KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 88 - Tidak percaya


__ADS_3

Nara mengusap air mata yang terus jatuh membasahi pipinya. Air mata itu seolah enggan berhenti mengalir.


Setelah dokter mengatakan ia hamil, Nara terus menangis tak percaya.


"Sayang, sudah dong. Jangan terus menangis! Nanti air mata kamu habis loh!" Arka ikut bergantian mengusap air mata di wajah yang berkaca-kaca tersebut.


"Mas, apa benar yang tadi dokter katakan?" Nara masih memastikan apa yang dikatakan dokter. Seperti mimpi, tapi ia masih sadar.


"Iya, sayang. Kamu hamil. Ada anak kita di dalam perut kamu." Jawab Arka dengan sangat sabar. Nara tah sudah berapa kali memastikan hal itu. Istrinya masih tidak percaya.


"Mas, kalau dokternya salah gimana?" Nara sangat senang dan terharu. Tapi mengingat dirinya yang mandul, ia jadi berasumsi kemungkinan dokter salah memeriksanya.


"Sayang, dokter tidak mungkin salah. Kamu sekarang sedang hamil. Sudah, jangan berpikiran yang lain." Saran Arka kembali. Nara belum yakin dirinya sedang hamil.


"Mas, benaran di sini?" Dengan suara bergetar, Nara menunjuk perutnya. "A...nak ki...ta?"


Arka mengangguk. "Di dalam sini, sudah ada kehidupan. Ada anak kita di sini. Mungkin sekarang dia masih sangat kecil... sekali." Jelas Arka dengan perlahan dan masih sabar.


"Mas Arka... Ini sungguhan??? Aku tidak bermimpi, kan?!" Nara mulai terisak-isak menangis. Ia tidak menyangka diberikan momongan secepat ini.


"Nara, tenanglah." Arka meraih dan memeluk tubuh Nara. Mengelus dan menenangkan istrinya yang masih shock.


"Besok, kita cek kandungan kamu." Arka berniat akan menemani Nara. Mengecek dan berkonsultasi dengan dokter kandungan.


"Ta-tapi, Mas. Kalau ternyata aku tidak hamil bagaimana?" Dan lagi, Nara memiliki ketakutannya sendiri.


"Sekarang... kamu makan dulu." Arka memilih menyuapi Nara makan bubur. Ia tidak mau membahas masalah kehamilan lagi. Karena sebentar Nara bahagia lalu kembali meragu. Biarkan saja besok dokter kandungan yang menjelaskan semua pada istrinya itu.


"Mas Arka sudah makan?" Tanya Nara disela kunyahannya.


"Sudah."


"Ma-maaf. Mas Arka jadi makan sendiri-"


Arka kembali menyuapi Nara. Ia ingin Nara segera menghabiskan bubur tersebut. Lalu kemudian beristirahat.


"Mas, kalau ternyata aku tidak-"


Nara jadi mendengus kesal, setiap ia bicara Arka akan kembali menyuapinya. Suaminya tak membiarkan ia untuk membicarakan sesuatu yang masih mengganjal di hati dan pikirannya.


Setelah bubur habis, Arka juga memberikan minum. Ia juga mengelap mulut istrinya yang blepotan dengan tisu.

__ADS_1


"Mas, kalau aku tidak hamil bagaimana?" Itu lagi yang ditanya Nara.


Arka menghembus nafasnya. Nara ini benar-benarlah. Istrinya sudah tidak punya kepercayaan diri lagi.


"Mas, aku takut jika itu adalah kesalah pahaman. Sepertinya aku itu tidak mungkin hamil." Nada yang bergetar dengan mata yang berkaca-kaca itu menatap Arka. Bahkan tangan mungil Nara juga ikut gemetaran.


"Sayang, jangan seperti ini." Arka mengusap sudut matanya. Ia sedih melihat Nara berpikiran seperti itu.


"Kenapa Mas Arka menangis?" Nara makin sedih melihat pria di hadapannya itu.


"Nara sayang... Kamu memang hamil." Arka kembali mengatakan hal tersebut.


"Ta-tapi, Mas. Sepertinya itu tidak mungkin-"


"Nara." Potong Arka cepat. "Kamu percaya padaku?" Arka menatap serius mata Nara yang terus berair tersebut.


Nara mengangguk pelan. "Aku percaya Mas Arka."


"Kalau aku katakan kamu sedang hamil. Apa kamu akan percaya padaku?" Tanya Arka. Ia masih berusaha sabar meyakinkan istrinya.


Nara diam dan menatap Arka dengan tatapan yang dalam. Ia ingin percaya perkataan Arka dan dokter. Tapi, ia takut kekecewaan yang didapatinya nanti.


"Untuk kali ini, apa kamu bisa percaya padaku?" Arka meyakinkan perlahan.


Arka meletakkan telunjuk di bibir Nara. "Sudahlah, kamu istirahat. Sekarang, jangan kamu pikirkan tentang hamil atau apalah. Besok saat kita ke dokter, kamu katakan semua apa yang kamu ragukan."


Arka membenarkan selimut Nara lalu ia naik juga ke tempat tidur.


"Aku mencintaimu. Aku mencintaimu, aku mencintaimu." Ucap Arka disela-sela menkecup kening Nara lalu kedua pipinya.


"Mas Arka, maaf." Nara memeluk pria di sampingnya. "Tolong, maklumi aku ya?!"


Arka mengangguk mengerti. Nara istrinya. Ia akan selalu memaklumi wanita pilihannya itu.


\=\=\=\=\=\=


Nara menatap dirinya dalam pantulan cermin. Memegang perutnya dengan wajah sendu.


'Apa kamu memang sudah ada di dalam, Nak?' Perasaan Nara kembali labil. Kadang mengiyakan jika ia hamil, kadang juga tidak percaya.


Nara sudah menjalani pernikahan dengan Adam selama 5 tahun, tapi belum dikarunia seorang anak. Dan kini, usia pernikahan baru seumur jagung. Masa ia sudah hamil saja? Secepat itu?

__ADS_1


"Sayang, kamu lagi mikirin apa sih?" Tanya Arka seraya memeluk Nara dari belakang. Dari tadi ia terus memperhatikan istrinya yang seperti gelisah tak menentu.


"Mas, ka-kalau ternyata aku tidak hamil. Jangan kecewa dan jangan pergi meninggalkanku ya!" Nara takut Arka akan meninggalkannya. Jika saat dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh. Dan benarlah ia mandul.


Nara merasa Arka masih menganggap dirinya normal. Padahal Adam saja mengatakan jika ia wanita mandul.


Dan lagi, Arka menggeleng mendengar ucapan pesimis dari istrinya.


"Anakku sayang, Mamamu belum percaya kalau kamu sudah ada di sini. Kamu yang sabar ya, Nak. Jangan marah sama Mama. Mamamu masih butuh waktu saja untuk menerima semua ini." Arka mengelus perut yang masih rata tersebut.


"Mas Arka!!!" Nara jadi cemberut. Bukan begitu maksudnya.


"Sudahlah, ayo kita pergi sekarang!" Arka pun menggandeng Nara keluar dari kamar.


Di rumah sakit, Nara melakukan serangkaian pemeriksaan dengan dokter kandungan.


Nara duduk di dampingi sang suami. Tangan Nara terlihat gemetaran. Menunggu dokter memberitahu hasil pemeriksaan.


Arka pun menggenggamnya erat. Agar Nara sedikit tenang.


"... Dari hasil pemeriksaan. Kandungan Ibu Nara, sudah memasuki masa 4 minggu kehamilan. Saya sarankan ja-"


"Hamil?" Potong Nara tidak percaya. "Ma-maksud dokter saya hamil?" Nara memastikan.


Dokter tersenyum. "Benar, Bu Nara sedang hamil. Sa-"


"Tapi saya mandul, dok?!" Sela Nara kembali. Ia mandul bagaimana bisa hamil.


"Sayang, dengarkan dokter dulu." Arka menenangkan Nara. "Maaf, Dok. Istri saya masih kaget." Arka mencoba menjelaskan.


Dokter mengangguk mengerti. "Bu Nara sama sekali tidak mandul. Ibu sangat sehat. Janinnya juga sangat sehat-"


"Mas Arka!!!" Nara kembali mulai mewek. Air mata itu jatuh kembali membasahi pipinya. Dokter mengatakan jika ia benar-benar hamil.


"Aku hamil, Mas. Aku hamil. Aku tidak mandul. Aku hamil, Mas." Nara tidak bisa berhenti berucap. Air matanya terus mengalir deras. Perasaan Nara terharu dan tidak percaya. Ia benar-benar hamil, selama ini ia tidak mandul.


"Sayang, tenanglah." Arka pun jadi memeluk istrinya. Ia tak tega melihat air mata Nara yang begitu menyedihkan.


"Mas, aku hamil. Aku tidak mandul, Mas."


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2