KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 71 - Menggoda Nara


__ADS_3

"Kok repot-repot sih bawai Mommy ini." Mommy tersenyum senang menerima sebuah toples penuh berisi kukis.


"Nggak apa, Tan. Nara harap tante suka." Nara senang ibunya Arka menyukai pemberiannya.


"Mommy sangat suka ini. Ayo, ke ruang tamu... Mommy kangen ingin mengobrol dengan calon menantu." Wanita paruh baya itu membawa Nara.


'Calon menantu?!'


Dua kata itu membuat hati Nara jadi berdesir.


"Mom, aku mau ganti baju dulu."


"Pergilah." Jawab Mommy seadanya.


"Nara, sebentar ya kamu ngobrol dulu sama Mommy. Aku mau mandi."


Nara mengangguk pelan.


"Atau kamu mau ikut mandi juga?"


Nara memelototi pria yang cengegesan tersebut.


"Arka... Pergi sana." Mommy melempar bantal sofa ke arah putranya tersebut.


"Haha... Becanda lho, Mom." Bantal itu ditangkap Arka dengan mudah. "Tapi, kalau Nara mau... Boleh juga."


"Arka!!!" Pekik Mommy yang akan melempar kembali bantal sofa. Tapi, putranya sudah berlari menuju kamarnya.


Nara hanya mengulum senyum.


"Jangan kamu dengari anak bandal itu..."


Tak lama, Arka telah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia keluar kamar, melihat kedua wanita yang asyik mengobrol. Tah apa yang mereka bahas sambil ketawa ketiwi seperti itu.


Pria itu berjalan untuk bergabung dengan keduanya. Ketika sudah dekat...


"Astaga, Mom!!!" Arka pun segera meriah album foto. Di sanalah semua foto pertumbuhan dirinya, dari mulai dalam perut hingga SMA.


"Apa sih Arka?!" Mommy kaget, Arka datang dan tiba-tiba meraih album foto yang masih mereka lihat.


Arka melihat Nara. Wanita itu mengulum senyum. Sudah dipastikan Mommy sudah menceritakan masa lalunya yang kelam.


"I-itu cuma masa lalu." Ucap Arka membela diri. "Du-dulu aku hanya bandal-bandal anak ABG!" Jelas Arka yang tak mau Nara salah paham.


"Mommy, kenapa menunjukkan hal seperti ini pada Nara?" Arka mencemberutkan wajahnya.


"Kenapa? Kalian akan segera menikah. Apa yang mau disembunyikan." Mommy merasa tidak berdosa menunjukkan hal seperti itu.


"Mas Arka, waktu masih kecil imut ya." Ucap Nara sambil tersenyum.


"Benarkah? Imut apanya?" Wajah Arka jadi malu mendengar ucapan Nara.


"Iya, yang waktu masih SD. Itu sangat imut, jadi gemas mau cubit pipinya."


"Yang mana sih?" Arka duduk di samping Nara. Ia membuka album foto tersebut. Supaya Nara menunjukkan foto mana yang dibilang imut itu.


Sementara Mommy, mendengus kesal. Dibilang imut saja, putranya itu sudah senang.


"Ini, Mas. Menurut Tante foto Mas Arka yang ini imut, kan." Nara juga bertanya pendapat ibunya Arka.


Mommy melirik foto Arka saat pertama kali masuk SD. Dan menggeleng pelan.

__ADS_1


"Itu amit... amit"


"Mommy!"


\=\=\=\=\=\=


Hari sudah malam, Nara pamit untuk pulang. Ia sudah cukup lama berada di rumah Arka.


"Nara... Menginap di sini saja ya!" Pinta Mommy. Rasanya tak ingin Nara pergi.


"Mom, ini sudah malam. Nara harus pulang." Tolak Arka.


"Iya, Tante. Nara harus pulang. Nanti... Nara akan sering-sering kemari. Bolehkan, Tan?" Nara membujuk ibunya Arka.


"Tentu boleh. Tiap hari kamu kemari juga boleh." Mommy memeluk Nara sejenak.


Arka melirik mereka. Nara memeluk ibunya, ia juga ingin dipeluk.


"Nara..." Panggil Arka merentangkan tangannya.


Mommy aneh melihat Arka seperti itu. "Kamu antar Nara sampai rumahnya. Jangan ngebut-ngebut."


"Mom, aku mau juga dipeluk Nara."


"Peluk-peluk-peluk. Nanti kalau sudah jadi istri kamu, baru dipeluk."


"Kalau sudah jadi istri lain lagilah Mom. Bukan dipeluk, tapi..."


"Arka!!!"


"Mas Arka!!!"


Keduanya kompak memelototi pria itu, yang malah tertawa puas.


"Sayang, kita mau bulan madu ke mana?" Tanya Arka melirik Nara sejenak.


"Bu-bulan madu?" Ada rasa aneh di hati Nara mendengar kata-kata itu.


"Iya, bulan madu. Kamu mau kita bulan madu di dalam negeri atau kita keluar negeri?" Arka akan mengambil cuti panjang nantinya.


"Mas Arka..." Ucap Nara dengan raut wajah serius.


"Iya, kenapa?" Tanya Arka.


"Apa Mas yakin denganku?" Nara pernah gagal. Tah kenapa, perasaan takut itu kembali datang.


"Nara... Apa kamu masih meragukanku?"


Sesaat hening, hanya suara hembusan nafas yang terdengar.


"Apa yang pernah ku katakan padamu, itu yang akan aku tepati. Nara... Kamu bisa percaya padaku!" Arka melihat sejenak, lalu kembali fokus pada jalanan malam.


Nara melihat pria di sampingnya itu dengan tatapan sendu. Ada rasa ingin bersamanya, tapi rasa ketakutan akan disakiti masih menghantuinya.


"Kalau suatu saat aku ternyata menyakitimu... Kamu bisa memukuliku, meninjuku, mencubitku, menenggelamkanku atau memenjarakanku. Terserahlah kamu mau menghukumku seperti apa." Ucap Arka kembali. Jika ia ingkar janji, ia siap menerima ganjarannya.


"Baiklah, aku akan mengkuliti Mas Arka hidup-hidup." Nara menakuti Arka sambil mengulum senyum.


"Kamu yakin mau mengkulitiku?" Tanya Arka menaikkan alisnya.


"Aku akan kuliti, lalu aku potong-potong dan kasih makan ikan di laut."

__ADS_1


Arka jadi tertawa, Nara terlalu kejam. "Kalau kamu kuliti aku, jelas terpampanglah itunya."


"Itu?" Nara mencerna maksud ucapan Arka.


"Mas Arka!!! Jangan genit deh!"


"Genit apaan sih? Kamu pasti mikirin yang iya-iya kan?" Goda Arka tertawa senang.


"Nggak ada ya. Mas Arka, ihh." Nara membuang wajah yang mendadak merona.


"Nara... Nara..." Arka gemas mengelus kepala Nara. Wanita itu terlalu menggemaskan di matanya.


Tak lama setelah sampai di rumah Nara.


"Ayah... Sudah malam. Mas Arka mau pulang." Nara melihat Ayah yang bermain catur dengan Arka.


"Satu ronde lagi. Nggak apa kan, Ka?"


"Nggak apa, Yah. Saya bisa menginap di sini jika kemalaman."


Glek


Arka menelan salivanya melihat tatapan Ayah yang sangat menyeramkan.


"Satu ronde lagi!" Tawa Arka mencairkan suasana yang sempat tegang.


Nara menggeleng melihat keduanya. Ia pun duduk di samping sang Ayah sambil bersandar. Nara menatap lembut Arka di depannya.


Pria itu melihat Nara sejenak dan kembali fokus pada papan catur. Bahaya jika menatap Nara terlalu lama, ada Ayahnya. Bisa-bisa ia melihat tatapan laser itu.


"Saya kalah lagi." Arka tak pernah menang main catur.


"Satu ronde lagi."


"Siap, Yah."


"Ayah... Mas Arka mau pulang." Nara meraih lengan Arka. Jika dibiarkan, sepanjang malam mereka akan bermain catur.


"Sa-saya permisi dulu, Yah. Ternyata sudah malam."


"Ya sudah. Lain kali kita main caturnya dari pagi saja."


"Iya, yah. Nanti libur saya akan datang kemari." Arka mengangguk. "Sa-saya permisi pulang."


Nara mengantar Arka sampai depan rumah. Ia memegang lengan pria itu.


"Mas, jangan ngebut-ngebut."


"Kalau nggak ngebut, bisa lamalah di jalan."


"Nyetirnya biasa saja loh. Ini sudah malam." Nara merasa khawatir.


"Iya iya. Aku pulang dulu ya." Arka pamit sambil menyodorkan tangannya.


Nara tanpa sadar meraih dan menkecup punggung tangan itu.


"Kita seperti pasangan suami istri ya?!" Arka senang dengan perlakuan Nara.


"Hah?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2