
"Mas..." Nara menepuk pelan pipi Arka yang terlelap di sampingnya.
"Iya, sayang. Kenapa?" Arka langsung terbangun. Dan melihat wajah pucat sang istri.
"Mas, perutku sakit." Nara memegangi perutnya yang sudah besar. Sepertinya buah hati kembarnya akan terlahir.
"Sayang, kamu mau melahirkan! Bagaimana ini?" Arka tampak bingung. Ia pun bangkit dari tempat tidur.
Pria itu akan berlari ke luar kamar, namun ia menghampiri Nara lagi. Dan memeluk istrinya. Menenangkan Nara sejenak.
"Kita ke rumah sakit, ya."
Nara pun mengangguk. Arka pun berlari ke luar kamar. Ia harus memberitahu Mommynya. Ia bingung harus bagaimana, jika sendirian.
"Mom... Mom..." Arka mengetuk pintu kamar. "Nara sepertinya akan melahirkan. Bagaimana ini?"
"Apa lagi bawa ke rumah sakitlah!" Mommy pun segera berjalan ke kamar Arka.
"Arka... Telepon ambulan!!!" Ucap Mommy melihat sang menantu meringis kesakitan. Dari kaki Nara sudah mengalir cairan.
Arka pun menggaruk kepalanya, ia mencari ponselnya. Ia mendadak lupa di mana meletakkannya.
"Ini." Mommy menyerahkan ponsel Arka. Ia menggeleng melihat Arka yang bingung sendiri.
Tak lama, Nara sudah berada di rumah sakit. Ia sudah di ruang persalinan.
"Sayang..." Arka menatap Nara yang sudah berkeringat. Wajah istrinya menahan sakit.
"Mas... aku akan melahirkan anak-anak kita." Bisik Nara lirih. Perasaannya takut, mengingat ia kali pertama dalam hidupnya.
Arka mengangguk. "Iya, sayang. Kamu akan menjadi seorang ibu."
Pria itu menghapus air mata Nara yang terus berlinang. Istrinya begitu sangat kesakitan.
Dokter memberi instruksi pada Nara untuk mengikutinya. Nara pun menurut.
"Ayo... Ibu... sedikit lagi..."
Nara menarik nafas lalu membuangnya. Menarik nafas lagi dan membuangnya. Keringat dan air mata membasahi wajahnya.
"Sayang, kamu bisa. Aku mencintaimu!" Arka berusaha mendukung Nara, meski sebenarnya ia ingin pingsan saja.
Mendengar kata cinta Arka, membuat Nara membuka matanya. Ia tersenyum sendu melihat suaminya. Dua kata itu membuatnya melupakan sedikit rasa sakitnya.
__ADS_1
"Kamu bisa sayang."
Nara mengangguk. Ia mencekam kuat tangan Arka, merasakan sakit yang sangat luar biasa. Tulang-tulang seperti akan berlepasan.
"Mas Arka!!!" Teriak Nara.
Oek oek oek...
Tangisan bayi pun menggema di ruangan itu.
"Mas Arka!!!" Nara menangis saat mendengar suara yang begitu dirindukannya. Suara tangisan bayi yang membuatnya lupa akan kesakitannya.
"Sayang, kamu luar biasa!!!" Arka menkecupi seluruh wajah Nara. Ia bernafas lega, satu anaknya telah lahir.
"Selamat ibu, bayinya yang lahir pertama laki-laki." Dokter memberitahu Nara.
Nara mengangguk pelan. Lalu tiba-tiba ia menggenggam tangan Arka lagi.
"Ayo Bu... adiknya sepertinya tidak sabar untuk melihat Mama dan Papanya." Ucap Dokter menyemangati wanita itu. Nara akan melahirkan anak keduanya.
Nara kembali merasakan sakit yang luar biasa itu lagi. Tak lama bayi kedua pun lahir. Jarak anak pertama dan kedua Nara hanya selisih 5 menit.
Arka memeluk Nara saat terdengar suara tangisan anak keduanya. Perasaannya campur aduk. Ia senang memiliki anak. Tapi, ia tidak tega melihat Nara begitu kesakitan melahirkan anak-anaknya. Bukan sekali, bahkan dua kali.
Nara sudah berkorban jiwa dan raga bahkan nyawa untuk melahirkan anak-anaknya. Jadi, ia tidak boleh menyakiti hati istri tercintanya.
"Mas Arka..." Panggil Nara tersenyum geli. Kali ini rasa sakit Nara hilang karena mendengar janji-janji suaminya.
"Terima kasih, Mas." Nara merangkup wajah suaminya yang sudah berkaca-kaca.
"Sayang, aku seharusnya yang berterima kasih sama kamu." Air mata Arka tumpah juga.
"Terima kasih karena sudah mencintaiku dan melahirkan anak-anak kita."
"Mas Arka cengeng." Nara mengusap air mata suaminya.
"Kamu juga." Arka juga mengusap air mata sang istri.
\=\=\=\=\=\=
"Arka... lihat cucu Mommy, hidungnya mirip banget sama Daddymu." Mommy menggendong cucu laki-laki.
Bunda menggendong cucu perempuan. "Bu, kita punya langsung 2 cucu ya. Sepasang lagi."
__ADS_1
"Iya, Bu. Imut-imut banget mereka." Mommy mewek melihat cucu-cucunya.
Nara tersenyum haru. Ia masih tidak percaya diberikan anugerah ini. Sepasang bayi yang begitu menggemaskan.
"Sayang, apa masih sakit?" Tanya Arka masih khawatir. Ia menggenggam tangan istrinya.
"Tidak, Mas." Nara menggeleng. Rasa sakit itu sudah hilang di hempas kebahagiaan saat ini.
"Mau minum?" Tawar Arka. Nara pun mengangguk. Nara pun minum air yang diberikan suaminya.
"Nara sayang, cucu Oma juga haus ini." Mommy memberikan bayi mungil itu pada Nara.
Nara pun pelan-pelan menyusui bayinya. Sambil diberi saran oleh mertua dan Bundanya yang lebih pengalaman.
'Pasti dia sangat haus!' Batin Arka melihat bayinya itu.
"Sayang, anak kita sepertinya sangat kehausan. Kasih minum es campur boleh nggak?"
Pletak
"Kamu jangan yang nggak enggak-enggak lah, Arka. Anak bayi itu minum susu, bukan es campur." Omel Mommy pada pertanyaan nyeleneh putranya.
"Aduh, Mom." Arka mengusap kepalanya yang kena tokok. "Akukan cuma tanya Mom. Anakku sepertinya sangat haus. Mungkin minum es campur sangat menyegar-"
Arka diam. Tanduk Mommynya sudah muncul.
Nara dan Bunda jadi terkekeh geli. Ada-ada saja perkataan Papa baru ini.
"Awas kalau kamu kasih cucu kembar Mommy yang aneh-aneh." Mommy mewanti-wanti.
"Bun... boleh aku menggendong putriku?" Tanya Arka mengalihkan pembicaraan.
Dengan hati-hati, Arka menggendong putrinya. Ia memandangi wajah putri kecilnya yang sedang bobok dalam gendongannya.
"Sayang Papa. Kamu lapar? kamu mau makan pizza?" Arka melirik Mommynya yang sudah menatapnya tajam.
"Arka!!!"
.
.
.
__ADS_1