KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 93 - Pasar Malam


__ADS_3

"Mas, aku lapar..."


"Mas, aku mau rujak."


"Mas, pijitin dong. Kaki aku sakit..."


"Mas, martabak di ujung jalan itu, sepertinya enak."


"Mas..."


"Mas..."


"Mas..."


Begitulah setiap malam, Arka harus bangun untuk menuruti keinginan sang istri. Nara selalu membangunkannya tepat pukul 2 malam.


"Ada apa, sayang?" Tanya Arka mendudukkan diri di tempat tidur, meski mata agak sulit dibuka.


"Mas, sepertinya anak kita merindukanmu." Nara meletakkan tangan Arka di atas perutnya.


"Sayang, Papa juga merindukanmu. Sehat-sehat di sana ya." Arka mengelus dengan sayang.


"Mas, anak kita mau dengar kamu nyanyi." Timpal Nara.


"Nya-nyanyi?" Tanya Arka kembali.


Nara mengangguk dengan wajah menggemaskan. "Ayo dong, Mas."


Arka mau tak mau jadi mengangguk. Ia harus menurut, ibu hamil memang banyak maunya. Ngidamnya beragam. Bukan hanya tentang makanan saja.


Pria itu mulai bernyanyi dengan suaranya yang standar. Membuat Nara jadi geli. Tapi, tetap ingin mendengarnya juga.


Lagu cinta request-an Nara, Arka senandungkan. Sambil tetap mengelus perut wanita yang bersandar padanya.


"Sayang, sekarang kamu tidur ya." Ucap Arka mengingat hari sudah pukul 3 pagi.


"Satu lagu lagi, Mas." Pinta Nara manja.


"Janji, setelah satu lagu tidur!" padahal Arka sudah bernyanyi sampai satu album.


"Iya, Papa." Nara pun memeluk Arka.


Pria itu kembali bernyanyi dengan sering menguap pelan. Ia masih sangat mengantuk, tapi tetap ingin jadi suami siaga.


Suara dengkuran yang cukup jelas terdengar, membuat Arka berhenti bernyanyi. Ia melihat sang istri yang sudah terlelap.


Perlahan, Arka membaringkan istrinya ke tempat tidur. Lalu menyelimuti Nara. Ia tak mau anak dalam kandungan Nara kedinginan.


Arka pun membaringkan tubuhnya, menyusul Nara ke alam mimpi.


Pagi menjelang, Nara melihat Arka yang berpakaian. Pria itu kelihatan sangat lelah. Mata Arka juga seperti mata panda.


Nara merasa kasihan. Hampir setiap malam, ia membangunkan suaminya. Ada saja yang diinginkannya. Dan suaminya itu selalu menurutinya. Tak pernah sedikitpun menolak.


"Mas, mau aku buatkan kopi?" Tanya Nara menawarkan.


"Tidak, sayang."


"Mas, maaf ya. Setiap malam aku selalu membangunkanmu." Nara merasa bersalah. Suaminya jadi kurang tidur.


"Nara... Aku nggak masalah, sayang." Arka ikut duduk di pinggir tempat tidur. Ia mengelus kepala Nara.


"Mas, nanti malam kita ke pasar malam ya."


"Pa-pasar malam?"


Nara mengangguk. "Aku ingin ke sana, Mas."


Arka tampak bingung menjawabnya. Pasar malam sangat ramai dan berdesak-desakan.

__ADS_1


"Ya, Mas?" Tanya Nara kembali.


"Tapi..." Arka mulai takut.


Nara memelas dengan wajah mewek, membuat Arka mengangguk. Ia tidak bisa menolak melihat ekspresi istrinya.


"Terima kasih sayangku." Nara sangat senang. Ia pun mencium pipi kanan dan kiri suaminya.


Arka pun menraup bibir istrinya. Jika hanya cium pipi, rasanya kurang.


Nara melingkarkan tangan di leher suaminya dan membalas ciuman candu pria tercintanya.


\=\=\=\=\=\=


"Pak... Ini kopi anda." Gio meletakkan kopi di atas meja. Ini sudah gelas ketiga, Arka meminta kopi.


"Terima kasih." Jawab Arka lalu segera menenggak kopi tersebut. Matanya harus tetap on. Banyak tanggung jawab yang harus segera diselesaikannya.


Gio merasa kasihan. Kakaknya selalu bercerita jika setiap malam membangunkan Arka, untuk meminta ini dan itu. Dan pria itu selalu menuruti.


Arka sangat menyayangi kakaknya dan pria itu juga sangat bertanggung jawab.


Gio sedikit lega. Arka bukanlah seperti gosip-gosip yang dulu sempat beredar. Pasti saat itu hanya gosip tak bermoral.


Hari sudah menunjukkan pukul 4 lewat. Gio bersiap-siap untuk pulang. Ia lalu melirik ke ruangan atasannya tersebut.


'Kok tumben belum keluar?!'


Biasanya Arka sangat ontime. Tepat jam kantor berakhir, atasannya itu akan bergegas pulang. Dan mengatakan istri saya sudah menunggu.


"Apa pak Arka sudah pulang?" Tanya Sam.


Gio menggeleng. "Masih di ruangannya."


Sam pun menuju ruangan itu dan mengetuk pintu.


Sekali... Dua kali... Tiga kali...


"Apa masih di dalam?" Tanya Sam memastikan.


Gio mengangguk. "Iya, Pak. Masih di dalam." Ia tak merasa Arka tadi ada keluar.


"Buka saja, Pak." Gio pun membuka pintu tersebut.


Gio dan Sam saling melirik saat pintu dibuka. Terlihat pria itu sudah berbaring di sofa dengan mendengkur pelan.


"Pasti setiap malam Nara membuatnya begadang." Tebak Sam yakin.


"Wajarlah, Pak. Namanya juga wanita hamil."


"Pak Arka sangat mencintai kakakmu." Timpal Sam.


"Harus dong, Pak. Untuk apa menikah, jika tidak ada cinta. Rasa cinta itu yang membuat pernikahan langgeng."


"Benar. Karena kalau sudah cinta, apapun kelebihan dan kekurangan pasangan, bukan jadi masalah..."


"Ada apa?" Tanya Arka yang sudah terbangun. Suara kedua pria itu mengusik tidurnya.


"Saya mau mengingatkan kembali, Pak. Besok kita ada dinas luar selama 2 hari." Sam memberitahu.


Arka menepuk jidatnya. Ia belum memberitahu Nara. Bisa-bisa istrinya akan kaget karena ia mendadak pergi.


"Terima kasih... Sudah mengingatkan saya."


"Baiklah, Pak. Saya permisi. Istri saya sudah menunggu di rumah." Sam melirik atasannya yang menaikkan alisnya saat melihatnya.


Sam menundukkan kepala dan segera kabur. Gio jadi geli sendiri. Asisten Arka itu sempat-sempatnya meledek atasannya.


"Gio, kamu nggak pulang? Istrimu sudah menunggu."

__ADS_1


Gio pun tertawa. "Belum ketemu jodohku, Bang."


"Yang itu. Yang pernah kamu cerita."


"Payah, Bang. Matre parah. Masih dekat saja minta dibelikan barang branded asli. Nggak tahu dia, padahal aku sukanya barang merek kawe."


Arka tertawa mendengar banyolan adik iparnya tersebut.


"Kalau tadi mintanya wajar, nggak masalah. Ini... Kurang ajar." Timpai Gio masih kesal.


\=\=\=\=\=\=


"Mas, ayo meluncur." Nara sudah bersiap. Mereka akan pergi ke pasar malam.


Setelah berpamitan pada Mommy, Arka pun melajukan mobilnya menuju pasar malam.


Beberapa saat kemudian...


"Mas, kok hujan sih?!" Wajah cantik itu cemberut. Hujan turun cukup lebat.


"Memang lagi musim hujan." Jawab Arka melirik bibir yang sudah maju berapa senti.


Sebenarnya, Arka bersyukur hujan turun. Dengan begitu, mereka akan batal ke pasar malam.


"Apa kita pulang saja?" Tanyanya.


Nara menggeleng.


"Atau kamu mau ke mana? Kita cari tempat makan?"


Nara tetap menggeleng.


"Ini hujan sayang."


"Aku tetap mau ke sana, Mas." Nara tetap memaksa. Dan Arka menurut melajukan mobilnya menuju pasar malam.


"Mas, pelan-pelan." Nara menyuruh Arka memelankan laju mobilnya. "Berhenti, Mas."


Arka memberhentikan mobilnya dan melihat Nara membuka kaca mobil.


"Pak, saya beli 1."


Tak lama, mobil Arka melaju kembali menuju rumah. Pria itu menggeleng melihat istrinya yang begitu senang, melahap gula kapas.


"Mas, mau?!" Nara menyuapkan ke suaminya. "Enakkan, Mas?"


"Iya." Jawab Arka.


"Mas, beli satu lagi ya." Nara sudah menghabiskan sebungkus gula kapas tersebut. Dan menginginkannya lagi.


"Kita sudah mau sampai rumah."


Mereka sudah setengah perjalanan pulang.


"Mas, ayolah..." Dan lagi, Nara mengeluarkan jurus andalannya.


"Jadi, kita balik ke sana lagi?" Arka memastikan.


"Iya, Mas." Jawab Nara bersemangat.


Arka mengangguk pelan.


"Terima kasih Mas Arka tampanku tercinta yang paling aku sayangi dan hanya satu-satunya di dalam hatiku..."


Ucapan Nara membuat perasaan Arka jadi berbunga-bunga. Istrinya sudah pintar menggombal.


"Ok... Kita meluncur!!!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2