
"Anak-anak Papa lagi apa ya?" Tanya Arka menidurkan kepala di paha sang istri. Wajahnya ia hadapkan ke perut Nara.
"Lagi bobok, Papa." Nara menjawab dengan menirukan suara bocah. Seolah anak-anak mereka yang menjawab.
"Wah, lagi bobok kok bisa jawab papa, ya." Ledek Arka melirik Nara yang malah tertawa geli.
"Bobok yang nyenyak dan jangan lasak ya anak-anak Papa. Kasihan nanti Mama kecapekan." Arka mencium perut Nara dengan sayang.
Nara tersenyum haru melihat suaminya. Ia pun mengelus kepala Arka dengan sayang.
"Mas, sudah keluar yuk." Nara mulai bosan dengan kemping-kempingan ini. Tah sudah berapa lama mereka berdua berada di dalam tenda.
"Sayang, nanti dong. Aku mau masih mengobrol dengan mereka." Arka tak mau bergerak dari posisinya sekarang.
"Kita di kamar saja, Mas." Nara mulai merasa pengap. Meskipun Arka sudah meletakkan kipas angin di dalam tenda.
"Sebentar saja." Melas Arka.
"Mas, aku pengap." Nara juga memelas.
"Cium dulu."
Cup
Satu kecupan Nara daratkan di bibir Arka.
"Lagi..." Rengek Arka. Sekali mana cukup.
Cup
"Lagi..."
"Sudah deh, Mas." Nara pun memindahkan kepala Arka dari pahanya.
Arka mengubah posisinya menjadi duduk. Ia melihat istrinya yang merangkak mau keluar tenda.
"Mas Arka..." Nara kesal Arka menahannya.
"Mas, kita lagi di luar loh!" Nara mengingatkan saat suaminya mendudukkannya di pangkuannya.
"Kita lagi di dalam, sayang." Arka tersenyum smirk. "Di dalam tenda." Sambungnya kembali.
"Mas, kita-"
Arka tak merespon, ia segera menyosor bibir Nara. Memberikan ciuman yang memabukkan.
"Mas, jangan di sini. Di kamar saja." Nara menahan bibir yang akan menjelajah kembali. Serta tangan yang sudah merayapa aktif mengangkat roknya.
"Itu sudah biasa, sayang. Di dalam tenda kita belum per-"
Nara menutup mulut Arka. Suaminya mulai berbicara tidak jelas.
"Sayang, tenanglah. Aku sudah menyuruh mereka menjauh dari tenda kita." Tadi Arka sudah menyuruh semua pekerja rumah untuk tidak dekat dengan lokasi perkemahannya.
__ADS_1
"Tapi, Mas... jika nan-"
Lagi dan lagi Nara tidak jadi berucap. Pria itu membungkam perkataannya.
"Mas Arkaku sayang, kenapa sekarang makin genit saja ya?" Nara melingkarkan tangan di leher suaminya setelah ciuman itu terlepas.
"Sepertinya ini permintaan anak kita." Arka mengedipkan sebelah mata.
"Jangan bawa-bawa anak kita deh, memang Mas Arkanya saja yang genit." Nara yang gemas menggigit hidung mancung suaminya.
Perbuatan Nara membuat Arka jadi terkekeh geli.
\=\=\=\=\=\=
"Mas, ada telepon ini." Ucap Nara setelah mengambil ponsel Arka yang berdering di atas nakas.
"Siapa yang menelepon?" Tanya Arka setengah sadar. Ia sangat lelah setelah bermain kemping-kempingan.
"Dika, Mas." Nara mendudukkan diri di sandaran tempat tidur.
Arka meraih ponsel dan menempelkan di telinga. "Apa Dik?"
"Ka... Adam kecelakaan." Dika memberitahu dari rumah sakit.
"Apa?" Mata Arka langsung terbuka mendengar kabar tersebut.
Arka mendudukkan dirinya, sambil melihat istrinya yang berwajah bingung.
"Kepalanya terbentur. Tidak bahaya..."
Arka menghela nafas lega mendengar kabar tersebut.
"Ya sudah, nanti aku ke sana." Arka pun memutuskan panggilannya.
"Ke-kenapa, Mas?" Tanya Nara melihat Arka.
"Adam... Dia..." Arka menjeda sambil melihat ekspresi istrinya.
"Ke-kenapa dia?" Tanya Nara kembali. Melihat wajah serius Arka, pasti ada yang terjadi pada mantan suaminya.
"Kecelakaan. Adam kecelakaan." Arka memberitahu Nara.
"Ke-ke-kecelakaan?" Nara sangat kaget. "Bagaimana keadaannya, Mas?"
Arka mengelus kepala Nara. Ekspresi istrinya terlihat khawatir.
"Kata Dika, dia tidak bahaya. Kepalanya terbentur."
Nara sama seperti Arka, bernafas lega. Meskipun Adam bisa dikatakan pria yang jahat, tapi mereka pernah melewati susah dan senang bersama kala itu.
"Syukurlah kalau nggak bahaya."
Arka mengangguk sepaham dengan Nara. Ia melihat Nara dengan tatapan sendu. Nara, istrinya itu wanita yang sangat baik. Mungkin kalau yang lain, akan mengatakan kok nggak mati saja sekalian. Mengingat bagaimana sikap Adam selama ini.
__ADS_1
"Aku pergi sebentar ke rumah sakit. Aku mau jenguki dia." Arka bangkit dari tempat tidur.
"Mas, aku ikut."
"Tapi, sayang..."
Nara menggeleng. "Aku nggak masuk, Mas. Aku cuma mau lihat dari luar saja."
Nara juga sadar, kemungkinan mantan suaminya itu akan bersikap buruk padanya. Tapi, ia ingin melihat pria itu.
"Nanti kamu capek." Arka khawatir.
Wajah Nara mulai memelas. Arka jadi tak tega dan akhirnya mengangguk setuju.
\=\=\=\=\=\=\=
Di kamar pasien di sebuah rumah sakit. Adam memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Ia kembali mengingat kecelakaan naas itu.
Padahal saat itu ia sudah mengerem mendadak, tapi karena rem-nya kurang cakram. Mobilnya jadi menabrak mobil lain yang melintas.
"A-apa sakit? Biar aku panggil dokter." Ucap Yola melihat Adam memegangi kepalanya.
Adam hanya menggeleng. "Mario... sini, nak. Papa kangen."
Adam memanggil putranya yang sedang digendong Rindu.
'Kenapa dia nggak hilang ingatan saja?!' Yola menyayangkan. Jika Adam hilang ingatan, otomatis Mario akan terlupakan.
Adam menatap Mario dalam pelukannya. Jika tadi kecelakaan itu menewaskannya. Mario akan kehilangan dirinya selama-lamanya.
'Apa aku mungkin kualat?!' Adam kembali mengingat. Gara-gara tidak terima memikirkan Nara akan bahagia, ia sampai tidak fokus pada jalanan.
"Sini Mario sama Mama dulu. Kamu makan dulu. Yola tolong bantu Adam." Mama mengambil Mario dan sengaja menyuruh Yola. Agar mereka kembali bersama saja.
Yola mau menolak, tapi tatapan mamanya Adam mengancamnya. Seolah mengatakan, jika dia menolak, ia tidak akan boleh bertemu Mario lagi.
Wanita muda itu terpaksa menuruti, meskipun Adam menolaknya.
Tak lama setelah selesai makan, Adam melihat Bily dan Dika yang datang.
"Ini... Sudah ditebus obatnya." Bily memberikan bungkusan obat pada Yola.
Yola mau menolak, tapi Bily tetap memaksa.
Adam melihat pintu kamarnya terbuka lagi. Dan ia melihat siapa yang datang. Tatapan keduanya saling beradu sesaat.
"Bagaimana keadaanmu, Dam?"
.
.
.
__ADS_1