
"Bagus ya, Mas." Ucap Nara melihat surat undangan yang telah tercetak. Undangan itu berwarna gold dengan foto bahagia mereka di covernya.
"Iya, bagus. Lihat foto kita juga sangat bagus. Kamu sangat cantik dan aku juga tampan." Puji Arka pada undangan yang terpampang fotonya.
Arka tersenyum manis, tapi perlahan wajahnya berubah serius.
"Ke-kenapa, Mas?" Tanya Nara merasa bingung. Ekspresi Arka mendadak berubah.
"Itu..." Arka tampak sulit untuk berucap. "Itu... Adam, apa dia-"
"Tidak." Potong Nara cepat sambil menggeleng. "Sebaiknya kita tidak usah mengundangnya. Nggak apa kan, Mas?"
Nara tiba-tiba merasa tidak enak setelah mengatakan itu. Sepertinya ada yang salah dengan perkataannya. Adam itu temannya Arka.
"Itu... Itu..." Nara bingung menjelaskan. Ia tidak ingin betemu dengan pria itu. Ia ingin membuka lembaran baru. "Aku nggak mau mengundangnya, Mas. Aku nggak mau dia hadir di pernikahan kita." Nara kembali pada pernyataannya.
"Ya, sudah. Kita tidak usah mengundangnya. Tapi, keluarganya bagaimana?" Tanya Arka. Nara pernah mengenal keluarga itu.
Nara jadi bingung. Ia ingin mengundang keluarganya Adam, sudah lama juga ia tidak bertemu dengan mereka. Terutama Mama. Tapi... jika mengundang mereka, pasti Adam akan tahu juga.
"Menurut Mas Arka, gimana?" Nara juga tak tahu. "Apa kita undang saja?
"Kalau kamu ragu, kita tidak usah undang." Arka ingin Nara merasa nyaman.
"Sudah jadi undangannya?" Gio tiba-tiba datang dan mendudukkan diri di antara mereka. Memberi jarak antara Nara dan Arka.
"Jangan terlalu dekat, kalian itu belum muhrim." Ucap Gio melihat ke arah Arka sejenak, lalu melihat undangan itu.
Gio geli dalam hati, melihat wajah Arka yang sedikit kesal. Akhirnya, ia berani mengerjai bos besar itu. Mungkin jika di kantor, ia sudah dipecat.
"Apa-apaan ini?" Tanya Gio melihat foto prewed Nara yang terlalu mesra dan menempel.
"Baguskan dek?!" Ucap Nara.
"Nggak bagus. Seperti ini, kok bagus. Pria ini menang banyak, kak." Gio mencibir ke arah Arka.
Arka jadi tertawa geli melihat Gio yang masih belum bisa menerima dirinya.
"Gio." Panggil Arka pelan.
"Hmm." Hanya deheman dari calon adik iparnya.
"Kamu mau pindah ke kantor pusat?" Tawar Arka.
'Yes!' Gio bersorak dalam hati. Dari dulu, Gio berharap bisa dipindahkan ke kantor pusat. Karena gaji di pusat yang lebih tinggi dari pada di cabang.
"Apa anda kira, dengan memindahkanku. Aku akan merestui hubungan kalian?" Gio kembali dengan mode serius.
"Gio." Nara menyenggol lengan adiknya. Saat melihat Arka dan Gio saling menatap tajam.
"Adik ipar, restui kami. Percayalah kalau abang ipar tampanmu ini, akan selalu mencintai kakakmu Nara. Sampai akhir hayatnya." Arka meyakinkan dengan tegas.
__ADS_1
'Dasar gombal. Kakak Nara pun mudah baper.' Gio menggerutu. Melihat pria dan wanita di samping kanan dan kirinya yang saling melempar senyum.
"Hmm." Gio mendehem. Membuat kedua sejoli itu menormalkan wajahnya kembali.
"Kalau nanti anda membuat kakakku menangis. Anda akan berurusan denganku." Gio mengancam Arka. Sebenarnya melihat sikap Arka selama ini pada Nara, membuat hati Gio sudah melunak dan merestui.
Terlihat jelas dari tatapan Arka. Rasa cinta dan kasih sayang pria itu pada kakaknya. Selain itu, Gio juga ingin Adam merasa menyesal. Melihat Nara yang bahagia dengan pria yang bisa menerima kakaknya itu.
"Sebagai seorang pria, aku akan menepati perkataanku." Ucap Arka makin tegas.
'Wuih... Adam kalah telak!' Gio tersenyum smirk. Adam bagaikan debu jika dibandingkan dengan Arka.
"Jadi, besok di kantor pusat. Saya harus menemui siapa, Pak Arka?" Tanya Gio kembali.
"Besok kamu, langsung saja ke ruangan saya." Timpal Arka.
"Aku akan menempatkan adik iparku ini, menjadi sekretarisku." Arka mengacak rambut Gio.
Gio menjauhkan tangan Arka. Tapi, Arka malah makin mengacak-ngacaknya. Ia senang mempunyai adik yang ketemu besar.
"loh, jadi aku?" Tanya Nara menunjuk dirinya. Arka akan mengangkat adiknya. Terus bagaimana nasib dirinya?
"Kamu nggak usah kerja lagi." Ucap Arka.
"Tapi..." Nara menolak.
"Kakak tenang saja. Aku akan mengawasi Bang Arka. Kalau nanti dia macam-macam, langsung aku gonikan." Ucap Gio yakin.
"Abang ipar, jadi bagaimana pekerjaan sekretaris itu?" Sambung Gio kembali.
Arka tertawa senang. Gio sekarang jadi lancar memanggilnya abang ipar. Sementara Nara menggeleng, melihat kedua pria itu yang malah kompak mengobrol.
\=\=\=\=\=\=
Bugh
Yola masuk ke dalam mobil dengan wajah kesal. Ia datang ke rumah Adam untuk membawa anaknya. Tapi... Adam tidak pernah memberikan atau mengizinkannya untuk melihat putranya.
Sudah beberapa waktu berlalu, ia merindukan Mario.
"Sayang, aku mau hak asuh Mario jatuh ke tanganku!"
"Sudahlah, biarkan saja anak kamu itu bersamanya. Bersama ayahnya." Ucap Pria selingkuhan Yola.
"Tapi...-" Yola ingin mengatakan, agar pria itu mencari pengacara hebat yang bisa mengambil hak asuh Mario. Tapi, pria itu tak pernah menawarkan. Mau sewa sendiri, ia tidak punya uang.
"Lihat ini." Pria itu menunjukkan sesuatu. "Kita akan punya anak."
Yola menatap foto hasil USG. Ia sedang mengandung anak dari laki-laki lain.
"Tapi, aku mau membawa Mario bersama kita." Ujar Yola kembali.
__ADS_1
"Aku tidak mau membesarkan anak dari pria itu. Ia masih mempunyai seorang ayah yang masih sanggup merawatnya." Ucap pria itu tidak suka.
Yola menatap pria itu tanpa ekspresi.
"Ayo, kita pulang." Pria itu memasangkan sabuk pengaman Yola.
\=\=\=\=\=\=
"Ma... Ada yang mau ku sampaikan." Ucap Bily melihat sekitar. "Bang Adam mana?"
"Belum pulang." Sambung Rindu sambil bermain-main dengan ponakannya.
"Kak Nara..."
"Kenapa Nara?" Tanya Mama khawatir mendengar nama mantan menantunya itu.
"Kak Nara... minggu depan akan menikah." Ucap Bily dengan pelan.
"Menikah? Kak Nara akan menikah? Dengan siapa?" Tanya Rindu bertubi-tubi.
"Kecilkan suaramu." Bily memperingatkan. Membuat Rindu menutup mulutnya.
"Ma, kita datang ya." Rindu bersemangat. Ia ingin bertemu dengan Nara lagi.
"Jangan!!! Kita tidak usah datang, nanti hanya membuatnya sedih." Mama tahu. Saat Nara melihat mereka, pasti Nara akan merasa sedih kembali. Walaupun begitu merindukan mantan istri putranya tersebut dan ingin sekali bertemu. Tapi, Mama merasa lebih baik menjauh dan mendoakan yang terbaik untuk Nara.
"Kak Nara... akan menikah dengan bosnya Bily, Ma."
Mama mengangguk. "Syukurlah, Mama ingin Nara bahagia."
"Tapi, Ma..." Sambung Bily agak ragu.
"Kenapa?" Tanya Mama.
"Bosnya Bily itu pak Arka. Dan pak Arka itu temannya Bang Adam." Ucap Bily kembali. Ia tahu karena undangan yang sudah disebarkan di kantor.
"Arka?" Mama mengingatnya.
"Apa bang Adam tahu kalau kak Nara akan menikah, dengan Arka temannya itu?" Tanya Rindu memastikan.
"Rindu, pelankan suaramu!" Bily memperingatkan kembali. Suara adiknya itu tidak bisa pelan.
Sementara dari balik tembok. Seseorang meremas kuat tangannya sendiri. Dengan nafas yang bergemuruh.
'Arka? Nara? menikah?'
.
.
.
__ADS_1