
"Ayah, itu gimana sih Nara?" Tanya Bunda yang bingung melihat putrinya.
Waktu berlalu begitu cepat. Sudah beberapa bulan berlalu dari resminya Nara dan Adam bercerai. Dan putrinya masih diliputi kesedihan.
Setiap hari Nara bangun pagi untuk memasak dan membantu membersihkan rumah. Lalu menjelang siang, dia akan berkurung diri di dalam kamar hingga pagi berikutnya menjelang. Hanya jika waktu makan Nara akan keluar kamar.
"Biarkan sajalah, Bun. Nara masih butuh waktu untuk sendiri." Ayah memaklumi sang putri. Perceraian itu pasti masih sangat meninggalkan luka bagi Nara.
Semenjak perceraian, Nara sangat berubah. Dia menjadi pendiam dan irit bicara.
"Ayah, mau sampai kapan Nara begitu?" Tanya Bunda dengan wajah sedih.
Nara terlalu menutup diri. Selama ini ia hanya menghabiskan waktu di rumah. Padahal kedua orang tuanya sering mengajak pergi berjalan-jalan dan Nara selalu menolak. Memilih mengurung diri di kamar.
"Ayah bicaralah sama Nara. Dia masih muda, perceraian ini bukan akhir segalanya. Dia harus bisa melanjutkan hidupnya kembali." Bunda sedih melihat Nara seperti itu.
"Ayah sudah sering bicara. Tapi Nara hanya mengangguk saja." Ayah juga sedih dan bingung melihat sang putri. Yang sudah seperti tak ada semangat hidupnya lagi.
\=\=\=\=\=\=
Setelah Adam membawa wanita berambut pirang malam itu, Nara tak mau menginjakkan kaki di rumah itu lagi. Ia memilih tinggal bersama kedua orang tua dan adiknya.
Setiap malam, Nara sering menangis dalam diam. Mengingat Adam, suami tercinta yang tega menyakiti hatinya.
Pria itu dengan mudahnya setuju untuk menceraikan dirinya, hanya demi wanita yang bisa mengandung anaknya.
Nara sedih dan merasa frustasi dengan keadaan dirinya. Ia mulai menutup diri dari semua. Termasuk keluarganya.
Ia juga tak mau keluar rumah, karena takut mendengar gunjingan tetangga. Tentang suaminya yang menikah lagi karena kemandulan dirinya, yang tak bisa mengandung seorang anak.
Nara menepuk dadanya yang terasa masih sesak. Meski sudah lama berlalu, tapi hatinya masih sakit karena perlakuan Adam.
Masih jelas dalam ingatan Nara. Saat Adam menyatakan cinta padanya. Mengatakan hanya ada Nara seorang di dalam hati Adam, yang tak akan bisa terganti sampai kapanpun.
Tapi... kenyataannya, Adam menempatkan wanita lain dalam hatinya.
Jika Adam benar-benar mencintainya. Pria itu seharusnya mengerti perasaan Nara dan bukan bertindak seperti itu.
Padahal Nara sangat berharap, Adam meninggalkan wanita itu dan lebih memilih dirinya. Tapi Adam malah memasukkan mereka dalam rumah tangganya dan menyetujui bercerai.
Memilih berpisah dengan dirinya, karena Nara yang tak mau menerima mereka.
Saat itu Nara sempat berpikir Adam akan meninggalkan wanita itu dan mengambil anaknya saja. Mungkin Nara bisa perlahan merawat anak itu. Menganggap sebagai anaknya juga, karena itu darah daging pria yang dicintainya.
Lah, ini... Adam malah ingin Nara merawat anak itu bersama si pirang?!
__ADS_1
Itu tidak mungkin.
"Kak Nara!!!" Pekik Gio tiba-tiba membuka pintu kamar Nara.
Nara menyusap air mata yang membasahi pipinya.
Gio melihat Nara tidak senang. Kakaknya seperti tak mempunyai kehidupan. Hanya berdiam diri di dalam kamar.
"Mau sampai kapan kak Nara begini?" Tanya Gio dengan nada bergetar. Ia tahu perceraian itu sangat menyakitkan untuk kakaknya.
"Tutup pintunya." Nara tak mau berdebat. Ia meminta Gio menutup pintu
"Kak, sadarlah. Ini sudah lewat beberapa bulan kak." Gio menyadarkan sang kakak. Selama beberapa bulan ini, Nara tak pernah keluar rumah dan hanya menghabiskan waktu di kamar.
Nara menutup wajahnya.
"Kak... Tolong jangan terus-terusan begini. Kak masih ada aku, Ayah dan Bunda. Kakak nggak boleh terus berlarut dalam kesedihan." Gio menghapus air mata sang kakak.
"Keluar. Aku mau sendiri-"
"Kak Nara." Gio menaikkan intonasi suaranya. "Kakak harus melanjutkan hidup kakak lagi. Jangan terus mengurung diri di rumah. Lupakan pria itu."
"Apa aku mati saja?" Tiba-tiba Nara merasa sudah putus asa.
"Kamu nggak boleh bicara seperti itu." Bunda memeluk putrinya yang begitu sangat lemah.
"Untuk apa aku hidup? Aku mandul, Bunda."
"Nggak, Nak. Jangan bicara seperti itu." Ayah sedih mendengarnya. "Kamu itu wanita yang sehat dan kuat."
"Jika aku tidak mandul, Adam tidak akan berselingkuh dan menikahi wanita itu. Adam bilang dia mencintaiku dan tak akan meninggalkanku apapun keadaanku." Nara terisak-isak menangisi Adam.
Nara menikah dengan Adam karena sangat mencintai pria itu. Selama 5 tahun pernikahan, ia memberikan seluruh hatinya untuk Adam. Menempatkan Adam menjadi satu-satunya pria pemilik hatinya.
Tapi perceraian itu, masih meninggalkan luka. Nara masih terluka karena masa lalu. Rasa sakit karena pria yang dicintainya.
"Kak, lupakan si Adam itu, dia bukan pria baik. Aku yakin akan ada pria yang akan menerima kakak apa adanya." Ungkap Gio. Ia tak mau melihat kakaknya jadi pesimis.
Nara menggelengkan kepala. "Siapa yang mau dengan wanita mandul? aku ini cuma wanita tak berguna." Nara meratapi nasibnya.
"Nara... Jangan bicara seperti itu, Nak. Ayah ingin kamu menjalani hidup bahagia. Lupakanlah masa lalu kamu. Kalau kamu terus mengurung diri seperti ini, Ayah akan sedih."
Nara melihat mata Ayahnya berkaca-kaca. Pria paruh baya itu berusaha menahan kesedihannya.
"Apa kamu mau Ayah dan Bunda terus menerus bersedih melihat kamu seperti ini? Ayah dan Bunda sudah tua, Nak. Kami ingin melihat kamu dan Gio bahagia. Tolong jangan buat kami sedih." Ayah ingin Nara tidak berlarut dalam kesedihannya.
__ADS_1
"Maaf Yah. Maaf Bun. Maafkan Nara." Nara memeluk keduanya. Ia sadar selama ini ia melupakan perasaan keluarganya.
Ayah dan Bunda bahkan Gio yang selalu mengajaknya bicara, tapi tak pernah di dengarnya.
'Aku tak boleh membuat mereka sedih.'
\=\=\=\=\=\=
Nara termenung di depan meja nakas. Ia mengambil ponselnya.
Nara meremas tangannya, selama ini dia hanya berkurung diri di dalam rumah. Bersedih dan meratapi perceraian mereka.
Tapi, Adam tidak begitu. Pria itu melanjutkan kehidupannya dengan keluarga barunya. Dengan anak yang terlahir dari wanita itu.
Bahkan wanita itu sudah resmi menjadi istri Adam dalam kartu keluarga.
Selama ini, Nara stalking sosial media Adam dan wanita itu.
Adam sudah menghapus semua foto dirinya dan menggantinya dengan semua foto tentang anak dan istri barunya.
Semua foto yang diupload tentang perkembangan sang buah hati.
Foto mereka bertiga.
Foto Adam yang menggendong anaknya.
Foto wanita berambut pirang itu bermain bersama anaknya.
'Dia sangat bahagia!'
Nara menghembuskan nafasnya. Adam baik-baik saja dan Nara malah masih bersedih dengan perceraian.
'Nara... Ayo kita lupakan semua. Kita buka lembaran baru.' Nara menyakini hatinya.
Tangan Nara membuka laci nakas, ia mencari-cari sesuatu.
Dapat!!!
Nara tersenyum melihat gunting yang dipegangnya.
.
.
.
__ADS_1