KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 16 - Awal Baru


__ADS_3

'Mommy!!!'


Arka berhenti di pinggir jalan. Ia menatap ponselnya sejenak. Mommynya dari tadi terus menelepon.


"Halo, Mom." Ucap Arka begitu ponsel menempel di telinganya.


"Arka... Di mana kamu?" Tanya wanita paruh baya di seberang sana.


"Aku sudah pulang-"


"Terus Mommymu ini pulang sama siapa?" Sela wanita paruh baya itu cepat.


"Aku akan menelepon supir. Sudah ya, Mom. Aku lagi menyetir." Arka segera mengakhiri panggilannya.


Pria itu menghela nafas panjang. Ia berhasil kabur dari Mommy yang selalu berniat menjodohkannya.


Semenjak resmi bercerai dari wanita yang membuatnya mendadak menjadi duda. Arka tak mau lagi menjalin hubungan atau perjodohan dengan wanita manapun.


Selama ini, Pria itu hanya fokus pada pekerjaannya. Ia menjadi pria gila bekerja.


Arka sangat malas menjalin hubungan dengan wanita-wanita yang tak jelas. Yang berakhir hanya memberikan harapan palsu padanya.


Dan Mommynya juga selalu ingin menjodohkannya dengan anak perempuan teman arisannya.


Arka menghindari semua itu. Baginya sekarang semua wanita sama saja. Pria itu berniat akan menduda selamanya.


'Ngapain dia?' Batin Arka melihat seorang wanita berdiri di jendela mobilnya.


Arka menggeleng. Satu hal yang tak bisa dilewatkan oleh wanita. Yakni berkaca. Kapanpun dan di manapun.


Dan wanita ini, dengan santai merapikan rambutnya.


Apa wanita itu tidak tahu kalau ada orang di dalam mobil yang sedang melihatnya?


'Astaga!!!'


Mata Arka terbelalak melihat sesuatu yang menempel di jendela mobil. Sesuatu yang keluar dari mulut wanita itu.


Dan wanita itu dengan cepat mengelapnya.


Arka mendengus kesal. Ia pun menurunkan jendela mobil.


Bugh


Tapi saat kaca mobil terbuka, wajah tampannya dipukul wanita itu.


"Ma-maaf." Ucap wanita itu menundukkan kepala. Lalu berniat kabur.


Arka pun segera turun. Ia tak terima dipukul seorang wanita. "Hei... Kamu berhenti!!!"


Nara berpura-pura tak mendengar. Ia sangat takut.


"Aku bilang berhenti. Aku bisa melaporkanmu ke polisi atas tindak kekerasan. Kamu telah memukulku." Ancam Arka.


Kaki Nara terhenti. Wanita itu membalikkan badan.


"Maaf, tolong maafkan aku. Aku tidak sengaja." Nara menundukkan kepala.

__ADS_1


"Kamu lihat ini." Arka menunjuk kaca mobilnya yang masih ada sisa-sisa saliva yang menempel.


Nara berjalan ke mobil dan mengelapnya sampai kering dan tak ada sisa lagi.


"Su-su-dah bersih." Ucap Nara dengan senyum yang dipaksakan.


Mata Arka masih melihat wanita itu dengan tak senang.


"Ini sudah kering dan bersih. Sekali lagi aku mohon maaf. Maaf juga karena tak sengaja memukulmu. Itu repleks... Karena kamu mengagetkanku." Ucap Nara jujur. Ia kaget dan repleks memukul orang.


"Kamu telah mengotori mobilku." Ucap Arka melihat mobilnya dengan jijik, pasti banyak menempel kuman.


Nara membuka tasnya dan mengambil sesuatu.


"Sekali lagi, Maaf." Nara memberikan sesuatu dengan menggumpal ke tangan Arka.


"Ini untuk beli sabun." Setelah memberikan itu, Nara segera kabur.


"Hei..." Arka makin kesal saat melihat apa yang diletakkan wanita itu di tangannya.


"Sepuluh ribu?"


Wanita itu memberinya uang sepuluh ribu untuk membeli sabun. Apa wanita itu menyuruhnya mencuci mobil sendiri?


\=\=\=\=\=\=


"Bang, tunggu sebentar ya." Ucap Nara pada tukang ojek. Ia segera berlari masuk ke dalam rumah.


"Bunda... Bunda..." Panggil Nara mencari Bundanya.


"Bun, ada uang 30.000? Uangnya habis, Nara mau bayar ojek. Tukang ojeknya lagi menunggu di depan." Ucap Nara memberitahu Bundanya.


Uang yang diberikan Ayah dan Gio, sudah habis untuk membeli kebutuhannya. Hanya meninggalkan 10.000. Itu pun sudah diberikannya pada pria pemilik mobil.


"Ini. Cepat kamu bayar. Kasihan tukang ojeknya nunggui." Bunda memberikan uang yang Nara minta.


"Terima kasih, Bun." Nara mengambil dan keluar rumah untuk membayar ongkosnya.


"Kamu salon di mana? Potongan rambutnya cocok sama kamu." Ucap Bunda setelah Nara masuk kembali ke dalam rumah.


"Yang tempat biasa dulu Nara sering salon. Sekarang salonnya makin besar dan lengkap lho, Bun,." Nara begitu antusias membahas soal salon itu.


Bunda senang melihat perubahan Nara. Yang mulai banyak bicara. Tidak seperti selama ini. Kebanyakan mengangguk dan sangat irit bersuara.


"Bun, nanti uangnya Nara ganti ya." Nara merasa tak enak. Untuk membayar ongkos ojek, pasti uang belanja Bunda untuk keperluan rumah.


"Nggak usah, Nak. Kalau nanti ada yang mau kamu beli, bilang saja sama Bunda." Bunda tak mempermasalahkannya.


Nara menggeleng. Mana mungkin ia terus meminta dari orang tuanya dan adiknya.


"Bun, Nara mau cari kerja." Nara ingin memiliki penghasilan.


"Hmm... Bagus juga." Bunda setuju dengan rencana Nara untuk bekerja. Dari pada putrinya terus mengurung diri di rumah. Nara akan terus-terusan mengingat perceraian itu. Sepanjang hari galau tak menentu dengan mantan suaminya.


"Nara ke kamar ya, Bun. Mau mandi." Pamit Nara.


Bunda menganggukkan kepala. Sedikit bernafas lega. Sang putri sudah banyak tersenyum sekarang.

__ADS_1


'Semoga Nara bertemu dengan pria yang bisa menerima dirinya.' Bunda berharap yang terbaik untuk sang putri.


Nara telah selesai mandi dan melumuri wajahnya dengan krim kecantikan.


Saatnya Nara beraksi.


Wanita itu terlihat sibuk mengotak-atik ponselnya.


"Usia max 27. Kenapa pakai usia sih?"


Nara menggerutu melihat loker dari ponselnya. Banyak lowongan pekerjaan, tapi semua punya batasan usia.


Kebanyakan usia max 27 tahun. Apa diatas umur tersebut sudah tidak bisa bekerja seperti itu lagi ya?


Usia Nara sudah memasuki 30 tahun. Tak ada lowongan yang menerima seusianya.


'Daftar sajalah. Mau diterima atau ditolak. Terserah saja.'


Nara memasukkan lamarannya ke beberapa perusahaan. Ia tak peduli syarat yang sudah tertera di sana.


\=\=\=\=\=\=


Adam termenung di kamar. Perkataan Uli beberapa hari yang lalu, masih terngiang-ngiang di telinganya.


Tentang kemungkinan Nara yang sudah menikah lagi?


Sudah lama Adam tidak mendengar kabar Nara lagi


Dia melupakan mantan istrinya itu. Semenjak kehadiran putranya, yang perlahan menggeser posisi Nara di hati dan pikirannya.


Tapi, kini saat mendengar nama Nara. Hati Adam merasa sedikit aneh.


Pria itu memilih membuka sosial media Nara. Tapi tak ada yang berkurang atau bertambah di sana.


Hanya ada foto pernikahan mereka sebagai foto profilnya.


Nara dari dulu memang jarang mengupload foto di sosial media.


Adam bergelut dengan pikirannya. Tiba-tiba ia jadi penasaran dengan mantan istrinya.


Apa kabarnya wanita yang lebih memilih berpisah dari pada merawat anaknya itu?


Apa Nara bahagia berpisah darinya?


Apa wanita itu sedikitpun tidak menyesal dengan keputusannya?


'Nara-Nara... Kalau saja saat itu kamu tidak egois dan menuruti keinginanku. Kita pasti akan hidup bahagia bertiga merawat anak ini.'


Adam menghembus nafasnya kasar. Mengingat penolakan Nara, membuatnya kembali kesal.


'Aku jadi sangat penasaran. Siapa pria yang mau menerima wanita mandul sepertimu?!'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2