KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 37 - Arka Penasaran


__ADS_3

"Nara, kenapa hubungan kalian berakhir?" Tanya Mommy serius menatap Nara dan Arka bergantian.


Saat ini mereka sedang berada di ruangan Arka. Mommy menyidang keduanya.


Nara melihat ke arah Arka dengan wajah penuh pertanyaan. Apa atasannya sudah mengatakan hubungan berpura-pura mereka telah berakhir?


"Mom, jangan begini." Arka juga bingung. Kenapa rencananya jadi serumit ini?!


"Nara... Arka sangat mencintaimu. Dia bahkan merencanakan memberikan kejutan saat melamarmu. Berakhirnya hubungan kalian, membuat dia galau dan uring-uringan nggak jelas." Jelas Mommy pada apa yang dilihatnya.


'Astaga!!!' Arka menepuk jidatnya. Mommynya benar-benar sudah salah paham.


Sementara Nara masih dengan wajah bingungnya. Ia tak tahu mau menjawab apa.


"Mom... Jangan begini." Arka menahan agar ibunya itu tidak berucap lagi.


"Nara... Kamu lanjut kerja saja. Biar saya yang urus." Arka meminta Nara untuk segera keluar. Ia sudah berjanji pada wanita itu, untuk tidak melibatkannya lagi.


"Arka..." Mommy tak rela Nara keluar.


"Mom, tenanglah."


Nara pun menuruti Arka dan pamit pada ibu atasannya itu. Lalu bergegas keluar.


"Arka, kamu harus memperjuangkan cintamu. Kamu nggak boleh menyerah, Nak. Yakinkan Nara, jika kamu orang yang tepat. Kamu tidak peduli pada status jandanya itu." Jelas Mommy tegas.


Arka tercengang. Dari mana Mommynya tahu jika Nara adalah janda? Pasti dapat kabar dari Sam.


"Mom, sudahlah. Biarkan berjalan dengan semestinya." Arka membujuk ibu kandungnya.


"Mommy setuju lho, Arka. Walaupun Nara seorang janda."


"Mom!" Arka memohon sambil menggeleng. Agar Mommy tak membahas itu lagi.


"Mommy berharap kamu dan Nara menikah. Semoga kalian berjodoh. Amin!" Wanita paruh baya itu sangat berharap. Walaupun hubungan Arka dan Nara telah berakhir. Mungkin suatu saat mereka akan bersama lagi.


"Mommy sudah makan?" Tanya Arka mengalihkan topik.


Mommy menggeleng.


"Ayo, kita makan. Dekat sini ada rumah makan yang enak. Rendang jengkolnya mantap." Arka menggandeng Mommynya.


"Baiklah."


Arka keluar ruangan bersama Mommynya. Saat melewati Nara, Mommy berhenti.


"Nara... Ayo, kita makan siang bersama!" Ajak Mommy dengan senyum mengambang. Tak memperdulikan Arka yang menggeleng tak setuju.


"Sa-saya-"


"Ayo, Nak." Mommy melepas gandengan Arka dan menggandeng Nara secara paksa.


Arka hanya bisa menghembuskan nafas berjalan mengiringi kedua wanita itu dari belakang.


\=\=\=\=\=\=\=


"Arka... Dimakan ini, inikan makanan favorit kamu." Mommy menyodorkan piring berisi rendang jengkol.


Pria itu melirik Nara yang menahan tawanya. Ia tadi tak mau memesan makanan itu, tapi Mommynya tetap memesannya.

__ADS_1


"Kamu maklum saja Nara. Arka itu malu-malu. Apa itu namanya jaim-jaim gitu." Mommy mencibir putranya yang tak mau menyentuh makanan favoritnya.


Entahlah... rasanya Arka ingin menghilang saja saat ini.


"Nara, kamu makan yang banyak." Mommy menyodorkan piring berisi udang pada Nara.


"Terima kasih, Bu." Jawab Nara merasa segan.


Nara juga melihat Arka yang duduk di depannya, selalu menghembuskan nafas.


"Nara..."


"Mom! Coba ini!" Arka menyodorkan piring berisi makanan yang lain. Ia tahu Mommynya ini pasti mau membahas hubungan mereka lagi.


Arka mengisyaratkan dengan menggeleng, tak mau ada pembahasan itu lagi.


Tapi, malah...


Pria itu mengusap wajahnya. Mommy ini benar-benarlah.


"... Jadi gitu. Arka hampir SMP baru berhenti ngompol." Mommy membuka aib masa lalunya yang kelam.


Nara tersenyum tipis, menahan diri untuk tidak tertawa. Pria seperti Arka, ternyata punya masa lalu yang seperti itu.


"Jadi, biar berhenti... Mommy kasih capung-"


"Oh yang diletak di pusat ya, Bu." Nara tak sadar menimpali.


Melihat tatapan Arka yang dingin, Nara menundukkan kepala. Seolah mengatakan tolong maafkan aku.


"Iya-iya, Nak. Mommy letak itu... Lalu Arka tak pernah ngompol lagi." Masih senang membahas putranya.


\=\=\=\=\=\=


Arka dan Nara memasuki lift. Keduanya saling diam bergelut dengan pikiran masing-masing.


"Nara... Maafkan ibu saya." Arka membuka pembicaraan.


"Hah i-iya, Pak. Saya mengerti." Jawab Nara gugup. Lift ini seperti tak bergerak.


"Saya akan menjelaskan pelan-pelan dengan ibu saya tentang hubungan kita. Saya harap tidak menyusahkan kamu, jika tiba-tiba ibu saya datang lagi." Arka tahu sikap Mommynya. Hari ini bilang iya, besok pasti bertanya kenapa dan mengapa?


"Baik, Pak." Nara memaklumi.


"I-itu..." Arka ingin bertanya, tapi bibirnya tak bisa berucap.


"Ada apa, Pak?" Tanya Nara melihat Arka yang mulai tampak bingung.


"I-itu semalam. Kamu dijemput siapa?"


Dari pada mati penasaran, lebih baik tanyakan langsung pada orangnya. Biar jelas dan tidak ada salah paham.


"Semalam?" Nara mulai mengingat. Semalam ia pulang dengan siapa? biasanya dengan abang ojek. Tapi semalam...


"Oh itu, adik saya yang jemput pak." Jawab Nara kembali.


'Adik?' Batin Arka memastikan.


Arka jadi mengulum senyum. Ternyata adiknya, pantas lebih muda dari Nara. Pria itu menggeleng pelan, kenapa ia tak berpikiran seperti itu. Menganggap Nara dekat dengan berondong.

__ADS_1


"Oh." Hanya itu jawaban Arka.


Pria itu kembali mulai penasaran. "A-apa kamu sudah punya kekasih?"


"Hah?" Nara terbengong dengan pertanyaan Arka yang tiba-tiba.


"Mungkin kamu sudah punya kekasih, suami atau tunangan gitu?!" Sudah terlanjur bertanya. Arka ingin tahu semuanya. Termasuk hal pribadi seperti itu.


Nara melihat Arka dengan wajah bingung. Atasannya membahas hal pribadi.


"Saya hanya ingin tahu. Sebab sebelumnya, saya tidak berpikir sejauh itu. Ketika meminta bantuan kamu, untuk berpura-pura di depan ibu saya." Arka mengutarakan alasan yang masuk akal.


"Sa-saya merasa tidak enak jika kamu dan pasanganmu bertengkar nantinya." Arka menatap wajah cantik itu sejenak.


"Sa-saya tidak sedang menjalin hubungan apapun, Pak." Jawab Nara jujur.


'Bagus!!!' Arka bersorak dalam hati.


Artinya Nara sedang jomblo dong.


"Kenapa?" Arka meruntuki dirinya yang kembali bertanya. Pertanyaan itu bersifat pribadi, membuat Nara jadi menatapnya aneh.


"Ah maaf. Lupakan saja yang baru saya katakan." Arka segera menampiknya.


Nara menganggukkan kepalanya pelan.


Arka keluar terlebih dahulu dari Nara, setelah sampai di lantai tempat mereka bekerja.


Wanita itu berjalan mengikuti pria itu dari belakang.


"A-ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Nara melihat Arka berhenti di depan mejanya.


Pria itu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arahnya. Hal itu membuat Nara jadi gugup.


"Selamat bekerja." Ucap Arka sambil mengelus kepala Nara sejenak. Ia pun tersenyum dan kembali melangkah menuju ruangannya.


Sementara Nara, masih dengan kebingungannya.


Atasannya itu mengelus kepalanya? Kenapa pria itu bertingkah demikian?


'Apa dia lagi pdkt?' Batin Nara yang merasa sifat Arka sangat aneh.


"Nara..." Panggil Arka kembali sebelum masuk ruangannya.


"I-iya, Pak." Jawab Nara segera.


Arka menatap Nara sejenak. "Boleh saya mengantar kamu pulang?"


Dag


Dig


Dug


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2