KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 82 - Bulan Madu


__ADS_3

"Mas, ayo kita jalan-jalan." Rengek Nara mengelus-elus kepala Arka.


"Capek." Ucap Arka dengan mata masih terpejam. Ia mengeratkan pelukan pada istrinya.


"Mas, masa kita di kamar terus? aku mau keluar." Nara kembali merengek. Sudah 2 hari mereka menghabiskan waktu, hanya di dalam kamar saja.


Arka membuka matanya dan tersenyum melihat wajah memelas Nara. "Selamat pagi, istriku sayang."


Dan lagi, wajah Nara mulai merona. Suara serak Arka sungguh terdengar seksi. Pria itu juga memberikan morning kiss di bibirnya.


"Mas, cuci muka sana. Bau tahu!" Nara menahan bibir pria itu dengan tangannya, saat Arka akan kembali menciumnya.


"Nggak bau loh." Arka memajukan bibirnya dan Nara tetap menahannya.


"Mas, ayo kita jalan-jalan."


Arka menggeleng. Dari pada keluar, ia lebih memilih menghabiskan waktu di kamar.


"Mas Arka..." Nara kembali membujuk. "Aku ingin jalan-jalan. Inikan kali pertama kita jalan-jalan setelah pernikahan." Nara memainkan jarinya di dada tegap itu.


"Malas." Tolak Arka cepat. Ia sengaja tak mau menuruti Nara. Biar saja istrinya itu merayunya.


"Mas Arka... Aku ingin berjalan sambil bergandengan tangan denganmu."


Arka meraih tangan Nara dan menggenggamnya.


"Ini sudah. Untuk apa keluar lagi?" Ledek Arka dengam senyum menyebalkan.


"Mas." Nara melepaskan tangan Arka. "Aku ngambek nih."


Arka tertawa puas mendengar dumelan menggemaskan Nara.


"Ya sudah, kita akan jalan-jalan. Tapi dengan satu syarat." Ucapnya.


"Syarat?" Nara melihat Arka.


Kepala Arka mengangguk.


"Sya-syarat apa?" Tanya Nara merasa aneh.


"Cium dulu." pinta Arka.


Nara mendengus pelan. Ia pun menkecup kedua pipi Arka. Pria itu menunjuk bibirnya. Nara pun menkecup bibir pria itu.


Saat Nara akan melepas kecupannya, Arka menahan kepala Nara. Pria itu merasa kurang jika hanya kecupan. Mereka pun kembali berciuman mesra.


Di tengah bibir yang saling bertegur sapa. Tangan Arka kembali merayap menyentuh puncak gunung kembar, yang membuat tubuh Nara seperti merinding.


"Mas, aku mau jalan-jalan." Nara melihat suaminya yang mulai bergairah. Jika diteruskan, mereka akan kembali saling memadu kasih.


"Sekali ini." Pinta Arka dengan nada membujuk.


Melihat wajah tampan yang berharap, membuat Nara mengangguk pelan. Ia tak mau membuat Arka kecewa. Ia akan menurut sebagai seorang istri.


Tak lama, terjadilah gempa. Tempat tidur itu bergoyang. Dan pakaian mereka pun berterbangan ke mana-mana.


Beberapa waktu berlalu, Arka membawa Nara naik sebuah kapal.


Nara begitu bahagia, senyum tak lepas dari wajah cantik itu.

__ADS_1


"Sayang, apa tidak dingin?" Tanya Arka menepikan rambut yang menutupi wajah Nara. Tiupan angin laut membuat rambut Nara berterbangan.


"Kalau dingin, aku kan bisa peluk Mas Arka." Nara pun memeluk pria yang duduk di sampingnya.


Arka mengelus kepala Nara, sambil menghujaninya dengan kecupan-kecupan kecil.


"Apa kamu bahagia?"


Nara mengangguk. "Aku bahagia, Mas. Asal ada kamu di sisiku."


"Aku akan terus berada di sisimu selamanya."


\=\=\=\=\=\=


Nara berulang kali menghembuskan nafasnya pelan. Arka membawanya pulang ke rumahnya. Ia akan tinggal dengan Arka dan Mommynya. Mendadak kegugupan menguasainya.


Arka mengetuk kaca mobil menyuruh Nara untuk turun. Nara pun segera turun.


"Ma-maaf, Mas."


"Ayo, kita masuk." Arka mengandeng Nara memasuki rumah.


"Eh, pengantin baru sudah pulang." Ledek Mommy pada keduanya. Membuat Nara menunduk malu.


"Sehat, Mom?" Arka menyalami Mommy lalu memeluknya. Sudah 3 hari mereka tidak bertemu.


"Sehat dong." Jawab Mommy tersenyum manis. Ia tersenyum melihat menantunya.


"A-apa kabar, Mom?" Nara juga menyalami ibunya Arka. Ia sedikit merasa canggung dan kikuk.


"Kamu makin cantik." Puji Mommy seraya memeluk Nara.


"Sekarang Mommy sudah punya 2 anak. Kalian berdua harus selalu akur. Jika ada masalah bicarakan baik-baik." Saran Mommy. Tangannya mengelus kepala pasangan itu dengan kasih dan sayang.


Nara mengangguk. " Oh iya, Mom. Kami bawa ole-ole. Mas, mana ole-olenya?" Tanya Nara pada Arka.


Arka memberikan bungkusan pada Nara.


"Ini, Mom. Tadi kami beli di jalan. Sepertinya enak. Mommy coba ya..." Nara menyodorkan makanan itu pada Mommynya.


"Iya, enak." Ucap Mommy setelah memakannya.


"Ada banyak rasa. Mommy mau coba yang mana lagi. Ini enak, ini juga enak..." Nara mulai beradaptasi kembali dengan keluarga barunya. Ia mencintai Arka, putranya Mommy. maka harus meraih hati Mommy.


Arka tersenyum melihat interaksi Nara dan Mommynya. Keduanya cukup akrab. Mommy dan Nara sama-sama sangat welcome.


Setelah membersihkan diri. Arka duduk di samping Mommynya yang sedang menonton tv.


"Nara sudah tidur?" Tanya Mommy.


"Iya, Mom. Nara sangat kecapekan." Jawab Arka. Istrinya itu begitu terbaring di tempat tidur, langsung terlelap.


"Kamu membuatnya capek." Tuduh Mommy.


Arka malah menyengir.


"Ka... Kapan kalian adopsi anak?" Tanya Mommy menatap serius. Ia ingin segera menggendong cucu.


"Mom... Tidak dalam waktu dekat ini."

__ADS_1


"Lho, kenapa?" Mommy menatap heran.


"Aku masih ingin berduaan dengannya." Mereka baru menikah beberapa hari. Masa sudah disuruh merawat anak.


"Tapi, Mommymu ini ingin segera memiliki cucu." Bujuk Mommy manja.


"Sabar ya Mom." Arka memeluk lengan Mommynya.


"Mommy sudah makan?" Tanya Arka kembali. Ia sengaja mengalihkan topik.


"Sudah."


"Mau makan apa lagi, biar aku pesankan?" Tanya Arka sambil meraih ponselnya.


"Sate." Jawab Mommy cepat.


"Ok."


"Pesankan untuk Nara juga." Pinta Mommy. Sudah ada Nara di rumahnya


"Nara sudah tidur, Mom."


"Kamu bangunkanlah dia. Jangan tidur sebelum makan. Nanti kalau dia sakit bagaimana?!"


Arka mengangguk. Mommy sangat menyayangi istrinya.


"Arka... Tanyai sudah sampai mana kurirnya?" Mommy tak sabaran. Waktu sudah lama berlalu. Tapi pesanan belum sampai juga. Macet di mana lah si abang kurir?


"Tunggu sebentar lagi, Mom. Masih di jalan." Ucap Arka memberitahu.


Tak lama pesanan datang. Nara dengan sigap meletakkan bungkusan ke piring-piring.


"Ini untuk Mommy." Nara menyajikan pada Mommy.


"Terima kasih mantuku sayang."


Setelah menyajikan Mommy, Nara menyajikan Arka.


"Terima kasih istriku sayang."


Kembali wajah bangun tidur Nara merona.


Mereka pun makan dengan lahap. Sambil saling tersenyum bahagia.


"Nara... Kapan kalian adopsi anak?" Tanya Mommy kembali. Arka menyuruhnya menunggu. Bagaimana dengan menantunya ini.


"Kami sudah sepakat, kemungkinan tahun depan, Mom." Jawab Nara menjelaskan.


Mommy pun cemberut. Nggak Arka nggak Nara sama saja. Membuatnya menunggu.


"Kalau sampai tahun depan. Kalian adopsi 6 orang anak langsung ya. Pasti ramai rumah kita." Mommy sudah membayangkan suara tangis, tawa, berisik, teriak yang pasti menggema di rumah itu.


"Mom, kenapa sebanyak itu?" Arka merasa merawat 6 orang anak terlalu banyak. Kasih sayangnya pasti terbagi.


"Nggak apa. Nara nggak akan repot merawat mereka. Mommy siap ikut merawatnya. Kita juga bisa memakai baby sister masing-masing untuk mereka." Tak ada yang sulit menurut Mommy.


"Mom, lihat tahun depan ya."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2