
Sam keluar dari lift dan akan menuju ke ruangan Arka. Tapi langkahnya terhenti, tatkala melihat Arka yang menghampiri Nara.
Sam segera bersembunyi dan melihat interaksi keduanya.
Terlihat Arka memberikan sesuatu pada Nara. Dan mereka berbicara dengan serius.
Sam tidak dapat menguping pembicaraan mereka yang seperti berbisik-bisik itu.
'Ada apa pak Arka dengan janda menggemaskan ini?'
Melihat Arka sudah masuk ke ruangannya. Sam pun melangkahkan kaki menuju meja Nara. Ia ingin tahu apa yang diberikan Arka pada sekretarisnya.
"Pagi, Nara..." Sapa Sam penuh senyuman. Ia melihat kotak makanan di meja Nara. Ternyata Arka memberikan bekal pada Nara.
"Pagi juga, Pak." Nara membalas sapaan Sam.
"Oh iya, sudah selesai?"
"Sebentar, Pak." Nara menyerahkan file dalam flashdisk yang beberapa hari yang lalu diminta Sam.
"Terima kasih, Nara." Sam tersenyum.
"Hmm... Kamu bawa bekal?" Tanya Sam melirik kotak makanan yang diberikan Arka.
"Oh... Iya Pak." Nara tersenyum canggung. Tak mungkin ia mengatakan itu pemberian ibunya Arka. Bisa ribet urusannya.
Sam melihat Nara dengan ekspresi bertanya. Selama bekerja Nara tidak pernah membawa bekal.
"Tadi saya belum sempat sarapan di rumah, Pak." Nara mencoba meyakinkan dengan alasan yang masuk akal.
'Owh... Lagi PDKT pak Arka nih ceritanya!!! Nara Belum sarapan, dibawakan bekal. Perhatian sekali...' Sam tersenyum simpul.
Ternyata selama ini ada sesuatu yang terjadi antara Arka dan Nara. Kenapa ia tidak menyadarinya?!
"Kenapa kamu belum sarapan? Kamu sarapan saja sekarang!" Ucap Sam segera.
"Akan saya makan saat jam makan siang, Pak." Tolak Nara segera, memberikan alasan. Saat ini sudah masuk jam kerja.
"Sudah sarapan saja, dari pada nanti kamu pingsan." Bujuk Sam kembali. Ia tak mempermasalahkan itu.
"Nara, Apa Sam sudah sampai?" Arka keluar dari ruangannya. Dan melihat Sam bersama Nara.
"Saya sudah sampai, Pak." Jawab Sam sopan.
"Nara belum sarapan, apa dia boleh istirahat sebentar untuk sarapan, Pak?" Sam meminta izin Arka. Matanya melihat ekspresi Arka sekarang.
"Kenapa kamu belum sarapan?" Tanya Arka melihat ke arah Nara.
'Cepat kamu sarapan dengan bekal yang sudah saya buatkan khusus untuk kamu!' Sam menjawab dalam hati.
__ADS_1
"Itu... Pak. Sa-saya tadi kesiangan bangun. Maaf, Pak." Nara terpaksa beralasan seperti itu. Seharusnya ia tadi segera menyimpannya, agar Sam tak banyak bertanya.
Arka melirik tempat makan yang tadi pagi diberikannya pada Nara. Pasti Sam bertanya pada Nara tentang bekal itu. Dan Nara jadi beralasan membawa kotak makanan itu karena belum sarapan.
Arka menghela nafas pelan. Ternyata Nara tak mengatakan itu pemberian darinya. Jika tidak, maka Sam si asisten kepo-nya ini akan terus bertanya dan mencurigai mereka.
"Kamu sarapan segera." Arka mengizinkan Nara untuk sarapan.
"Baik, Pak." Nara mengangguk patuh.
'Apa mereka sedang berakting?!' Sam mencibir dalam hati. Ekspresi keduanya terlihat biasa saja.
Nara akan bangkit dan membawa kotak makan yang tadi Arka berikan.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Arka yang melihat Nara akan pergi.
"Ke kantin, Pak." Jawab Nara cepat. Ia akan memakan ini di kantin saja.
"Kamu makan di sini saja. Ini masih jam kantor. Saya tidak mau karyawan yang lain beranggapan saya terlalu mentolerir kamu. Karena kamu sekretaris saya." Jelas Arka kemudian.
'Saya tidak mau karyawan yang lain beranggapan, kalau kamu itu paling spesial di hati saya.' Sam membatin mengulang ucapan Arka sesuai versinya.
"Sam... Ke ruangan saya." Pinta Arka pada asistennya kemudian.
"Baik, Pak." Jawab Sam.
"Nara... Makan yang banyak ya. Kalau kamu sakit nanti ada yang repot lho." Ucap Sam dengan senyum lebar.
Di dalam ruangan Arka. Sam menyerahkan dan menjelaskan isi dalam flashdisk yang tadi diberikan Nara.
Arka mengangguk mengerti pada apa yang dijelaskan dan ia juga menambah sedikit arahan.
"Saya permisi, Pak." Ucap Sam setelah urusannya selesai. Ia akan keluar dari ruangan Arka.
"Sam, apa kamu menyukai Nara?" Tanya Arka menghentikan langkah kaki Sam.
Selama ini Arka sering melihat Sam selalu tersenyum lebar pada sekretarisnya itu.
Bisa saja Nara dan Sam sedang dekat. Atau Sam sedang proses pdkt.
'Apa dia cemburu?' Batin Sam berpikiran lain.
"Ti-tidak, Pak. Saya tidak menyukai Nara. Saya hanya menganggap Nara sebagai rekan kerja saja. Tidak lebih dari itu. Jadi Pak Arka tidak perlu khawatir. Percaya sama saya." Jelas Sam tegas, ia tak mau Arka menganggapnya rival. Yang berniat mendekati janda cantik itu.
Sam hanya suka melihat Nara yang baik dan lucu. Ia tidak mempunyai perasaan pada Nara. Hanya menganggap wanita itu rekan kerjanya.
Arka makin merasa aneh dengan jawaban Sam. Seperti ada maksud yang tersembunyi.
"Sudah, kamu kembali bekerja." Pinta Arka pada Sam.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
Nara membuka kotak makanan itu. Ia terdiam sesaat. Ibunya Arka ternyata membuatkan puding untuknya.
Melihat puding, pikiran Nara bernostalgia saat masih menjalani pernikahan dengan Adam.
Mantan suaminya itu sangat suka puding. Di dalam lemari pendingin harus selalu tersedia puding. Setiap hari Nara pasti menyempatkan membuatnya.
Nara mengusap air matanya. Kenangan yang begitu manis saat itu, kini terasa sangat menyakitkan.
Sam yang baru keluar dari ruangan Arka. Melihat Nara memakan sarapan yang diberikan Arka dengan berlinang air mata.
'Apa dia menangis? Apa begitu terharu mendapat sarapan dari pak Arka? Luar biasa duda satu itu!!!'
"Nara, saya..." Arka tiba-tiba keluar dari ruangan.
"Sa-saya Pak." Nara kaget, ia bangkit dan membalikkan tubuhnya.
"Saya permisi." Sam undur diri segera. Ia tak boleh ada dalam drama mereka.
Tapi... mengintip dari balik tembok, tak masalah kan?
Sungguh Sam sangat penasaran, apa yang akan terjadi?
Nara terharu karena dibuatkan sarapan oleh Arka? Bagaimana ekspresi Arka melihat itu?
Arka bingung melihat mata Nara yang berair. Ia juga melirik kotak makan yang diberikan mommynya. Yang ternyata isinya adalah puding.
"Ka-kamu kenapa menangis? Apa pudingnya pedas?" Tanya Arka pelan.
"Hah? Ti-tidak, Pak. Saya kelilipan." Jawab Nara cepat memberi alasan. Ia mengusap sudut matanya.
Arka mengangguk percaya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Nara kembali.
"Nanti saja. Selesaikan dahulu makan kamu. Setelah selesai, kamu segera ke ruangan saya."
"Baik, Pak." Jawab Nara cepat. Ia meruntuki diri sendiri, bukannya makan dengan cepat. Malah bernostalgi dengan kenangan yang membuat hatinya kembali sakit.
Arka akan kembali ke ruangannya. Tapi sudut matanya melihat ada yang mengintip mereka dari kejauhan.
Sam yang tertangkap basah mengintip, segera berdiri tegak dan menundukkan kepala sejenak pada Arka. Lalu Sam segera meninggalkan tempat itu.
'Sam Sam!!!'
.
.
__ADS_1
.