KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 42 - Pengakuan Arka


__ADS_3

"Ini?" Tanya Arka setelah memarkirkan mobilnya, ia melihat warung bakso yang sangat ramai pengunjungnya.


"Iya, Pak." Jawab Nara sambil menganggukkan kepala.


Arka melihat ke arah Nara sejenak.


"Pak, tolong mata anda dijaga!" Nara kesal melihat sorot mata Arka ke arahnya.


Padahal Nara sudah berganti pakaian. Tapi, tatapan pria itu seperti berkata-kata.


"Mata saya kenapa harus dijaga? masih di tempatnya kok." Ledek Arka. Ia gemas melihat wajah Nara yang cemberut seperti bebek.


Nara segera turun dari mobil, pria itu pun mengikuti.


"Ayo, pak kita ke situ!!!" Nara menarik lengan Arka. Ia membawa pria itu ke meja yang kosong.


Arka bersorak gembira, wanita itu menggandeng lengannya.


"Mau pesan apa, Pak?" Tanya Nara setelah mereka duduk. Ia memberikan buku menu pada Arka.


"Bukan hanya ada bakso, ada nasi goreng, mie goreng, anda mau yang mana?" Tanya Nara kembali.


"Itu... Bakso yang semalam kata kamu enak dan besar-besar itu."


Nara mengangguk mengerti. "Mbak, bakso spesial dua."


"Minumnya mbak?" Tanya pelayan warung.


"Saya mandi. Bapak minum apa?" Nara melihat Arka.


"Kamu ngapain mandi di warung bakso?" Arka merasa Nara aneh.


Nara menepuk jidatnya. Sementara pelayan warung menahan tawanya.


"Pak Arka, mandi itu manis dingis. Teh manis dingin lho." Jelas Nara sambil menggeleng. Istilah seperti itu saja Arka tak tahu.


"Oh..." Ucap Arka panjang. "Saya samakan saja, Mbak."


"Baik, tunggu sebentar ya."


Arka melihat sekitar, pengunjung warung bakso ini sangat ramai. Tak ada meja yang kosong.


"Apa selalu seramai ini?" Tanya Arka kemudian.


"Iya, Pak." Nara mengangguk. "Setiap malam sangat ramai, apalagi ini setelah hujan berhenti makin ramai. Memang dingin-dingin gini enaknya makan bakso."


"Bukankah dingin-dingin begini, enaknya berpelukan." Arka mengulum senyum, melihat Nara yang langsung membuang wajahnya.


'Dasar ganjen!!!' Cibir Nara dalam hatinya.


Tak lama pesanan pun datang. Aromanya sungguh menggiurkan. Asap dari kuah bakso juga mengepul.


Nara melahap bakso sedang tanpa memotongnya. Membuat mulut Nara penuh.


Arka tersenyum melihat Nara. Wanita itu ternyata tak ada jaim-jaimnya.


"Bagaimana rasanya, Pak?" Tanya Nara dengan mulut penuh bakso.


"Enak. Ini sangat enak."


Mereka pun makan dengan lahap. Melihat Nara makan bakso yang sedang tanpa memotong, Arka juga ikut-ikutan. Melahap bakso sedang itu bulat-bulat.


Keduanya jadi tertawa, melihat mulut masing-masing yang menggembung.

__ADS_1


Nara memotong bakso besar menjadi empat bagian. Arka juga memotongnya sepertu itu.


"Kalau makan bakso dipotong kecil-kecil nggak puas, Pak." Jelas Nara sambil menganggukkan kepala.


Arka mengangguk setuju. Makan dengan potongan besar, memang beda sensasinya.


Pria itu terpaku sejenak, saat Nara mengelap sudut mulutnya dengan tisu.


"Ma-maaf, Pak. Tadi ada sesuatu di mulut anda." Nara segera menjauhkan tangannya, tatkala menyadari perbuatannya yang tanpa sadar itu.


Arka tak dapat menyembunyikan rasa senangnya, perhatian kecil Nara membuatnya berdebar.


Nara melirik jam tangan. Sudah pukul 10 malam. Ia harus segera pulang.


"Ayo, kita pulang." Ajak Arka yang sadar karena Nara melihat jam tangannya. Ternyata cepat sekali waktu telah berlalu. Ia harus mengantar Nara pulang, tak baik membawa anak perempuan orang malam-malam.


Arka ingin membayar, tapi Nara menolak. Ia sudah berjanji akan mentraktir atasannya tersebut. Jika Arka lagi yang membayar, sama saja. Nara akan tetap berutang.


Dalam perjalanan, Arka mengemudikan mobil. Membelah jalanan malam yang mulai sepi. Mungkin pengaruh hujan, jadi orang-orang malas untuk keluar rumah.


"Nara..." Arka memecah keheningan diantara mereka.


"Iya, Pak."


"Besok kamu ke mana" Tanya Arka ingin tahu.


"Besok... Di rumah saja, Pak." Jawab Nara cepat.


Arka mengangguk.


"Kamu mau temani saya. Ada film yang ingin saya tonton. Tapi saya nggak punya teman untuk menontonnya." Ucap Arka penuh harap.


Nara diam. Ternyata Arka masih saja berusaha mendekatinya.


"Maaf, Pak. Saya nggak bisa." Tolak Nara cepat.


"Kenapa?" Tanya Arka ingin tahu.


"Besok hari libur, Pak. Saya bosan jika melihat anda terus." Jujur Nara.


"Astaga... Nara!!!" Arka tak bisa berkata-kata mendengar perkataan wanita itu.


Arka menghembuskan nafasnya sejenak. "Saya tidak akan membuatmu bosan."


"Anda bisa ajak wanita lain untuk menemani anda menonton." Saran Nara. Ada banyak wanita, kenapa harus dia?


"Tapi, saya maunya kamu." Tegas Arka.


Seketika hening sejenak. Tak ada percakapan lagi.


"Saya..." Arka menghela nafas pelan. "Saya suka sama kamu." Jujur Arka mengakui perasaannya.


"Saya tidak bisa membalas perasaan anda." Nara mempertegas ucapannya.


"Saya tidak meminta jawabanmu sekarang. Seminggu... Ya seminggu saya rasa cukup untuk kamu mempertimbangkan saya."


Arka berusaha tetap tenang. Ia harus terlihat tetap cool dan keren, meski wanita itu menolaknya tanpa berpikir terlebih dahulu.


"Pak, maafkan saya-"


"Beri saya kesempatan!" Arka melirik sejenak ke arah Nara. Ia melihat ekspresi Nara yang sangat tidak nyaman dengan pengakuannya. Wanita itu juga membuang wajahnya ke samping kiri.


"Nara... beri saya waktu seminggu. Jika dalam seminggu, kamu tetap menolak. Saya akan mundur. Saya akan menjaga jarak darimu..."

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


Pak Bos: Selamat pagi. Jangan lupa sarapan.


Pak Bos: selamat siang. Jangan lupa makan siang.


Pak Bos: selamat sore. Jangan lupa makan sore ya.


Nara tercengang, Arka mengirimkan pesan yang menurutnya sangat aneh. Padahal Nara tak ada menanggapi ucapannya tadi malam, tapi pria itu malah sok perhatian seperti ini.


"Saya suka sama kamu."


"Saya suka sama kamu."


"Saya suka sama kamu."


Nara menutup wajahnya. Ucapan pria itu memenuhi pikirannya.


"Nara, kamu kenapa? Kamu sakit?" Tanya Bunda.


"Nggak, Bun. Ayo... Kita jalan-jalan." Nara memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Nara pergi ke Mall bersama Bunda. Sudah lama dia tak menghabiskan waktu bersama Bundanya. Mereka hanya pergi berdua saja. Ayah dan Gio sibuk menonton balapan.


"Bun, kita ke sana yuk! Bajunya bagus-bagus itu." Ajak Nara menggandeng tangan Bunda.


Mereka melihat-lihat berbagai pakaian di toko tersebut. Mana tahu ada yang cocok.


"Bunda masih banyak baju lho."


"Yang ini model terbaru lho, Bun."


Tak lama mereka keluar toko itu dengan membawa bungkusan.


Setelah dari toko pakaian, mereka keliling ke toko sepatu, tas dan perawatan kecantikan.


Bunda menolak Nara membelikannya lagi. Hingga hanya cuci mata mengelilingi Mall.


Saat melewati bioskop, Nara jadi teringat Arka. Pria itu minta ditemani nonton.


'Aku harus jaga sikap dengan pak Arka!' Nara menggeleng. Ia tak akan memberikan Arka kesempatan.


"Bunda... Mau nonton?" Tanya Nara, menghempas pikirannya tentang pria itu.


"Nggak usah." Bunda menolak.


"Ada film bagus lho, Bun." Bujuk Nara dengan wajah memelas.


Bunda menggeleng. "Ayo, kita pulang saja!"


Nara pun mengangguk lemah.


Mereka berjalan menuju pintu keluar Mall. Tiba-tiba langkah Nara terhenti. Bunda yang sebelah Nara, bingung melihat ekspresi anaknya.


"Kenapa, Nak? Apa kamu haus?"


Mereka sudah cukup lama mengelilingi Mall yang luas ini, wajar mungkin Nara capek dan haus.


"Mas Adam..."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2