KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 66 - Jujur


__ADS_3

"Selamat pagi, sayang." Ucap seorang wanita pada seorang pria yang baru keluar dari kamar mandi.


"Na-Nara..." Ucap Adam kaget melihat Nara ada di dalam kamarnya.


"Ayo, pakai pakaiannya Mas. Setelah itu kita sarapan. Aku juga sudah membuatkan puding untukmu." Ucap Nara penuh senyuman yang menghangatkan hati.


Adam mengangguk dengan wajah berseri. Ia memakai pakaiannya dan Nara juga dengan sigap membantunya.


"Ok, sudah rapi sudah keren. Gantengnya suamiku ini." Puji Nara memegang dagu Adam dengan gemas.


"Jelas dong. Istriku cantik, suaminya harus ganteng dong." Adam ikut menimpali sambil tertawa.


Adam duduk di kursi meja makan, dengan mata yang terus mengikuti pergerakan Nara. Nara sedang menghidangkan sarapan untuk Adam, lengkap dengan teh hangat.


"Ayo... Mas. Dimakan."


Adam mengangguk dan akan menyendokkan makanan.


Saat akan menyuapkan ke dalam mulut, ia terdiam mendengar suara tangisan. Suara tangisan seorang anak kecil.


Adam tersentak dari tidurnya karena suara tangisan putranya. "Yol, itu Mario nangis."


"Biarkan saja, Mas. Nanti kalau capek dia berhenti sendiri." Ucap Yola yang sibuk dengan ponselnya.


Adam mendengus dan meraih Mario. Ia menggendongnya, menenangkan sang putra.


Adam berdiri di depan jendela, menatap pagi yang masih gelap. Sambil menggendong bocah yang kembali tertidur. Adam kembali mengingat, ia tadi memimpikan Nara.


Rasanya mimpi itu seperti nyata. Seperti itulah perhatian Nara saat masih bersamanya.


"Yola... gendong dulu Mario. Aku mau mandi." Adam akan menyerahkan Yola pada istrinya yang masih memegang ponsel.


"Sudah letakkan saja di tempat tidur. Dia sudah tidur, kan." Ucap Yola.


Adam pun dengan hati-hati meletakkan Mario. Takut sang putra terbangun lagi.


"Kamu buatkan susunya."


"Nantilah, Mas. Anaknya saja masih tidur." Tolak Yola dengan sinis. Ia sangat enggan beranjak dari tempatnya.


Hari masih pagi, Adam tak mau berdebat dengan istrinya itu. Ia pun berjalan ke kamar mandi.


Tak berapa lama, Adam keluar dari kamar mandi. Ia kembali menghembuskan nafas, melihat Yola yang masih fokus dengan ponselnya. Adam mengambil pakaian kerjanya dari dalam lemari.


Setelah berpakaian rapi, Adam menuju dapur. Ia membuat tehnya sendiri. Selama menikah, Adam selalu membuat teh sendiri dan sarapan di luar.


Awalnya, Adam memaklumi. Yola sedang hamil dan tidak bisa melayani kebiasaannya seperti yang dilakukan Nara. Tapi, setelah punya anak. Yola makin tidak mau melayaninya. Mau Adam sarapan atau tidak, Yola tidak peduli.


Kalau mau makan, pesan makanan dari luar. Yola tak sempat memasak untuknya. Bahkan ia sudah lama tidak memakan puding. Tak ada yang membuatkannya.


Adam meminum teh buatannya. Ia kembali teringat, bagaimana dulu Nara melayaninya. Perutnya selalu kenyang saat berangkat kerja. Tidak seperti sekarang, ia keluar rumah tanpa sarapan.


"Aku berangkat kerja dulu." Pamit Adam kembali masuk ke kamar.


"Iya, hati-hati." Jawab Yola tanpa melihat dirinya.

__ADS_1


Adam menggeleng dan memilih menghampiri sang putra. "Papa pergi dulu ya, Nak."


Adam pamit dan menkecup pipi Mario. Mencurahkan segala kasih sayangnya.


Adam lalu melihat Yola sebentar. Tah apa yang ada di ponsel istrinya itu. Setiap hari Yola hanya sibuk dengan ponselnya.


Pria itu keluar dari kamar dan berangkat kerja. Yola tak mengantarnya sampai depan pintu. Bahkan untuk menyalaminya pun tidak.


"Sudah pergi dia." Tak lama Yola menyadari Adam yang sudah tidak ada di kamar, karena mendengar suara mobil.


Yola kembali tersenyum pada ponselnya. Ia kembali sibuk dengan benda tersebut.


Adam menepikan mobilnya di sebuah warung makan. Seperti biasa, ia akan sarapan sebelum ke kantor.


Sambil makan, Adam meraih ponselnya. Ia melihat pesannya hanya dibaca saja. Nara tak mau membalasnya.


'Apa aku telepon saja?!' Adam melihat nomor Nara yang masih ada di kontak ponselnya.


Sesaat Adam ragu. Bagaimana jika Nara sudah memblokirnya?


Adam menepis pikirannya tersebut dan menelepon Nara.


Wajah Adam sedikit tersenyum, Nara tidak memblokir nomornya. Wanita itu juga tidak mengganti nomor ponselnya.


'Kenapa tidak diangkat?'


Sementara di tempat lain.


"Siapa Adam?"


Arka berusaha bersikap tenang. Meski ia tahu siapa Adam itu. Tapi, ia juga ingin tahu. Apa yang akan Nara katakan?


"I-itu-itu..." Nara mulai bingung menjawab. Apa yang akan dikatakannya tentang penelepon tersebut?


Mengatakan bahwa mantan suaminya yang menelepon?


"I-ini i-itu ini ini..." Nara gelagapan. Ia tidak mau membuat pria itu berpikiran buruk tentangnya.


"Dia... sepupuku." Jawab Nara berbohong.


'Sepupu? Nara berbohong!'


Arka mengangguk dan bersikap biasa saja. Seolah percaya dengan perkataan Nara.


"Ya sudah, kamu jawab saja. Mungkin penting."


"Tidak apa, Pak."


"Ya sudah, aku masuk dulu. Selamat bekerja." Arka mengelus kepala Nara dengan lembut.


Nara diam terpaku dengan perlakuan Arka. Arka mempercayainya, sementara ia sudah berbohong.


'Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya?'


Sementara Arka, begitu masuk ruangannya. Wajahnya langsung berubah kesal. Gemuruh nafasnya jelas terdengar.

__ADS_1


'Adam!!!' Arka meremas tangannya. Adam bisa merusak hubungannya dengan Nara.


Arka kembali melangkah dan mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Saat telah duduk, sorot matanya tertuju pada sesuatu yang terletak di atas meja.


Untuk Mas ku sayang. Selamat makan.


Begitulah memo di kotak makan tersebut.


Perlahan Arka membuka kotak tersebut. Dan wajahnya mulai berubah.


Kotak makan tersebut berisi nasi goreng. Dengan telur mata sapi di atasnya. Yang membuat senyum Arka melebar. Telur mata sapi dibuat emot senyum dengan saus.


'Imutnya!!! Seperti yang buat.'


Arka memandangi kotak makan tersebut. Mau dimakan, kok merasa sayang.


Tok


Tok


Tok


Arka menutup kotak makan saat mendengar suara ketukan pintu.


"Masuk." Jawabnya.


"Pak." Ucap Nara masuk ke ruangan itu.


"Iya." Arka melihat Nara dengan serius. Sepertinya ada yang ingin Nara bicarakan dengannya.


"Ma-maafkan saya."


Arka jadi bingung. Nara meminta maaf.


"Kenapa kamu minta maaf? Apa kamu buat salah?"


"Sa-saya tidak bermaksud berbohong pada anda." Nara yang menunduk mengangkat kepala, melihat Arka di depannya.


"Ta-tadi yang menelepon itu mantan suami saya. Adam itu mantan suami saya." Ucap Nara dengan wajah serius. Ia tidak ingin membohongi Arka. Nara ingin jujur pada pria itu.


Arka cukup lega, ternyata Nara mau berkata jujur padanya.


"Nanti pulang akan saya jelaskan pada anda. Sa-saya akan melanjutkan pekerjaan kembali." Pamit Nara sambil menundukkan kepala sejenak.


Nara berhenti saat akan membuka pintu. Tapi, ia kembali membalikkan tubuhnya ke arah Arka.


"Anda tidak perlu risau. Sa-saya tidak punya hubungan lagi dengannya."


Setelah mengatakan hal itu, Nara pun keluar dari ruangan Arka. Nara bernafas lega. Ia bisa jujur dengan pria itu.


Menurut Nara, Arka harus mengetahui perihal mantan suaminya itu. Nara tak mau menyembunyikan rahasia darinya. Mereka sudah sepakat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Jadi tidak boleh ada kebohongan.


'Semoga mas Arka mengerti...'


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2