
'Wow!!!' Nara berdecak kagum melihat Arka memimpin rapat.
Pria itu begitu sangat percaya diri dan begitu berwibawa. Tampak tenang tapi menghanyutkan. Pesonanya begitu kelihatan. Pantas banyak karyawan wanita yang menggilai pria itu.
Arka berbicara panjang lebar di depan karyawannya lalu mengulurkan tangan. Mengisyarat pada Sam dan Nara yang berada di ruang rapat itu untuk memberikannya sesuatu.
"Berikan pada pak Arka." Ucap Sam pelan memberitahu Nara. Pria itu masih fokus pada layar laptopnya.
Nara berdiri dan membawa barang itu. Ia memberikannya ke tangan Arka.
"Apa ini?" Ucap Arka tanpa suara hanya gerakan bibir saja.
Seketika yang berada di sana hening. Sam yang menyadari keheningan itu melihat ke arah depan.
'Astaga!!!' Batin Sam.
Dengan cepat Sam berdiri dan menyerahkan apa yang dibutuhkan Arka.
Sam melihat Arka yang sudah menunjukkan wajah kesalnya. Seperti mau mengkuliti Nara hidup-hidup.
Arka mengulurkan tangan untuk meminta berkas. Lah, Nara malah memberinya botol berisi minuman.
"Tadi aku kira, pak Arka minta minum." Bisik Nara pelan, merasa takut. Pria pemarah itu akan memecatnya.
Sam mengangguk menahan tawanya. "Sudah, tidak apa." Salahnya juga tidak mengatakan apa yang harus diberikan pada Arka. Hingga Nara jadi berasumsi sendiri, mungkin Arka sedang haus. Karena dari tadi atasan mereka terus berbicara tanpa henti.
Para karyawannya yang sedang rapat bersama menahan senyum mereka. Sekretaris atasannya itu sangat lucu.
Setelah selesai rapat. Arka menatap Sam yang berdiri di depannya. Mereka sedang berada di ruangan Arka.
"Sam, apa pekerjaan wanita itu sebelumnya?" Tanya Arka menghembus nafasnya panjang. Nara membuatnya kesal saja.
"Wanita itu? Siapa maksudnya, Pak?" Tanya Sam tak mengerti. Wanita yang mana?
"Wanita di depan itu."
"Oh, Nara. Itu sekretaris Bapak." Sam mengerti maksud Arka. Ternyata membicarakan Nara.
"Apa pekerjaannya sebelumnya?" Tanya Arka kembali.
"Nara sebelumnya SPG sebuah produk." Ucap Sam.
"SPG? Kenapa dia bisa diterima jadi sekretaris saya?" Arka merasa heran.
Pantaslah Nara sering salah. Wanita itu tak ada pengalaman sama sekali.
"Bapak yang menerimanya." Sam mengingatkan.
Arka mulai mengingat kembali. Benar, ia yang menerima Nara. Padahal saat itu Sam mengatakan Nara sama sekali tidak sesuai persyaratan. Tapi Arka yang tidak mempersalahkan. Juga menyuruh Sam untuk membimbing Nara kedepannya.
Arka semata melakukan hal itu hanya karena sudah lelah digoda oleh sekretarisnya.
__ADS_1
"Pecat dia." Arka menyuruh Sam memecat Nara. Karena tidak sesuai kriteria yang dia inginkan.
Yang berpengalaman, berniat bekerja dan tidak menggodanya.
"Pe-pecat?" Sam merasa sedih jika Nara dipecat. Baru beberapa hari wanita itu bekerja, masa sudah dipecat.
Nara hanya masih dalam tahap adaptasi saja.
"Pecat dia sekarang juga." Ucap Arka tegas. Pria itu pun bangkit dan berjalan keluar ruangan.
"Iya, Bun. Nara lagi kerja ini. Baik-baik saja, Kok. Nanti kalau Nara gajian kita jalan-jalan ya, Bun. Nara mau membelikan Ayah sama Bunda baju baru..."
Arka yang berdiri di depan pintu, mendengar pembicaraan Nara.
Wanita itu ternyata berniat bekerja untuk membelikan pakaian kedua orang tuanya. Bagaimana jika wanita itu dipecat?
Arka jadi merasa bersalah. Seharusnya ia tak menerima Nara, karena wanita itu tak berpengalaman. Tapi, ia malah memberi kesempatan. Dan saat wanita itu masih belajar, malah Arka berniat memecatnya.
Arka merasa menjadi orang jahat. Yang membuat seolah terbang ke langit dan langsung dihempas ke dasar jurang.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Nara meletakkan ponsel di meja. Wajah Nara pucat melihat ekspresi Arka. Pria itu pasti tak senang jika karyawan menelepon di jam kerja.
Nara tak tahu, Arka berdiri di depan itu.
Arka tak menggubris ia berjalan melewati Nara.
Sam tersenyum pada Nara. Ia kasihan dengan wanita polos itu. Sebentar lagi akan segera dipecat.
"Sam." Ucap Arka saat mereka berada di dalam lift.
"Iya, Pak." Jawab Sam patuh.
"Kamu bimbing sekretaris itu dengan benar." Pinta Arka kemudian. Dia akan memberikan Nara kesempatan.
"Untuk apa, Pak? Bukankah akan segera dipecat?" Sam bingung jadinya.
"Batalkan pemecatannya." Pintanya.
"Kenapa, Pak?" Sam benar-benar kepo. Arka membatalkan memecat Nara.
"Apa kamu mau saya pecat?" Tanya Arka kembali. Sam benar-benar banyak tanya.
"Maaf, Pak."
Sam merasa lega. Nara tidak jadi dipecat. Ia akan mengajari Nara dengan benar, agar Arka tidak kesal terus pada janda cantik itu.
Sementara di meja kerja Nara.
"Bun, sudah dulu ya. Nara nggak apa kok. Ini mau lanjut kerja lagi."
"Bunda takut yang dikatakan Gio, Nak."
__ADS_1
"Nggak Bun. Nara bisa jaga diri. Nara kerja dulu ya, Bun." Wanita itu tak lama mengakhiri panggilan dari Bundanya.
Bundanya menelepon karena khawatir padanya.
Nara menarik nafas panjang lalu membuangnya pelan. Ia pun fokus ke layar komputer. Jarinya mulai mengetik dengan mouse yang bergerak-gerak.
Wanita itu sangat fokus hingga tak menyadari orang yang melewatinya.
'Apa yang dia kerjakan?' Arka jadi penasaran, Nara sangat fokus. Pelan-pelan ia pun mendekati Nara. Melihat apa yang dikerjakan wanita itu?
Pria itu tersenyum sambil mengangguk pelan. Ternyata wanita ini benar-benar berniat bekerja. Tak ada salahnya memberikan Nara kesempatan.
Mata Nara terbelalak saat menyadari bayangan dari layar komputernya. Ada bayangan hitam.
"Akh!!!" Teriak Nara membalikkan tubuhnya.
Wanita itu sangat kaget hingga repleks mendorong tubuh pria itu. Tenaga Nara yang cukup kuat, membuat Arka hampir sana terjungkal.
"Pak Arka, kenapa membuat saya kaget?" Nara baru menyadari pria yang didorongnya adalah atasannya.
Arka menatap Nara dengan mata tajamnya. Ia tak habis pikir, Nara mendorongnya.
"Ma-maaf, Pak. Saya repleks. Pak Arka mau kopi? saya buatkan ya." Nara merasa tak enak hati karena mendorong Arka. Tapi mau bagaimana lagi, namanya juga orang kaget.
"Saya akan buatkan kopi susu panas nggak pakai gorengan." Tambah Nara lagi.
"Nggak usah, sebentar lagi akan pulang." Tolak Arka melihat arlojinya. Sebentar lagi jam kantor akan segera berakhir.
"Kamu lanjutkan pekerjaanmu." Pintanya kembali.
"Siap, Pak." Nara mengangguk patuh dan kembali ke layar komputernya.
Arka sangat ontime. Begitu jam 4 sore ia pun bergegas pulang.
Saat keluar dari ruangannya. Lagi-lagi ia melihat tingkah Nara yang agak absurd.
Wanita itu melihati ponsel sambil tangannya menghitung mundur.
"5, 4, 3, 2... 1. Ok!!! jam kerja sudah selesai. Mari kita pulang." Gumam Nara lalu membereskan barang-barangnya.
Ternyata wanita itu menunggu jam pulang kantor. Jam Nara dan jamnya sepertinya selisih beberapa menit.
Arka pun melangkahkan kaki menuju lift. Pulau kapuk sudah menunggunya di rumah.
Sementara Nara, sebelum pulang ia melingkari kalender. Ini sudah 2 hari dia bekerja.
'Sebentar lagi gajian!' Batin Nara riang.
.
.
__ADS_1
.