KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 84 - Istri Saya Sudah Menunggu


__ADS_3

Pagi itu, Nara terlihat sibuk di dapur. Ia sedang membuat sarapan. Para pekerja hanya membantu memotong bahan saja. Ia yang memasaknya.


"Nara, kamu ngapain?" Tanya Mommy. Pagi-pagi melihat Nara sudah sibuk saja di dapur.


"Nara lagi buat sarapan, Mom. Mommy mau sarapan?" Tanya Nara menawarkan.


"Kamu masak apa, Nak?" Tanya Mommy penasaran.


"Nara masak nasi goreng." Jawab Nara.


Mommy melihat nasi goreng dalam wajan. Nasi gorengnya itu tampak lezat dan aromanya juga sangat menggiurkan.


"Sepertinya enak ya." Mommy ingin melahapnya.


"Biar Nara ambilkan ya, Mom." Tawarnya.


"Nanti saja. Sekalian kita sarapan sama-sama."


Nara mengangguk dan menyalin nasi goreng ke dalam piring-piring dan meletakkan di atas meja.


"Sudah sana. Kamu banguni Arka. Kalau nggak dibanguni, nggak akan bangun anak itu." Mommy memberitahu kebiasaan anak semata wayangnya itu.


"Nara ke dalam dulu ya Mom." Pamit Nara yang diangguki Mommy.


Nara berjalan masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat pria itu yang masih nyenyak tidur. Masih bergumul dalam selimut.


Nara pun membuka gorden jendela. Membiarkan udara pagi yang sejuk itu masuk ke kamar mereka.


"Mas Arka... ayo bangun." Nara mentoel-toel pipi Arka. Ia duduk di pinggiran tempat tidur.


"Sudah pagi ya...?" Arka menguap lebar dan tangan Nara pun segera menutup mulutnya.


"Jangan lebar-lebar, Mas. Nanti masuk biawak." Ledek Nara geli.


Arka tertawa, Nara ada-ada saja.


"Mas, ayo bangun. Aku sudah buat sarapan spesial loh." Nara meraih selimut yang dipakai Arka.


"Kamu ngapain buat sarapan? Sudah ada pekerja yang membuatkannya." Arka memberitahu.


"Nggak apa, Mas. Aku ingin buat sarapan untuk Mas Arka ku tercinta." Nara mengelus kepala Arka dengan sayang.


"Katakan sekali lagi." Pinta Arka membalas tatapan lembut istrinya.


"Aku ingin buat sarapan." Ulang Nara.


"Lalu..."


"Mas sarapan terus berangkat ke kantor." Ucap Nara bingung.


"Yang tadi kamu bilang."


"Aku memangnya bilang apa?"


"Ya sudahlah, aku mandi dulu ya." Arka cemberut lalu perlahan bangkit dari tempat tidur. Nara sedang bermain tarik ulur dengannya.


Arka berjalan ke kamar mandi. Seketika langkahnya terhenti dan segera berbalik menghampiri Nara.


"Kenapa, Mas?" Tanya Nara makin bingung.


Arka dengan cepat menkecup bibir Nara sejenak. "Hampir lupa morning kissnya."


'Apaan sih?!' Wajah Nara mendadak merona.


Nara membuka lemari pakaian. Ia akan menyiapkan pakaian Arka. Hari ini, suaminya akan mulai kembali ke kantor. Arka harus terlihat berbeda dan fresh.


Nara mengalihkan pandangannya saat melihat Arka keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya terlilit handuk di pinggangnya.

__ADS_1


'Masih malu!' Batin Arka melihat istrinya yang dengan cepat membuang wajah.


"Mas... I-ini pa-pakaiannya!" Nara menunjuk pakaian yang sudah diletakkannya di atas tempat tidur.


"A-aku mau siapkan sarapan dulu." Nara pun segera mengambil langkah seribu, setelah mengatakan itu. Ia benar-benar tidak sanggup pagi-pagi berduaan dengan suaminya. Suasananya terasa aneh, membuat tubuhnya mendadak panas dingin.


Arka tersenyum melihat pakaian yang telah disiapkan Nara. Lengkap dengan boxernya.


Sementara Nara kembali ke dapur.


"Mana Arka?" Tanya Mommy yang sedang membuat teh.


"Mommy kok buat teh lagi?" Tanya Nara. Ia sudah membuatkan teh hangat.


"Teh kamu agak manis. Mommy lagi mengurangi gula." Jelas Mommy.


"Mom, maaf... Nara nggak tahu." Nara merasa tak enak hati.


"Nggak apa, sayang. Kalau sudah tua begini, banyak pantangannya."


Nara mengangguk mengerti. "Jadi Mommy buat tehnya gimana..."


Nara pun mencari tahu. Ia ingin besok-besok membuatkan teh yang sesuai dengan selera mertuanya.


Tak lama...


"Mom, gimana rasanya?" Tanya Arka saat mereka sarapan bersama.


Mommy mengangkat kedua jempolnya. "Mantap."


"Iya dong. Istriku!!!" Ucap Arka bangga. Membuat Nara jadi menunduk malu.


"Kamu belajar masak di mana?" Tanya Mommy ingin tahu.


"Nara dulu sering bantui Bunda masak, Mom. Jadi tahu-tahu sedikit."


"Ini sangat enak."


"Tentu boleh. Tapi, apa nggak ngerepoti kamu?" Mommy tak mau membuat menantunya kecapekan.


Nara pun menggeleng. "Tidak, Mom. Nara malah senang memasak untuk Mommy sama Mas Arka juga."


"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi kalau kamu capek, biarkan saja pekerja rumah yang memasak." Saran Mommy.


Nara mengangguk. "Baik, Mom."


Setelah sarapan, Arka pun pamitan pada Mommynya.


"Mom, aku berangkat dulu." Arka menyalami wanita paruh baya itu.


"Hati-hati di jalan. Ingat!!! Kamu sudah punya istri sekarang. Jaga hati kamu."


"Siap Bos!"


Setelah Arka berpamitan, Nara mengantar sampai teras rumah.


"Hati-hati di jalan ya, Mas." Nara menyalami tangan suaminya.


Arka tersenyum-senyum. Ia pun membalas dengan menkecup kening Nara cukup lama. Menyalurkan segala perasaan di hati.


Setelah kening, Arka juga menkecup kedua pipi Nara. Yang kanan dan kiri.


Wajah Nara kembali memerah. "Mas, banyak yang lihat. Aku malu!!!"


Nara menutup wajahnya. Perlakuan Arka sekarang mungkin sudah dilihat tetangga, pekerja rumah, bahkan Mommynya.


"Nggak usah malu. Ini hal biasa." Arka meraih tangan Nara yang menutupi wajah. Ia pun mencium pundak tangan Nara.

__ADS_1


"Mas, sudah berangkat sana. Nanti terlambat." Nara ingin mengakhiri drama yang membuat hatinya berdebar.


"Baiklah. Mas Arkamu ini pergi dulu ya. Mencari uang yang banyak untuk kamu dan keluarga kecil kita nantinya."


Nara mengangguk paham. "Hati-hati, Mas. Dadah..."


\=\=\=\=\=\=


Arka memarkirkan mobil, ia pun berjalan memasuki kawasan kantor. Dengan langkah tegak dan fokus mata ke depan. Tak lupa senyuman yang mengambang. Mengisyaratkan pria tampan itu sedang berbahagia.


"Selamat pagi, Pak Arka." Sapa Sam saat memasuki lift.


Arka mengangguk. "Pagi."


"Sepertinya Pak Arka sangat bahagia. Senyuman anda seperti sedang berada di taman bunga."


"Sam, sepertinya kamu harus segera menikah. Agar kamu tahu, seperti apa rasanya berada di taman bunga."


Sam hanya nyengir mendengar jawaban atasannya itu. Terkesan dingin tapi lucu.


"Oh iya, Pak. Bagaimana kabar Nara?" Sam berbasa basi. "Maksud saya... ibu Nara." Sam membenarkan perkataannya.


"Istri saya sangat bahagia." Jawab Arka penuh senyuman. Ada rasa rindu yang mendadak timbul.


Arka keluar dari lift, begitu sampai di lantai ruangannya berada. Sam dari belakang mengikuti.


"Selamat pagi, Pak." Sapa Gio. Matanya melihat Arka dari atas hingga atas lagi.


Penampilan Arka sedikit berbeda. Pria itu lebih rapi dan berwarna. Pasti kakaknya yang memilihkan pakaian untuk suaminya itu.


"Pagi." Jawab Arka, lalu segera masuk ke ruangannya.


Waktu pun berlalu cepat. Arka keluar dari ruangannya.


"Ada apa Sam?" Tanya Arka ketika di hadang asistennya itu.


"Ini, Pak. Ada dokumen yang harus anda tanda tangani se-"


Sam diam saat Arka menaikkan tangannya.


"Sam... Ini sudah pukul 4 sore. Yang artinya jam kantor telah berakhir."


"Maaf, Pak. Anda hanya perlu membubuhi tanda tangan di sini." Sam membuka dokumen itu.


"Letakkan saja di meja, besok saya selesaikan. Saya harus segera pulang, istri saya sudah menunggu."


Sam menghembuskan nafas panjang, setelah melihat Arka sudah jauh. Hanya tanda tangan saja, tak sampai semenit. Pria itu tidak punya waktu dan malah menangguhkan hingga esok hari.


"Sabar ya, Pak Sam." Ucap Gio yang senyum-senyum melihat sikap abang iparnya itu.


"Saya juga harus segera pulang. Istri saya sudah menunggu." Gio sengaja menirukan gaya bicara Arka untuk pamitan dengan Sam.


"Ini... Besok tolong ingatkan si bapak satu itu, untuk menanda tanganinya." Sam menyerahkan dokumen pada Gio.


"Saya juga mau pulang. Istri saya sudah menunggu." Sam juga menirukan Arka.


"Emang Pak Sam sudah punya calon?" Ledek Gio.


"Belum." Jawab Sam. "Kenapa?" Tanya Sam sinis.


"Masa belum?" Gio memastikan kembali.


"Iya memang belum." Sam mulai kesal.


"Jadi... pak Sam belum punya calon?" Gio meledeknya. "Kok sama ya!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2