
Bruak...
Adam menutup pintu mobil dengan kuat. Lalu pria itu berjalan memasuki rumah. Ia menuju dapur dan menenggak habis sebotol air dalam lemari es.
Pria itu meremas botol minum tersebut, merasakan gemuruh hatinya yang masih jelas terasa.
Mama dan adik-adiknya saling melirik melihat Adam. Mereka bingung, Adam pulang hanya sendiri, tidak membawa anaknya. Ke mana Mario?
"Ma-Mario mana Bang?" Tanya Rindu memberanikan diri. Yola tadi datang ke rumah sakit. Dan mungkin ponakannya dibawa wanita berambut pirang tersebut.
"Diam!" Bentak Adam kesal.
Dijawab dengan bentakan seperti itu membuat air mata Rindu jadi berlinang. Ia hanya bertanya saja, apa salah dia bertanya tentang Mario. Rindu pun memilih segera berlari masuk kamarnya.
"Adam, kamu kenapa Nak?" Tanya Mama. "Rindu hanya bertanya, kenapa kamu menjawabnya seperti itu." Sambung Mama kembali. Bagaimana pun, Adam tidak boleh melampiaskan kemarahannya. Apalagi pada adiknya yang tidak tahu apa-apa.
"Maafkan aku, Ma." Adam jadi merasa bersalah. Ia duduk di kursi meja makan sambil menutup wajahnya.
"Yola... menipuku, Ma." Adam pun memberitahu.
Mama menatap Adam dengan ekspresi tidak mengerti.
"Menipu bagaimana?" Mama memastikan kembali.
"Mario bukanlah anakku. Selama ini dia memanfaatkanku..." Adam menceritakan apa saja yang sudah Yola katakan tentang anak itu. Nafas Adam saja sudah naik turun menceritakan itu.
Mama merasa aneh. "Adam, Mama yakin Mario itu memang anak kamu."
Wajah Adam saat masih kecil sama percis seperti wajah Mario sekarang. Mana mungkin itu anak orang lain.
"Tidak, Ma." Adam menggeleng yakin bahwa itu bukan anaknya.
"Wajah kalian sangat mirip-"
"Tidak, Ma. Itu karena selama ini aku sering bersamanya. Maka sepertinya mirip denganku. Padahal sebenarnya dia bukan anakku." Adam memperjelas kembali. Ia meremas tangannya menahan emosinya yang telah dimanfaatkan Yola.
"Jadi di mana Mario sekarang?" Tanya Bily.
"Ku kembalikan pada Yola. Aku tidak sudi merawat anak orang lain."
"Apa sudah tes DNA Bang? Apa memang benar Mario bukan anakmu?" Tanya Bily kembali. Ia sependapat dengan Mamanya, bahwa Mario itu adalah anaknya Adam.
Adam mengangguk.
__ADS_1
Mama dan Bily saling melihat. Jika memang sudah tes DNA, berarti memang benarlah. Jika Mario bukan bagian dari keluarga mereka. Mau bagaimana lagi?
Mengambil Mario kembali tidak mungkin. Karena mereka tidak punya hak atas anak itu. Dan juga, Adam sepertinya sudah tidak menginginkan anak itu.
"Ma, Nara hamil. Ia sedang hamil anak kembar. Nara ternyata tidak mandul!!!" Adam kembali mengingat hal yang membuat hatinya kembali terasa terbakar.
"Na-Nara sudah hamil?!" Mama memastikan kembali perkataan Adam. Hati Mama senang mendengar kabar bahagia mantan menantunya tersebut.
"Ma, kenapa hidupku seperti ini!!!" Adam mengusap wajahnya kasar.
"Aku yang mandul, Ma. Ternyata selama ini akulah yang mandul." Adam mengusap wajahnya. Ia memukul-mukul tangannya ke meja. Ia pun berteriak histeris menerima kenyataan yang sungguh menghancurkan hatinya.
"Dokter mengatakan jika Bang Adam sehat dan tidaklah mandul. Sepertinya ada kesalah pahaman." Bily merasa ada yang aneh.
"Tidak, Bil. Aku memang mandul. Lihat... Bahkan Nara bisa mengandung anak dari pria yang belum lama ini menikahinya. Dan bersamaku..."
\=\=\=\=\=\=
"Yola... Apa-apaan kamu bawa anak ini kemari?" Tanya pria yang selama ini tinggal bersama Yola. Ia melihat Mario tidak senang.
"Mario. Namanya Mario dan dia adalah anakku." Jelas Yola mengelus kepala bocah yang sudah terlelap.
"Aku tahu dia anakmu. Tapi, kenapa dia bersamamu? Seharusnya dengan mantan suamimu itu."
Yola membawa pria itu keluar kamar. Jika mereka berdebat di kamar, putranya bisa terbangun.
"Aku tidak mau. Sudah aku katakan, aku tidak bisa merawat anak orang lain. " Jelas pria itu murka. Anak itu memiliki Ayah yang masih hidup. Jika ia anak yatim, lain lagi ceritanya.
"Mario adalah anakku. Dan dia harus bersamaku." Tegas Yola kembali. Ia tak akan melepaskan Mario. Mengambil anak itu dari Adam begitu sulit, penuh dengan tipu muslihat.
"Tidak. Aku tidak sudi."
"Sayang, ada apa?" Tanya seorang wanita keluar dari kamar sebelah.
Yola menatap tidak senang, pada wanita itu.
"Tidak apa. Kamu tidurlah. Nanti aku menyusul." Ucap pria itu menenangkan wanitanya.
Yola berdecih dan meremas tangannya.
"Kamu harus mengembalikan anak itu pada Ayahnya. Biarkan dia yang merawatnya. Pria itu harus bertanggung jawab." Pria selingkuhan Yola tetap ngotot tidak menerima Mario.
"Aku tidak mau membesarkan anak orang lain." Sambung pria itu kembali.
__ADS_1
"Hentikan!" Teriak Yola kesal. "Apa kau kira anak ini anakmu?"
Pria itu terdiam dan menatap tak percaya.
Yola masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
'Aku harus melindungi kalian. Mario dan kamu, Nak. Aku bisa merawat dan membesarkan kalian berdua, tanpa pria-pria tidak berguna seperti mereka...'
Yola mengambil koper dan memasukkan barang-barangnya. Ia berniat akan pergi jauh dan membesarkan Mario dan anak dalam kandungannya sendiri.
Menurutnya untuk apa dia tetap tinggal bersama pria yang tidak bisa menerima putranya, Mario. Ia tidak mau berpisah dengan kedua buah hatinya itu.
Saat tengah malam, Yola keluar dari kamar. Ia melihat ke teras dan tidak ada mobil pria itu.
Wanita itu menghembuskan nafas pelan. Pria selingkuhannya itu telah pergi, dengan wanita lain.
Yola merasa bertahan bersama pria itu pun percuma. Ia bisa makan hati. Selingkuhannya bisa pulang membawa wanita-wanita berbeda setiap hari.
Yola mencoba bertahan karena memikirkan anak dalam kandungannya. Bersama pria itu hidupnya dan anak dalam kandungan akan terjamin. Tapi...
Sepertinya karma terlalu cepat datang padanya. Ia menyelingkuhi Adam dan kini ia diselingkuhi oleh pria selingkuhannya. Dan yang lebih parah, malah pria itu membawa selingkuhannya ke rumah mereka. Hingga bermesraan di depan matanya.
Yola tak mau terus begitu, ia lebih baik pergi menjauh saja. Dari pada makan hati terus.
'Nara... Maafkan aku!!!'
Yola yakin, semua ini karena dia memaksa masuk dan merusak pernikahan Nara. Ia seperti terkena karma.
Nara saat itu hanya menamparkan. Saat di mana Adam membawa wanita lain padanya. Yola memaklumi, Nara meluapkan kekesalan dan sakit hatinya.
Nara mungkin masih tidak menyukainya, terlihat saat mereka bertemu. Sikap Nara tidak suka dengannya.
Tapi wanita itu, tidak pernah membalas dendam ataupun berusaha menghancurkan rumah tangga wanita yang telah merebut suaminya.
Yola saat itu merasa menang dalam segala hal. Tapi itu tidak berlangsung lama. Hidup yang dijalaninya seperti di neraka. Dan tak ada kebahagiaan di dalamnya. Padahal Nara tidak ada melakukan apapun padanya.
Bus mulai melaju sedang membelah jalan malam. Yola menghapus air matanya. Ia akan pergi jauh dari kota tersebut dan memulai hidup baru di tempat yang baru.
Ia melihat Mario yang masih tenang terlelap. Dan menyelimuti Mario kembali dengan jaket, udara malam terasa begitu dingin.
'Maafkan Mama ya anak-anakku...'
.
__ADS_1
.
.