
'Adam?'
Arka membaca pesan dari Adam, yang isinya bertanya tentang kabar. Karena penasaran, Arka menekan profil Adam. Ia ingin tahu siapa Adam itu. Apa Adam itu orang yang dikenalnya atau ada Adam-Adam yang lain yang sedang mendekati Nara.
Deg
Adam yang bertanya tentang kabar pada Nara, adalah Adam temannya.
Arka segera meletakkan kembali ponsel Nara di atas meja. Saat melihat Nara berjalan menuju ke tempatnya.
'Ada hubungan apa Adam dengan Nara?' Batin Arka bingung sendiri.
Dari isi pesan yang dikirim Adam. Mengatakan seolah mereka telah lama tidak bertemu.
Apa Adam teman lama Nara? Teman waktu sekolah, atau tetangga sebelah rumah?!
Apa Adam itu pria yang sedang dekat dengan Nara. Setelah lama ghosting, pria itu muncul kembali?
Atau...
'Apa dia mantan suaminya?'
Arka bergelut dengan pikiran yang menebak-nebak siapa Adam.
"Pak Arka." Panggil Nara menyentuh lengan Arka. Pria itu dari tadi hanya diam melamun.
"Hah, iya?!" Arka tersadar dan kaget melihat Nara yang sudah duduk di sebelahnya.
"Kenapa melamun, Pak?" Tanya Nara.
"Hah, tidak." Sanggah Arka kembali.
"Apa anda sakit?" Nara meletakkan tangannya di dahi Arka. Merasakan suhu pria itu.
Arka terdiam dengan perlakuan Nara. Ia menatap Nara sejenak.
'Apa Adam mantan suamimu?' Arka hanya bisa bertanya dalam hati.
"Aku tidak demam." Arka meraih tangan Nara dan menggenggamnya.
"Ayo, kita nonton." Ajak Arka. Nara mengangguk senang.
Arka menggandeng Nara menuju bioskop. Ia tersenyum karena Nara membalas genggaman tangannya.
Sampai di bioskop, Arka membeli tiket lengkap dengan cemilannya. Nara akan meraih cemilan yang dibawa Arka.
Tapi, pria itu menjauhkannya. "Kamu pegang ini saja." Hanya memberikan tiket.
Beberapa waktu berlalu. Film sudah setengah berjalan. Arka melirik Nara yang duduk di sampingnya.
'Apa begitu menyedihkan?!'
Pria itu menggeleng. Menurutnya film yang mereka tonton biasa saja. Kisah sedihnya juga biasa-biasa saja.
Tapi, Nara sampai berlinang air mata. Seperti ada yang meletakkan bawang di sekitarnya.
Arka meraih kepala Nara dan menyandarkan di dadanya. Sambil mengelus-elus kepala Nara dengan sayang. Mungkin memang begitu wanita, selalu memakai perasaan.
"Cuma film. Ngapain kamu nangis?!" Bisik Arka pelan.
"Sedih, Pak." Jawab Nara pelan.
__ADS_1
"Kamu saja yang terlalu baper." Ledek Arka.
"Anda saja yang nggak fokus nontonnya, Pak." Balas Nara pelan, meledek Arka sambil menghapus air matanya.
Bagi Nara film yang sedang mereka tonton sangat menyedihkan. Tentang kisah cinta yang tak berjodoh. Sepertinya film itu akan sad ending.
Kan...
Nara mengeratkan pelukannya saat film telah berakhir. Ia terisak-isak menangis pelan. Akhir film yang terlalu menyedihkan.
Arka kembali berdebar saat Nara memeluknya. Hatinya nggak bisa diajak kompromi. Nara pasti merasakan debarannya.
Berbeda dengan Arka. Nara tampak menikmati setiap debaran hati Arka.
Deg... Deg... Deg...
Begitulah suara debaran hati Arka yang didengar Nara.
"Sayang." Arka berusaha tenang. Meski ia sedikit malu, Nara sering mendengar debaran hatinya.
"Itu-itu film sudah berakhir." Arka mengingatkan Nara. Film telah selesai, Nara malah menangis.
"Prianya kok meninggal sih?! Bagaimana wanita itu akan menjalani hidup tanpanya." Nara kembali mengingat film yang baru mereka tonton.
"Nara... Itu cuma film. Ayo kita keluar. Sudah sepi." Ajak Arka sambil melihat sekitar. Para penonton sudah mulai berkeluaran dari ruang bioskop.
Nara menganggu dan melihat sekitar juga. Benar, penonton sudah mulai sepi.
Arka kembali menggandeng Nara. Kembali bergandengan tangan keluar dari bioskop.
'Apa aku tanya saja Adam itu siapa?' Arka mulai teringat pada Adam. Rasa penasaran tiba-tiba timbul.
"Pak, sebentar ya. Saya mau ke toilet." Pamit Nara. Gara-gara menangis karena film, pasti sekarang wajahnya berantakan. Ia harus membenarkan make up-nya. Agar tetap tampil cantik di samping Arka.
Arka mengangguk. Ia jadi tak bertanya. Arka meraih ponsel dan melihat sosial media. Ia penasaran dengan hubungan Adam dan Nara.
Arka mendengus, tak ada apapun tentang Nara di sana. Hanya ada foto Adam dengan keluarga barunya.
Pria itu makin bingung. Nara itu sebenarnya punya hubungan apa dengan Adam?
Apa mereka pernah menjadi pasangan suami istri?
'Aku harus cari tahu!'
"Halo... Saya membutuhkan informasi tentang seseorang..." Arka menelepon seseorang.
Tak lama Nara keluar dari toilet. Ia tersenyum melihat Arka yang juga tersenyum ke arahnya.
Arka kembali menggandeng Nara. Mereka kembali berkeliling Mall itu.
"Mas, lihat apa?" Tanya Nara saat melihat Adam berhenti di depan toko perlengkapan bayi.
"Ini, strollernya bagus. Kita beli satu ya." Mata Adam berbinar-binar melihat stroller itu yang terpanjang di depan toko.
"Kita beli warna biru tua saja. Jadi kalau anak kita laki-laki atau perempuan, bisa memakainya."
Mata Nara mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Adam. "Aku belum hamil, Mas."
Adam terdiam dan menoleh menatap mata Nara yang sudah mewek.
"Ya... Nanti saat kamu sudah hamil, kita sudah punya. Jadi nggak sibuk cari-cari lagi." Alasan Adam meyakinkan Nara. Ia terlalu senang, hingga tak menyadari perasaan Nara.
__ADS_1
"Tapi, nggak usah dibeli sekarang. Nanti saja kalau anak kita sudah ada di sini." Adam mengelus perut rata Nara.
Nara pun mengangguk pelan.
"Nara... Kenapa berhenti?" Tanya Arka membuyarkan lamunan wanita itu. Pandangan Nara dari tadi tertuju pada toko perlengkapan bayi.
Nara menggeleng. "Nggak apa, Pak. Kita pulang, Pak."
"Kenapa? kamu sakit?" Tanya Arka khawatir.
"Agak sedikit pusing saja, Pak."
"Duduk di sini." Arka mendudukkan Nara di bangku. "Tunggu di sini sebentar."
"Ta-tapi, Pak..." Nara tak sempat berbicara. Arka sudah berlari pergi. Ia bingung mau ke mana pria itu dan menyuruhnya menunggu sebentar.
Nara melihat-lihat sekitar, sambil menunggu Arka kembali. Seketika pandangannya terfokus pada seseorang yang sedang berlari. Tergesa-gesa melewati orang-orang yang berjalan.
"Nara... Ini minum obatnya. Pereda pusing." Arka yang ngosh-ngoshan memberikan bungkusan yang berisi obat.
Deg
Deg
Deg
Nara merasakan hatinya berdebar-debar. Perlakuan Arka membuatnya terpaku.
"Ayo di minum." Arka mendudukkan diri di samping Nara.
"Te-terima kasih, Pak." Ucap Nara gugup menerima obatnya. Ia pun menenggaknya cepat.
"Kita pulang saja, ya." Ajak Arka. Nara sedang sakit.
Nara mengangguk. Dan...
"Astaga, Pak!!! Apa yang anda lakukan?" Nara kaget mendadak Arka menggendongnya.
"Sudah, tenanglah."
Tenang bagaimana?!
Tatapan para pengunjung Mall tertuju pada mereka. Mereka menjadi pusat perhatian.
"Pak." Nara menggeliat minta diturunkan. Ia sangat malu dengan perlakuan Arka.
"Kamu sedang pusing, jika makin sakit bagaimana? Aku nggak mau kamu sakit, Nara." Arka tidak memperdulikan penolakan Nara.
Mendengar Arka, Nara terdiam menatap wajah pria itu. Wajah Arka yang tampak begitu mengkhawatirkannya.
"Pak Arka..." Panggil Nara pelan.
"Pejamkan saja mata kalau kamu malu. Sebentar lagi kita sam-"
"Aku menyukaimu..."
.
.
.
__ADS_1