
Adam turun dari mobil dan berjalan ke pintu sebelah.
"Mas, pegang dulu Mario." Yola memberikan putranya pada Adam.
"Kamu ngapain pakai sepatu setinggi itu?" Adam meraih Mario dan menggeleng melihat sepatu hak wanita itu. Terlalu tinggi bahkan menurutnya sangat tinggi.
"Namanya juga wanita, Mas. Aku kan mau terlihat cantik." Yola ingin selalu tampil wow.
Adam segera berjalan meninggalkan Yola. Mendengar ocehan wanita itu tak akan selesai-selesai.
"Mas, tunggu." Yola mengejar Adam dengan susah. Karena sudah lama tidak memakai sepatu highheels, Yola sedikit kesulitan berjalan.
"Mas, kapan Mario punya baby sister lagi?" Tanya Yola kemudian.
Adam itu sangat konsisten dengan perkataannya . Pria itu sudah memberhentikan baby sister. Alasan Adam melakukan itu, agar Yola lebih fokus pada putra mereka.
Sementara Yola sangat kesal dengan keputusan Adam. Merawat putranya terus menerus sepanjang waktu membuatnya bosan. Tak ada waktu untuk dirinya sendiri. Masa iya, mau hangout bareng sama teman-temannya bawa anak?
Nggak bisa bebaslah.
Adam hanya memperkerjakan asisten rumah tangga yang pulang hari. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, langsung pulang.
Tak ada yang membantunya mengurus Mario. Dan Yola merasa Adam sedang menyiksa dirinya. Kebebasannya direnggut.
"Tak ada baby sister lagi. Ada kamu, Mamanya." Itu jawaban Adam.
Yola mendengus kesal, ia tidak bisa bernegoisasi dengan suaminya itu.
"Mas Adam..."
Kaki Nara terhenti saat melihat Adam. Detak jantung Nara berdetak tak stabil, dengan hati yang mulai bergemuruh.
Nara melihat Adam yang sangat bahagia. Mantan suaminya itu terlihat menggendong seorang balita. Wajah bahagia Adam jelas sekali terpampang.
Di belakang Adam mengikuti si pirang. Wanita yang telah dipilih Adam.
Nara menghapus air mata yang tiba-tiba berjatuhan. Mantan suaminya sudah hidup bahagia dengan pilihannya. Adam sudah memiliki keluarga kecilnya. Memiliki seorang anak yang sudah Adam diimpi-impikan selama ini.
"Bun, Nara mau ke toilet!" Nara menggandeng sang Bunda. Ia tak mau Adam melihat atau mereka saling berpapasan. Mending menghindari segera. Nara tak kuat jika bertemu dengan sang mantan.
Bunda menuruti Nara. Hatinya juga sedih melihat Nara yang kembali bersedih. Mantan menantunya itu tampak sangat bahagia dengan kehidupan barunya.
Kembali melihat Adam, kembali menggores luka lama yang bahkan belum sembuh. Hati Nara terasa sangat sakit dan perih.
'Nara... Kamu harus kuat. Kamu harus kuat!!!'
\=\=\=\=\=\=\=
"Mas berhenti dulu. Capek tahu!" Yola duduk di bangku-bangku yang ada di sekitar Mall. Ia memegangi kakinya yang pegal.
Adam pun mendudukkan diri. Ia tersenyum pada Mario yang berada di pangkuannya.
"Permisi Mas. Saya mau menawarkan..."
Adam melihat seorang SPG yang tak berada jauh dari mereka, sedang menawarkan sebuah produk pada seorang pria.
__ADS_1
'Nara...'
Pikiran Adam terulang kembali pada saat itu.
Saat itu, saat di mana ia sedang berjalan-jalan di Mall sendirian. Tiba-tiba seorang wanita menyamperinya.
"Permisi, Mas. Maaf mengganggu waktunya sebentar."
Adam terpaku sejenak melihat wanita cantik yang menghampirinya itu. Wanita cantik itu adalah Nara.
"Kita lagi ada promo minuman berenergi. Beli 2 botol gratis 1 botol lho. Harga satu botol hanya lima ribu. Jadi Mas, cukup bayar sepuluh ribu sudah mendapat 3 botol. Minuman ini dapat meningkatkan energi..." Nara menjelaskan panjang lebar manfaat produk yang ditawarkannya.
'Cantik!!!' Puji Adam.
Adam tak tahu apa yang sedang Nara jelaskan. Pandangannya hanya terpaku pada sosok cantik yang tersenyum lebar padanya.
Deg
Deg
Deg
Adam tersenyum. Hatinya berdebar-debar pada wanita ini.
"... Jadi, Mas mau ambil berapa botol?" Tanya Nara setelah penjelasan panjangnya.
"Beli 2 gratis 1 ya?" Tanya Adam memastikan kembali.
"Benar, Mas. Promo gratisannya khusus untuk hari ini saja." Nara meyakinkan konsumennya kembali.
"Kalau beli 4 botol, Masnya bayar dua puluh ribu plus gratis 2 botol lagi. Jadi dapatnya 6 botol." Jelas Nara dengan antusias. Sepertinya pria ini akan membeli banyak. Targetnya bisa cepat tercapai.
Adam mengangguk. "Kalau saya beli selusin berapa?" Kembali Adam bertanya.
Adam mengulum senyum melihat wanita itu mulai berpikir dan menggerakkan tangan sedang menghitung.
'Menggemaskan!'
"Mas hanya membayar 8 botol saya. Sekitar empat puluh ribu!"
"Maksudnya, jika tetap selusin tanpa gratisan... Aku harus bayar berapa?" Adam sengaja mengerjai SPG cantik itu.
"Hmm... enam puluh ribu, Mas. Plus gratis 6 botol lagi. Mas, mau berapa botol?" Tanya Nara segera. Pria itu banyak tanya.
"Hmm..." Adam tampak berpikir sejenak. "Nggak jadi deh, Mbak. Saya tidak minum ini." Tolak Adam dengan senyum menyebalkan.
Wajah Nara yang tadi senyum mengambang mendadak kesal. Ternyata pria banyak tanya itu sedang mengerjainya.
"Maaf, Mas. Sudah mengganggu waktunya." Nara memberikan senyum terpaksa, ia pun melangkah pergi.
Adam tersenyum senang melihat wajah kesal wanita itu. Tapi tak lama ia terdiam.
'Nomornya? Kenapa tidak minta nomor ponselnya?!'
Adam pun segera mengejar Nara yang sudah menawari pengunjung lain.
__ADS_1
Nara menawari produknya, tapi sesekali matanya melirik pria yang bersandar sambil melipat tangan. Pria banyak tanya yang terus melihatinya.
Pria itu tersenyum lebar padanya, membuat Nara mengalihkan pandangannya.
"Terima kasih banyak Pak, Bu." Ucap Nara sopan pada pasangan suami istri yang mau membeli produknya. Tak ada banyak tanya seperti pria menyebalkan itu.
Nara kembali melangkah menawarkan produknya pada pengunjung lain.
Melihat Nara, Adam pun segera menghampirinya.
"Tolong... minggir sedikit!" Ucap Nara masih sopan. Pria itu menghalangi jalannya.
"Aku mau beli."
"Saya nggak jual." Ucap Nara sinis.
"Sini! Kamu begitu saja ngambek!" Adam meraih botol minuman yang dipegang Nara. "Beli 2 botol gratis 1 kan?"
Nara mengangguk tanpa menjawab.
"Berikan nomormu?!" Adam menyodorkan ponselnya pada Nara.
Sementara Nara langsung melangkah pergi. Pria itu setelah mengerjainya, bisanya meminta nomor ponselnya.
Karena tak mendapat nomor wanita itu, Adam menunggu Nara pulang. Saat melihat wanita itu keluar, ia segera menghampiri.
"Untuk kamu!" Adam memberikan minuman yang tadi dibelinya pada Nara.
Wanita itu menggeleng dan kembali melangkah pergi.
"Hei..." Adam menahan tangan Nara, membuat kepala Nara hampir menabrak tubuh Adam.
"Apa kamu percaya... Kalau aku jatuh cinta sama kamu pada pandangan pertama?" Tanya Adam menatap lembut mata wanita itu.
Nara terpaku sejenak melihat tatapan Adam. Hatinya berdebar-debar pada Adam.
"Ngomong apa sih?!" Nara membuang pandangannya. Sepertinya ia mudah baperan. Ditatap begitu saja, ia sudah luluh.
"Ayo, aku antar pulang. Rumah kamu di mana?" Adam meraih tangan Nara dan menggenggamnya, berjalan keluar.
"Mas, tolong lepas."
Adam mengacuhkannya. Ia tak peduli penolakan Nara.
"Mas Adam..." Yola melambai-lambaikan tangan di depan wajah Adam. Pria ini dari tadi melamun saja.
Adam tersadar dari lamunan masa lalunya. Saat-saat pertama bertemu Nara. Wanita yang pertama kali mendebarkan hatinya.
Ya, Nara adalah cinta pertamanya...
.
.
.
__ADS_1