KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 60 - Ketakutan Arka


__ADS_3

Arka membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sambil tersenyum mengingat hal manis yang telah terjadi diantara mereka.


Perasaannya kembali berdebar-debar kencang. Baru kali ini, Arka merasakan hatinya berdebar hebat karena seorang wanita.


Selama riwayat percintaannya kala itu. Ia tak pernah merasakan perasaan sekuat ini. Yang begitu sangat mencintai dan menyayangi seorang wanita.


Arka meraih ponsel yang berada tak jauh darinya. Matanya langsung terbelalak menatap ponsel.


Seorang informan, memberikan informasi yang dimintanya. Semua informasi tentang Nara.


Arka menatap satu nama yang membuat hatinya tak menentu. Benar ternyata yang dipikirkannya selama ini.


Adam bukan teman lama atau tetangga Nara. Tapi Adam adalah mantan suami Nara. Mereka ternyata sudah menikah selama 5 tahun dan resmi bercerai beberapa bulan yang lalu.


Arka berkali-kali menghembuskan nafasnya kasar. Dari sekian banyak pria di muka bumi. Kenapa Adam yang dikenalnya itu yang mantan suaminya Nara. Sepertinya dunia ini terlalu sempit.


Arka mulai mengingat kembali apa yang pernah Nara katakan, jika wanita itu bercerai karena tidak bisa memberikan anak pada mantan suaminya.


Dan Arka juga mengingat alasan Adam menceraikan mantan istrinya. Karena mantan istrinya yang tidak mau dimadu.


Ya, perihal kondisi Nara. Membuat Adam menikah lagi untuk mendapatkan keturunan. Dan di saat itu pula Adam berniat, menginginkan Nara merawat anak hasil pengkhianatannya tersebut bersama-sama selingkuhannya.


Arka meremas tangannya. Ia merasa kesal dan marah pada sikap Adam kala itu. Saat itu perasaan Nara, pasti hancur dan sangat sakit. Pantaslah, Nara selalu merasa minder dengan dirinya sendiri. Adam sudah membuat wanita cantik itu trauma dan kehilangan kepercayaan diri.


Arka bangkit dan menuju laci lemarinya. Ia mencari sesuatu yang mungkin masih tersimpan di sana.


Pria itu menemukan sebuah album foto pernikahannya kala itu. Arka membuka album pernikahan. Dan mencari sebuah foto bersama.


Saat pernikahannya, Arka ingat Adam datang dengan seorang wanita. Siapa wanita itu? Nara atau istri Adam yang pirang itu?


'Kenapa aku tidak menyadarinya?!' Batin Arka.


Arka melihat ada Nara dalam foto pernikahannya. Nara berdiri di samping Adam sambil tersenyum.


Arka mulai bergelut dengan pikiran-pikirannya. Memikirkan bagaimana jika Adam tahu dia menjalin kasih dengan mantan istrinya? Bahkan ia berniat menikahi Nara, menjadikan Nara istrinya?


Pria itu tampak berpikir dalam diam. Kebingungan melanda dirinya.


"...Aku menyukaimu.."

__ADS_1


Bayangan wajah Nara, saat mengatakan perasaannya muncul tiba-tiba. Menghempaskan pikiran Arka tentang Adam nantinya.


'Aku mencintainya, Nara juga mencintaiku... Itu yang terpenting!'


Arka bertekad tidak akan memperdulikan tanggapan Adam nantinya. Saat tahu mantan istrinya bersamanya.


Mereka juga sudah bercerai dan Adam sudah hidup bahagia dengan pilihannya.


Nara kini sedang sendiri. Siapa pun boleh mendekatinya, bukan?!


Termasuk dirinya.


Nara berhak bahagia.


Arka mengangguk yakin, ia akan mempertahankan Nara. Membuat Nara selalu berada di sisinya, apapun yang akan terjadi.


Tapi... Pikiran Arka kembali meragu. Bagaimana jika Nara yang tahu bahwa Adam itu temannya?


Apa Nara akan menganggap, ia sama saja dengan Adam. Karena mereka adalah teman baik?


Mungkin saja Nara akan memilih pergi dan meninggalkannya.


'Nara... Percayalah padaku. Aku berbeda!!! Aku tak akan menyakitimu. Aku akan mencintaimu selamanya...'


\=\=\=\=\=\=


"Arka... Kenapa tidak dimakan?" Tanya Mommy melihat sang putra yang hanya menatap piring makannya. Putranya seperti sedang banyak pikiran. Pekerjaan atau tentang percintaan? Yang membuat wajahnya ditekuk seperti itu.


Arka melihat ke arah Mommy. Ia ingin bercerita semua tentang Nara. Tapi, Arka sedikit ragu. Bagaimana jika Mommynya jadi tidak setuju dirinya dengan Nara. Mommy tak merestui hubungan mereka.


Lalu... Tentang Nara yang mantan suaminya adalah teman baiknya itu. Tentang Nara yang dicerai karena tidak bisa memberikan anak.


Arka jadi bingung. Mommy menginginkannya segera menikah, agar bisa memberikan wanita paruh baya itu seorang cucu yang imut.


"Mom... Menurut Mommy, Nara itu bagaimana?" Tanya Arka dengan raut wajah serius. Wanita ini adalah ibu kandungnya. Arka merasa harus berkata jujur. Ia percaya Mommy akan mengerti dengan keadaan Nara.


"Kenapa?" Mommy melihat Arka dengan wajah yang juga sangat serius.


Wanita paruh baya itu mengangguk mengerti, mendengar semua perkataan yang disampaikan sang putra.

__ADS_1


'Arka benar-benar mencintai Nara!' Batin Mommy melihat ketulusan Arka yang meyakinkan.


"Kalau kamu memang yakin dengan Nara, sampai akhir harus tetap yakin, Nak. Jangan karena perasaan sesaat kamu sekarang, kamu bisa menerima dia. Tapi, begitu waktu telah berlalu... kamu mulai goyah dengan keadaan Nara." Mommy menasehati putranya.


Arka dengan yakin mengatakan akan menerima Nara dan tak akan mempermasalahkan kondisi wanita itu. Sebagai seorang ibu dan seorang wanita juga, Mommy ingin perkataan putranya bisa dipercaya dan Arka bisa bertanggung jawab dengan perkataannya di kemudian hari.


Arka menggeleng cepat. "Aku tidak akan meninggalkannya, Mom. Aku mencintainya." Ucap Arka yakin.


"Ya sudah, kalau kamu memang yakin. Mommy akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Mommy mengangguk pelan.


"Nanti kalian adopsi anak langsung 2 orang saja. Satu cowok satu cewek. Jadi sepasang." Saran Mommy dengan wajah bahagia. Ia sudah membayangkan langsung mempunyai 2 cucu. Pasti rumahnya akan sangat ramai dengan suara anak-anak.


Arka merencanakan akan mengadopsi anak saja, jika sudah menikahi Nara.


"Mom, tapi aku belum tahu tanggapan Nara. Bagaimana jika dia menolakku karena aku temannya Adam?" Masih itu yang menjadi ketakutan Arka saat ini.


"Makanya kamu yakinkan Nara, kalau kamu beda dari temanmu itu. Lagian mereka juga sudah bercerai jauh sebelum kamu mengenalnya. Untuk apa lagi diingat masa lalu."


Arka mengangguk pelan menyetujui ucapan Mommynya. Benar juga, Nara dan Adam sudah tidak terikat apapun lagi. Ia harus tetap maju mempertahankan hubungan mereka. Tidak akan terus berada dalam bayang-bayang masa lalu.


"Sudah makan!!! Sampai dingin gitu makanannya."


Arka pun melahap makanannya. Ia sedikit bernafas lega. Mommy masih merestui ia dan Nara bersama. Padahal tadi sempat ada ketakutan, Mommy akan menolak Nara mentah-mentah. Dan menyuruhnya mencari wanita lain. Tapi, Mommynya memang yang terbaik. Selalu mengerti.


"Mom, terima kasih." Ucap Arka dengan wajah sendu.


"Mommy hanya ingin kamu bahagia selalu, Nak. Hidup bahagia selamanya. Nara itu wanita baik. Kalian pasti bahagia jika bersama." Wanita paruh baya itu mengelus kepala sang putra.


"Jadi, kapan mau melamar Nara?" Niat baik tidak boleh ditunda-tunda lagi. Arka mencintai Nara. Nara mencintai Arka. Harus cepat dibungkus. Hubungan mereka harus segera diresmikan dalam ikatan pernikahan.


"Mom!!!" Arka menggeleng, Mommynya mau bergerak cepat saja.


"Biar ada teman Mommy pergi arisan."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2