KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 83 - Doktrin Adam


__ADS_3

Arka memandangi wajah Nara yang sudah terlelap di sampingnya. Wajah polos yang tetap cantik dan menggemaskan saat tidur.


'Kita akan tunggu sampai setahun. Lalu berkonsultasi dengan dokter.' Batin Arka. Pria itu bisa saja langsung membawa Nara untuk konsultasi dengan dokter, tapi ia masih menjaga perasaan istrinya.


Arka mengingat perkataan Gio padanya saat itu.


"Semoga abang ipar dan kakakku akan selalu bahagia selamanya. Dan kalian cepat diberikan momongan. Amin..." Ucap Gio mendoakan yang terbaik. Sebagai adik, ia ingin kakaknya bahagia dalam menjalani hidup ini.


Arka melihat Gio dengan wajah bingung. Momongan bagaimana maksudnya?


"Momongan? Tapi Nara...?" Tanya Arka memastikan. Apa sesuai yang dipikirkannya?


"Pasti kak Nara bilang dia mandul kan. Ini semua gara-gara si Adam si-alan itu." Gio meremas tangannya geram.


"Ku beritahu yang sebenarnya ya, Bang. Kak Nara itu sama sekali tidak mandul. Kak Nara dan mantan suaminya itu sama-sama sehat. Dokter juga sudah memeriksa mereka. Tak ada satu pun dari mereka yang bermasalah. Hanya... Memang belum waktunya dikarunia anak saja." Jelas Gio panjang dan lebar.


"Si Adam itu berselingkuh di belakang kakak. Dan selingkuhannya itu ternyata bisa mengandung anaknya. Dari situ si Adam mikir, jika kak Nara mungkin mandul. Karena bertahun-tahun menikah, kak Nara tidak hamil juga. Sementara selingkuhannya, bisa mengandung anaknya. Adam itu buat-buat cakap. Dia mengatakan begitu, hingga membuat kak Nara jadi down. Lalu menganggap dirinya memang mandul." Gio bercerita sambil menahan gemuruh hatinya. Mengingat bagaimana Adam terus mendoktrin agar Nara sadar dengan kekurangan. Membuat Nara sempat berkurung diri selama beberapa bulan. Nara beberapa waktu yang lalu sempat tidak mempunyai gairah dalam hidupnya.


Arka diam mencerna penjelasan Gio. Selama ini ia mengira memang Nara mandul. Nara mengatakan begitu dan Adam juga bercerita, jika mantan istrinya mandul. Tapi, ternyata itu hanya asumsi Adam saja. Pada kenyataannya, Nara bukan mandul. Melainkan belum dikarunia anak saja.


Arka pun mengelus kepala Nara sambil memberikan kecupan singkat di kening Nara. Arka cukup geram, perlakuan Adam pasti begitu menyakiti hati Nara. Hingga wanita secantik itu, bisa begitu minder dengan dirinya sendiri.


"Mas, kok belum tidur?" Tanya Nara pelan. Perlahan membuka matanya. Ia melihat suaminya yang masih menatap dirinya.


"Belum ngantuk. Kamu kenapa bangun? Tidur lagi." Tangan Arka mengelus kepala Nara.


Nara menggeleng. Ia mendudukkan diri di sandaran tempat tidur. Arka mengikuti Nara.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu?" Nara masih penasaran. Arka menunda mengadopsi anak hingga setahun. Apa sebenarnya yang ditunggu pria ini?


"Boleh. Kamu mau tanya apa?" Arka melingkarkan tangan di pinggang Nara.


"Apa Mas Arka mengharapkan aku bisa mengandung anakmu?" Tanya Nara tanpa basa basi. "Aku sudah katakan. Aku itu mandul, Mas. Jadi... Tolong jangan berharap seperti itu lagi." Nara menahan air matanya.


Arka mencoba mengatur emosinya. Perkataan Adam jelas membuat mental Nara menjadi lemah.


"Sayang, jangan berkata begitu. Besok kita ke dokter. Kamu mau?" Tanya Arka hati-hati.


Nara menggeleng cepat.


"Sayang, kita bisa berkonsultasi dengan dokter-"


"Aku ini mandul, Mas. Aku mandul, Mas. Mau berkonsultasi apa lagi?!" Sela Nara menaikkan intonasi suaranya. Ia melihat Arka dengan air mata yang sudah membasahi pipi.

__ADS_1


Arka menghapus air matanya. Ada rasa menyesal mengatakan hal tersebut. Padahal ia hanya ingin Nara tidak terus menganggap dirinya mandul.


"Apa Mas Arka sudah menyesal menikah denganku?" Nara memegangi dadanya, merasakan nyeri yang mendadak muncul. Ia memang wanita yang begitu tidak beruntung, yang tidak berguna.


"Nara, jangan berkata begitu." Arka merasa sedih melihat wajah mewek itu. "Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu. Aku sangat beruntung memilikimu."


"Beruntung apaan?!" Cibir Nara. Ia merasa ucapan Arka hanya untuk menghiburnya.


"Sayang..." Arka kembali mengelus kepala Nara, memandangi wajah sendu itu.


"Sudahlah, jangan kita bahas lagi." Arka pun memilih memeluk Nara saja. Istrinya ini terlalu sensitif. Ia tidak berpikir seperti itu, Nara malah menganggapnya menyesal dengan pernikahan mereka.


Arka ingin membawa Nara berkonsultasi ke dokter, agar pikiran Nara tentang kekurangan dirinya sendiri bisa berubah. Agar kepala Nara tidak dipenuhi doktrin-doktrin dari Adam, yang menyesatkan itu.


"Ayo, kita tidur." Ajak Arka lembut.


"Aku lapar, Mas."


\=\=\=\=\=\=


"Mas Arka, duduk sana. Nanti bisa kena wajan loh." Nara cukup kesal. Ia sedang memasak, suaminya itu malah anteng memeluknya dari belakang.


"Aku kan mau bantui kamu." Ucap Arka santai. Ia menopang kepalanya di bahu Nara.


"Bantui apaan?!" Dumel Nara geram. Sambil menyalin nasi goreng ke piring.


"Mommy sudah tidur. Lihat sudah jam 2. Tah sudah sampai mana mimpi Mommy." Arka tak ingin menganggu istirahat Mommynya.


Nara menggangguk. Ia meletakkan piring di atas meja. Arka pun mengikuti dengan posisi masih memeluknya.


"Mas, duduk. Nasi gorengnya sudah siap. Ayo, kita makan."


Arka mengangguk dan duduk di kursi meja makan. Nara pun menyajikan nasi goreng buatannya. Lalu menyodorkan segelas air putih hangat.


"Terima kasih cintaku." Arka senang dengan perlakuan Nara. Perlakuan itu membuatnya teristimewa.


"Cepat dimakan." Pinta Nara malu.


"Sayang, sepertinya besar sebelah." Ucap Arka menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


Nara bingung tak mengerti. Apa yang besar sebelah?


"Nanti aku pijat lagi. Biar sama bentuknya." Arka mengulum senyum.

__ADS_1


"Mas Arka, jangan genit deh!!!" Nara menutup kerah bajunya. Ia sadar pandangan pria itu ternyata mengarah pada asetnya.


Arka tertawa puas, ia tidak dapat menahan tawanya. Arka pun kembali melahap nasi goreng buatan Nara. Sambil melirik wajah cemberut di sampingnya yang selalu merona.


Nara begitu menggemaskan. Tiap digoda, wajahnya selalu seperti kepiting rebus.


"Aku mencintaimu, Nara." Satu kecupan Arka daratkan di pipi Nara.


Nara mengalihkan wajah melihat Arka. "Yang kiri nggak?!"


Arka pun menkecup pipi kanan Nara. "Biar adil kan."


"Mas Arka makan kayak bocah." Nara membersihkan mulut Arka dengan tisu. Ia juga mengutipi nasi yang berjatuhan di meja.


Arka malah menyengir dan sengaja makin mengotori mulutnya.


"Mas Arka, jangan iseng!!!" Nara pun mencubit gemas perut suaminya.


Setelah makan tengah malam, mereka kembali ke kamar. Nara menekan-nekan ponselnya sambil bersandar. Ia belum bisa tidur.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Arka setelah keluar dari kamar mandi.


"Nggak bisa tidur, Mas."


"Mau gendong?"


Nara tersenyum manis. Dengan cepat melempar ponsel ke bantal. Ia pun berlari kecil kepelukan suaminya, yang langsung menangkapnya.


"Tidur nyenyak sayangku." Arka menggendong Nara ala koala.


"Mas, nina bobonya mana?" Nara memeluk erat leher pria itu.


"Nara bobo oh Nara bobo..." Arka pun bersenangdung pelan.


Nara tersenyum-senyum dalam gendongan suaminya.


"Mas..." Panggil Nara pelan.


"Iya."


"Aku mencintaimu..."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2