
"Selamat pagi, cinta..." Ucap Arka saat Nara membuka pintu.
Nara tercengang sesaat. Pria itu pagi-pagi sudah sampai rumahnya. Bahkan ini masih pukul 7 pagi.
"Mas, datang kepagian ini." Nara ingin mencubit perut Arka, tapi pria itu segera menghindar.
"Aku kangen sama kamu." Ucap Arka sambil matanya melihat kanan kiri. Tak ada yang melihat, ia pun segera memeluk Nara erat.
"Mas..." Nara menggeliat. Pria itu masih sempat-sempatnya memeluknya.
"Siapa yang datang Nara?" Tanya Bunda dari dapur.
"Arka, Bunda." Jawab pria tampan itu segera dan melepas pelukannya.
Arka menyelonong masuk rumah dan menuju dapur. Ia menyalami Bunda sebagai bentuk kesopanan.
"Bun, maaf ya. Saya pagi-pagi datang kemari." Arka berbasa basi.
"Nggak apa kok. Kamu kan akan jadi anak Bunda juga. Jadi jangan sungkan-sungkan. Anggap saja lagi belajar beradaptasi." Ucap Bunda senang. Ia sangat welcome dengan calon menantunya itu.
"Terima kasih, Bunda. Saya akan mencintai dan menyayangi anak Bunda, dengan jiwa dan raga saya."
"Bunda akan ingat ucapan kamu." Ucap Bunda tersenyum sambil menancapkan pisau di telenan.
"Haha... Saya berjanji Bunda." Ucap Arka tertawa canggung. Bunda nampaknya baik, tapi punya sisi yang menyeramkan.
Sementara Nara menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ekspresi Arka sedikit pucat kena mop Bundanya.
"Bun, saya bantu ya."
"Sudah nggak usah. Kamu duduk saja."
"Tidak apa, Bun. Arka sudah sering membantu Mommy."
Tak lama...
Arka menyeka air mata yang berlinang berjatuhan. Seakan sedang mengalami kesedihan yang mendalam.
"Mas, biar aku saja." Nara nggak tega melihat Arka yang memotong bawang.
"Nggak apa, sayang." Arka harus menyelesaikan mengupas bawang itu.
Nara meraih pisau dan menjauhkan dari Arka. Ia mengusap air mata yang membasahi wajah tampan sang calon suaminya. Lalu membantu mencuci tangan Arka. Agar tak bau bawang.
Bunda menggeleng melihat Nara. Putrinya itu jika sudah menyukai seorang pria, begitu sangat tulus dan perhatian. Nara akan memberikan seluruh hatinya dan menjadikan pria itu satu-satunya dalam hidupnya.
Bunda menyayangkan Adam yang begitu tega dengan putrinya. Dan berharap Arka tidak seperti Adam nantinya.
"Mas, duduk di sini saja." Nara mendudukkan Arka di kursi. Ia juga menyajikan teh hangat.
"Terima kasih."
"Iya. Aku mau bantu Bunda dulu, Mas."
Arka mengangguk pelan.
Sambil meminum teh, mata Arka tak lepas menatap calon istrinya tersebut. Penampilan Nara saat sedang masak, begitu menggoyahkan iman.
Bagaimana tidak, rambut diikat asal. Hingga menampakkan leher mulus dan putih. Lalu, Nara memakai celana pendek. Yang mengekspos setengah pahanya.
__ADS_1
Nara sudah membuat Arka traveling sesaat.
"Hmm."
Arka kaget dan segera bangkit. Ia tersenyum canggung saat melihat Ayah ada di sampingnya.
"Se-selamat pagi, Yah." Sapa Arka sambil menyalami pria paruh baya tersebut.
"Kamu, pagi-pagi kenapa sudah kemari?" Tanya Ayah menyipitkan matanya.
Ayah dari tadi sudah memperhatikan ekspresi memuja Arka menatap putrinya.
"Sa-saya ka-" Arka menjeda ucapannya. Tak mungkin mengatakan jika ia kangen Nara pada Ayahnya.
Arka mulai berpikir. Alasan yang akan dikatakannya.
"Sa-saya... catur. Saya mau mandi catur sama Ayah." Arka bernafas lega bisa membuat alasan.
Ayah mengangguk. Ia memang pernah menyuruh Arka, saat libur agar datang pagi-pagi ke rumahnya untuk bermain catur.
"Ayo... kita main catur." Ayah menarik Arka.
"Ayah, sarapan dulu. Masih pagi, isi lambung dulu. Jangan baru bangun tidur, sudah main catur." Ucap Bunda cepat.
"Selesai sarapan kita main catur." Ayah pun mendudukkan diri di kursi.
Arka mengangguk pelan. Ia menyesal beralasan catur. Niatnya datang, untuk mengajak Nara jalan-jalan dari pagi sampai malam nanti.
\=\=\=\=\=\=
"Ayah... Kami mau keluar loh." Nara sudah berpakaian rapi. Ia melihat Ayah masih mengajak Arka bermain catur. Wajah pria itu mulai suntuk dengan permainan itu.
"Ayah sudah suhunya. Saya ini masih junior."
"Haha..." Ayah tertawa mendengar pujian Arka. Calon menantunya itu, pandai berucap.
"Oh iya... Bukannya seharusnya kalian sudah dipingit?" Ayah ingat. Minggu depan putrinya dan pria yang sedang bermain catur dengannya, akan segera menikah.
Seketika suasana hening seketika. Arka mulai bingung. Bisa-bisa Ayah menyuruhnya pulang.
"Mulai besok, Yah." Jawab Arka.
"Besok. Hari ini seharusnya."
"Ayah..." Nara mengkerucutkan bibirnya.
"Sudah kalian di rumah saja. Nggak usah pergi ke mana-mana. Darah manis."
Arka dan Nara menunjukkan wajah kecewanya. Mereka tidak diizinkan untuk keluar berdua.
"Atau Arka, kita suruh pulang saja." Timpal Ayah kembali.
"Jangan Ayah." Nara pun memeluk lengan sang Ayah. Masa, sudah tak jadi jalan. Pria itu disuruh pulang.
Beberapa waktu berlalu, Nara sudah berganti pakaian. Dan duduk di ruang tamu bersama Arka.
"Mas, maaf... Ayah nggak izinkan kita keluar."
"Ya sudah, nggak apa sayang. Lagian Ayah kamu takut kita kenapa-kenapa di jalan."
__ADS_1
Nara mencubit gemas dagu Arka. "Tadi muka Mas Arka saja kecewa."
"Mana ada ya." Arka mencubit pipi Nara.
Arka dan Nara saling bertatap sejenak.
"Sabar ya. Seminggu lagi." Arka meraih dan menggenggam tangan Nara. Wanita yang akan bersamanya menjalani kehidupan ini.
Nara tersenyum. Arka mengatakan seperti itu, seolah sedang menenangkannya. Padahal pria itu yang merasa tak rela.
"Abang ipar, kak Nara... Aku pergi dulu." Gio akan pamit pada keduanya.
Nara segera melepas genggaman tangan Arka. Jika adiknya melihat, akan heboh nantinya.
"Hati-hati... Jangan ngebut-ngebut. Jangan lecet, keserempet, jangan-"
"Hati-hati ya adek ipar. Sukses ya." Arka memotong repetan Nara. Nara akan terus mewanti-wanti adiknya itu.
Waktu berlalu. Arka ikut makan siang. Lalu ia kembali mengobrol dengan Nara di ruang tamu. Karena mulai ngantuk ia berbaring di sofa.
Nara menyanggah kepala Arka dengan bantal sofa. Lalu ia juga menyelimuti tubuh calon suaminya tersebut.
Nara menikmati sesaat, wajah tampan yang begitu polos saat tidur. Yang mungkin akan selalu ia lihat, saat membuka mata ketika sudah menikah.
Hari sudah malam, Arka pun pamit pulang. Gio mengembalikan kunci mobil Arka.
Nara memelototi Gio yang seperti akan mengatakan hal lain.
"Terima kasih Abang Ipar. Lain kali pinjam lagi."
"Atau ini untuk-"
"Mas Arka." Nara segera menyela dan memelototi Arka.
"Kapan kamu mau pakai, bilang saja." Ucap Arka. Padahal ia ingin memberikan mobil itu pada Gio. Tapi, ekspresi Nara tidak baik.
Nara diberi ikat rambut saja, terus menolaknya. Kalau diberi mobil, nggak tahulah tah seperti apa menolaknya.
Arka pun pamit pada Nara. Ia tersenyum senang, lagi-lagi disalami Nara.
"Mas pulang ya. Kita harus selalu video call untuk melepaskan kerinduan." Ucap Arka saat ingat, mereka akan mulai dipingit.
"Iya, Mas. Jaga kesehatan ya. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."
Nara melambaikan tangan mengiringi mobil yang mulai melaju.
Arka melajukan mobilnya sedang membelah jalanan malam. Dan...
Citt...
Arka merem mendadak saat sebuah mobil menghadangnya.
Pengendaranya pun turun. Dan mengetok kaca mobil Arka.
"Kita perlu bicara!"
.
.
__ADS_1
.