai, Bun. Nara mau bercerai dari Adam. Nara nggak mau dimadu." Nara menggelengkan kepalanya. Rasa sakit yang telah Adam torehkan membuatnya ingin pergi saja.


Bunda hanya dapat menghembuskan nafas. Adam sangat tega kepada Nara. Bagaimana bisa memaksa putrinya untuk merawat anak hasil perselingkuhannya dan harus hidup akur dengan istri keduanya.


Nara pasti akan makan hati jika hidup seperti itu. Mungkin perceraian jalan terbaik. Nara harus hidup bahagia dengan pria yang bisa menerima dirinya.


"Apa yang menurut kamu terbaik saja, Nak."


###


"Sudah kamu tidur di sini dulu sementara." Adam membuka pintu kamar sebelah kamarnya. Ia akan menempatkan Yola di kamar itu. Besok akan segera di rombak kamar itu.


Yola mengangguk. "Mas, aku jadi merasa nggak enak. Kamu jadi bertengkar dengan istrimu." Ucap Yola pelan.


"Dia lagi shock saja. Belum bisa berpikir jernih. Dia masih butuh waktu." Jawab Adam menjawab rasa tak enak hati Yola.


"Tapi Mas, aku takut dia nggak bisa menerimaku. Apa kamu hanya akan mengambil anak ini dan membuangku?" Tanya Yola memasang wajah sedih.


"Tidak. Aku akan meyakinkan Nara. Kamu akan tetap bisa merawat anak ini. Kita akan merawatnya bersama-sama." Adam meyakinkan Yola kembali. Ia takut jika Yola pergi membawa anaknya. Anak yang selalu diimpikannya selama ini. Yang tak bisa Nara berikan padanya.


"Sudah, kamu tenang saja. Dan sekarang tidurlah. Dia pasti mengantuk." Adam mengelus perut besar itu.


Yola mengangguk dan masuk ke kamar itu.

__ADS_1


'Sia-lan!' Pekik Yola.


Yola melihat kamar yang hanya ada kasur saja. Itu kamar biasa digunakan Nara untuk menyetrika pakaian.


'Apa seperti ini derita istri kedua?!' Yola merasa iri dan cemburu. Jauh sekali perbedaan dia dan Nara. Padahal sama-sama istrinya Adam.


Tadi saat masuk, ia cukup tercengang dengan rumah yang Adam tinggalin dengan istri pertamanya.


Rumahnya cukup besar dan isinya serba lengkap. Tak seperti rumah yang disewakan Adam. Memang sama-sama di komplek. Tapi rumahnya sangat sederhana sekali. Dan di rumah Yola juga tidak selengkap di rumah ini. Yang hanya ada perabotan dan perlengkapan seadanya.


Adam benar-benar tidak adil padanya. Padahal ia sedang mengandung anaknya. Bukankah seharusnya dia yang dilebihkan. Kasih sayang, keuangan dan perhatian dari Adam.


'Mudah-mudahan mereka bercerai!' Harap Yola.


Yola tersenyum senang. Dengan Adam bercerai, otomatis hanya dia istri satu-satunya. Dan dia dapat menikmati semuanya yang dimiliki Adam.


'Anakku sayang... Mama akan memberikanmu kehidupan yang bahagia. Kita akan hidup bahagia selamanya, bersama papamu. Tanpa adanya ibu tiri.'


Sementara, Adam terdiam menatap lemari makan. Nara telah memasak untuknya.


Ia menutup lemari makan. Tak ada nafsu makan. Adam membuka lemari pendingin. Dan melihat puding.


Adam membawa puding itu ke meja makan. Ia pun melahapnya.


Adam mendengus kesal. Nara tidak bisa menerima keputusannya. Padahal ini untuk kebaikan mereka bersama.


Dengan mereka tinggal bersama, Nara juga akan mendapat kesempatan merasakan menjadi seorang ibu. Nara juga bisa merawat anaknya dan menyayangi anak itu.


Kenapa Nara malah menolak niat baiknya dan malah menginginkan perceraian?


Segitu mudahnya Nara menghancurkan pernikahan yang selama 5 tahun ini mereka bina?


Apa yang Nara harapkan dengan perceraian?


Menikah dengan pria yang bisa menerima dirinya? Menerima Nara dengan kemandulannya?


Semua pria menginginkan hadirnya seorang anak dalam pernikahan, bukan?


Apa Nara tidak bisa sedikit pun mengerti dengan keinginan dirinya?


Kenapa dia malah egois?


"Entah apa yang merasukimu, Nara...?'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2