
Nara turun dari ojek dan membayar ongkosnya. Setelah itu langsung berlari memasuki kawasan kantor. Ia harus cepat, mengingat 5 menit lagi jam masuk kantor.
Nara tidak ingin terlambat. Itu bisa memberi penilaian buruk dalam kinerjanya. Apalagi jika atasannya sampai duluan sebelum dirinya.
Wanita itu memasuki lift dan kaget saat melihat orang-orang yang berada di dalam sana.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Nara tersenyum canggung melihat Arka dan Sam yang ternyata ada di lift itu. Ada juga beberapa karyawan di sana.
"Pagi juga, Nara." Jawab Sam dengan senyum lebar.
Berbeda dengan Arka, pria itu melirik sekilas dengan wajah datarnya.
'Aku terlambat atau ontime ya?' Batin Nara melihat ekspresi Arka yang datar seperti jalan tol.
Satu persatu karyawan turun sesuai lantai tempatnya bekerja. Dan tepat di lantai 8.
"Saya duluan, Pak." Pamit Nara menundukkan kepala sejenak.
Arka dan Sam terdiam melihat Nara keluar dari lift itu. Padahal masih ada 2 lantai lagi, kenapa wanita itu turun di lantai 8?
Langkah kaki Nara terhenti saat melihat sekitarnya.
'Kok rame?' Batin Nara sadar. Biasanya di lantai tempatnya bekerja sepi dan tak banyak orang berlalu lalang.
Nara membalikkan tubuhnya, sepertinya ia salah, ini bukan di lantai tempat kerjanya.
"Masih belum sampai. Masih ada 2 lantai lagi." Sam memberitahu sambil mengangkat telunjuknya.
"I-iya, Pak." Nara gugup dan segera masuk ke dalam lift.
Sepanjang di lift, Nara menundukkan kepala. Ia benar-benar malu, bisa-bisanya ia salah lantai.
Mana ada atasannya lagi. Penilaian Arka pasti berkurang padanya. Ia takut jika dipecat karena keteledorannya.
Sam tersenyum tipis, berusaha untuk menahan tawa. Nara sangat lucu. Sudah salah lantai. Malah pamitan pula padanya. Padahal mereka bekerja di lantai yang sama.
'Janda menggemaskan!' Batin Sam.
Sementara Arka menggelengkan kepala. Ada saja tingkah sekretarisnya itu. Sudah berapa hari Nara di kantor ini, masih tak tahu di lantai berapa dia bekerja.
Saat sampai di lantai yang dituju, Nara masih menundukkan kepala. Menunggu Arka dan Sam dahulu yang keluar lift. Baru Nara mengikuti dari belakang.
\=\=\=\=\=\=
Arka sedang fokus pada layar komputer. Tapi suara deringan ponsel mengganggu fokusnya.
__ADS_1
"Halo, Mom." Jawab Arka setelah ponsel menempel di telinganya.
"Arka, pulang sekarang." Pinta wanita paruh baya dari seberang sana.
"Lah, Arka pulang jam 4 Mom." Arka mengingatkan jam kerjanya.
"Pulang sekarang. Tolong Mommy." Ucap Wanita itu dengan nada lemah.
"Kenapa Mom? Apa Mommy sakit?" Tanya Arka seraya berdiri. Perasaannya tak enak mendengar suara lemah dari ibu kandungnya.
"Makanya kamu pulang sekarang, Arka. Pulang, Nak!!!" Melas Mommy.
"Tunggu sebentar biar Arka telepon dokter dulu." Wajah pria itu sangat gusar.
"Nggak usah. Mommy mau kamu pulang. Cepat Arka." Paksa wanita itu.
"Iya iya. Arka pulang. Mommy-"
Tut
Panggilan telepon itu telah berakhir. Arka bergegas keluar ruangan. Ia harus segera pulang.
"Nara, batalkan semua rapat hari ini." Pinta Arka.
"Baik, Pak." Jawab Nara cepat. Ia bingung melihat Arka segera berlari menuju lift.
"Kenapa nggak diangkat?!" Dengus Arka kesal. Ia menelepon nomor rumah, tapi tak ada yang mengangkatnya.
Arka jadi makin kalut. Pikirannya makin mulai memikirkan hal yang tidak-tidak.
Sampai rumah, Arka memarkirkan mobilnya asal. Ia turun dari mobil dan segera berlari memasuki rumah.
"Mom, Mom... Mommy dimana?" Panggil Arka mencari-cari.
"Mom, kenapa? Apa ada yang sakit?" Tanya Arka memutar tubuh wanita paruh baya yang berada di dapur.
"Ada apa, Mom? kenapa menyuruhku segera pulang?" Tanya Arka kembali. Ia melihat Mommynya baik-baik saja. Malah wanita itu sibuk memasak makanan.
"Coba kamu rasa ini dulu." Wanita paruh baya itu tersenyum sambil tangannya menyendokkan makanan.
"Mom, ada apa?" Arka menjauhkan sendok itu. Ia tak mau mencicipi makanan.
"Mommy tidak apa-apa." Jawab Mommy santai.
"Terus kenapa menelepon Arka seperti itu?" Tanya Arka dengan suara bergetar. Wajahnya merah menahan amarah.
__ADS_1
"Itu-" Melihat ekspresi Arka sekarang. Mommy jadi merasa bersalah. Sudah menyuruh putranya untuk segera pulang.
"Itu apa?" Tanya Arka serius.
"Calon menantu Mommy sebentar lagi datang. Tolong kamu terima dia ya. Dia itu baik, cantik-"
"Mom!!!" Arka meninggikan suaranya. Ia tak percaya Mommynya menyuruhnya pulang untuk hal seperti itu. Padahal Arka sangat khawatir karena suara Mommy yang begitu lemah dan kesakitan saat meneleponnya.
"Astaga!!!" Arka menutup wajahnya. Ia sampai ngebut di jalan, agar bisa segera pulang.
Ternyata hanya akal-akalan Mommy saja.
"Arka, maafin Mommy ya." Melas Paruh baya itu.
"Aku pulang karena khawatir. Aku pikir tadi Mommy sakit-"
Mommy segera memeluk Arka cepat. Mengelus bahu putranya yang sudah bergemuruh. Ia tahu Arka sangat menyayangi dirinya. Pasti tadi putranya sangat khawatir pada keadaannya.
"Mom, jangan begini lagi. Jangan becanda seperti ini lagi. Nggak lucu!!!" Arka memberitahu Mommynya. Ia kesal dibohongi seperti ini.
"Maaf anakku yang tampan. Mommy cuma mau kamu cepat pulang. Mommy mau kenali kamu sama anak teman arisan. Kalau nunggu sampai kamu pulang kantor, tak ada waktu. Ia ada urusan bisnis di luar negeri." Jelas Mommy panjang. Arka pasti akan menolak mentah-mentah untuk pulang cepat, jika mengatakan tentang perjodohan. Makanya Mommy membuat alasan seperti itu.
Arka menghembuskan nafas kasarnya berkali-lagi. Entahlah, Mommynya memang sesuatu.
"Aku nggak ada waktu untuk menemui wanita itu. Aku mau kembali ke kantor, masih banyak yang harus ku kerjakan, Mom." Arka akan kembali ke kantor saja. Ia pulang karena mengkhawatirkan mommynya, bukan untuk melakukan perjodohan.
"Arka! kamu lihat dulu. Kalau nggak cocok sama kamu, Mommy nggak akan maksa." Wanita itu menahan tangan putranya.
"Sudah kubilang. Arka akan menduda selamanya, Mom." Arka mengingatkan kembali. Ia benar-benar tak mau berurusan dengan wanita lagi.
"Ayolah, Nak. Kamu mau Mommymu ini cepat mati." Ancam Mommy berwajah serius.
"Jangan bicara sembarangan, Mom." Arka mengingatkan. Ibunya itu ceplos saja kalau bicara.
"Mommy ingin kamu menikah dan mempunyai anak. Mommy ingin menggendong cucu, Arka. Kalau kamu terus menduda, mending Mommy nyusul Daddy kamu saja." Ancam Mommy kembali. Putranya ini sangat keras kepala.
"Mom!!!" Arka memijat pelipisnya. Ia merasa semakin tua, Mommynya ini bertambah manja dan tukang ancam. Selalu memaksa dirinya untuk menuruti semua keinginan Mommynya.
"Baiklah baiklah. Tapi kalau aku nggak cocok, jangan Mommy paksa." Arka terpaksa mengalah. Jika tidak menuruti, ia bisa dikutuk jadi batu.
"Ok, anakku sayang." Wajah Mommy sangat bahagia. Ia berharap Arka akan menerima perjodohan ini.
'Kalau nggak cocok, masih banyak stok lainnya!'
.
__ADS_1
.
.