
Pesan bercentang dua berwarna biru, tanda pesan sudah dibaca penerima tapi tidak dibalas.
Arka mendekatkan wajahnya pada layar ponsel. Memastikan pesan yang dikirimnya hanya dibaca doang.
'Aku kirim pesan lagi!'
"Malam Nara, lagi apa? Sudah makan? Lagi bobok-" Arka menghentikan ketikannya. Pertanyaannya terkesan lebay.
Arka mulai berpikir, mengirim pesan apa pada Nara.
Pria itu dilanda kegalauan. Ungkapan perasaannya ditolak mentah-mentah. Bahkan meminta kesempatan, Nara tidak menjawab iya atau pun tidak.
Arka berniat akan menelepon Nara saja. Ia akan mendekati Nara dalam minggu ini. Tak peduli apa tanggapan wanita itu tentangnya.
Tapi, pria itu tak jadi menghubungi Nara. Ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil kunci mobil.
Arka akan mendatangi Nara langsung ke rumahnya. Mungkin wanita itu meragukan perasaannya, jadi ia akan menunjukkan ketulusan dan keseriusannya.
Tapi, Arka menepikan mobilnya jauh dari rumah Nara. Niatnya tadi menggebu-gebu. Begitu sampai TKP, Arka dilanda kebimbangan. Salah satunya, mungkin wanita itu akan merasa tak suka atau tak nyaman. Lalu berniat mengundurkan diri.
Arka tak ingin Nara mengundurkan diri. Berhenti menjadi sekretarisnya.
'Ok. Kita pulang saja.'
Arka melajukan mobilnya perlahan. Saat melewati depan rumah Nara, ia melambatkan laju mobil. Melihat apa Nara ada di dalam rumah.
Pria itu yang katanya berniat pulang. Malah melewati rumah Nara hingga 3 kali. Tapi tak sekalipun melihat Nara.
Hingga akhirnya Arka pun akan memutuskan pulang saja. Saat akan menghidupkan mobilnya. Jendela mobilnya diketuk.
"Maaf, saya akan segera pergi." Ucap Arka setelah menurunkan kaca mobilnya. Yang mengetuk mungkin pemilik rumah. Karena pria itu menepikan mobil di depan rumah orang.
"Pak Arka?" Tanya Seorang pria memastikan kembali.
"Kamu kenal saya?" Tanya Arka memastikan kembali. Ia merasa pernah melihat pria itu.
Tak lama, Arka sudah duduk di ruang tamu. Di rumah yang sudah 3 kali dilewatinya.
"Ada berkas penting yang harus segera diselesaikan. Karena besok pagi akan dibahas di rapat." Jelas Arka menutupi kegugupannya. Pria itu bersilat lidah di depan keluarga Nara.
Tadi ia mengatakan pada Gio, sedang mencari rumah sekretarisnya yang bernama Nara Amelia. Karena ada hal mendesak yang harus diselesaikan.
Arka mengarang alasan seperti itu. Membawa-bawa pekerjaan.
Hingga Gio pun menunjukkan rumah mereka. Rumah sekretarisnya Arka.
Arka juga baru tahu ternyata pria itu, adiknya Nara yang pernah menjemput Nara pulang. Adik Nara juga bekerja di perusahaan cabangnya.
'Masa kak Nara lagi dekat sama pak Arka?' Gio masih dengan kecurigaannya. Mobil yang Arka pakai sama percis dengan mobil yang pernah mengantar kakaknya pulang.
"Silahkan diminum." Ucap Ayah menawarkan teh yang terhidang. Pria paruh baya itu melihat Arka dari atas hingga atas lagi.
Arka meruntuki diri, yang pergi begitu saja. Ia datang ke rumah gebetannya dan bertemu dengan calon mertuanya, hanya memakai celana pendek dan kaos.
Sungguh, hal seperti ini sangat memalukan bagi Arka.
__ADS_1
"Te-terima kasih, Pak." Arka mengangguk dan meminum tehnya.
"Sebentar pak Arka, biar saya panngil Nara dulu. Dari tadi mandi nggak siap-siap." Bunda bangkit dan kembali memanggil sang putri.
Arka menganggukkan kepala.
Sementara di kamar, Nara mondar-mandir tak jelas. Ia tak percaya, pria itu mendatangi rumahnya. Padahal ia sudah menolaknya mentah-mentah.
"Nara... Bos kamu sudah lama menunggu." Ucap Bunda sambil mengetuk pintu.
"Iya, Bun. Sebentar!" Jawab Nara dari dalam.
\=\=\=\=\=\=
"Se-selamat malam, Pak." Ucap Nara ketika sudah berada di ruang tamu. Ia menghembuskan nafas pelan, ternyata pria itu benar-benar berada di rumahnya.
"Saya tadi mutar-mutar nyari rumah kamu. Untung tadi ketemu sama adikmu." Arka berusaha bersikap formal.
"Hah... Iya, Pak."
"Ada dokumen penting yang harus diselesaikan malam ini, karena besok pagi akan dibawa pada rapat bulanan. Kamu simpan filenya, kan?"
Nara mengangguk pelan.
"Maaf ya. Saya mengganggu hari liburmu." Arka menunjukkan wajah bersalah.
"Ti-tidak, Pak. Sebentar saya ambil flashdisknya." Nara kembali berjalan ke kamar.
'Ada dokumen penting yang harus diselesaikan. Alasan macam apa itu?!' Nara mencibir perkataan atasannya itu.
\=\=\=\=\=\=
Tadi Nara berpamitan keluar sebentar untuk menyelesaikan urusan pekerjaan. Orang tuanya mengizinkan, meski mewanti-wanti agar Nara tidak pulang terlalu malam.
"Pak, apa yang anda lakukan?" Tanya Nara tak senang menatap Arka.
"Kita bicara di tempat lain. Masa di pinggir jalan seperti ini-"
"Di sini saja!!!" Sela Nara cepat. Bagaimanapun ka tak ingin ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Maaf." Ucap Arka pelan. Ia juga menyesal. Padahal ia tadi berniat menunggu di dekat rumah Nara, lalu menelepon Nara. Tapi, malah jadi begini.
Nara menatap Arka tajam. "Pak-"
"Kamu tidak membalas pesan saya. Kamu menggantung perasaan saya, Nara..." Ungkap Arka segera. Ia galau Nara bersikap seperti itu.
"Saya sudah katakan. Saya tidak bisa membalas perasaan anda." Ulang Nara kembali.
Arka memijat keningnya. Lagi... Nara menolaknya.
"Hanya seminggu. Kasih saya kesempatan."
"Stop, Pak." Nara menaikkan tangannya. Ia benar-benar harus tegas pada pria satu ini.
"Saya tidak bisa, Pak. Percuma mau diberi kesempatan bagaimanapun. Saya tidak bisa membalas perasaan-"
__ADS_1
"Kenapa?" Sela Arka.
"Karena saya tidak bisa."
"Karena apa? Semua ada alasannya. Saya harus tahu kenapa kamu menolak saya?" Tegas Arka.
Nara diam. Matanya mulai berkaca-kaca. Wanita itu pun mengalihkan pandangannya ke sisi kiri.
'Apa dia menangis?!'
"Hei..." Arka mengarahkan wajah Nara ke arahnya. Ia melihat air mata Nara sudah berjatuhan.
"Apa aku terlalu memaksamu?" Tanya Arka menatapnya. Pria itu membawa tubuh Nara dalam pelukan seraya menepuk-nepuk pundaknya.
Nara diam dalam pelukan Arka. Ia dapat merasakan debaran kencang pria itu.
"Kita pulang." Arka melonggarkan pelukannya.
Nara menganggukkan kepala. Arka memasang sabuk pengamannya. Lalu tak lama mobil pun bergerak.
Sepanjang perjalanan, Arka tetap tersenyum. Membuat Nara yang memperhatikannya merasa tidak enak.
Pria itu tetap tersenyum padanya, meski dia berkali-kali sudah menolak Arka secara kejam.
"Maaf ya. Sudah membuat kamu tidak nyaman." Arka mengelus kepala Nara. Ia sadar terlalu memaksa Nara. Mungkin menyerah jalan terbaik.
Nara terdiam dengan perlakuan Arka. Ia jadi bingung dengan dirinya sendiri.
'Aku juga ingin bahagia!!!'
Bayangan Adam bersama keluarga kecilnya terlintas di pikirannya.
Nara sadar, selama ini ia tenggelam dalam kesedihan karena perceraian. Sementara sang mantan suami telah bahagia dengan keluarga kecilnya. Ia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana bahagianya Adam tanpa dirinya.
Padahal jika diingat kembali. Adam pernah mengatakan, bahwa dirinya takkan bisa hidup tanpa Nara. Ucapan yang semanis gula itu ternyata hanya bualan.
"Nara... sudah sampai." Ucap Arka setelah menepikan mobil, di tempat Nara pernah meminta turun.
"Atau saya antar saja sampai rumah? Tadi orang tua kamu tahunya kamu pergi sama saya. Jika kamu pulang sendiri, saya tidak enak dengan orang tua kamu. Nanti saya dianggap atasan yang tidak bertanggung jawab." Ucap Arka sambil tertawa sumbang. Ia memilih bertanya langsung pada Nara. Dari pada Nara jadi tidak nyaman dengannya.
Nara melepas sabuk pengamannya. Ia akan membuka pintu mobil, tapi diurungkannya.
"Pak." Ucap Nara pelan.
"Iya." Jawab Arka menatap wanita cantik itu. Wajah Nara terlihat sangat serius. Sudah pasti wanita itu akan memintanya untuk menjauh.
"Ada apa?" Tanya Arka dengan sorot mata lembut. Jika Nara ingin seperti itu, ia akan mundur. Arka akan mengikhlaskan Nara. Bagaimanapun perasaan tidak bisa dipaksakan.
"Pak... Apa anda bisa..." Nara menatap wajah Arka.
Pria itu sabar menunggu, menunggu apa yang mau Nara katakan.
"Bisakah... bisakah anda memelukku?"
.
__ADS_1
.
.