
Arka tiba di rumah setelah mengantar sang pujaan hati. Pria itu berjalan menuju kamarnya sambil bersiul-siul.
Mommy merasa aneh, melihat putanya yang akhir-akhir ini selalu mengumbar senyum. Sepertinya ada hal bahagia yang telah terjadi.
'Apa Arka sudah balikan dengan Nara?!' Mommy sangat berharap hal seperti itu terjadi.
Tak berapa lama, Arka keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggang. Ia ingin menelepon Nara. Tapi... Hari masih senja.
Arka sudah berjanji akan menelepon saat malam. Sebagai pria ia harus menepati janjinya.
Arka membuka lemari dan memakai pakaian. Tak lama ia keluar kamar.
"Mau apa?" Tanya Mommy yang bingung melihat Arka sudah berada di meja makan.
"Makan, Mom."
Pekerja rumah menyajikan makanan untuk pria itu.
"Kok tumben makan jam segini?" Mommy merasa aneh.
Masih pukul 6 dan Arka sudah makan malam saja.
"Namanya lapar, Mom. Mommy sudah makan?" Tanya Arka balik.
"Nanti saja." Mommy akan makan malam di jam seperti biasanya.
Arka mengangguk. Ia pun makan dengan lahap.
Pria itu sengaja makan malam lebih cepat, agar ia bisa lebih lama menelepon Nara. Tanpa dipanggil-panggil lagi untuk makan.
"Akhir-akhir ini, Mommy lihat wajah kamu bahagia terus."
"Mommy mau wajahku cemberut?" Arka mengekspresikan wajah cemberut.
"Kamu sudah balikan sama Nara, ya?" Tebak Mommy yakin.
Arka langsung tersedak. Mommy kalau bertanya memang nggak pernah pakai basa basi. Langsung bertanya saja.
"Minum ini, minum ini, minum." Mommy menyodorkan air minum.
Arka menerima dan meminumnya.
"Benarkan?" Mommy memastikan kembali dengan wajah yang makin bahagia.
"Doakan saja, Mom." Jawab Arka. Bagaimana pun, mereka masih dalam tahap pdkt. Ada kemungkinan besar cintanya ditolak wanita itu lagi.
"Pasti... Mommy doakan bukan kamu dan Nara balikkan saja. Mommy juga doakan kalian bersatu dalam ikatan pernikahan. Lalu hidup bahagia bersama anak-anak kalian kelak."
"Amin!!!" Ucap Arka cepat. Arka segera mengaminkan. Semoga doa tulus dari Mommynya dikabulkan.
"Amin..." Mommy juga mengaminkan. Ia menggeleng melihat Arka yang segera merespon doanya, biasa putranya itu selalu mengatakan sudah lah sudahlah Mom.
"Nanti kalau sudah bersama kembali. Bawa Nara ke rumah ya." Pinta Mommy.
Arka mengangguk. Sudah pasti ia akan membawa Nara ke rumahnya.
__ADS_1
"Mom... Aku mau ke kamar dulu." Pamit Arka setelah menyelesaikan makan malamnya yang masih sore itu.
Pria itu berlari kecil menuju kamar. Ia akan segera menelepon Nara.
Arka sudah berada di kamar. Kini telah pukul 7 malam. Ia pun meraih ponsel dan...
Ponselnya ternyata mati.
'Astaga... Kenapa habis baterai di saat seperti ini?!'
Arka mencari charger dan mengisi daya ponselnya.
'Setengah jam lagi saja aku hubungi!'
Setelah setengah jam, pasti baterainya sudah terisi beberapa persen. Jika ia menelepon sambil mencarger sangat berbahaya.
Arka membaringkan tubuhnya, menunggu waktu setengah jam berlalu.
Saat ia membuka mata...
Arka segera bangkit dan melihat sekitar. Hari ternyata sudah pagi.
'Kenapa aku ketiduran?!!!'
\=\=\=\=\=\=
"Selamat pagi, Pak." Sapa Nara sambil menundukkan kepala. Ia tak mau melihat Arka. Pria itu sudah membohonginya. Membuatnya menunggu hingga hampir tengah malam.
Melihat ekspresi Nara yang seperti itu, Arka jadi merasa bersalah. Tadi malam ia memang berniat menelepon Nara. Tapi... Ia malah ketiduran.
"Nara, maafkan saya." Ucap Arka meminta maaf. Pria itu masih berdiri di depan meja sekretarisnya.
"Nara, tadi malam saya mau menelepon kamu. Tapi, ponsel saya habis baterai. Jadi akan saya carger sebentar, karena tak mungkin menelepon sambil mencarger. Saat menunggu ponsel terisi, saya ke-ti-du-ran." Arka menjelaskan dan mengeja alasannya tersebut.
Nara diam saja. Pria itu pasti beralasan. Mungkin saja ia menghubungi wanita lain atau mungkin ia sedang pergi dengan simpanan-simpanannya.
"Nara, saya berkata jujur. Ponsel saya memang mati habis baterai."
Arka menghembus nafas panjang. Nara masih diam dan tak mau melihatnya.
"Hei..." Arka merangkup wajah Nara dengan kedua tangannya. Mengarahkan wajah cantik itu untuk melihat ke arahnya.
Keduanya saling menatap sesaat. Berkata dalam tatapan.
"Nara... Percaya sama saya." Arka berucap dengan pandangan dan nada yang begitu lembut.
Tanpa sadar Nara menganggukkan kepala. Ia terpaku dalam pesona seorang Arka.
"Kamu sangat cantik." Puji Arka. Perlahan pria itu mulai mendekatkan wajahnya. Perlahan mendekat dan semakin dekat. Hingga hembusan nafas sang wanita, menerpa wajahnya.
Hati Nara berdebar tak menentu. Saat wajah tampan itu semakin lama semakin mengikis jarak di antara mereka.
Wajah atasannya itu terlalu dekat dengannya. Matanya yang tajam, hidungnya yang mancung dan bibirnya terpampang jelas. Begitu seksi.
Ting..
__ADS_1
Nara segera mendorong pria itu menjauh darinya. Ketika mendengar suara pesan masuk dari ponselnya.
"Sa-saya akan bekerja." Nara segera duduk dan fokus pada layar komputer. Tiba-tiba saja ia mendadak gugup.
Arka mengulum senyum, melihat wajah memerah bak kepiting rebus itu. Yang begitu menggemaskan.
"Selamat bekerja." Arka perlahan mengelus kepala Nara. Lalu ia pun masuk ruangannya.
'Astaga!!! Apa yang terjadi?' Nara meletakkan kepala di atas meja, setelah atasannya masuk ke ruangannya.
Mereka hampir saja berciuman. Nara meruntuki diri yang terbuai oleh pesona pria tampan itu.
'Sadarlah Nara... Sadarlah Nara!!!' Nara menggelengkan kepalanya.
Saat jam istirahat kantor. Nara dengan cepat membereskan mejanya. Ia menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.
"Nara... Ayo, kita-"
"Astaga... Nara!" Arka menggeleng melihat wanita itu sudah berlari kencang menuju lift. Sepertinya Nara malu dan menjauhinya lagi.
'Ini tidak boleh dibiarkan!!!' Arka mengejarnya. Tapi ia kalah cepat, begitu sampai depan lift. Pintu lift sudah tertutup.
'Nara!!!' Arka jadi geram.
Di kantin kantor.
"Selamat siang Pak Sam. Boleh saya duduk di sini?" Tanya Nara membawa makanannya. Semua meja sudah terisi, hanya meja yang Sam tempati yang masih kosong.
"Heh, Nara. Silahkan. Saya sendirian saja, kok." Sam dengan senang mempersilahkan. Pria itu melihat sekitar, di mana kekasihnya Nara. Dimana pak Arka?
"Kamu makan sendiri?" Tanya Sam.
"Saya makan dengan anda." Jawab Nara sambil melahap makanannya.
Sam sepertinya salah tanya. "Di mana pak Arka?"
Nara menggeleng. "Sepertinya pak Arka sedang makan siang." Jawab Nara tampak biasa.
"Apa pak Arka tidak makan di sini?"
"Kapan pak Arka makan di kantin?" Tanya Nara dengan wajah bertanya. Selama bekerja di kantor itu, ia tidak pernah melihat pria itu berada di kantin.
Sam tertawa sumbang. "Pak Arka tak pernah makan di kantin." Selama Sam bekerja dengan pria itu. Sekali pun Arka tidak pernah menginjakkan kaki di kantin.
"Nara..." Sam terbelalak melihat seseorang di belakang Nara.
"Kenapa, Pak?" Tanya Nara bingung.
"Selamat siang, Pak." Sam langsung bangkit dan memberi hormat.
Nara pun menoleh dan terkejut. Ia pun segera bangkit.
"Boleh saya duduk di sini?"
.
__ADS_1
.
.