KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 90 - Kembar?


__ADS_3

Nara bangun pagi dengan senyum mengambang.


"Selamat pagi anak Mama." Sapa Nara mengelus perutnya. "Kamu lapar ya, Nak? Kita buat makanan ya."


Nara bangkit dari tempat tidur. Ia menggeleng melihat suaminya masih bergulung dengan selimut. Nara pun berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu ke dapur. Ia akan membuat sarapan, seperti biasanya.


"Nara... Kamu ngapain, Nak?" Tanya Mommy melihat menantunya sibuk di dapur.


"Mau buat sarapan, Mom. Mommy mau makan apa biar Nara masakan?" Tanya Nara.


"Tidak ada masak-masak. Mulai sekarang, kamu tidak boleh memasak lagi." Mommy menarik menantunya dari dapur.


"Ta-tapi, Mom. Nara mau buat sarapan."


"Tidak usah. Sudah ada yang membuatkan sarapan, makan siang dan makan malam. Kamu tidak boleh ke dapur lagi. Kamu jangan kecapekan, Mommy nggak mau cucu pertama Mommy kenapa-kenapa." Ucap wanita paruh baya itu mengingatkan.


"Mom-" Rengek Nara.


"Sudah, kamu banguni Arka sana!!!" Mommy menyuruh Nara meninggalkan dapur. Ia tidak mau melihat Nara memasak lagi.


'Naik turun tangga, capek juga!' Mommy melihat menantunya yang pelan-pelan menaiki tangga.


Nara dengan wajah sendu masuk kembali ke dalam kamar. Arka yang baru bangun bingung melihat istrinya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Arka mendudukkan diri di tempat tidur.


"Aku nggak boleh ke dapur lagi sama Mommy, Mas." Nara tadi ke dapur dan ingin memasak. Tapi, wanita paruh baya itu tidak mengizinkannya.


"Mommy cuma nggak mau kelelahan. Sudah... Ayo, kita keluar. Udara pagi baik untuk ibu hamil." Arka juga setuju dengan Mommynya. Nara tidak boleh kelelahan.


Arka menggandeng Nara berjalan santai. Dari depan rumah sampai ujung jalan. Arka tak mau sampai mengintari komplek. Istrinya bisa kelelahan.


Arka senang melihat Nara tersenyum manis. Istrinya begitu sangat bahagia. Tidak seperti semalam, penuh dengan air mata. Walau itu air mata bahagia, tapi ia harus melihat wajah Nara yang terus mewek.


"Mas, anak kita laki-laki atau perempuan ya?" Tanya Nara dengan nada manja. Tiba-tiba ia penasaran dengan jenis kelaminnya.


"Terserah saja. Mau dikasih anak laki-laki atau perempuan. Yang penting ibu dan anaknya sehat." Arka tidak mempermasalahkan itu.


Setelah cukup berjalan pagi, mereka kembali ke rumah. Untuk sarapan.


"Kamu makan ini, Nak. Ini sangat bagus untuk kehamilan. Ini juga..."


Saat sarapan, Mommynya menghidangkan Nara makanan sehat yang baik untuk ibu hamil. Nara dipaksa untuk menghabiskannya.

__ADS_1


"Mas..." Ucap Nara pelan meminta tolong. Ia sudah makan banyak. Dan tak sanggup menghabiskan makanan yang dihidangkan mertuanya itu.


"Mom, Nara sudah kenyang." Arka melihat wajah kekenyangan sang istri.


"Kamu harus makan banyak. Biar bayinya sehat." Mommy begitu bersemangat. Ini cucu pertamanya. Harus diberi nutrisi yang cukup.


"Mom..." Arka menggeleng. "Nanti kalau Nara lapar lagi, pasti dimakan."


"Nanti kalau kamu lapar bilang sama Mommy ya." Pinta Mommynya.


Nara mengangguk. "Terima kasih, Mom."


"Arka... Sepertinya kamar kalian pindah ke bawah saja. Kasihan Nara naik turun tangga." Saran Mommy.


"Ng-nggak apa kok Mom." Nara merasa tidak masalah.


"Sekarang kamu masih bisa berjalan. Nanti setelah perut kamu membesar. Berjalan saja akan sulit, apalagi sampai naik turun tangga." Mommy tak bisa membayangkan menantunya yang kesulitan naik dan turun tangga, dengan perut membesar.


"Nanti, Mommy akan memindahkan barang-barang kalian ke kamar bawah." Ucap Mommy tegas nggak mau dibantah.


"Menurut Mommy baik saja." Arka setuju dengan Mommynya. Karena Arka setuju, Nara juga ikut setuju.


Karena kondisi Nara sudah stabil, Arka pun akan kembali ke kantor. Tanggung jawab sudah menunggunya untuk segera diselesaikan.


"Sayang, Mas Arkamu ini pergi dulu ya untuk menjemput rejeki." Pamit Arka dengan nada lembut yang melelehkan hati.


"Kalau ada apa-apa, cepat telepon aku." Arka mengingatkan sambil menkecup kening dan pipi Nara.


Arka lalu berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan perut sang istri.


"Anak Papa sayang, Papa pergi ke kantor dulu ya. Sama Mama di rumah. Jangan nakal ya." Perlahan tangan Arka mengelus perut Nara. Ia lalu menkecupnya lama. Menyalurkan segala kasih dan sayangnya.


Arka bahagia, memiliki anak dari wanita yang dicintainya.


Nara mengulum senyum. Ia sangat bahagia tapi masih merasa malu juga.


Nara melambaikan tangan mengiringi mobil suaminya yang sudah melaju pergi.


\=\=\=\=\=\=


Gio menunggu di parkiran. Begitu melihat mobil Arka, pria itu segera menghampiri.


"Bagaimana keadaan kakakku?" Tanya Gio penasaran. Semalam Nara menelepon Ayah dan Bunda. Mengabarkan hal yang begitu membahagiakan, sampai menangis terisak-isak.

__ADS_1


Saat itu, Gio ingin saja mendatangi rumah Arka. Untuk melihat keadaan kakaknya. Tapi, karena orang tuanya melarang. Ia membatalkan niatnya. Mereka menyuruh untuk Gio sabar menunggu. Sampai Nara mengunjungi mereka.


"Ba-baik. Nara baik-baik saja." Jawab Arka yang kaget. Saat keluar mobil sudah disambut adik iparnya.


"Bagaimana kehamilan kak Nara? Anaknya laki-laki atau perempuan? Sudah berapa usia kehamilannya?" Gio memberikan Arka pertanyaan yang bertubi-tubi.


"Kak Nara dan bayinya sehat. Karena masih 4 minggu, masih belum bisa dilihat jenis kelaminnya." Jelas Arka sambil menggeleng pelan.


"Ada lagi yang mau kamu tanya?" Timpal Arka kembali.


Gio menggeleng mengerti. "Tolong jaga kak Nara. Jangan buat dia bersedih." Gio mendadak jadi mewek.


Semalam saja, Nara menelepon memberitahu kabar gembira. Membuatnya jadi terharu dan senang. Akhirnya kakaknya dapat merasakan apa yang selalu diinginkan wanita setelah menikah.


"Kamu tenang saja. Tanpa kamu minta, aku akan menjaga kakakmu dan membuatnya bahagia." Arka mengelus kepala pria yang lebih muda darinya itu. Gio itu begitu sangat menyayangi kakaknya. Begitulah keluarga, saling menyayangi.


"Minggu ini, kami akan ke rumah. Nara sangat merindukan ayah dan Bunda." Ucap Arka memberitahu.


"Ish... Kelamaan, Bang." Menunggu sampai hari minggu terlalu lama bagi Gio.


"Jadi?" Tanya Arka.


"Nanti malam."


"Baiklah, dek."


\=\=\=\=\=\=


Siang itu, Arka video call dengan sang istri.


"... Kamu sudah makan?" Tanya Arka menatap rindu wajah istrinya. Semenjak Nara hamil, rasanya Arka ingin bersama istrinya itu.


"Sudah, Mas. Tadi Mommy masak ikan. Tadi aku makan 4 ikannya loh." Ujar Nara memberitahu.


Arka mengangguk. Antara senang dan kaget. Nafsu makan Nara meningkat drastis.


"Mas, apa begini ya orang hamil? makanku kok sangat banyak. Bawaannya lapar terus." Nara menyadari porsi makannya yang banyak.


"Bayinya kan masih kecil, Mas. Kenapa makannya begitu banyak?" Porsi makan Nara berbeda dari porsi biasanya. Dan sangat banyak.


"Mungkin anak kita lapar." Arka memaklumi. Dokter sudah memberitahu semuanya pada Arka. Tapi, Arka memilih untuk sementara merahasiakannya dari Nara. Ia ingin dipastikan saat USG saja dan Nara melihatnya sendiri.


"Mas, apa jangan-jangan aku hamil anak kembar ya?"

__ADS_1


.


.


__ADS_2