KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 49 - Ke Taman


__ADS_3

Arka keluar dari lift dan menuju kantin kantor. Ini sudah jam makan siang. Nara pasti sedang makan di sana.


Para karyawan memberi hormat saat melewatinya, mereka jadi bingung melihat Arka berjalan menuju kantin.


Pria itu berdiri di pintu masuk kantin. Dan melihat sekitarnya. Ia memastikan terlebih dahulu, apa wanitanya ada di dalam sana.


Mata Arka melihat sekitar dan dia mendapati Sam. Asistennya itu duduk berhadapan dengan seorang wanita. Itu adalah Nara.


Arka pun melangkahkan kaki akan menghampiri mereka.


Para karyawan yang sedang makan tersentak kaget. Mereka segera bangkit dan memberi hormat.


Arka tersenyum sambil mengisyaratkan agar mereka melanjutkan makannya. Tak perlu memperdulikannya.


Tapi tetap saja, mata para karyawannya mengikuti ke mana tujuan Arka.


Pria itu berhenti di meja yang di tempati asisten dan sekretarisnya.


"Boleh saya duduk di sini?"


Arka tersenyum melihat wajah kaget Sam dan Nara.


"Ayo, duduk. Jangan berdiri saja." Ucap Arka yang sudah mendudukkan diri di samping Nara.


"Ke-kenapa anda di sini?" Tanya Sam gugup sambil kembali duduk. Arka tiba-tiba datang ke kantin, petanda apa ini?


"Apa saya tidak boleh ada di sini?" Arka bertanya dengan sorot mata yang tajam.


"Haha... Tentu saja boleh. Apa anda sudah makan, Pak?" Tanya Sam mengalihkan topik.


"Saya belum makan!" Ucap Arka dengan tatapan melihat Nara.


"Biar saya ambilkan, Pak." Nara pun bangkit dari duduknya.


"Porsinya seperti biasa!" Arka memberikan senyum sesaat.


"Hah? Baik... tunggu sebentar, Pak."


Arka mengangguk. Selama menunggu Nara, ia melihat sekitarnya.


"Si-silahkan dinikmati, Pak." Nara telah kembali dan membawa makanan untuk Arka.


Arka mengangguk. Nara sangat tahu porsi makannya. Tidak sedikit dan tidak kebanyakan. Sangat pas sesuai keinginannya.


"Terima kasih..." Ucap Arka memberikan senyuman manis.


'Sayang!' Sambung Arka dalam hati.


"Sudah lama saya tidak makan di kantin." Ucap Arka disela makannya.


Sam terbengong sesaat. "Haha... Iya, Pak. Anda sudah lama sekali tidak makan di kantin. Sampai saya tidak ingat kapan anda pernah makan di sini?"


Arka melirik Sam dengan sorot mata tajamnya.


"Sepertinya saya harus sering-sering kemari." Arka mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekretarisnya itu sering makan di kantin dan jika dia juga makan di kantin. Maka, mereka tetap bisa makan bersama tanpa harus sembunyi-sembunyi.


"A-anda akan makan di kantin?" Tanya Sam memastikan.

__ADS_1


Arka mengangguk yakin. "Setiap hari saya akan makan di kantin bersama... kalian!" Saat Arka mengatakan kalian, ia mengalihkan pandangan ke arah Nara.


Sam dan Nara terbengong sesaat.


"Ayo, kalian lanjutkan makan. Makan yang banyak, jangan sungkan!" Arka mempersilahkan keduanya.


\=\=\=\=\=\=


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Tanya Nara yang melihat Arka sudah berada di sekitarnya.


"Tidak, ada. Lanjutkan saja pekerjaan kamu." Jawab Arka melihat-lihat sekitar.


Nara mengangguk pelan. Ia melihat jam tangan. Sudah pukul 4 kurang 10 menit. Sekitar 10 menit lagi jam pulang kantor.


Nara pun melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi.


'Cantik!' Puji Arka menatap kagum pada layar ponsel.


Arka bersandar di dinding. Ia mengambil foto Nara yang sedang bekerja. Lalu menzoom foto tersebut. Melihat wajah Nara dari dekat.


'Pasti manis!'


Arka menzoom bagian bibir Nara. Pikirannya melayang membayangkan menggigit benda kenyal tersebut. Tadi pagi, hampir saja.


'Dia kenapa?' Nara melirik atasannya yang senyum-senyum tak jelas. Apa yang dilihat Arka di ponselnya?


Ting


Nara melihat ponselnya. Satu pesan masuk dari Arka.


Nara membaca pesan lalu melihat ke arah tempat Arka berdiri. Dan pria itu sudah menghilang.


Nara menggelengkan kepala sambil mengulum senyum. Ia akan pulang diantar Arka lagi.


'Ke toilet dulu ah!'


Beberapa saat kemudian.


"Maaf, Pak. Membuat anda lama menunggu." Ucap Nara setelah masuk ke mobil Arka.


"Tak apa. Saya sudah biasa menunggu." Arka tersenyum tipis. Hampir setengah jam ia menunggu wanita itu di parkiran.


Arka menatap Nara sejenak. Wajah wanita itu tampak segar. Seperti wajah saat pagi datang ke kantor. Berbeda saat ia mengambil foto Nara diam-diam beberapa saat yang lalu. Seperti wajah orang-orang pulang bekerja.


'Apa dia berdandan dulu? Makanya lama?!' Arka mengulum senyum. Nara berdandan karena akan bertemu dirinya.


"Mau jalan-jalan sebentar? jalan-jalan sore?" Tanya Arka sambil perlahan melajukan mobilnya meninggalkan parkiran.


"Mau ke mana, Pak?" Tanya Nara melihat ke arah Arka.


"Terserah kamu. Kamu maunya ke mana?!"


"Terserah anda saja, Pak." Nara tidak tahu mau pergi ke mana.


"Yakin kamu?" Tanya Arka menaikkan alisnya. "Kalau terserah saya itu, Apa kita ke hotel saja?"


"Tolong berhenti di depan, Pak!"

__ADS_1


"Saya becanda lho, gitu saja kamu ngambek!" Pria itu tertawa puas. Ekpresi Nara kini sangat horor melihatnya.


Tak lama, mereka sampai di sebuah taman buatan. Mereka berjalan mengelilingi taman itu. Menikmati udara sore yang begitu menyejukkan.


Mereka berjalan beriringan. Arka ingin meraih tangan Nara. Tapi, ia mendadak grogi. Padahal Arka ingin seperti pasangan-pasangan lain yang saling bergandengan tangan.


Tapi lupakan saja. Mereka saja belum menjadi pasangan. Masih ada beberapa hari, waktu Nara untuk menjawab perasaannya.


Setelah mengelilingi taman. Mereka duduk di bangku-bangku taman, yang menghadap ke danau.


"Nara... Tunggu sebentar ya!"


"Mau kemana, Pak?" Tanya Nara bingung.


Arka hanya menjawab dengan senyuman sambil mengelus kepala Nara. Lalu ia pun melangkah pergi.


Nara jadi tersenyum melihat pria itu yang ternyata pergi ke tempat penjual es krim.


Selama menunggu Arka, Nara membalikkan badan. Ia memandangi danau, dengan pikiran yang mulai berkelana. Terbesit kembali, kenangan-kenangan saat bersama Adam kala itu.


'Move on Nara!' Nara menghempaskan bayangan Adam dari pikirannya.


"Nara, ini es krim untuk kamu!" Arka memberikan es krim pada Nara.


"Terima kasih, Pak." Nara menerima dan menikmatinya.


"Udaranya sejuk ya."


Nara mengangguk setuju.


Arka bingung mau mengobrol apa lagi. Sejenak hening tak ada obrolan. Mereka hanya diam menikmati es krim di sore yang menyejukkan itu.


"Pak, es krimnya." Nara menunjukkan es krim Arka yang mulai mencair.


"Oh iya." Es krim itu sudah meleleh di tangannya.


"Biar saya bersihkan!" Nara mengambil tisu dari tasnya dan mengelap tangan Arka.


Perlakuan Nara lagi-lagi membuat Arka berdebar-debar.


"Terima kasih." Ucap Arka sambil menatap Nara lembut.


"Sudah, Pak." Nara sudah membersihkan tangan pria itu. Ia pun melihat ke arah Arka.


Dan keduanya saling bertatapan sejenak.


"Nara... apa kamu mau menggenggam tanganku?" Tanya Arka kemudian.


Nara masih diam melihat tatapan mata lembut Arka. Tatapan yang sangat tulus dan serius.


"Mau kah kamu hidup bersamaku selamanya?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2