KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 65 - Membuat Bekal


__ADS_3

Nara bangun lebih pagi dan ia membantu Bunda membuat sarapan. Nara membuat nasi goreng.


'Enak!!! Semoga Pak Arka suka!' Nara mencicipi nasi goreng buatannya.


Nara menyalin nasi goreng ke piring-piring, lalu meletakkan dalam kotak makan. Setelah itu ia menambahkan telur mata sapi di atasnya.


"Kamu bawa bekal?" Tanya Bunda yang dari tadi terus memperhatikan putrinya yang senyum-senyum sendiri saat memasak.


"I-iya, Bun."Jawab Nara gugup.


"Tambahi sedikit lagi. Porsinya itu kurang. Sepertinya Arka doyan makan."


Nara mengangguk dan menambahkan nasi goreng dalam kotak. Lalu ia terdiam sejenak saat menyadari sesuatu.


"Kamu membuatkan sarapan untuk Arka, kan?!" Bunda senyum melihat wajah Nara yang sudah memerah.


"Ti-tidak, Bun." Geleng Nara pelan. Ia jadi malu sendiri.


"Jadi kapan Arka membawa orang tuanya?" Tanya Bunda serius menatap lembut sang anak.


"Bun-Bunda, kami belum sejauh itu." Sanggah Nara kembali.


"Cincin kamu bagus."


"Bunda!!!" Regek Nara saat wanita paruh baya itu melihat cincin yang melingkar di jarinya. Ia pun memeluk Bundanya erat.


"Bun, apa Nara boleh menikah lagi?"Tanya Nara takut-takut. Sambil melonggarkan pelukannya.


"Boleh. Menurut Bunda, Arka itu sangat baik dan dapat bertanggung jawab." Hati Bunda yakin jika Nara akan bahagia dengan Arka. Meski kata Gio, Arka pria yang tidak baik. Pasti itu hanya gosip saja.


"Bun, apa Mas Arka suatu saat nanti akan meninggalkan Nara juga seperti yang Mas Adam lakukan?" Nara melihat sang Bunda dengan tatapan sendu.


"Yang Bunda lihat, dia sangat mencintai kamu. Jika dia benar mencintaimu, dia tidak akan pernah meninggalkanmu dalam keadaan apapun. Bunda akan selalu doakan yang terbaik untuk kamu." Harap wanita paruh baya tersebut.


"Semoga Mas Arka, bisa dipercaya." Nara juga berharap, ucapan manis Arka saat ini, bukan hanya bualan saja. Tapi, ucapan yang mempunyai komitmen.


"Sudah sana mandi. Nanti telat kerja." Bunda menepuk pundak Nara pelan.


"Baik, Bun." Nara membawa kotak makan berisi nasi goreng ke kamarnya. Meletakkan di atas nakas. Jika di letak di dapur, Gio akan heboh dan menanyainya terus.


Dengan bersenandung pelan, Nara pun masuk ke kamar mandi.


Tak lama, Nara sudah rapi memakai pakaian kerja. Ia menambahkan sapuan make up tipis dan menggerai rambutnya yang setengah basah.


Nara tersentak kaget saat mendengar suara notifikasi ponselnya. Ia melihat sebuah pesan dari Pak Bos.


Pak Bos: Pagi, sayang...


Pak Bos: jangan lupa sarapan ya


Pak Bos: mau aku jemput?


Nara akan membalas, tapi panggilan Arka masuk.


"Halo..." Jawab Nara.


"Pagi sayang. Aku jemput ya sekarang?"

__ADS_1


"Ng-nggak usah, Mas. A-aku naik ojek saja." Tolak Nara halus.


"Kamu mau naik ojek?"


"Iya."


"Jangan! Aku sudah di depan rumahmu."


"Apa?" Pekik Nara kaget. Ia segera membuka jendela kamar dan melihat mobil Arka berhenti di depan rumahnya.


Pria itu pagi-pagi sudah sampai saja. Jam berapa Arka keluar dari rumahnya.


"Ke-kenapa anda kemari?" Tanya Nara mendadak gugup.


"Menjemput kesayanganku." Ucap Arka sambil turun dari mobilnya.


Nara melihat Arka berjalan memasuki teras rumahnya. Ia pun mengakhiri panggilan mereka.


Nara segera meraih tasnya. Memasukkan ponsel dan kotak makan. Lalu bergegas keluar kamar.


Tok


Tok


Tok


"Bi-biar Nara saja yang buka." Ucap Nara ketika melihat Bunda yanga akan berjalan menuju pintu depan.


Nara menghela nafas pelan dan memegang handle pintu.


"Pagi, sayang." Sapa Arka dengan wajah penuh senyum. Saat pintu terbuka dan berdiri wanita cantik yang sudah mencuri hatinya.


"Siapa Nara?" Teriak Bunda dari dalam.


"I-itu-"


"Saya Arka, Bunda." Arka segera menjawab.


"Mas!!!" Nara memelototi pria itu. Yang memanggil Bundanya sama dengannya.


"Aku mau bersalaman dengan calon mertua." Arka mengedipkan matanya dan menyelonong masuk.


"Pagi, Bunda..." Sapa Arka dengan riang. Ia menyalami wanita paruh baya tersebut yang sedang berada di dapur.


"Mana Ayah, Bun?"


"Ayah sedang mandi..."


Nara terbengong melihat Arka yang terlihat santai. Pria itu tidak kaku dan canggung lagi mengobrol dengan Bundanya.


"Bun, maaf saya tidak bawa apa-apa. karena masih pagi, belum ada toko yang buka. Lain kali saya akan bawa buah tangan. Bunda, suka makan apa?"


"Haha... Nak Arka tidak perlu repot-repot. Tak perlulah membawa buah tangan. Tapi, pizza sepertinya enak juga ya." Ucap Bunda sambil tertawa.


"Bunda mau pizza. Nanti akan saya bawakan." Arka mengangguk sambil tersenyum. Bundanya Nara sangat welcome sekali.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Arka menyetir mobil sambil tersenyum-senyum. Ia bahagia melirik jemari Nara, yang melingkar cincin pemberiannya.


"Mas, ngapain sih jemput-jemput?!" Nara merasa segan. Rumahnya dengan rumah Arka itu, dari ujung ke ujung. Pria itu jadi berputar-putar arah, jika menjemputnya.


"Namanya aku kangen sama kamu." Jawab Arka. Tangannya meraih tangan mungil Nara.


Nara mengalihkan pandangannya. Masih juga pagi, hatinya sudah berdebar kencang.


Arka melirik Nara. Wajah wanita itu selalu merona. Membuatnya ingin terus menerus menggodanya.


"...Selagi janur kuning belum melengkung. Aku masih berhak memilikinya..."


Arka kembali kesal mengingat perkataan Adam yang menganggu pikirannya.


Adam ingin kembali pada mantan istrinya? Kenapa ada pria seperti itu?


Apa Adam tidak memikirkan bagaimana perasaan Nara?


Mobil berhenti ketika mereka telah sampai. Nara melepas sabuk pengamannya.


Deringan ponsel, membuat Nara meraih ponsel dalam tasnya.


'Mas Adam!' Batin Nara melihat nama penelepon itu.


Arka melepas sabuk pengamannya sambil melihat wajah Nara yang mendadak pucat.


"Nara, kenapa?" Tanyanya.


Nara menggeleng cepat. "Ti-tidak apa, Mas. A-aku masuk duluan." Nara tersenyum simpul sambil memasukkan ponsel kembali ke dalam tas. Ia melihat sekitar. Dirasa sepi, Nara pun keluar dan berjalan setengah berlari.


Sementara, Arka melihat Nara yang bergegas memasuki kantor.


'Aku akan mempertahankanmu, Nara. Adam tidak bisa merebutmu dariku. Kamu milikku!'


Melihat Nara sudah tidak kelihatan lagi, Arka keluar dari mobil dan berjalan memasuki kantor.


Tak lama Arka keluar dari lift setelah sampai di lantai ruangannya berada. Arka berjalan menuju meja Nara.


"Nara... Berkas untuk rapat hari ini sudah kamu persiapkan?" Tanya Arka.


"Sudah, Pak. Sudah saya letakkan di meja anda." Jawab Nara.


"Terima kasih." Arka mengangguk pelan.


Arka kembali menatap wajah cantik itu. "Sayang, ikat rambut kamu."


Nara terlalu cantik jika mengerai rambutnya.


"Ma-maaf, Pak. Saya lupa." Nara meraih tas dan mencari ikat rambutnya.


Arka tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya. Pikirannya mulai berkelana. Memberikan sentuhan lembut di bibir merah yang seksi itu. Lalu sentuhannya turun ke leher, lalu turun dan turun lagi... Menyentuh dataran tinggi dan kemudian...


Deringan ponsel menyadarkan Arka dari lamunan yang sesat. Mata Arka pun melihat ponsel Nara yang tergeletak di atas meja. Seseorang menelepon Nara.


"Siapa Adam?"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2