
HARAP BIJAK DALAM MEMBACA!!!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Arka... Tadi, mantan suami Nara ke rumah."
...
"Tapi, Nara tidak mau bertemu dengannya. Jadi Mommy yang menemui Adam..."
Nara menguping dari balik tembok. Sepertinya Mommy sedang menelepon suaminya. Pasti Mommy memberitahu Arka tentang kedatangan Adam.
Wanita hamil yang sedang mengintip itu melihat Mommy mengakhiri panggilan. Ia pun segera bergegas pergi. Jangan sampai Mommynya tahu jika ia sedang menguping.
Di kamar, Nara meraih ponselnya. Ia menatap sesuatu.
'Mas Arka masih di kantor.'
Titik lokasi Arka masih berada di kantor. Selama ini Nara selalu memantau lokasi Arka. Bukan karena tidak percaya. Tapi, sebagai antisipasi saja.
Dulu, ia sangat mempercayai Adam. Ia percaya saja saat mantan suaminya itu, mengatakan akan pergi dinas keluar kota. Nyatanya Adam dinas keluar kota untuk menemui istri keduanya.
Nara tidak mau itu terjadi lagi. Dengan mengawasi pergerakan Arka, ia bisa tahu apa Arka memang pria yang berbeda dari Adam.
"Loh... Loh... Mas Arka mau kemana?" Ucap Nara melihat lokasi Arka yang berpindah, bukan di gedung itu lagi.
Nara menelepon seseorang.
"Halo, Dek. Mas Arka ada?" Tanya Nara ingin tahu.
"Bang Arka baru saja pergi, kak."
"Ke mana?"
"Nggak tahu. Katanya ada urusan mendesak. Kenapa kak?"
"Nggak. Kak tadi rencananya mau ke kantor Mas Arka. Mau datangnya diam-diam gitu. Biar suprise." Alasan Nara.
"Dasar bucin." Ledek Gio.
"Tapi, nggak jadilah dek. Kakak agak ngantuk." Alasan Nara.
"Ya sudah, tidur sana."
"Ya sudah. Dah..." Nara memutuskan panggilan mereka.
Tak lama...
"Mom, Nara pergi sebentar ya." Pamit Nara pada Mommy.
"Mau ke mana kamu?"
"Ke kantor Mas Arka." Nara memegangi perutnya seolah mengatakan itu keinginan bayi dalam kandungan.
"Ya sudah, kamu diantar supir saja."
Nara mengangguk dan berpamitan. "Mom, nanti Nara pulangnya bareng Mas Arka ya."
__ADS_1
"Iya. Hati-hati di jalan." Mommy mengangguk.
Tak lama Nara turun dari mobil di depan loby kantor Arka. Ia menyuruh pak supir pulang, karena ia akan pulang dengan suaminya. Pak supir pun menurut.
Nara bukannya masuk ke dalam, ia malah melimpir ke samping. Ia melihat lokasi Arka berada di sebuah kafe yang berada tidak jauh dari lokasinya sekarang.
Hati Nara sedikit tak tenang. Sepertinya suaminya mau bertemu dengan Adam. Nara sangat yakin sekali.
Gio saja mengatakan Arka pergi terburu-buru. Jika karena ada rapat atau apa, pasti Gio memberitahu.
Taksi berhenti dan Nara pun segera naik. Ia menuju lokasi suaminya saat ini.
Nara memakai masker dan menurunkan topinya saat turun dari taksi. Ia melihat sekelilingnya dan mengangguk melihat mobil Arka terparkir di tempat itu.
'Mas Arka.' Batin Nara saat masuk dan melihat Arka dengan seorang pria.
Wajahnya pria itu tidak kelihatan, karena membelakanginya. Tapi dari punggungnya, Nara sangat hafal. Itu punggung Adam.
Nara berjalan menuju meja di depan kedua pria itu. Ia dan Adam posisi duduknya saling memunggungi.
Arka dan Adam sepertinya mereka bicara sangat serius, hingga tidak menyadari sekitarnya.
"Nara... Dia penipu."
Nara meremas tangannya mendengar pembicaraan mereka. Adam menjelek-jelekkannya pada Arka.
"Dam, sebaiknya kau tutup mulutmu itu. Sekali lagi kau menghina istriku, aku tidak segan untuk melaporkanmu!!!"
Ekspresi Nara yang tadinya kesal, mendadak murung mendengar ancaman Arka. Suaminya membela dirinya.
"Arka, Nara itu wanita matre. Dia wanita..." Adam mendengus sebentar.
Air mata Nara jatuh, ia pun mengusapnya pelan. Benar apa yang Adam katakan. Selama menikah dengannya, ia tidak pernah mengalami hal tersebut.
"Sebenarnya kau mau bilang apa?" Arka kesal, Adam terlalu banyak cerita dan sedang mengarang bebas.
"Menurutmu kenapa bisa seperti itu?" Tanya Adam.
Arka menaikkan bahunya. "Mana aku tahu. Mungkin memang kalian belum dikarunia saja." Jawab Arka.
"Tidak, Ka. Selama pernikahan kami, Nara pasti selalu mengkonsumsi obat penunda kehamilan."
Nara meremas tangannya. Adam bicara asal.
Arka menggeleng melihat Adam. Bisa-bisanya menuduh Nara.
"Kami 5 tahun bersama. Kalau tidak seperti itu, pasti dia pernah hamil bukan. Dia melakukan segala cara. Dia yang tak menginginkan anak dariku. Lihatlah, begitu menikah denganmu dia langsung hamil, bukan?! Dia matre. Dia memang mencari pria kaya raya." Jelas Adam menurut argumennya selama ini.
"Adam, tutup mu-"
"Dasar breng&sk!!!" Nara menjambak rambut Adam. Ia tak tahan mendengar tuduhan mantan suaminya yang tidak bermoral dan seenaknya saja.
"Apa yang kau la-" Adam akan melepaskan jambakan dan ia langsung kaget melihat orang yang menjambaknya adalah Nara.
"Apa yang sudah kau katakan??? kenapa mulutmu begitu sangat busuk?" Nara yang sudah emosi akan kembali menjambak mulut Adam.
"Sayang, tenanglah." Arka memegangi istrinya.
__ADS_1
"Aku mengatakan yang sebenarnya-"
Bruak...
Walaupun Arka memegangi dirinya. Kaki Nara masih berfungsi. Ia pun menendang kursi sekuat tenaga.
"Kau!!!" Pekik Adam kesal. Nara sangat kasar.
"Sayang, tenanglah. Tolong tenanglah." Arka menjauhkan Nara dari Adam. Ia kaget melihat istrinya yang mendadak bar-bar.
"Adam, seharusnya otakmu kau pakai. Aku menyesal pernah menjadi istrimu. Jika tahu akan seperti ini, aku tidak akan sudi menikah denganmu. Dasar laki-laki mulut jahanam. Sebaiknya kau potong saja itumu. Nggak pantes kau jadi laki-laki..." Nara meluapkan emosinya, ia memaki mantan suaminya.
Arka berusaha menengahi, tapi wanita itu tak henti-hentinya merepet panjang. Mereka jadi pusat perhatian di tempat itu.
"Kau..." Adam sudah emosi. Ia tak terima semua perkataan Nara.
"Apa kau tidak berpikir, kenapa bersamamu aku tidak pernah hamil? Karena anak-anakku tidak sudi punya bapak sepertimu..." Nara menyela ucapan Adam. Ia sudah tidak bisa me-rem mulutnya.
"Dan perlu kau ingat!!! Kau dan aku sudah selesai. Nikmati hidupmu yang bahagia itu. Tapi jangan ikut campur dalam rumah tanggaku. Itu baru laki-laki. Bukan seperti kau sekarang, menjelekkanku didepan suamiku. Dasar sampah!!!" Maki Nara tanpa ampun.
Adam emosi dan mengangkat tangan. Ia akan menghajar wanita hamil itu. Tapi, Arka segera menahannya.
"Pergilah, Dam. Apa yang Nara katakan benar. Kau tak punya hak lagi padanya, apalagi ikut campur dalam rumah tangga kami. Pergilah!!!"
"Kau akan menyesal, Arka. Wanita itu iblis."
Nara mengambil cangkir dan menyiramkan isinya ke wajah Adam.
"Kau bilang aku iblis. Terus kau mau apa kalau aku iblis?!"
Bukan hanya melempar isinya, Nara melempar cangkir itu. Karena Adam menghindar, cangkir itu jatuh ke lantai.
"Adam, pergilah!!!" Bentak Arka yang sudah emosi. Adam masih memancing emosi istrinya.
"Dasar wanita tidak waras!!!" Maki Adam yang lalu pergi.
Setelah Adam pergi, Nara langsung mendudukkan diri di kursi seraya memegang hatinya yang terasa perih.
"Sayang, kamu tidak apa?" Tanya Arka khawatir. Emosi Nara tadi tidak terkontrol. Mungkin akan mempengaruhi kehamilannya.
"Mas..." Tangis Nara pun pecah. Ia sangat sedih sekali. Pernah mencintai pria seperti Adam. Pria yang hanya tahu mencari kambing hitam.
Nara pernah terpuruk beberapa saat. Dan mencoba bangkit dan menata hidupnya kembali. Dia sudah berusaha ikhlas merelakan masa lalu. Tapi, sekarang mantan suaminya malah ingin membuatnya kembali terpuruk.
"Sayang... Sudahlah." Arka memeluk Nara dan menenangkan istrinya itu.
"Kita pulang ya." Ajak Arka pelan.
Nara mengangguk. "Tapi, Mas..."
"Kenapa?"
"Sepertinya kita harus membayar ganti rugi..."
.
.
__ADS_1
.