KISAH KASIH NARA

KISAH KASIH NARA
BAB 72 - Miss You


__ADS_3

Di kediaman rumah Arka, Mommy telah berpakaian rapi. Rencananya malam ini, ia akan menemui keluarga Nara untuk bersilaturahmi, sekaligus membahas hubungan anak-anak mereka ke depannya.


"Kak... Berasal dari keluarga mana calonnya Arka?" Tanya adik iparnya Mommy, yakni Omnya Arka.


"Nggak usah banyak tanya, sudah ikut saja." Mommy menunjukkan wajah kesalnya. Seandainya saja suaminya masih hidup, ia tak akan mau membawa adiknya itu. Tak mungkin juga hanya ia dan Arka saja yang datang. Harus ada perwakilan keluarga lainnya.


"Kan kita harus-"


"Nara itu pilihan Arka. Sudah... restui dan doai kebahagian ponakanmu." Sela Mommy tak mau mendengar perdebatan lagi.


"Bagaimana penampilanku Mom, Om?" Tanya Arka yang tiba-tiba datang. Ia sudah berpakaian rapi dan begitu sangat wangi.


"Tampannya anak Mommy ini." Puji Mommy.


"Yang Om dengar katanya calon kamu janda ya?" Tanya pria paruh baya itu memastikan.


"Iya, Om. Janda kembang. Ayo... Kita pergi, keluarga Nara sudah menunggu." Arka sudah tak sabar bertemu bidadarinya.


"Nanti, kalau ada kakak Nara yang janda, kenali sama Om ya." Timpal Omnya sambil berjalan.


"Nara itu nggak punya kakak. Kamu cari saja janda di luaran sana." Ucap Mommy dari belakang mereka.


Sementara di tempat lain, Nara juga sudah berpakaian rapi. Calon mertuanya akan datang bersilaturahmi ke rumahnya. Dan nantinya akan membahas hubungan mereka selanjutnya.


Nara menarik nafas panjang, lalu membuangnya pelan. Menatap dirinya dalam pantulan kaca. Ia kembali merasakan perasaan gugup. Perasaan ini seperti beberapa tahun yang lalu. Saat Adam membawa keluarganya.


'Semoga Mas Arka, jodoh yang terbaik untukku.' Nara meyakinkan hatinya dengan penuh pengharapan.


"Kak Nara, pangeranmu sudah datang itu." Gio mengetuk pintu kamar Nara.


Wajah Nara mendadak merona. Perasaannya makin campur aduk. Senang dan gugup menjadi satu.


Nara membuka pintu dan melihat adiknya yang menatapnya aneh.


"Lama kali berdandan?"


"Namanya juga mau cantik."


"Hai, sayang..." Sapa Arka yang muncul menghampirinya.


"Mas Arka." Wajah Nara penuh senyum dihampiri pria itu. Hari ini Arka sangat tampan dan pria ini begitu sangat wangi.


"Kamu cantik sayang." Puji Arka dengan wajah bahagia.


"Mas sangat tampan." Nara juga memuji Arka, dengan wajah yang merona.


'Apa-apaan ini?!' Gio mendengus. Ia kini seperti nyamuk berada diantara pasangan yang dimabuk cinta tersebut.


Gio meninggalkan keduanya yang saling bertatapan. Seperti dunia hanya ada mereka berdua.


Di ruang tamu mereka pun berkumpul. Nara duduk di dekat Ayah dan Bundanya. Begitu juga Arka yang duduk dengan keluarganya.


"... Jadi maksud kedatangan kami, untuk membicarakan hubungan ..." Omnya Arka pun memulai pembicaraan tentang kelanjutan hubungan keduanya. Yakni membahas perihal pernikahan.


Orang tua Nara juga menerima niat baik dari keluarga Arka.


Berbeda dengan Arka. Pria itu mencubit tangan Mommynya.


"Mom, kenapa 2 bulan lagi? Minggu depan saja atau besok saja aku nikahi Nara." Bisik Arka. Baginya 2 bulan itu terlalu lama.

__ADS_1


"Kamu diam saja. Mana bisa mendadak-dadak begitu." Bisik Mommy kembali.


Nara mengulum senyum melihat wajah Arka yang agak kecewa. Pasti pria itu tak terima dengan waktu 2 bulan itu.


"Setelah disepakati, pernikahan akan diadakan 2 bulan lagi..." Ucap Ayah kemudian.


Setelah membahas perihal pernikahan, Ayah dan Bunda menjamu calon besan mereka.


"Pak, Bu... Selamat menikmati hidangan sederhana kami."


"Jadi merepotkan Bapak dan Ibu..."


Bunda dan Mommy berbasa basi.


Mereka berkumpul di meja makan. Dan melahap hidangan yang disajikan.


"Enak." Ucap Arka tanpa suara. Hanya dengan gerakan bibir saja.


Nara tersenyum sambil mengangguk pelan.


"Kamu yang masak?" Tanya Arka kembali tanpa suara.


Nara menggeleng. "Bunda yang masak."


Ayah melirik Nara dan Arka bergantian. Arka langsung melebarkan senyumnya, saat Ayah melihat ke arahnya.


Setelah makan malam, mereka pun berpamitan pulang. Ayah dan Bunda mengantar sampai depan pintu.


"Om, Tante... Hati-hati di jalan." Nara mengantar sampai teras rumah.


"Jangan panggil tante lagi. Panggil Mommy."


"Sudahlah, Mom. Nara masih canggung itu." Arka tak mau Mommy memaksa calon istrinya itu.


"Harus dibiasakan mulai dari sekarang."


Nara hanya tersenyum sambil mengangguk.


"Mommy, pulang ya sayang." Mommy memeluk Nara sejenak.


"Hati-hati di jalan, Mom." Bisik Nara pelan.


Mommy sangat senang, Nara memanggilnya seperti itu.


"Nara, aku antar Mommy sama Om dulu. Nanti aku kemari lagi." Ucap Arka dengan semangat.


"Mas, ini sudah jam 10 lho." Nara mengingatkan. Hari sudah malam, Arka masih mau bertamu pula.


"Iyanya?" Arka melihat arlojinya. Benar, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia tak sadar, waktu terlalu cepat berlalu.


"Aku pulang ya." Pamit Arka kemudian. Ia pun menyodorkan tangannya.


Nara mencipitkan matanya saat Arka menyodorkan tangan. Ia tahu maksud pria itu. Tapi, masa di depan ibu dan omnya sih. Masih ada kedua orang tuanya juga yang melihat.


"Hati-hati ya, Pak." Nara hanya menundukkan kepalanya sejenak.


Arka pun mengangguk pelan dan masuk ke dalam mobil. Perlahan mobil pun melaju. Nara melambaikan tangan sambil tersenyum.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


"Sayang... seharusnya kita nikah saja dulu. Resepsinya menyusul." Arka menelepon Nara. Ia mengungkapkan kekesalannya.


"Dua bulan lagi lho, Mas."


"Lama lagi sayang. Aku ingin segera melepas masa dudaku."


Nara menggeleng pelan.


"Oh ya sayang, kamu nggak usah kerja lagi." Arka akan menyuruh Nara berhenti bekerja.


"Lho, kok gitu? Aku masih mau bekerja, Mas." Tolak Nara cepat.


"Sayang, kamu akan jadi istriku. Aku nggak mau istriku bekerja. Biar aku saja yang mencari uang, kamu tinggal habiskan." Arka tak ingin Nara capek dan tidak fokus padanya.


"Mas, aku mau kerja."


"Dua bulan ini kamu masih aku izinkan bekerja. Setelah kita menikah, aku tak akan izinkan."


"Tapi, Mas..."


"No debat sayang."


"Mas Arka..." Rengek Nara manja.


"Sudahlah sayang. Kamu belum tidur nih?" Arka mengalihkan pembicaraan.


"Belum." Geleng Nara dengan wajah cemberut.


"Kamu pasti masih kangen sama aku." Ucap Arka yakin.


"Perasaan!" Sanggah Nara. Arka terlalu kepedean jadi orang.


"Memang kamu nggak kangen sama aku?" Tanya Arka tak terima.


"Nggak. Tiap hari aku jumpa dengan Mas terus. Agak bosan sih."


"A-apa? Bosan? Kamu bosan?" Arka mengusap wajahnya kesal. Nara bosan ketemu dirinya tiap hari. Tapi, memang benar juga. Mereka setiap hari selalu bertemu dan bersama.


"Ya sudah. Aku tidur saja. Dari pada kamu makin bosan padaku."


"Ngambek nih, Mas?!" Ledek Nara yang tersenyum puas. Arka pasti kesal dengannya.


"Siapa yang ngambek? biasa saja? Sudah malam ini, ayo kita tidur."


"Selamat malam Mas Arka sayang."


"Selamat malam juga sayangku. Tidur yang nyenyak. Mimpi indah.."


"Miss you..." ucap Nara cepat.


"Mis..."


Nara telah mengakhiri panggilan mereka. Padahal ia belum membalas perkataan Nara.


'I miss you too...'


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2