KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 80 - Hari Bahagia


__ADS_3

"... Kau akan menyesal, Arka!"


Arka mengakhiri panggilan dari Adam. Entahlah, Adam menelepon dirinya hanya untuk menceritakan segala kekurangan Nara.


Pria itu mengerti, Adam ingin ia ragu dengan Nara. Hingga pernikahan mereka dibatal.


Sepertinya Adam sengaja menjelek-jelekkan sikap Nara. Mengarang ucapan yang pasti berbeda dengan kenyataannya. Padahal Adam ingin kembali pada Nara.


'Apa dia menghubungi Nara juga?' Arka mulai berpikir. Bisa jadi, Adam menjelek-jelekkan dia juga pada Nara.


Arka menggeleng, sikap Adam terlalu kekanak-kanakan.


'Kenapa lama sekali waktu berputar?!' Arka tak sabar menjadikan Nara, wanitanya seutuhnya.


Sementara di tempat lain. Adam mencampakkan barang-barang yang berada di meja kerjanya.


Rasa kesal dan geram mulai menyelimutinya. Ia sudah memberitahu mengingatkan mantan istrinya itu. Tapi, Nara malah menanggapinya biasa saja. Dan ia malah diblokir.


Arka lagi, pria keras kepala itu. Sudah ia katakan semua kekurangan Nara. Dan malah masih yakin mempertahankannya. Sampai ia mengarang cerita tentang sikap Nara yang jelek. Tapi, pria itu juga tidak peduli.


'Apa Arka sudah kena pelet? Pelet janda!'


Pikiran Adam mulai menebak-nebak. Arka bisa seyakin itu pada Nara, pasti wanita itu memakai pelet pesugihan. Pelet yang membuat Nara selalu sempurna di depan Arka.


Adam kembali mencoba menelepon Arka. Untuk kembali menghasut pria itu, agar batal menikahi Nara. Arka harus segera disadarkan.


Adam menghembuskan nafas kesal. Arka sudah menolak panggilannya.


Adam pun menelepon Dika.


"Halo... Dik." Ucapnya begitu panggilan tersambung.


"Halo juga." Jawab Dika.


"Apa kau tahu Arka akan menikah minggu ini?" Tanya Adam serius.


Dika diam sejenak. Arka sudah mengundangnya.


"Iya."


"Dia tidak mengundangku!" Ucap Adam geram. "Apa kau tahu, dia akan menikahi mantan istriku?" sambung Adam kembali.


Dika sudah tahu, karena Arka juga sudah bercerita padanya.


"Arka, seperti tak bisa mencari wanita lain saja. Kau tahu Nara itu cuma wanita mandul. Dia-"


"Kalian sudah bercerai." Sela Dika cepat. Ia kesal dengan Adam.


"Mereka akan menikah, Adam. Sebagai teman dan mantan suaminya, sebaiknya kau mendoakan yang terbaik untuk mereka."


"Arka itu akan menyesal. Nara itu..." Adam menjelaskan panjang lebar segala kekurangan Nara. Ia sengaja seperti itu, agar nantinya Dika menyampaikan pada Arka.


"Adam sudahlah. Arka telah memilih pasangannya. Biarkan mereka bahagia."

__ADS_1


"Dika... Sepertinya Nara memakai pelet!"


"Pelet?" Beo Dika dengan wajah aneh.


"Arka kena pelet janda. Makanya dia mau menikah dengannya." Tuduh Adam.


"Astaga!!!" Dika menepuk jidatnya. Adam ini berucap seenaknya saja.


"Dam... Belajar ikhlas."


"Aku bukan-"


Adam kembali mendengus. Dika sudah memutuskan obrolan mereka. Sepertinya Dika sama saja. Tak mau mendengarkannya.


Hari mulai berlalu. Adam sibuk dengan pekerjaannya, tapi pikirannya masih memikirkan pernikahan itu. Dalam hitungan hari, mantan istrinya itu akan menjadi istri dari pria lain.


Memikirkan hal itu, membuat pekerjaan Adam jadi terganggu dan tidak fokus. Atasannya pun memarahinya.


"Maaf, Pak. Saya akan lakukan yang terbaik." Ucap Adam setelah itu memutuskan panggilannya. Ia menghela nafas sambil memijat pelipisnya.


'Mario... Aku harus membesarkannya.' Adam mengingat putranya. Jika ia sampai dipecat, bagaimana ia membesarkan anak itu.


'Nara, kita lihat saja. Sampai mana Arka tahan? Suatu saat kamu pasti akan memohon kembali padaku!!!'


\=\=\=\=\=\=


Terlihat seorang wanita terus menerus menghembuskan nafas. Menenangkan degupan hatinya yang berdebar tak menentu.


'Aku menikah lagi.' Nara menatap dirinya dalam pantulan cermin. Ia tersenyum sendu melihat dirinya kembali memakai kebaya putih.


Sementara di tempat lain. Terlihat Arka yang juga sama dengan Nara dilanda kegugupan. Ia akan melakukan ijab kabul dengan Ayah sebagai walinya.


Ayah menjabat tangan Arka. Pria paruh baya itu mengulum senyum. Tangan menantunya itu sangat dingin.


Tak lama...


Kata sakral itu menggema di aula itu. Arka menghela nafas lega. Ia sekarang sudah sah menjadi suami Nara. Meski ia tadi diliputi ketakutan, jika tiba-tiba ada pengganggu datang.


Nara yang sudah duduk di samping Arka. Menatap sendu pria itu. Matanya berkaca-kaca saat menyalami suami barunya itu.


Arka juga menkecup kening Nara cukup lama. Seraya mencurahkan segala perasaannya.


Mereka berdua silih berganti menyalami para orang tua. Dan mereka mendapat restu dan doa yang terbaik.


Pernikahan diadakan di sebuah aula yang luas. Arka mempersembahkan resepsi pernikahan yang super mewah dan megah untuk Nara. Untuk sang ratu di hatinya.


Mereka berdiri di pelaminan dengan wajah saling melempar senyum. Mulai menyalami satu persatu tamu yang datang. Dan juga melakukan foto bersama.


Ayah dan Bunda tersenyum bahagia melihat sang putri bersanding dengan Arka. Mereka yakin, Arka itu pria baik dan bertanggung jawab. Yang akan menerima apa adanya putri mereka.


Mommy juga sangat bahagia, walau tadi sempat terharu. Jika mendiang suaminya masih ada, pasti mereka sama-sama bahagia atas pernikahan anak semata wayangnya.


Keluarga Arka dan Nara menyambut para tamu yang berdatangan. Mempersilahkan mereka menikmati hidangan yang disediakan. Alunan musik yang bertalu lembut, membuat suasana terasa hangat.

__ADS_1


"Pak Arka... Selamat atas pernikahan kedua anda." Ucap Sam menyalami atasannya itu. Ia pun nyengir melihat tatapan kesal pria itu.


"Nara... Selamat ya." Sam juga menyalami Nara.


"Terima kasih, Pak Sam." Ucap Nara mengangguk pelan.


"Maaf Nara. Saya harus memanggil kamu apa ya? Ibu, Nyonya, Bu Bos-"


"Hmm." Arka mendehem dengan mata tajamnya. "Sepertinya saya harus mencari asisten baru."


"Haha... Pak Arka bisa saja." Sam tertawa sumbang. Arka tidak bisa berbasa-basi.


"Pak Sam cepat nyusul ya." Ucap Nara sambil senyum.


Sam jadi senyum dan segera turun dari pelaminan.


"Sayang, kamu sangat cantik." Ucap Arka setelah Sam pergi. Ia sangat beruntung menikah dengan Nara.


Arka mengingat Adam yang menjelek-jelekkan sikap Nara. Pasti Adam sengaja membuatnya meragukan Nara.


Mengingat Adam, Arka melihat para tamu. Mungkin Adam ada di aula itu juga melihat mereka.


"Mas... Kenapa?" Tanya Nara bingung, menyenggol lengan Arka.


Arka tersadar dan menggeleng. "Tidak sayang."


"Kak Nara." Gio mendatangi Nara. Ia pun memeluk kakaknya dengan erat.


"Kenapa dek?"


"Kakak harus bahagia. Kalau pria itu menyakitimu, katakan padaku." Bisik Gio pelan.


"Kalian bisik-bisik apa?" Tanya Arka yang ingin tahu.


"Rahasia."


"Nara..." Arka ingin tahu.


"Kakak, jangan beritahu." Gio menggeleng.


"Kata Gio, Mas Arka tampan." Nara tersenyum mengatakan itu.


"Jelas dong." Arka pun bangga.


"Idih... Mana ada aku bilang begitu." Gio membantahnya.


"Dek, ayo... Kita foto bersama." Ajak Nara.


"Aku di tengah kak." Gio pun menyempil di tengah mereka.


Arka menghembuskan nafas. Ia harus sabar, Gio ini adik satu-satunya Nara. Adik kesayangan istrinya. Berarti ia harus menganggap adiknya juga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2