KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 100 - Tamu


__ADS_3

"Sayang, aku pergi dulu." Arka berpamitan pada sang istri.


"Hati-hati di jalan, Mas." Nara menyalami sang suami.


"Kalau ada apa-apa telepon aku." Arka mengingatkan.


Nara mengangguk lalu melambaikan tangan.


Setelah Arka pergi, ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Lalu Nara kembali pada ritualnya. Memandangi foto USG yang terpajang.


"Nara, Mommy buat bakwan. Coba kamu rasa." Wanita paruh baya itu membawa menantunya ke dapur. Nara selalu memandangi foto tersebut. Mungkin ada kenyamanan tersendiri melihat foto itu.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Mommy penasaran.


"E-enak, Mom. Boleh tambah satu lagi." Nara meminta lagi. Jika hanya satu tidak ada kenyangnya.


"Boleh, Nak. Habiskanlah ini." Mommy mengerti, wanita hamil banyak makannya.


Ting.. Tong..


Ting.. Tong


"Siapa ya Nara?" Tanya Mommy mendengar suara bel pintu.


"Nggak tahu, Mom. Biar Nara buka ya."


"Nggak usah. Biar pekerja saja yang buka." Mommy menyuruh pekerja rumah membukakan pintu.


Tak lama...


"Bu, ada tamu ingin bertemu dengan mbak Nara." Ucap pekerja rumah memberi tahu.


"Siapa?" Mommy penasaran.


"Katanya-" Pekerja rumah itu melihat Nara. Ia bingung mau mengucapkannya.


"Katanya apa?" Mommy makin penasaran.


"Katanya... mantan suami mbak Nara."


Deg


'Mau apa Adam kemari?' Nara jadi bertanya-tanya.


"Mau apa mantan suami kamu ke sini?" Tanya Mommy menelisik Nara.


"Nara nggak tahu, Mom." Jawab Nara sambil menggelengkan kepala.


"Kamu mau bertemu dia?" Mommy memastikan. Jika Nara mau menemui mantan suaminya itu, Mommy akan menemaninya. Bagaimana pun tidak baik meninggalkan Nara berdua dengan pria itu.


Nara menggeleng. "Nara tidak mau bertemu dia, Mom." Ada ketakutan dirasakan Nara, jika bertemu pria itu.


"Ya sudah... Biar Mommy saja yang jumpai. Kamu nunggu di sini saja." Mommy menyuruh Nara untuk tetap di dapur.


Nara mengangguk meski ada rasa penasaran. Tapi, ia memang tidak mau bertemu Adam lagi.

__ADS_1


Mommy sampai di ruang tamu dan melihat pria yang sebaya putranya tersebut. Ia juga ingat beberapa tahun yang lalu, Adam sering kumpul bahkan menginap di rumah ini.


"Halo Tante... Apa kabar?" Adam berbasa basi menyalami Mommynya Arka. Wanita paruh baya itu adalah ibu temannya. Dulu ia sering datang ke rumah ini.


"Tante baik. Kamu apa kabar, Dam? Sudah lama loh kita tidak bertemu." Mommy menjawab basa basi Adam.


Adam tersenyum. "Kabar saya juga baik, Tan."


Beberapa saat berlalu, suasana hening. Adam bingung untuk memulai. Ia kemari ingin bertemu Nara. Bagaimana ia harus mengatakannya?


"Arka sedang di kantor sekarang. Apa perlu Tante telepon dia dan mengatakan bahwa temannya datang ke rumah?" Tanya Mommy kembali.


"Ti-tidak usah, Tan." Tolak Adam cepat. Perlahan ia menghembuskan nafasnya pelan. Ia harus bertemu Nara sekarang.


"Se-sebenarnya saya kemari ingin bertemu Nara, Tante." Adam akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya.


Mommy menaikkan alisnya seakan bertanya ada apa?


"Mu-mungkin Tante sudah tahu, jika... Nara adalah mantan istri saya. Arka menikah dengan mantan istri saya." Jelas Adam kembali. Jika wanita paruh baya ini tidak tahu, dia sudah memberitahu.


"Iya, Tante tahu tentang itu. Arka sudah cerita jika ia menikah dengan mantan istri temannya." Mommy kembali menanggapi. Seolah tidak mempermasalahkan hal tersebut.


"Jadi saya kemari ingin bertemu dengan Nara." Jelas Adam.


Mommy menatap Adam dengan tatapan datar.


"Untuk apa?" Tanya Mommy ingin tahu. Nara mengatakan tidak ingin bertemu Adam lagi.


"Ada yang harus saya bicarakan empat mata dengan Nara, Tante."


Adam jadi bingung. "Tentang... tentang masa lalu kami."


Mommy kembali menaikkan alisnya. Tentang masa lalu kata Adam. Apa kisah mereka belum berakhir?


"Adam... sebelumnya Tante minta maaf. Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kamu dan Nara bicarakan."


"Tapi Tante... aku ingin bertemu dengan Nara sebentar. Ada hal yang harus kami selesaikan." Ungkap Arka kembali.


"Nara telah menikah dengan Arka. Jika kamu ingin bertemu dengan Nara, sebaiknya kamu minta izin pada Arka. Karena Arka sekarang adalah suaminya Nara." Jelas Mommy kembali.


Kedatangan Adam mungkin untuk hal yang penting. Jadi jika mereka mau bertemu harus melibatkan Arka. Arka harus tahu semua tentang Nara. Dalam pernikahan harus saling terbuka.


Tak lama Adam pergi dari rumah itu dengan perasaan kesal. Gagal sudah ia bertemu dengan Nara dan meminta pertanggung jawaban mantan istrinya itu.


'Dasar nenek sihir!!!'


\=\=\=\=\=\=


Arka terlihat sedang sibuk pada layar komputernya. Pandangannya teralih pada dering ponsel. Ada panggilan dari Mommynya.


"Halo, Mom. Ada apa?" Tanyanya setelah menjawab.


"Arka... Tadi, mantan suami Nara ke rumah."


"Apa?" Mendengar itu, Arka segera bangkit dari duduknya.

__ADS_1


Arka meremas tangannya mendengar Mommy menceritakan semuanya. Tapi, pria itu bernafas lega juga. Nara ternyata tidak mau bertemu Adam.


"Terima kasih, Mom. Nanti aku selesaikan dengan Adam." Arka mengakhiri obrolan mereka.


'Masa lalu?' Arka merasa penasaran dengan masa lalu yang mau Adam katakan.


Arka berdiri di depan jendela besar kantornya. Menatap pemandangan kota.


Pria itu meraih ponsel dan menelepon seseorang.


"Aku ingin bicara denganmu!"


Tak lama Arka sudah sampai di sebuah kafe. Tempat ia akan bertemu dengan seseorang.


"Ada apa Bro?" Tanya pria itu mendudukkan diri di depan Arka.


Arka melihat penampilan Adam. Adam sepertinya tidak ke kantor. Pria itu berpakaian santai.


"Aku dengar kau tadi pagi ke rumah. Ada apa?" Tanya Arka segera.


"Aku mau bertemu Nara." Jawab Adam santai.


"Ada urusan apa kau menemui istriku?" Tanya Arka kembali dengan sorot mata tajamnya.


"Biasalah, Ka. Ada masa lalu yang harus kami bahas." Tegas Adam membalas tatapan tajam Arka.


"Aku rasa lebih baik kau lupakan saja niatmu itu. Nara tidak hidup dalam masa lalu. Jadi tidak perlu ada hal yang perlu dibahas atau dikenang."


Adam terdiam mendengar itu. "Jika kau tahu tentang masa lalu Nara, mungkin kau akan berpikir dua kali, untuk menjalani masa depan bersamanya."


Kini Arka yang terdiam mendengar perkataan Adam. Apa maksud pria ini? Masa lalu Nara? Masa lalu seperti apa?


"Katakanlah. Aku akan dengar." Tegas Arka. Jika untuk membuatnya ragu, untuk apa Adam bertemu dengan Nara. Cukup katakan saja padanya.


"Aku harus mengatakan pada Nara."


"Katakan padaku!!! Kau ingin aku meragukan Nara, bukan? Katakan saja sekarang apa hal yang meragukan itu." Arka masih memaksa.


"Nara itu bukan wanita baik-baik."


Arka menaikkan alisnya.


"Nara itu..."


Arka masih menunggu apa yang mau Adam katakan. Meski sangat penasaran, tapi Arka mencoba untuk tenang. Ia tidak boleh terpancing, hingga berpikiran picik tentang istrinya.


"Nara... Dia penipu."


Arka menghembuskan nafasnya kasar. "Dam, sebaiknya kau tutup mulutmu itu. Sekali lagi kau menghina istriku, aku tidak segan untuk melaporkanmu!!!" Ancam Arka. Adam sepertinya ingin membuat-buat alasan saja.


"Arka, Nara itu wanita matre. Dia wanita..."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2