KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 10 - Kenyataan Ini


__ADS_3

'Rambut pirang!'


Mata Nara masih menatap tajam, Adam yang begitu dengan cekatan membantu wanita berambut pirang itu turun dari mobil.


Ser...


Hamil? Wanita berambut pirang itu sedang hamil. Perutnya sudah sangat besar, sepertinya usia kehamilan sekitar 8 bulanan.


Nara masih berusaha tenang. Meski pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan terburuk, yang akan segera ia ketahui.


"Nara... Ayo kita bicara di dalam." Adam membawa Nara masuk ke dalam rumah. Wanita berambut pirang itu juga mengikuti Adam dari belakang.


Nara menuruti Adam untuk masuk ke dalam rumah.


Setelah masuk rumah, Adam menatap mata Nara. Mata wanita itu berkaca-kaca.


"Sebelumnya aku... Minta maaf kamu, Na." Adam merasa sangat bersalah. Membuat wanita yang sangat dicintainya itu menangis.


Air mata yang dicoba Nara tahan, akhirnya tak bisa terbendung. Adam meminta maaf, pasti suaminya telah melakukan kesalahan. Suaminya pasti berselingkuh hingga wanita itu hamil.


"Nara, ini Yola. Istri keduaku."


Nara bagai tersambar petir mendengar perkataan suaminya. Tentang wanita berambut pirang yang ternyata adalah istri kedua. Istri kedua? Kapan Adam menikah dengan wanita itu?


Nara melihat ke arah Yola dengan pandangan datar. Wanita berambut pirang itu memberi senyum padanya.


"Apa maksud kamu, Mas? Istri kedua? Apa kamu menduakanku?" Tanya Nara menahan gemuruh dadanya yang terasa mulai sesak.


"Aku menikah dengan Yola beberapa bulan yang lalu. Sekarang dia sedang hamil. Dia-"


Plak


Ucapan Adam terhenti saat satu tamparan melayang mulus di wajahnya.


"Nara!!" Adam meninggikan suaranya. Nara berani menampar dirinya, suaminya sendiri.


"Kenapa Mas? Kenapa? Kenapa kamu menikah dengannya, Mas?" Perasaan Nara bercampur aduk menerima kenyataan yang sungguh menyayat hati.


Tadinya Nara berpikir, Adam akan mengatakan akan menikah dengan wanita itu. Tapi ternyata... Mereka sudah menikah, bahkan beberapa bulan yang lalu. Adam telah menduakannya selama ini. Pria itu sudah bermain gila di belakangnya.


"Kenapa kamu tega berbuat seperti ini padaku? Apa kurangnya aku?" Dengan emosi Nara memukuli tubuh suaminya. Sakit, kesal, sedih bercampur menjadi satu.


"Nara, tenanglah." Adam menahan tangan Nara yang memukuli tubuhnya.


"Mas Adam, kamu jahat."


Adam terdiam sesaat, melihat wajah Nara yang menangis.


"Sayang, dengarkan aku. Aku sangat mencintaimu. Tapi aku juga ingin memiliki seorang anak."


Hati Nara makin hancur. Adam berselingkuh karena ia belum mengandung.


"5 tahun. 5 tahun kita menikah, tapi kamu belum juga mengandung anakku."

__ADS_1


Air mata Nara makin berjatuhan.


"Maka dari itu aku menikah dengan Yola. Dia telah mengandung anakku. Aku juga ingin kamu merawat anakku. Kita bertiga akan bersama merawat anak itu-"


"Stop!!! Stop, Mas. Aku bilang stop. Cukup!" Teriak Nara penuh frustasi.


Apa yang dipikirkan Adam?


Bertiga merawat anak itu? Adam, dirinya dan wanita berambut pirang itu.


Apa Adam ingin hidup dengan dua istri?


"Nara... Tenanglah." Adam memegang Nara.


"Lepaskan. Jauhkan tangan kotormu dariku." Maki Nara geram. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih, dengan keadaan yang tiba-tiba membalikkan dunianya.


"Kak... tenanglah. Aku tak masalah kita bersama-sama merawat anak ini. Ini anak Mas Adam, kakak boleh menganggapnya seperti anak sendiri." Yola mencoba menjelaskan, agar Nara tidak marah-marah dengan Adam.


Nara menghampiri wanita itu. Dan...


Plak


Rasanya disaat seperti ini, Nara sangat ringan tangan. Tangannya mendarat di wajah si pirang itu.


"Merawat anakmu? Kau kira aku sudi. "


"Nara, dengarkan aku."


Nara menutup mulut suaminya.


"Wanita itu..." Gantian Nara menunjuk Yola.


"Telah mengabulkan keinginanmu." Air mata Nara berjatuhan membasahi pipinya.


"Maka... Ceraikan aku." Tegas Nara. Keinginan Adam sudah terkabul, jadi untuk apa ada dirinya?


"Apa kamu sudah tidak waras?" Adam tak terima. Mana mungkin ia menceraikan Nara. Ia juga ingin bersama Nara membesarkan anak itu.


"Aku bilang ceraikan aku."


"Nggak. Itu tak akan terjadi, Nara." Adam tetap bersikeras.


"Ceraikan aku, Mas."


"Tidak, sayang."


"Ceraikan aku. Aku nggak mau hidup bersama pengkhianat."


Adam terdiam. Bibirnya tak dapat berucap lagi. Pengkhianat? Benar dia seorang pengkhianat. Ia sudah mengkhianati Nara selama ini.


"Nara... Aku hanya ingin kita memiliki seorang anak."


"Tapi... Tidak cara seperti ini, Mas."

__ADS_1


"Anak itu darah dagingku. Aku harap kamu mengerti."


"Tidak!!!" Nara berteriak histeris. "Aku nggak mau merawat anak wanita pelakor itu. Kamu rawat saja anak itu bersama dia." Nara pun meninggalkan ruang tamu tersebut. Ia tak mau mendengar ucapan Adam lagi. Rasa sakit ini, bisa saja membuatnya bertindak tidak waras. Nara bisa saja menghabisi kedua manusia keji seperti mereka.


'Tahan, Nara. Tahan, Nara. Tahan, Nara. Ingat Ayah sama Bunda. Gio juga.' Nara mengusap air mata yang bahkan tak mau berhenti mengalir.


Nara mengambil tas dan memasukkan beberapa pakaiannya. Ia akan pergi dari rumah ini. Terserahlah apa yang mau Adam lakukan dengan si pirang itu.


"Nara... Jangan begini. Tolong maafkan aku." Adam datang dari belakang, memeluk tubuh Nara. Tubuh mungil yang gemetaran.


"Aku ingin tetap bersamamu." Adam membalikkan tubuh Nara ke hadapannya.


Nara melihat mata Adam yang merah dan berkaca-kaca.


"Tapi... Aku juga ingin bersama anakku dan Yola juga. Dia ibunya." Adam ingin memiliki semuanya.


Pria itu menginginkan Nara, Anaknya dan Yola juga. Karena tak mungkin memisahkan anak itu dari ibu kandungnya.


"Mas, aku nggak bisa." Nara meraih tasnya.


"Nara... Kamu seharusnya mengerti." Adam menahan tas Nara.


"Selama pernikahan kita, Kamu tidak bisa mengandung anakku. Jadi aku harus bagaimana? Apa selamanya kita hidup berdua saja? Aku juga ingin mempunyai keturunan. Anak kandung yang berasal dari darah dagingku, Nara." Adam menjelaskan agar Nara mengerti posisinya. Nara juga harus mengerti jika, ia juga sulit dengan keadaan ini.


Hati Nara hancur berkeping-keping. Adam mengingatkannya akan ketidak mampuan diri selama ini. Nara tak bisa mengandung anaknya. Dan si pirang itu, bahkan dalam beberapa bulan pernikahan, dia akan segera melahirkan darah daging Adam.


Nara menepis tangan Adam yang memegang tasnya. Lalu melangkah pergi.


"Nara... Seharusnya kamu mengerti dan menerima semua ini. Selama 5 tahun kita menikah, kemungkinan selama ini kamu mandul." Adam geram, Nara yang sangat penurut. Berubah menjadi sangat keras kepala. Sulit sekali membuatnya mengerti posisi suaminya saat ini.


Kaki Nara terhenti.


Mandul?


Adam mengatakan dirinya mandul?


Padahal jelas-jelas dokter mengatakan dia sehat. Suaminya itu juga mendengarkan penjelasan dokter.


Kehamilan itu hanya masalah waktu saja.


Tapi...


Adam membuat seolah-olah Nara mengalami kekurangan. Dan menghadirkan si pirang itu untuk menutupi kekurangannya.


"Kalau kamu keluar dari pintu itu. Kamu akan menyesal." Ancam Adam. Ia benar-benar kesal pada istrinya.


Nara menghembus nafasnya berkali-kali. Ia pun melangkahkan kaki.


"Sampai bertemu di pengadilan, Mas."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2