
"Aku tidak setuju...!!!"
Semua mata menoleh ke arah suara. Terlihat seorang pria yang masih berwajah bantal bersandar sambil melipat tangannya di dada.
Gio yang baru bangun kaget, melihat ada orang lain yang sedang sarapan bersama keluarganya. Ia sedikit senang karena kakaknya membawa seseorang ke rumah mereka. Pria yang selama ini disembunyikannya. Tapi saat mengetahui siapa pria itu, Gio jadi tidak terima dan menolak untuk merestui mereka.
"Pak Arka, aku peringatkan. Tolong jangan dekati kakak saya." Gio menghampiri keduanya. Ia melepaskan genggaman tangan Arka dan Nara. Lalu menjauhkan mereka untuk memberikan jarak aman.
"Sa-saya-" Arka akan menjelaskan.
"Kalau anda mau mencari korban baru. Jangan kakak saya. Cari wanita lain saja." Gio makin menjauhkan sang kakak. Ia akan melindungi Nara, tak peduli jika Arka akan memecatnya nanti. Kakaknya hanya Nara seorang. Sementara pekerjaan lain, masih banyak di luaran sana.
"Gio!" Ucap Nara pelan.
"Kak Nara tenang saja. Aku akan melindungimu dari godaan buaya darat yang terkutuk itu." Ucap Gio menatap Arka dengan tatapan sinis. Nara tidak boleh jatuh dalam pelukan seorang Arka.
Arka tercengang. Buaya darat? Pria setampan dirinya disamakan dengan buaya darat?
Buaya darat yang terkutut? Sungguh perumpamaan yang sangat kejam.
Tak lama Ayah dan Arka berada di ruang tamu. Ayah ingin bicara empat mata dengan pria itu. Ia harus tahu, pria seperti apa yang sedang dekat dengan putrinya.
Gio ingin mengintrogasi Arka juga. Tapi melihat tatapan sang Ayah padanya, Gio pun mundur teratur.
Dan Nara kini mengintip dari balik tembok. Ia ingin mendengar apa yang ayah bicarakan dengan Arka. Ada rasa takut jika Ayah tidak menyukai pria itu.
"Kak... Dia itu playboy. Jangan terbuai rayuannya." Gio masih juga mengingatkan sang kakak. Bagaimana pun, menurutnya Arka itu adalah pria yang sangat berbahaya. Dan harus diwaspadai setiap saat.
"Apa sih dek?! Pak Arka sangat baik." Nara membela atasannya itu. Ia menggeleng melihat Gio, yang sudah berasumsi sendiri tentang Arka.
"Kak Nara jangan termakan wajah tampannya. Wajahnya itu tersembunyi banyak jebakan." Gio masih mengingatkan.
"Kamu bicara apa sih, Yo. Menurut Bunda, Pak Arka itu pria baik. Tatapan matanya itu begitu tulus dan serius pada kakakmu. Bunda merestui Nara menikah dengannya." Bunda dapat merasakan keseriusan Arka pada Nara. Ia sudah merestui mereka.
Nara mengulum senyum mendengar Bunda membela Arka dan merestui hubungan mereka.
"Bunda juga sama. Cuma terbuai wajah tampan. Wajah tampan belum tentu hatinya baik. Pasti kebalikannya. Busuk!!!"
"Sudahlah, kamu mandi sana." Bunda menyeret Gio ke kamar mandi. Putranya satu itu, hanya memprovokasi saja.
Bunda dapat melihat wajah putrinya yang bingung dan khawatir, saat Ayah ingin berbicara berdua dengan pria itu. Putrinya sudah membuka hati untuk pria itu. Nara sudah bisa move on dan lepas dari bayang-bayang masa lalunya.
Sementara...
Lagi-lagi, Arka menundukkan kepala tak berani melihat Ayah. Aura terasa mencekam di ruangan itu. Pria paruh baya itu hanya diam menatapnya. Tak tahu mengekspresikan marah atau apa. Ekspresinya juga sangat datar. Seperti jalan tanpa hambatan. Lempeng saja.
"Sa-saya sangat serius dengan putri Bapak. Saya meminta izin anda, untuk menikahi Nara dalam waktu dekat." Arka membuka pembicaraan dengan kegugupan. Bagaimana pun menakutkannya Ayah Nara saat ini, ia harus tetap mendapat restunya. Agar niat baiknya berjalan lancar.
__ADS_1
"Apa kamu tahu, Nara sudah pernah menikah?" Ayah akan memberitahu.
Arka mengangguk. "Saya tahu, Pak."
"Apa kamu juga tahu alasannya kenapa bercerai?" Kembali Ayah bertanya pada Arka. Sejauh apa yang Arka tahu tentang Nara.
"Saya tahu, Pak. Dan bagi saya, itu bukan masalah." Arka akan meyakinkan Ayah Nara. "Saya sangat mencintai putri Bapak. Saya berjanji akan membahagiakan Nara selamanya."
Ayah menatap Arka yang begitu sangat tegas mengatakan hal itu.
"Nara... Mungkin, tidak bisa memberikan kamu keturunan." Ayah akan mengingatkan Arka. Walaupun ia percaya putrinya tidak mandul. Tapi apa Arka bisa menerima kemungkinan, jika mereka nantinya tidak dianugerahi momongan.
"Kami bisa mengadopsi anak dan merawatnya bersama..." Arka berbicara panjang meyakinkan.
Arka menginginkan Nara dan tak akan mempermasalahkan adanya anak atau tidak nantinya.
\=\=\=\=\=\=
"Mas, tadi bicara apa sama Ayah?" Tanya Nara yang sangat penasaran.
"Ada deh." Jawab Arka melirik Nara, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya.
"Pak Arka!" Panggil Nara kesal.
"Sudah bagus panggil Mas, ini malah balik lagi pak pak pak." Arka yang gemas mencubit pipi putih Nara.
Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam, Arka menepikan mobil di sebuah rumah makan di tepi pantai. Hari sudah siang, perut perlu diisi asupan.
Sambil melepas sabuk pengamannya, Arka tersenyum melihat wanita di sampingnya. Sang putri tidur masih terlelap.
"... Jika kamu memang mencintai Nara, tolong jangan pernah membuatnya menangis."
Ucapan Ayahnya Nara terngiang di telinga Arka. Ucapan dengan sebuah harapan.
'Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu menangis.' Janji Arka menatap wajah polos Nara.
"Nara sayang... Ayo, bangun! Kita sudah sampai!" Arka mentoel-toel pipi Nara. Membangunkan sang putri tidur.
"Su-sudah sampai, Mas?"
"Iya. Ayo, kita makan." Ucap Arka sambil melepaskan sabuk pengaman Nara.
Nara menahan nafas, pria itu terlalu dekat dengannya.
Saat Arka sudah keluar dari mobil, Nara menghela nafasnya panjang. Lalu mengikuti Arka.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Arka sambil merangkul leher Nara. Berjalan masuk ke dalam rumah makan.
__ADS_1
"Ikan bakar boleh?" Tanya Nara memelas. Makan ikan bakar sambil menikmati desiran angin laut, pasti sangat menyenangkan.
Arka mengangguk.
"Minumnya es kepala muda." Ucap Nara sambil mengulum senyum.
"Baiklah, es kepala-" Arka menjeda ucapannya. "Kelapa muda, sayang."
Pria itu jadi tertawa. Nara membalik-balikkan kata.
Tak lama, mereka duduk lesehan dan memesan ikan bakar lengkap dengan es kelapa muda.
Air liur Nara akan menetes melihat sajian yang menggoda perut tersebut.
"Makan yang banyak." Arka mendekatkan ikan bakar dekat dengan piring Nara.
"Terima kasih, sayang." Ucap Nara sambil mengunyah makanan. Nara segera mengalihkan pandangan, saat menyadari perkataannya yang keluar begitu saja.
Arka kembali mengelus kepala Nara dengan sayang. Ia senang Nara memanggilnya sayang. Wanita itu menyayangi dirinya.
"Pak, makan jangan senyum-senyum terus!" Nara menkerucutkan bibirnya, Arka terus melebarkan senyumannya.
"Aku sangat bahagia, sayang."
"Bahagia kenapa?" Tanya Nara ingin tahu.
"Kamu." Tatap Arka lembut.
"A-aku kenapa?" Ditatap seperti itu Nara jadi gugup.
"Aku bahagia karena memilikimu."
Wajah Nara mulai merona, karena gombalan receh pria itu. Nara kembali melahap makanannya. Berusaha menetralkan debaran di hatinya.
Wajah tampan itu tersenyum, melihat Nara yang sudah salah tingkah.
"Percayalah, aku akan mencintai kamu selamanya..." Arka pun meraih tangan Nara.
"Pak Arka... Tukang gombal."
Arka menepuk jidatnya. Dia tidak sedang menggombal.
"Astaga!!! Aku serius sayang..."
.
.
__ADS_1
.