KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 52 - Aku Merindukanmu


__ADS_3

"Kenapa? apa rasanya tidak enak?" Tanya Arka yang saat ini sedang sarapan bersama Nara di ruangannya.


Nara menggeleng. Bukan karena rasanya, tapi karena perut yang sudah tidak sanggup menerima makanan.


"Sa-saya tadi sudah sarapan di rumah, Pak." Ucap Nara pelan. Memegang donat yang baru digigit sedikit.


"Besok-besok kalau ke kantor jangan sarapan dulu. Biar kita sarapan bersama." Saran Arka.


Nara menggeleng lemah.


"Kenapa?" Arka bingung melihat gelengan kepala Nara.


"Sa-saya tidak bisa jika keluar rumah tidak sarapan terlebih dahulu, Pak."


Arka mengangguk mengerti. "Ya sudah, tidak usah sarapan bersama. Yang penting kita makan siang bersama di kantin." Ucap Arka segera. Pria itu juga merasa sedikit pusing kelamaan sarapan. Biasanya sebelum ke kantor energinya sudah terisi.


Nara mengangguk. Ia juga senang akan makan bersama di kantin, tanpa sembunyi-sembunyi keluar dari kantor.


"Nara, bisa kamu ambilkan obat?!"


"Apa anda sakit, Pak?" Nara dengan repleks menempelkan tangan di dahi pria itu.


"Aku tidak demam, sayang. Aku sedikit pusing." Arka meraih tangan Nara dari dahinya.


"Apa sih pak ngomong sayang-sayang!" Nara merasa malu dan kikuk, mendengar Arka memanggilnya begitu.


"Sudah kukatakan kalau sedang berdua, jangan panggil aku Pak. Dan panggilan sayang itu... karena aku sayang sama kamu." Ungkap Arka jujur menatap Nara.


"Sa-saya ambilkan obat dulu. Tunggu sebentar ya, Pak." Nara bergegas pergi. Bertatapan dengan pria itu tak baik untuk kesehatan hatinya.


Kini, debaran hatinya terasa makin kencang. Seakan ingin keluar dari tempatnya.


Tak lama Nara kembali dengan obat dan segelas air hangat.


"Pak, minum obatnya." Nara memberikan obat dan gelas di tangan Arka.


"Terima kasih, sayang." Ucap Arka lalu menenggak obatnya.


"Saya permisi, Pak." Nara akan kembali ke meja kerjanya saja.


Tapi, Arka menahan tangan wanita itu.


"Mau ke mana?"


"Saya mau lanjut kerja, Pak." Jawab Nara menunjuk ke arah pintu.


"Sini, temani aku sebentar." Arka menarik Nara kembali untuk duduk.


"Pak..." Nara menghembuskan nafas naik turun, saat Arka menyandarkan kepala di bahunya.


"Sebentar saja." Arka masih menyandarkan kepalanya. Tangannya pun perlahan meraih tangan Nara. Dan menggenggamnya erat.


Nara hanya terdiam menikmati debaran hatinya yang berpacu makin cepat. Ia melirik sekilas ke arah Arka. Pria itu sudah tertidur.


Nara meraih ponselnya. Ia iseng memfoto genggaman tangan mereka. Ia senyum-senyum sendiri melihat hasil jepretannya.


'Sepertinya pak Arka pria baik. Semoga dia benar-benar pria baik yang perkataannya bisa dipercaya!'


\=\=\=\=\=\=


"Pak... Pak Arka bangun." Sam membangunkan atasannya yang tertidur pulas di sofa.


Arka membuka mata lalu mendudukkan diri. "Di mana saya?" Tanya Arka yang masih mengumpulkan jiwa raganya.

__ADS_1


"Di kantor, Pak."


Arka mengangguk. Benar, ia masih di kantor. "Di mana Nara?" Tanya Arka kembali. Ia ingat terakhir kali bersandar pada wanita itu sebelum terlelap.


"Nara di luar, Pak. Apa mau saya panggilkan?" Tanya Sam.


"Tidak usah." Arka segera menolak.


"Hari ini ada rapat di luar kantor. Sekitar setengah jam lagi." Sam memberitahu.


"Sudah kamu persiapkan semuanya?"


"Sudah, Pak."


"Baiklah, ayo kita berangkat. Kita tidak boleh terlambat." Arka segera berdiri dan melangkah keluar ruangannya.


"Nara. Jika ada yang mencari saya, katakan saya sedang di luar."


"Baik, Pak."


Setelah mengatakan hal tersebut, Arka pun segera melangkahkan kakinya kembali.


'Apa pusing kepalanya sudah sembuh?!' Nara masih melihat Arka yang berjalan makin menjauh dan hilang di balik tembok.


Saat jam makan siang, Nara datang sendiri ke kantin. Ia makan siang sendirian. Padahal tadi pagi, Arka mengatakan akan makan siang bersama. Tapi, pria itu sedang sibuk.


Pak Bos: Sayang, maaf...


Pak Bos: aku masih belum selesai rapat


Pak Bos: Kamu makan duluan saja


Pak Bos: Makan yang banyak


Nara mendengus membaca pesan kiriman pria itu. Ia berniat membalas pesan Arka. Dan berpikir sejenak, kira-kira mau mengetik apa.


'Apa yang kuketik??' Nara tanpa sadar mengetik pesan yang sangat aneh.


Nara mendadak bingung sendiri. Mau hapus pesan malah terkirim.


'Astaga!!! Bagaimana menghapusnya?!'


Pesan yang sudah terkirim bagaimana menghapusnya. Nara menenangkan dirinya. Ia harus tenang agar dapat berpikir jernih.


Nara menghela nafas lega. Bukan hanya pesan tersebut saja yang dihapus. Nama Arka juga hilang dari list obrolannya.


'Sudah terhapus semua!'


Sementara di sebuah restauran. Arka sedang makan bersama rekan bisnisnya.


Ting


Pria itu melirik ponselnya. Ia tersenyum tipis. Mungkin itu balasan pesan dari wanitanya.


Arka meraih ponsel lalu membukanya.


Nara: Aku merindukanmu


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


Hati Arka berdebar kencang membaca satu pesan tersebut. Hanya sebuah kata-kata saja sanggup membuat hatinya berdebar. Bagaimana jika Nara mengatakannya secara langsung?


Arka ingin langsung berlari menghampiri Nara, tapi situasinya tidak memungkinkan. Ia sedang makan siang. Jika ditinggal begitu saja, akan sangat tidak sopan.


"Semoga kerja sama kita bisa berjalan lancar." Mereka menyalami Arka dan Sam.


Arka bersorak dalam hati. Setelah penantian selama sejam lebih, akhirnya selesai juga pertemuan yang sangat lama ini.


"Ayo, Sam kembali ke kantor." Arka dengan semangat berjalan menuju parkiran mobilnya.


Sam mengangguk dan mengikuti pria itu dari belakang. Langkah kakinya lebar dan begitu cepat. Sepertinya Arka sedang terburu-buru.


"Biar saya saja yang bawa." Arka meminta kunci mobil.


"Ta-tapi, Pak." Sam merasa segan.


"Cepat. Jangan membuang waktu." Arka memaksa Sam.


Tak lama...


Sam berdoa dalam hati. Semoga ia masih diberikan kehidupan yang panjang dan dapat merasakan gajinya bulan depan.


Arka melajukan mobil cukup kencang. Salip kanan salip kiri. Sam hanya dapat berpegangan dan berdoa panjang.


Sam menghela nafas lega, setelah sampai di parkiran kantor. Ia masih mengumpulkan jiwa raga yang masih berhamburan.


Arka keluar dari mobil dan berjalan setengah berlari memasuki kantor.


'Pasti mau ketemu janda itu? Sepertinya sebentar lagi status Nara akan berubah.' Sam menggelengkan kepala melihat Arka yang sudah menghilang.


Dengan ngosh-ngoshan Arka menghampiri meja Nara.


"Akan saya bawakan minum." Nara berinisiatif melihat atasannya seperti kehausan.


Arka pun menunggu di ruangan sambil menormalkan jantungnya yang sport dadakan.


"Pak, ini minumnya."


"Terima kasih." Arka menenggak sampai habis.


Arka meletakkan gelas di meja dan mulai mendekati Nara.


"Pak, anda kenapa?" Nara perlahan mundur melihat pria itu melangkah maju.


"Katakan sekarang. Aku ingin mendengarnya." Arka ingin mendengarkan secara langsung.


Nara menunjukkan wajah bingung. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Arka.


"Nara... Please!" Arka sangat ingin mendengarnya.


"Saya tidak mengerti maksud anda?"


"Kamu berpura-pura. Katakan seperti pesan yang kamu kirim!" Pinta Arka.


Nara menggeleng, ia sama sekali tidak mengerti. "Pesan apa?"


"Ini." Arka mengeluarkan ponsel dan menunjukkan pesan obrolan mereka.


'Astaga!!! Kenapa bisa terkirim? Tadikan sudah aku hapus?!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2