KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 56 - Selalu Berdebar


__ADS_3

Pak Bos: lagi apa nih sayangku?


Pak Bos: Jangan lupa makan malam ya


Pak Bos: cuci tangan cuci kaki dulu kalau mau tidur


Nara tersenyum geli membaca pesan kiriman atasannya itu. Ia berpikir sejenak untuk membalas pesan tersebut. Ketik hapus, ketik hapus, ketik hapus. Begitulah yang dilakukan Nara.


Hingga akhirnya tak ada satu pesan balasan yang dikirim Nara pada Arka.


Nara membuka galeri fotonya. Melihat satu foto yang kembali membuat hatinya berdebar. Satu foto yang diam-diam diambilnya.


'Aku posting saja.'


Sementara di ruang tamu. Gio sedang menscrol sosial medianya. Tiba-tiba matanya melihat serius pada postingan terbaru.


'With you?!' Gio membaca keterangan postingan tersebut.


"Kak Nara!!!" Panggil Gio langsung bangkit dan menuju kamar Nara. Ia akan bertanya dengan siapa kakaknya bergenggaman tangan.


Nara terkejut mendengar suara Gio yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya.


'Apa sih Gio?!' Nara mendumel. Tah mau apa adiknya itu malam-malam ke kamarnya.


"Kenapa dek?" Tanya Nara setelah membuka pintu kamar.


"Tangan siapa ini?" Tanya Gio menunjukkan ponselnya.


Nara melupakan sesuatu. Adiknya itu ada di daftar pengikutnya. Otomatis Gio akan melihat postingannya.


"Ta-tangan orang." Jawab Nara memberi alasan.


Gio menatap dengan tajam. "Orangnya itu siapa kak?" Tanya Gio penuh penekanan.


"Nggak tahulah."


"Kenapa nggak tahu?"


"Itu foto di ambil dari gugel loh." Ucap Nara dengan wajah yakin.


Gio menggeleng. Ia tak percaya begitu saja. Jelas-jelas itu tangan kakaknya.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian kak? Bawa dia ke rumah, aku mau lihat pria seperti apa dia!!!" Ucap Gio kembali. Ia akan melihat apa pria itu baik atau tidak untuk kakaknya.


"Apaan sih dek?! Ini sudah malam, kakak mau tidur." Nara segera menutup pintu kamarnya.


Gio yang di luar kamar mendumel kesal.


'Lihat saja nanti. Kalau pria itu mengantar kak Nara pulang. Akan ku cegat dia di tengah jalan.'


Nara membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Wajahnya jadi cemberut. Adiknya itu sangat penasaran dan selalu menyuruh membawa pria itu ke rumah.


Bukan tak mau. Nara merasa belum saatnya. Ia masih dalam masa penjajakan dengan Arka. Nara juga belum percaya dengan dirinya sendiri.


Nara meraih ponselnya. Ia akan menghapus postingan itu saja.


Setelah menghapusnya, Nara membuka pesan. Arka tak ada mengiriminya pesan lagi. Apa menunggunya membalas pesan.


Nara pun mengetik sesuatu. Mengirim Arka sebuah pesan singkat.

__ADS_1


"Cuci tangan cuci kaki, mari kita tidur." Nara bersenandung sambil bangkit dan menuju kamar mandi.


\=\=\=\=\=\=


'Apa dia sudah tidur?'


Arka meraih ponsel. Ada satu pesan masuk.


Nara: ya


Pria itu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia jadi tertawa membaca balasan pesan dari sang pujaan hati.


Pesan yang dikirimnya itu lebih dari satu. Setiap pesan berisi beberapa kata. Dan Nara membalasnya dengan dua huruf, ya.


Arka menarik nafas sejenak, ia akan menghubungi Nara.


"Malam, sayangku." Ucap Arka begitu panggilannya tersambung.


"Siapa ini?" Tanya Nara masih setengah sadar. Ia terbangun karena suara deringan ponselnya.


"Aku."


"Aku siapa?"


"Aku, masa kamu nggak tahu siapa aku?!" Arka mengulum senyum. Sepertinya Nara baru bangun tidur.


"Memangnya situ siapa yang harus aku tahu. Jangan telepon aku lagi. Ganggu orang tidur saja!"


"Nara-" Arka tak jadi berucap karena Nara sudah mengakhiri panggilan telepon.


Arka tertawa sendirian di dalam kamarnya. Nara menjawab teleponnya sambil menggigau. Wajar saja ini sudah malam, ia pasti mengganggu tidur wanitanya.


Pagi itu Nara bangun karena suara jam bekernya. Ia mematikan jam beker tersebut dan meraih ponsel.


Saat bangun tidur, hal pertama yang dicari adalah ponsel.


'Kapan pak Arka menelepon?' Batin Nara melihat ada panggilan masuk yang terjawab di riwayat panggilan.


Nara mencoba mengingat-ingat kembali. Tak lama ia menutup mulutnya saat mengingatnya.


"...Jangan telepon aku lagi. Ganggu orang tidur saja!" Nara mengingat sepenggal kata yang diucapkannya.


"Apa yang sudah ku katakan?!" Nara menutup wajahnya. Bisanya ia mengatakan hal seperti itu. Ia selalu menunggu Arka meneleponnya, bagaimana jika pria itu tak mau meneleponnya lagi karena ucapannya tersebut?


Nara juga merasa kesal. Arka meneleponnya saat pukul 11 malam. Kenapa nggak sekalian jam 2 malam saja?


Nara melempar pelan ponselnya ke bantal, ia pun bangkit dan berjalan malas ke kamar mandi.


Tak berapa lama, Nara sudah berpakaian rapi. Ia tersenyum menatap dirinya dalam pantulan cermin.


'Ternyata aku cantik juga.' Puji Nara pada diri sendiri.


Nara meraih jam tangan pemberian Arka. Menatapnya sesaat. Ia bingung mau memberikan hadiah apa pada Arka. Mau seharga jam ini, gajinya tidak akan cukup. Mau yang murah, nanti takutnya Arka tak mau menerimanya, karena tak bermerek.


'Kalau dibelikan jam tangan biasa, bisa dapat berapa ya?' Nara merasa sayang, membeli satu barang semahal itu.


Wanita itu juga melirik ikat rambut berharga sejuta.


Nara menghentakkan kakinya. Ia tak tahu mau memberikan apa pada Arka. Semua yang diberikan Arka sangat mahal dan bermerek. Masa dia membalas dengan merek kawe.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


"Selamat pagi, Nara." Sapa Arka menghampiri Nara.


"Pa-pagi, Pak." Jawab Nara gugup. "Pak... yang ta-tadi malam..."


"Maaf ya, sayang. Aku yang salah, menelepon kamu tengah malam." Arka meminta maaf sambil mengelus kepala Nara.


Nara mengangguk pelan. Merasakan degupan hatinya yang kembali berdebar.


"Nara, besok ada waktu?"


"Ke-kenapa, Pak?"


"Temanku anaknya berulang tahun. Aku ingin mengajak kamu ke sana. Apa kamu mau?" Tanya Arka penuh harap.


Nara mengangguk. "Baik, Pak."


"Ya sudah, besok aku jemput jam 3 di ru-" Arka menjeda ucapannya melihat Nara.


"Di tempat biasa." Sambung Arka kemudian.


"Baik, Pak." Nara setuju. Ia belum mau Arka menjemputnya dari rumah.


"Cocoknya kita beri kado apa ya?"


"Anaknya umur berapa?"


"Setahun. Anak cowok sih."


"Mungkin pakaian atau mainan, Pak." Saran Nara.


"Nanti pulang kerja, kamu temani cari kado."


"Nggak sekalian besok saja, Pak."


"Takutnya besok nggak sempat. Hari ini saja ya. Sekalian malam mingguan kita." Arka tak dapat menahan senyumannya.


Nara melihat Arka dengan wajah aneh. Pria ini umur berapa sih, kenapa masih zaman malam mingguan?


Padahal di usianya sekarang, semua malam sama saja. Kalau mau ketemu ya ketemu. Kalau mau jalan ya jalan. Tak perlu menunggu sampai malam minggu.


"Ya sayang?!" Arka memastikan dengan wajah melas dan berharap.


Nara jadi tersenyum melihat ekspresi wajah atasannya itu. "Baiklah, Pak." Jawab Nara setuju.


"Terima kasih, sayang." Arka sangat senang. Pria itu merangkup wajah Nara dengan kedua tangannya. Dan memberikan kecupan singkat di bibir merah Nara.


"Selamat bekerja." Arka tersenyum dan berjalan menuju ruangannya.


Sementara Nara masih terdiam. Tanpa aba-aba, tanpa basa basi Arka memberikan kecupan singkat di bibirnya.


Nara meletakkan tangan di dada. Merasakan degupan yang terasa bertalu-talu di sana.


'Astaga... Jantungku!!!'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2