
"Gimana enak?" Tanya Arka sambil memakan donat yang dibelinya.
Nara mengangguk. Mereka sedang sarapan kedua kalinya di ruangan Arka.
"Tadi di jalan, saya lihat banyak yang beli dan sepertinya enak."
"Rasanya memang enak, Pak. Pantaslah yang beli ramai."
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan menyadarkan keduanya. Nara mempercepat kunyahannya dan melihat ke arah Arka.
"Pak Arka!" Nara menutup mulut Arka saat pria itu akan mengatakan masuk. Bagaimana bisa pria itu membiarkan orang masuk dan melihat dirinya sedang sarapan dengan atasannya.
Ini bisa jadi gosip. Sekretaris menggoda atasan.
"Kenapa?" Tanya Arka pelan. Ia bingung dengan sikap wanita itu.
"Sebentar." Nara memasukkan donat itu ke dalam bungkusan. Ia menghabiskan tehnya dan membawanya cangkir kosong itu ke kamar mandi.
Setelah dari kamar mandi. Nara menarkk Arka untuk duduk di kuris kebesarannya. Lalu meletakkan cangkir dan bungkusan di meja kerja atasannya tersebut.
Arka hanya menuruti Nara. Mungkin sekretarisnya malu, jika ada orang lain yang melihat mereka.
Tok
Tok
Tok
"Pak Arka!" Pengetuk pintu itu sangat tidak sabaran.
Nara berdiri di depan meja Arka, mengambil salah satu berkas. Ia juga membersihkan mulutnya. Agar tak ada sisa makanan di sana.
"Masuk!" Pinta Arka mengulum senyum.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Sam segera. Ia melihat Nara ada di dalam ruangan itu.
'Ada apa ini?!' Sam curiga dengan kedua orang ini. Arka lama sekali menyuruhnya masuk.
"Selamat pagi, Pak Sam." Sapa Nara menundukkan kepala sejenak. Ia menetralkan detakkan jantungnya.
"Pagi, Nara. Tadi saya kira tidak ada orang." Ucap Sam sambil tertawa pelan.
"Saya permisi." Nara undur diri sambil membawa berkas itu.
Arka mengangguk.
Sam juga ikut mengangguk sejenak. Tapi lirikan matanya memperhatikan keduanya.
"Sam..." Panggil Arka.
"Iya, Pak. Saya..."
Nara kembali ke meja kerjanya. Ia menghela nafas panjang. Hampir saja Sam melihat mereka. Pasti akan ada gosip yang beredar.
'Baiklah, Nara. Ayo... Kita kembali bekerja. Sebentar lagi gajian!'
Nara mulai mengerjakan pekerjaannya. Ia sangat fokus hingga tak menyadari seseorang berdiri di belakangnya.
"Mau makan siang bersama?"
"Akh!!!" Nara kaget bukan main saat menoleh. Repleks wanita itu mendorong wajah orang yang sudah mengagetinya.
"Astaga, Nara!" Arka mengusap-usap setengah wajahnya. Lagi-lagi wanita ini, jika kaget tangannya sangat repleks sebagai pertahankan diri.
__ADS_1
"Ma-maaf, Pak. Anda mengagetkan saya!" Nara merasa bersalah telah mendorong wajah Arka.
"Tenaga kamu kuat juga!"
"Maaf, Pak." Cicit Nara pelan.
"Nanti mau makan siang bersama?" Tawar Arka.
"Ta-tapi, Pak..."
"Nanti saya tunggu di parkiran!" Arka mengedipkan matanya. Ia pun kembali menuju ruangannya.
\=\=\=\=\=\=
Saat jam istirahat kantor, Arka bergegas keluar ruangan. Ia tersenyum tipis saat melewati Nara.
Nara diam melihat Arka yang berjalan makin lama makin menjauh darinya.
Ting
Pak Bos: saya tunggu di parkiran.
Nara membereskan meja kerjanya. Setelah itu, ia berjalan cepat ke lift. Arka sudah menunggunya. Ia juga sudah lapar.
"Mau makan di mana?" Tanya Arka melajukan mobil membelah jalanan.
"Di..." Nara tampak berpikir. Jika dekat dengan kantor pasti akan ada yang melihat mereka. Tapi jika jauh, mereka akan kelamaan di jalan.
"Di-di... Terserah anda saja."
Arka pun membawa Nara ke restauran yang pernah mereka datangi bersama Mommynya dulu.
"Ini kan..." Nara ingat dengan restauran itu.
"Iya. Saat itu kita datang kemari bersama ibu saya. Jadi sekarang, saya ingin kemari berdua bersama kamu."
"Saya lapar, Pak!" Nara melepaskan sabuk pengamannya dan bergegas turun dari mobil. Tiba-tiba ia jadi gugup.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Arka melihat buku menu.
'Rendang jengkol!'
Arka melihat menu itu, tapi... ia malu pada Nara.
"Saya pesan ini..." Nara memesan ayam goreng lengkap dengan sop daging.
Arka juga menyamakan pesanannya dengan Nara.
Tak lama makanan yang dipesan pun datang.
"Selamat makan, Pak." Ucap Nara.
Mereka makan dengan lahap. Wajah Arka tak lepas dari senyum. Bahagianya, Nara sudah tak menolaknya lagi.
"Makannya pelan-pelan." Arka membersihkan sudut mulut Nara.
Perlakuan Arka membuat Nara terdiam. "Ah iya... Saya bersihkan sendiri!"
Nara mengambil tisu dan mengelap mulutnya. Bisanya ia terpaku sejenak pada pria itu.
Setelah selesai makan, keduanya tampak diam. Bingung apa yang mau diobrolkan.
Arka ingin bertanya masalah pribadi, tapi ia tak mau membuat canggung dan tidak nyaman nantinya.
Sama halnya Nara, wanita itu juga bingung. Mau mengatakan apa pada atasannya. Bahas masa lalu pria itu? Untuk apa juga dibahas, itu juga sudah berlalu.
"Kamu suka makan apa?" Tanya Arka akhirnya. Mungkin hal pribadi seperti ini, tak ada masalah jika ditanyakan.
"Hah?" Lamunan Nara buyar karena pertanyaan Arka. "Sa-saya suka semua makanan, Pak."
__ADS_1
"Haha... Kamu pemakan segalanya." Arka tertawa sumbang. "Coklat suka?"
Nara mengangguk. "Suka, Pak."
"Kalau es krim?" Tanya Arka kembali.
"Saya juga suka, Pak." Jawab Nara cepat.
"Kalau saya?"
"Su..." Nara sadar dengan pertanyaan Arka. Ia melihat pria itu yang malah tersenyum.
"Kalau sama saya, kamu suka nggak?" Tanya Arka kembali. Kali ini dengan wajah serius.
Nara melihat jam tangan. "Pak, jam makan siang akan berakhir." Nara mengingatkan. Ia mengalihkan topik pembicaraan.
"Terus kenapa?" Arka malah bertanya.
"Kita harus segera kembali ke kantor."
"Nanti saja." Arka tetap santai.
"Tapi, Pak. Saya bisa dipecat!" Ucap Nara dengan wajah serius.
"Siapa yang memecat kamu?" Tanya Arka menyanggahkan dagu.
Nara melupakan sesuatu. Hanya pria di depannya ini yang dapat memecatnya.
"Anda." Tunjuk Nara.
"Saya akan memecat kamu. Setelah kamu jadi istri-"
"Saya permisi, Pak." Nara pun bangkit dan meninggalkan Arka. Pria itu sepertinya tak berniat kembali lagi ke kantor.
Arka tak akan masalah jika tidak berada di kantor. Dia bosnya.
Sementara Nara, saat tak ada di kantor. Akan jadi pertanyaan karyawan yang lain.
"Maaf ya." Arka mengejar Nara.
Nara diam saja dan melangkahkan kaki.
"Nara..."
"Pak... Tolong jangan mempersulit saya. Saya ingin tetap-"
"Ayo... Kita kembali ke kantor." Arka menggandeng tangan Nara. Ia mengerti maksud Nara. Sekretarisnya itu harus tetap profesional.
Tak berapa lama, mereka sampai di parkiran kantor. Nara melihat sekeliling. Ia tak mau ada yang melihatnya turun dari mobil atasannya tersebut.
"Kita turun sama-sama saja." Ucap Arka melepas sabuk pengamannya.
"Jangan, Pak." Tolak Nara cepat. Menggelengkan kepala dengan wajah memelas.
"Kenapa? Cepat atau lambat... mereka akan tahu hubungan kita juga." Arka tak mempermasalahkannya.
"Pak... Saya belum menerima anda." Nara mengingatkan kembali. Pria itu yakin sekali perasaannya bersambut.
Arka melupakan sesuatu. Jika mereka masih tahap pdkt. Ada kemungkinan Arka akan ditolak janda itu.
"Apa? Apa kamu akan menolak saya lagi?" Tanya Arka pelan. Wajahnya serius menatap Nara.
"Saya permisi. Sampai juga di kantor, Pak."
Setelah mengatakan hal itu, Nara segera turun dari mobil. Ia kabur dari pria itu.
"Nara..."
.
__ADS_1
.
.